Love In Trouble

Love In Trouble
Perih



"Memangnya kerjaan aku cuman bisa mengacau ya?"


"Eh bukan begitu," balas Mahen yang sadar ucapannya sudah sangat berlebihan dan menyakiti perempuan itu. "Maksudnya ... kamu nggak ngelakuin macem-macem kan di sini? takutnya kamu nggak bawa uang atau di tinggal gitu loh," lanjut Mahen yang mengeles


Zania mendengus.


"Aku ada macem-macem juga bukan urusan kamu," jawab Zaina yang malah ketus. "Kalian lagi bareng?" tanya Zaina saat sadar mereka berdua berdiri saling berdampingan. Membuat hatinya sedikit perih.


"Iya dong!" jawab Restu dengan semangat. Belum sempat Mahen protes, Restu kembali menyela. "Akhir-akhir ini kami emang lumayan deket sih. Kamu nggak mungkin cemburu kan? Kamu cuman masa lalu dari mas Mahen doang. Nggak lebih sama sekali. Jadi, harusnya kamu nggak ada hak buat cemburu kan?"


Zaina tersenyum tipis.


"Bener ... antara aku sama Mahen cuman masa lalu doang. Jadi, kamu nggak perlu khawatir. Kami nggak ada hubungan lagi selain rekan kerja biasa atau cuman sekedar berteman doang. Jadi, tenang aja."


Restu mendengus.


"Ya lagian buat apa Mahen masih berhubungan sama perempuan yang udah menyelingkuhi nya. Aku juga nggak khawatir kok," seru Restu sambil menjulurkan lidah. "Sudah lah ... aku nggak peduli sama sekali. Yang penting kamu sama Mahen juga udah nggak ada hubungan."


Dengan napas tercekat, Zaina melangkah mundur dan menatap ke arah rintik hujan yang begitu besar. Dalam hati perempuan itu meringis. Dunia terlalu cepat berlalu ya?


Perasaan ... panggilan mas itu yang dulu dia ucapkan. Tapi kenapa malah orang lain? Dulu rasanya Zaina senang saat bersama Mahen. Tapi, kenapa sekarang mereka malahan menjadi orang yang asing?


Zaina mengalihkan pandangan ke arah lain dan diam-diam menghapus air matanya.


"Sudah lah Mahen ... nggak ada gunanya kita di sini. Tadi, kamu suruh nunggu aku buat ambil payung kan? ini udah ada. Jadi, mendingan sekarang kita pulang. Aku mulai kedinginan nih," rengek Restu sambil menggoyangkan tangan Mahen.


Zaina terus melihat dengan pandangan mengabur. Dari langkah pertama saat meninggalkan tempat ini sampai saat tangan Mahen yang merangkul pinggang Restu supaya perempuan itu nggak terkena hujan.


Semuanya Zaina lihat.


Tidak mau membuat hatinya semakin perih, Zaina langsung mengalihkan pandangan. Ia memeluk tubuhnya sendiri seraya menghembuskan napas sesekali.


"Ugh ... rasanya sakit banget."


"Perasaan pas di tinggal sama Ghaly aku nggak sesakit ini. Tapi kenapa sekarang aku bisa sampai sesakit ini sih?"


Zaina memandang dua orang tadi yang semakin menjauh dan mulai menghilang dari pandangannya. Air matanya kembali turun seiring dengan idaman kecil yang terdengar.


"Rasanya beneran sakit ya ngeliat orang yang dulu segitu sayangnya sama kita, yang dulu selalu perhatiin kita terus, selalu mastiin kita baik-baik aja, selalu bersama kita, dan selalu nyatain cinta. Tapi sekarang orang itu malah bareng sama perempuan lain."


Kacau. Pikiran Zaina, hati Zaina, jiwa Zaina, benak Zaina. Semuanya benar-benar kacau. Bahkan perempuan itu gak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Ia terus menarik napas dan menghembuskannya. Tapi rasa sakit itu nggak kunjung hilang juga.


Zaina menatap ke arah langit. Tak ada tanda-tanda hujan berarti. Akhirnya perempuan itu memilih menerobos hujan. Tapi bukannya berlari, Zaina memilih berjalan dengan santai.


Karena dengan begini, air matanya nggak akan terlihat.


Nggak bakalan ada yang sadar kalau dirinya menangis.


Nggak ada yang sadar kalau dirinya sedang sekacau itu.