Love In Trouble

Love In Trouble
21 - Bingung



Semakin dekat, semakin lengket. Mungkin itu yang Zaina rasakan akhir-akhir ini. Dia nggak menyangka di tengah kondisinya yang sedang hamil, Mahen benar-benar menunjukkan sikap serius sama Zaina terutama keluarga perempuan itu. Yang kala hari kerap membuat sikap cuek Zaina terkikis tergantikan rasa nyaman yang tidak terganti sama sekali.


Pertahanan Zaina benar-benar runtuh. Mahen mampu membuat perempuan itu merasa di sayang. Zaina benar-benar nggak paham kenapa Mahen bisa melakukan itu. Intinya dia tahu kalau Mahen melakukan semuanya bukan karena terpaksa apa lagi cuman karena perjodohan laknat ini.


“Aih ... ini mah, aku beneran bisa jatuh cinta kalau mas Mahen ngelakuin ini terus sama aku.”


“Mas?”


Zaina menutup wajahnya, salting. Ia jadi ingat saat itu. Permintaan Mahen pada dirinya di hari setelah mereka pulang dari cek rutinitas kehamilan Zaina.


“Zaina ... saya harap kamu mau melakukan permintaan yang saya lontarkan.”


“Impian? Memangnya apa mimpi lu itu?” Zaina menatap heran.


“Tadi ... saya nggak sengaja dengar pasangan yang sedang hamil juga sedang memeriksa. Istrinya yang lagi hamil besar manggil laki-lakinya dengan panggilan ayah. Karena kita belum menikah dan kamu nggak mungkin manggil saya, ayah. Gimana kamu manggil saya mas saja? anggap aja kayak pasangan umumnya.”


“Pasangan umumnya? Tapi kita bukan pasangan,” balas Zaina dengan fakta


“Ya ...,” ucap Mahen sambil menguspa tengkuknya. “Ya memang begitu sih ... tapi kan seru aja gitu kalau kita berperan jadi pasangan. Kamu udah cocok kok jadi pasangan saya.”


“Kaku banget mas, kayak kanebo kering.”


Mata Mahen membola. “Tadi kamu manggil saya apa?”


“Kanebo kering?” bingung Mahen


“No ... yang sebelumnya. Kamu manggil saya apa?”


“Mas?!” ucap Zaina memringkan wajahnya. “Kenapa?”


“AAA!” tubuh Zaina dipeluk sangat erat sampai perempuan itu nggak bisa napas sendiri. “Saya nggak menyangka kalau panggilan kamu bisa bikin hati saya sampai bergetar kayak gini. Ya ampun Zaina, ini beneran kan? Kamu nggak lagi bercanda ke saya? Kamu beneran mau panggil dengan sebutan itu?”


“Hmmm ... gimana ya?” ledek Zaina


“Aish kamu mah ...”


“Aku janji bakalan manggil kayak gitu, asal kamu sendiri bisa manggil diri sendiri dengan aku atau gue. Jangan kaku-kaku sama aku. Aku ini bukan client atau mahasiswa kamu. Jadi, nggak perlu lah manggil saya-anda. Nggak etis banget ...”


“Siap tuan putri! aku akan manggil sesuai kemauan kamu asal kamu manggil aku, dengan sebutan mas.”


“Hahahah siap.”


“Gemes banget sih,” papar Mahen lalu berjalan mendekat. “Ini mas boleh peluk kamu nggak sih? Gemes banget kayak gini?” pinta Mahen dengan memohon.


Zaina terdiam untuk sesaat, ia menatap Mahen. Enak banget ya Mahen ngomongnya, nggak tahu aja dia harus berusaha menyembunyikan hati dan perasaannya cuman karena laki-laki itu. Tapi kasihan. Muka Mahen benar-benar polos. Kalau dia tolak, ada perasaan di sudut hatinya yang nggak suka.


“Gimana Zaina? Kamu nggak mau ya ...”


“Apaan sih gemes bener, ya udah deh, iya ... lakuin sesuka kamu aja.”


Dan selanjutnya tubuh Zaina benar-benar di rengkuh sangat erat. Seerat sebelumnya sampai Zaina susah napas sendiri. Baru mau protes, Zaina merasa keningnya di kecup cukup lama membuat perempuan itu specchless.


