
“Maksud mommy?”
Mommy Nadya menarik napas dalam, “ini sungguh keputusan yang berat buat mommy sama daddy. Kami memutuskan ini setelah memikirkan panjang. Kami benar-benar merasa kalau ini memang yang harus kamu lakukan, demi kebaikan kamu sendiri. Demi kebaikan semua orang dan mental kamu sendiri untuk menghadapi orang di luaran sana yang mungkin menghujat kamu atas keadaan kamu yang kayak gini.”
Perempuan itu menunduk dan menatap dirinya, “menikah?”
Mommy Nadya mengangguk, “salah satu cara yang paling ampuh untuk kamu. Untuk kita semua. Bagaimana kamu mau?”
Zaina masih diam, ini benar-benar nggak ada di pikiran dia sama sekali. Zaina mengira kalau perjodohan ini akan di selesaikan karena dirinya yang begini. Zaina sama sekali nggak pernah mengira kalau akan begini pada akhirnya. Ia menatap mommy Nadya dan dia sama sekali nggak melihat tatapan candaan dari sana.
“Mommy ... bukannya mommy tahu keadaan aku?”
“Dia mau,” jawab mommy Nadya membuat Zaina benar-benar terkejut. “Mommy juga nggak mau mempermalukan kamu, nak.
Bahkan sebelum kami ngomong gini sama kamu, kami udah lebih dulu mutusin untuk ngomong secara tertutup sama dia dan dia beneran setuju sama kamu. Dia beneran nggak masalah dan mau menikah sama kamu. Setelah mendapat izin dari dia, baru kami ngomong sama kamu. Jadi sekarang tinggal menunggu keputusan kamu saja.”
Zaina terdiam, terlihat enggan tapi nggak enak.
“Mommy ... sebenarnya setelah lakuin ini semua. Yang mau aku lakuin cuman nurut sama apa pun yang dibilang mommy sama daddy. Aku mau mommy sama daddy nggak menolak apa pun yang diinginin lagi sama mommy dan daddy. Aku beneran mau jadi anak penurut. Tapi apa harus sampai seperti ini?”
Mommy Nadya mengangguk, “kamu sudah melewati banyak hal dan kami mau kamu bahagia. Kami mau kalau kamu ngelupain semua masalah yang terjadi. Kami mau kalau kamu bisa lewatin ini dengan baik. Bukannya cuman sendirian kayak gini. Mau gimana pun, kamu pasti butuh support system kan? Bukannya kayak gini aja?”
Zaina mengangguk.
Orang tuanya memang selalu ada di sisi dirinya, tapi sangat jelas dia tahu kalau mereka nggak akan pernah bisa mendengar apa yang di bicarakan sama Zaina. Karena pemahaman mereka memang nggak akan pernah sama. Pemikiran Zaina nggak akan pernah sampai di pemikiran orang tuanya yang memang udah memandang lain. Begitu juga sebaliknya.
“Lalu, apa yang kamu pikirin lagi? Orang yang mau mommy dan daddy jodohkan sama kamu berumur nggak jauh dari kamu kok. Dia juga pasti mengerti apa pun yang kamu katakan dan mommy merasa kaalu dia nggak akan macam-macam sama kamu. Dia nggak pernah neok-neko dan karena itu dia sangat cocok sama kamu yang kayak gini.”
Zaina menarik napas dalam. Benar-benar bingung.
“Mommy ... apa mommy nggak merasa aneh sama sekali? Masa ada orang yang mau menikah sama orang yang lagi hamil kayak aku? Apa mommy nggak mikir kalau ini ada yang aneh? Apa mommy nggak mikir kalau orang yang di jodohin sama aku itu aneh banget?” tanya Zaina berusaha untuk membuat pikiran sang mommy jadi terbelah.
“Dunia ini kejam, mom. Nggak banyak orang baik di dunia ini. Kebanyakan orang udah jahat karena melewati kehidupan yang kejam dan kalau masih ada orang sebaik itu. Harusnya kita curigain loh, mom. Dengan keadaan dia yang mau menerima aku aja itu udah aneh banget bagi aku dan sekarang mau menikah sama aku? Ini beneran udah definis tingkat paling tingga yang aneh. Aku rasa ini nggak benar sama sekali.”
Mommy Nadya menepuk lengan atas anaknya membuat Zaina merengut dan mengusapnya, walau nggak sakit sama sekali.
“Harusnya kamu bersyukur karena masih ada orang yang mau menikah sama kamu tahu. Bukannya malah meragukan kayak gini,” tambah Mommy Nadya membuat Zaina mengerucut kan bibirnya.
“Aku bersyukur ... tapi kata menikah udah jauh dari pikiran aku. Setelah aku tahu diri aku hamil karena perbuatan nakal aku sendiri. Aku langsung berpikir kalau nggak bakalan ada laki-laki yang mau menikahi perempuan cacat seperti aku. Aku ini nggak tahu bagaimana, tapi aku sama sekali nggak berani memikirkan ke arah sana. Pasti nggak bakalan ada laki-laki yang mau sama orang tak sempurna kayak aku.”
“Hei ... siapa yang ajarin anak mommy ngomong kayak gini?”
Zaina menggeleng dan mengendikkan bahu.
“Aku cuman mengatakan apa yang memang pantas aku katakan aja. Selama ini aku merasa kalau nggak akan ada yang mau menerima aku. Aku cuman berharap sama pacar aku aja. Sampai di satu titik aku tahu kalau dia pergi. Aku akhirnya memutusin untuk melakukan semuanya dengan sendiri. Aku sama sekali nggak ada pikiran ke arah sana.”
Zaina duduk menyandar dan memandang ke arah langit.
"Pikiran aku selalu bercabang ... aku yang mau cari kekasih aku itu dan menuntut dia karena udah jahat banget kayak gini. Tapi di sisi lain, aku mau jalanin hidup aku apa adanya dan nggak mau cari ribut sama orang lain. Aku mau semuanya berjalan kayak gini. Aku udah puas sama hidup aku yang sekarang dan nggak mau macam-macam. Lalu malah membuat aku kembali merasa sakit hati."
"Mommy yakin kalau dia nggak akan pernah buat kamu sakit hati."
“Bagaimana mommy bisa yakin? Di saat sifat manusia itu selalu berubah? Aku nggak tahu, tapi di sini aku sama sekali nggak akan semudah itu percaya sama orang lain. Aku nggak mau jadi orang bodoh untuk yang kedua kalinya. Karena dulu aku memikirkan kalau pacar aku ini juga baik dan nggak akan pernah melukai hati aku. Tapi nyatanya hidup itu berjalan kan? Aku juga merasakan sakit atas apa yang dia lakuin. Jadi, aku nggak akan semudah itu percaya sama orang lain lagi. Aku nggak bakalan bisa segampng itu buka hati sama orang lain.”
Mommy Nadya terdiam.
Sorot luka di mata anaknya membuat dia membuka hati dan menarik napas dalam. Harus ingat kalau anaknya ini sedang dalam keadaan mental yang kurang baik.
“Okei ... mommy nggak akan maksa kamu lagi. Mommy cuman mengutarakan keinginan mommy sama daddy saja. Pada akhirnya kami akan menyerahkan semuanya sama kamu. Walau di satu sisi kami mengharapkan kalau kamu mau melakukan ini demi kami. Untuk sekarang kamu istirahat aja dan jangan terlalu di pikirin semua ini. Pelan-pelan saja karena mommy sama daddy juga nggak butuh jawaban secepatnya.”
“Iya mommy, terima kasih pengertiannya dan sekali lagi maafkan aku.”