
Ini yang membuat Zaina malas sejak tadi dsn mau menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan lebih lama. Sambil terus berharap kalau Mahen akan lupa tapi ya malah pria itu sendiri yang berusaha untuk mengingatkan dirinya.
Bukan Zaina tidak suka, tapi bukankah bakalan terasa canggung kalau dia dating Bersama dengan laki-laki lain ke ruang dokter bersalin? Walu Zaina tahu dirinya tidak ingin melahirkan dan hanya ingin cek saja. Tapi tetap saja, rasanya akan sangat canggung membayangkan hal itu terjadi. Oleh karena itu, Zaina berusaha unyuk menyibukkan diri. Sayang Mahen malahan mengingatkan dirinya.
“Kenapa Zaina? Kamu nggak suka sama usul saya? Pasti kamu nggak mau dating ke rumah sakit ya? Mommy kamu saja sudah bilang—
“MOMMY!" seru Zaina yang kaget mendengar panggilan dari Mahen. Ia mengerucutkan bibir nya dan menggeleng. “Kenapa lu panggil mommy gue dengan mommy juga? Lu kan bukan siapa-siapanya mommy. Jadi panggil apa kek, tapi jangan mommy. Ini kesannya gue lagi di selingkuhin tau nggak sih," omel Zaina lalu menggeleng.
"Nggak bisa gini nih ... mommy gue itu ya cuma punya gue doang dan nggak ada yang bisa gantiin sama sekali. Jadi ya lu nggak perlu deh ngaku kayak gini. Karena gue nggak bakalan mau sama sekali. Pokoknya lu harus tau diri dan mommy gue itu ya cuma buat gue."
Mahen tersenyum paksa.
"Iya ... walaupun ini disuruh mommy kamu sendiri. Tapi kalau kamu nggak nyaman, nanti panggilan itu bakalan gue ubah sendiri. Jadi, maaf ya kalau ini sedikit nggak buat lu nyaman."
Zaina mengerucutkan bibir.
"Huh! Kalau mommy yang bilang sendiri aku mana bisa marah deh. Ya udah deh terserah kamu aja mau pakai panggilan itu atau enggak."
Mahen mengacak rambut Zaina.
"Udah ah ... stop ngalihin pembicaraan lagi. Lebih baik sekarang kita ke rumah sakit dan datangjn dokter yang udah di buat janji itu. Jangan nolak!"
Zaina menyerah! Dengan langkah malas dia mengikuti langkah kaki Mahen yang ada di depannya.
Selama perjalanan menuju rumah sakit dia hanya berharap kalau pemeriksaan nanti akan berjalan dengan baik.
***
"Dedek bayinya sangat sehat. Ini bisa liat di sini kalau semuanya tumbuh dengan baik dan kalau terus mengikuti pola yang di berikan pihak kami. Saya yakin kalau janin ini akan terus berkembang dengan baik tanpa ada yang perlu di khawatirkan sama sekali."
Omongan dokter seakan mengambang di benak Zaina.
Ia hanya mampu menatap layar di sana. Memperlihatkan sosok anaknya yang bahkan bentuknya belum terlalu jelas itu. Tapi mampu membuat hatinya dia berdebar.
Zaina baru sadar sesaat Mahen megang tangan dirinya dan mengusap dengan penuh kelembutan. Ia tersenyum tipis dan menarik napas dalam.
"Semuanya baik-baik aja, nggak ada yang perlu di khawatirin sama sekali."
Walaupun suara Zaina terdengar sangat kecil tapi dokter itu menangkap dengan sangat baik.
"Bener nona ... dedek bayinya tumbuh dengan baik kok. Jadi nona nggak perlu khawatir sama sekali. Ini tinggal suami nya merawat dengan baik dan jangan buat nona jadi tertekan. Karena itu juga berpengaruh baik sama keadaan dedek bayi di dalam sana."
"Tenang saja dok ... saya akan jaga istri saya dengan baik. Supaya anak kami itu baik-baik aja di dalam sana."
"Wajib itu."
Zaina tersenyum tipis. Lalu dia mulai bangkit dan menutup perutnya lagi. Ia kemudian duduk di samping Mahen. Dua orang itu di beri nasihat untuk lakuin apa aja yang membuat kondisi Zaina akan baik. Mereka benar-benar belajar semuanya dari awal dan tak ada yang protes sama sekali. Karena ini emang keinginan mereka sendiri. Tak ada paksaan sama sekali. Keduanya benar-benar mau memulai semuanya dari awal.
Setelah mendapat pembelajaran dengan baik, kini keduanya duduk di halaman rumah sakit yang memang nggak terlalu ramai.
"Mahen ... gue nggak tahu harus ucapin apa sama lu. Tapi gue beneran harus berterima kasih banyak sama lu karena udah selalu ada di sisi gue. Bahkan gak pernah ngomong apa pun yang buat gue sakit hati."
Perempuan itu menarik napas dalam.
"Semua ini beneran nggak pernah gue kira sama sekali. Sebelumnya gue selalu aja ngerasa kalau nggak seharusnya gue dapetin ini semua. Bahkan gue nggak pernah bayangin kalau lu sampai ada di titik kayak gini. Memerankan peran seorang ayah yang baik dan sama sekali nggak ngeluh. Padahal awalnya gue kira lu cuma mau main-main aja. Apa lagi karena gue ini ya hadir dengan keadaan yang kayak gini."
Mahen menatap Zaina serius.
"Dari awal saya sudah bilang kalau saya itu serius. Keseriusan saya nggak akan pernah terganti sekali pun ada orang yang menghasut saya. Dari awal saya udah netapin diri kamu untuk menjadi masa depan saya dan selamanya akan selalu begitu. Jadi, saya harap kamu itu mulai bisa mengimbangi semua hal dan ya mulai mikirin kalau ini memang yang baik buat lu sendiri."
Zaina terdiam.
"Gue terdengar makin nggam pantas tau nggak sih kalau kayak gini."
"Loh kenapa?"
Zaina mengelus perutnya itu dengan sangat pelan dan tersenyum sendu.
"Bahkan perasaan gue aja masih ada buat orang lain. Bahkan orang lain yang gue cintai ini aja udah buat gue hamil dan sekarang malah lu yang kena getah nya kan? Gue rasa kayak nggak berhak aja orang sebaik lu malahan mendapat kebanyakan hal buruk kayak gini. Kayak ya kan seharusnya dia yang dapetin ini semua. Tapi kenapa malah lu. Dia yang lakuin tapi malah orang lain yang jadi bertanggung jawab."
Mahen mengendikkan bahu.
"Memang udah biasa orang lakuin itu kan? Kejahatan yang nggak mungkin dia tutupi sendiri. Ya mungkin kekasih lu yang satu ini juga masih nggak punya keberanian sama sekali buat tanggung jawab dan memang Tuhan ngirimin gue buat nutupin semua hal ini dan ya gue nggak permasalahin sama sekali."
"Tapi kan ... tetep aja. Kayak aneh aja nggak sih. Lu yang nggak lakuin apa-apa tapi malahan dapat karma kayak gini."
Mahen membawa lengan Zaina dan menepuknya perlahan.
"Sungguh Zaina ... nggak perlu mikirin yang nggak akan terjadi sama sekali. Saya nggak peduli dengan isu hati kamu yang masih ada nama kekasih kamu itu atau keadaan kalau kamu sama sekali nggak bisa berpaling sama sekali. Di sini tugas saya cuma berusaha yakinin kamu kalau saya ini serius."
"Jadi ... Saya harap dengan ini juga kami bisa mulai membuka hati. Supaya hubungan kita ke depannya akan jauh lebih membaik."