“Mas sayang sama kamu, boleh nggak kalau kata teman berubah jadi pasangan? Mas udah cinta sama kamu ...”


AAAA ... BUGH, BUGH, BUGH.


“Zaina ... jangan berisik.”


Zaina menghentikan memukul bantal ke kasur. Sekarang ia malah memeluk erat bantal itu sambil teriak tertahan. Wajahnya memerah.


“Mas Mahen tuh bener-bener ya, mukanya polos banget kalau nyatain perasaan atau ini itu. Tapi semua omongannya tuh serius. Kayak ya aku di buat tergila-gila lah sama semua omongannya.”


“Kenapa sih anak bunda, dari tadi berisik banget,” pintu terbuka dan mom Nadya masuk ke dalam. “Kamu sakit? Kenapa mukanya merah banget.”


“Eh enggak ... aku nggak sakit kok.”


“Oh ... bunda tau nih, pasti kamu kayak gini karena Mahen kan? Oh iya, semalam pas kamu udah tidur. Mahen baru keluar dari kamar kamu. Dia ngomong serius sama mommy dan daddy, dia bilang kalau serius untuk nikahin kamu. Dia juga bilang kalau sekarang dia lagi usaha untuk naklukin hati kamu. Jadi, kamu mau buka hati mulai kapan?”


“Mom ... salah nggak sih kalau aku buka hati sama mas Mahen?”


Mommy duduk di pinggiran kasur lalu mengusap pipi anaknya, “salah gimana?”


“Iya ... mas Mahen terlahir dengan reputasi bagus dan aku udah cari tahu, semua hal yang menyangkut mas Mahen selalu hal positif. Entah itu di laman web, media sosial, atau dari artikel perusahaan. Semuanya mengatakan yang baik-baik tentang mas Mahen. Jadi, kalau aku masuk gitu aja ke kehidupan mas Mahen. Aku bakalan dikira perusaka hidup mas Mahen nggak sih? Secara ... kondisi aku kayak gini.”


Zaina menunduk dan mengusap perutnya. Anaknya semakin nyaman di dalam sana. Perutnya juga udah mulai terlihat buat Zaina nggak pernah mau pergi keluar. Ia menarik napas. Nyali dia masih nggak seberani itu untuk menunjukkan ke umum kondisi dirinya dan buat banyak pihak di hujat hanya karena dirinya itu.


“Kamu masih belum bisa nerima kondisi kamu ya?” tanya mommy Nadya dengan menatap miris.


“Bukannga nggak bisa nerima, toh kalau aku ngomong gitu. Sama aja aku nggak suka sama keberadaan anak aku dong dan aku nggak mungkin begitu. Aku nggak mau anak aku ngerasa ibunya sendiri nggak menginginkan dia. Aku beneran nggak peduli, mom. Aku lebih peduli kalau orang lain di omongin karena kondisi aku. Entah mom sama dad atau mas Mahen yang malah mau nikahin kamu.”


“...”


“Aku udah mikirin banget ... kalau misal mas Mahen nerima aku, pasti banyak yang hujat dia dan gimana kalau itu berpengaruh sama musuh mas Mahen, biar menjadi waktu yang tepat untuk jatuhin mas Mahen. Nggak cuman itu. Gimana keluarga mas Mahen. Gimana mereka semua malah di hujat cuman karena aku. Aku masih bisa nerima kalau netizen ngatain diri aku sendiri, karena aku jelas tau kalau ini salah aku sendiri. Tapi ... kalau orang lain? Aku nggak mau ada orang yang dijulidin cuman karena kondisi aku.”


“Mom paham ... tapi, menurut bunda nih ya. Dengan Mahen menerima kamu, dia pasti sudah mikirin apa yang bakal terjadi ke depannya. Dia pasti mikir gimana hal-hal yang bakal dia terima, kalau misalnya dia nerima kamu. Mahen bukan anak kecil yang cuman pikir pendek dalam mengambil keputusan.”


“Iya sih ...”


