Love In Trouble

Love In Trouble
Pilihan Membingungkan



Memilih memang merupakan hal yang paling sulit untuk di putuskan. Karena pada akhirnya Zaina memilih mendiam kan ponselnya dan panggilan dari Mahen lalu menatap sang mommy yang masih saja terus tertawa lebar.


"Hah ... aku beneran nggak paham ih sama diri aku sendiri. Kayak beneran nggak sih ini tuh? Dan aku beneran nggak bisa jadi diri aku sendiri kah? Apa memang sudah dari awal aku nggak boleh peduli sama diri aku sendiri? Karena masih banyak yang harus aku lakuin demi orang lain?"


Dengan langkah lesu, Zaina masuk ke dalam kamar. Dia kembali rebahkan tubuhnya di atas kasur. Untuk sesaat ia menarik napas dalam. Dia masih nggak paham sama apa yang terjadi di sini.


"Ya ampun ... pengin rasanya aku ngelupain semua janji aku sama oma. Pengin rasanya aku teriak di depan oma kalau ini memang yang seharusnya oma lakuin dari lama ke mom dan keluarga kita. Bukannya malah sengaja mengambil kesempatan dan menguntungkan oma lalu merugikan aku kayak gini."


Zaina mengusap air matanya yang turun.


"Tapi ... apa yang aku bisa perbuat? Aku cuman anak kecil yang nggak bisa apa-apa. Umur aku memang udah dewasa, tapi semua orang masih aja anggap aku kayak anak kecil dan ya aku nggak bisa apa-apa kan?"


Tok ... Tok ... Tok ..


Ketukan di pintu kamarnya cukup membuat perempuan itu merasa terganggu. Ia menarik napas dalam dan bangkit dari kasurnya lagi. Ia mengenakan selop rumahan yang selalu ia kenakan di rumah dan menghampiri pintu kamar.


Begitu pintu terbuka, wajah sumringah mommynya langsung terpampang nyata. "Ada apa mom?"


"Ah itu, mommy cuman manggil kamu buat makan. Oh iya, nanti malam kayaknya mom mau tidur di sini sama kamu. Karena banyak yang mau mom bicarakan ke kamu tentang oma. Mom beneran harus ceritakan semuanya sama kamu!"


Zaina menatap bingung.


"Tapi ... oma nggak ngomong apa-apa kan sama mommy? Oma juga nggak nyinggung hal yang buat mom sedih lagi kan? Maksudnya ... Zaina tau kalau mom udah pengin dari lama punya hubungan baik sama oma."


Mommy Nadya mengangguk.


"Aku nggak mau kalau mom terus keliatan baik-baik aja gitu. Aku mau mom terbuka sama masalah ini dan aku harap juga, mom nggak melakukan hal yang aneh lagi. Karena di sini tuh beneran hal yang harus mom rasakan dari hati. Bukan sekedar kesukaan mom doang."


"Ya ampun, jadi kamu khawatir nih sama mommy?"


Zaina mencibir, bisa-bisanya sang mommy malah mengajak dia bercanda. Di saat hatinya sedang bingung seperti ini. Ia mendengus kecil dan menggeleng pelan.


"Hahaha ...," tawa mommy Nadya sebelum mommy nya itu berdeham dan berakhir memandang Zaina dengan wajah yang sangat serius. "Kamu tenang aja, beneran deh. Dari dulu mommy sudah biasa menahan hal kayak gini. Tapi—


"Nah kan!" sela Zaina dengan sangat cepat. "Berarti benar kan kalau oma tuh memang nggak sebaik yang di kira. Aku udah mengira dari awal. Aneh aja gitu, oma tiba-tiba datang. Mana datangnya pas daddy lagi di luar negeri lagi! Kayak yang sengaja banget gitu."


"HUS!" Mommy Nadya memukul pelan lengan atas anaknya itu dan menarik Zaina masuk ke dalam kamar anaknya itu.