“Awalnya mom juga khawatir kok, mom cuman mikir. Selain mom sama dad siapa yang mau menerima kamu dengan baik? Bisa aja orang memperlakukan kamu dengan baik cuman di depan mom sama dad. Karena mom rasa, ya cuman kami aja yang bisa memperlakukan kamu segitu sempurnya. Tapi tidak ... Mahen bisa melakukan semuanya dengan baik. Dia yang buat kamu terus tersenyum. Padahal udah ribuan cara mom sama dad berusaha untuk menghilangkan murung kamu.”


“...”


“Dia laki-laki baik, mom nggak menyuruh kamu untuk menerima pinangan Mahen secepat itu. Tapi pikirkan lebih dulu. Ikuti kata hati kamu dan terutama lupakan laki-laki itu.”


“Mom nggak mau mendengar namanya,” elaknya sambil bangkit. “Sampai kapan pun mom gak akan pernah menerima laki-laki yang kabur dari tanggung jawab dan bisanya cuman nyakitin hati anak mom doang.”


“Iya mom ... aku juga berusaha lupain Ghaly kok, walaupun bertahun-tahun kami pacaran nggak membuat aku secepat itu melupakan dia.”


“Iya ... dan mom tahu kalau kamu nggak mungkin tetap bersama dia terus kan?”


“Iya mom ...”


“Ya sudah, mom keluar dulu. Pikirkan lagi sebelum mengambil keputusan. Mom mau yang terbaik untuk kamu.”


Zaina mengambil buket bunga dari Mahen, ia hirup aromanya. Sangat wangi.


“Apa yang harus aku lakukan? Menerima atau menolak?”


***


“Kamu naik aja ke atas,” perintah mom Nadya saat melihat Mahen datang ke rumah mereka.


Sudah seperti rutinitas kalau Mahen sedang tidak sibuk banget, laki-laki itu bakalan datang untuk menemui Mahen. Entah sekedar mengobrol supaya Zaina nggak bosan atau malah mengajak Zaina keluar rumah.


“Eh nak,” panggil mom Nadya lagi membuat langkah Mahen berhenti. “Sini dulu ada yang mau mom bicarakan sama kamu dan ini tentang Zaina.”


Mahen berbalik dan menarik kursi di depan mom Nadya. Ia duduk di sana, “kenapa mom? Ada sesuatu yang penting tentang kondisi Zaina kah? Zaina baik-baik aja kan?” panik Mahen


“Iya ... dia baik-baik aja, tapi ini juga tentang pinangan yang kamu bicarakan malam itu.”


Wajah Mahen berangsur-angsur berubah, apa ini terlalu cepat untuk dia meminang? Jangan bilang kalau dirinya di tolak lagi. Mahen menatap serius wajah calon mertuanya.


“Zaina menolak ya?”


“Tidak ... Zaina nggak ada menolak sama sekali, tapi dia juga nggak menerima kamu.”


Mahen mengangguk, “sepertinya Zaina masih perlu memikirkan semua ini dan memang saya saja yang melakukan semuanya terlalu cepat tanpa pertimbangan Zaina sama sekali. Maaf ya mom. Saya hanya takut kalau Zaina bertemu lagi sama mantan kekasihnya dan meninggalkan saya. Walaupun bisa dibilang cepat pertemuan antara saya dengan Zaina, tapi saya udah jatuh cinta sama Zaina.”


“Tenang aja ... sekali pun mantan kekasihnya kembali, saya rasa Zaina nggak akan memilih dia lagi. Zaina pasti sudah benci sama orang yang meninggalkan dia gitu aja. Dan mom manggil kamu kesini cuman mau bilang kalau kamu perlu usaha lebih untuk meyakinkan Zaina.”


“Begitu?”


“Zaina sudah kelihatan tertarik sama kamu dan dengan anak itu menimang pinangan kamu aja udah kemajuan yang pesat loh,” beritahu mom Nadya. “Biasanya kalau nggak mau dia nggak akan sungkan untuk langsung menolak di awal. Tapi dia kelihatan mau menerima kamu. Hanya saja ada beberapa hal yang membuat dia terusik dan memilih untuk diam.”


Ternyata usahanya kurang ya selama ini? itu yang langsung keluar dari benak Mahen.