"..."


"Kamu nih ya kalau ngomong suka sembarangan banget. Ini kalau di dengar sama oma kamu, yang ada mommy jadi gak enak dan kebiasaan kamu tuh nggak dengerin omongan mom dengan jelas. Kebiasaan langsung motong kayak gitu."


"Ya kan .. memang biasanya oma kayak gitu nggak sih?"


"Di sini mommy cuman mau menekankan kalau oma nggak kayak dulu lagi. Walaupun sedikit aneh karena oma tiba-tiba berubah kayak gini. Tapi, mommy harap ini sebagai hadiah yang udah sepatutnya kita terima dan anggap aja ini jawaban atas doa mommy selama ini kan?"


"..."


"Dan karena di sini oma kamu udah berubah. Mommy harap kamu juga jangan pernah ungkit masa lalu ke hadapan oma kamu lagi. Anggap aja yang berlaku biarlah berlalu. Di sini mom hanya bisa berharap kalau kamu nggak buat oma jadi marah lagi."


"..."


"Karena sesungguhnya oma beneran udah baik banget sama mom. Nanti deh, oma ceritakan. Sekarang kita turun dulu dan makan. Kasihan oma kamu kalau menunggu lama."


***


Suasana canggung menyelimuti Zaina. Rasanya makanan di depan Zaina jadi tidak terlihat menggugah selera karena rasa canggung yang melilit tubuhnya itu. Zaina menoleh ke arah depan dan kedua perempuan di sana ternyata terus saja mengobrol selama makan. Hal ini membuat Zaina jadi sadar kalau sepertinya di sini hanya dirinya saja yang merasa nggak nyaman, karena omanya sama mom Nadya kelihatan bahagia bahagia saja.


Ia menarik napas dalam.


Yang mana suaranya membuat mommy Nadya yang sejak tadi mengobrol, langsung sadar dan menoleh pada Zaina.


"Zaina, kamu baik-baik aja kan? nggak ada masalah lagi kan. Jangan diam aja kalau lagi ada masalah."


Zaina tertawa canggung dan menggeleng.


"Enggak kok, mom. Udah mom nggak usah perhatiin aku. Aku baik-baik aja. Jadi, mom nggak usah khawatir sama sekali. Karena di sini aku nggak apa-apa."


"Kamu nggak seharusnya terlalu mengkhawatirkan anak kamu kayak tadi," balas sang oma membuat dua perempuan di sana langsung memandangnya dengan tatapan yang berbeda. "Zaina sudah dewasa, dia pasti udah paham sama apa yang dia pilih. Nggak seharusnya kamu nanya terus kondisi dia. Kamu cukup percaya saja sama dia. Pilihan Zaina pasti nggak salah dan kalau dia mendapat balasan apa pun itu. Memang sudah sepatutnya dia menerima itu semua kan?"


"Begitu ya bu?"


"Iya dong ... jadi ibu harap untuk ke depannya. Kamu nggak menolak semua pilihan anak kamu itu. Karena mungkin itu memang yang terbaik."


Zaina yang sudah paham sama arah pembicaraan sang oma hanya menarik napas sendu sekaligus, menahan diri untuk nggak marah.


Omanya selalu saja cerita seolah-olah dia setuju. Padahal persetujuan itu sama sekali nggak pernah ia elukan. Ia hanya mau melihat omanya yang beneran berubah atau nggak, baru dia akan memikirkan lagi.


Tapi, kenapa omongan omanya selalu saja mengarahkan ke arah sana.


Tiba-tiba terdengar suara bel rumah membuat mommy Nadya meninggalkan mereka dan seketika oma langsung beralih menatap Zaina.


"Besok oma udah buat janji pertemuan antara kamu sama calon kamu yang lain. Bukan yang kemarin! Ini pasti jauh lebih baik dan sesuai selera kamu. Jadi, jangan buat oma malu lagi untuk yang kedua kalinya!!!"