“Ternyata menaklukkan perempuan nggak segampang itu ya mom.”


“Hahahah ... kamu perlu usaha lebih, nak. Semangat ... hanya perlu diyakini sedikit lagi sampai Zaina setuju dan kamu bisa menikah sama dia.”


“Baik mom ... saya bakalan lakuin apa yang mom bilang. Saya akan usaha lebih banyak sampai Zaina tahu kalau saya ini serius nggak main-main.”


“Tapi ... mom mau nanya sama kamu,” ucap mom Nadya serius buat Mahen kembali duduk. “Kamu serius sama Zaina?”


“Buat apa saya selalu datang ke sini kalau saya nggak serius. Kalau mom nanya, saya nggak pernah seserius ini dalam mengambil keputusan. Jadi, mom harus percaya kalau saya beneran serius dalam meminang Zaina.”


“Di tengah kondisi kehamilan Zaina? Udah memikirkan bagimana ke depannya? Kamu mau nerima anak itu dan memperlakukkannya seperti anak sendiri? Meskipun ke depannya kamu bakalan punya anak kandung sendiri. Bisa adil? Atau, kamu sudah memikirkan respon keluarga bahkan orang lain kalau sampai mereka semua tahu kalau kamu menikahi perempuan yang udah hamil sama orang lain.”


“Mom tenang saja ... saya udah memikirkan semuanya dengan baik dan fokus utama saya cuman kebahagiaan Zaina. Saya pertaruhkan diri saya sendiri untuk memberi kebahagiaan untuk Zaina. Saya akan mengedepankan Zaina di banding apapun.”


Mommy Nadya menghela napas lega. Dia tidak salah pilih. Akhirnya dia meminta Mahen untuk naik saja ke atas untuk menemui Nadya.


“Semoga pilihan kami tidak salah,” harap mom Nadya dan kembali mencabuti benang-benang yang ada di saputangan buatannya sendiri itu.


“Zaina ... mas Mahen datang nih,” panggil Mahen sambil mengetuk pintu kamar Zaina.


“Masuk, mas ...”


Mahen masuk dan membiarkan pintu kamar Nadya terbuka. Laki-laki itu tersenyum melihat Zaina yang sedang bersantai di atas tempat tidur sambil membaca sebuah buku.


“Tumben banget lagi baca buku, kamu lagi baca apa?” Mahen mengambil buku itu dari tangan Zaina. “Buku nama-nama bayi yang memiliki arti indah?” Mahen membaca judulnya. “Dapet buku ini dari mana?”


“Toko online, mas. Anak aku masih dua bulanan sih, tapi aku belum nyiapin semuanya. Mau beli kebutuhan bayi sekarang, tapi kata mommy masih belum boleh. Jadi, aku mutusin nyiapin yang gampang dulu. Ya salah satunya dengan nyiapin nama kayak gini. Tapi, banyak banget yang bagus. Aku jadi bingung dan banyak juga yang udah pasaran gitu. Makanya, nggak ada pencerahan sama sekali pas baca buku itu.”


Mahen mengangguk.


Mahen menutup buku itu. “Dari pada nyari kayak gini, mending namanya dari kita langsung aja. Kayaknya lebih bagus begitu deh, dari pada ngandelin buku dan mas ... dapet informasi kalau kamu masih bimbang ya sama mas?”


Zaina terkejut dan menunduk.


“Tadinya ... mas mua ngajak kamu kulineran di depan, tapi kayaknya itu nggak penting. Mas cuman mau denger alasan kamu yang masih nggak bisa menerima mas.”


“...”


“Sebenarnya ... mau kamu menolak mas kayak gimana juga, mas nggak peduli ya. Karena mas tetap akan menunggu keputusan kamu.”


“Sebenarnya ... ada yang mau aku bilang sama kamu.”


“Apa itu?” penasaran Mahen


“Tadi malam, pas kamu pulang. Tiba-tiba Ghaly chat aku lagi ...”


Dan sejak itu, Mahen yakin kalau dia harus lebih menjaga Zaina. Memastikan kalau wanitanya nggak dibawa sama laki-laki lain.