
Setelah pelayan menaruh minuman dan mereka berbincang sebentar, tanpa membahas masalah sedikit pun. Karena ini juga pertemuan pertama kali mereka. Dari pertemuan ini juga Daddy jadi tau kalau yang sejak awal kekeuh tentang perjodohan ini ya ibunya sendiri. Bahkan yang merencana kan ini pertama kali juga ibunya dan entah kenapa orang tua Sofyan malah manut aja.
"Kedatangan kami ke sini untuk bersilaturahmi karena seperti nya pertemuan kita terakhir kali nggak berjalan dengan baik. Makanya kami mau kembali datang dan kali ini tentunya dengan itikad baik," ucap ayah Sofyan yang mengawali.
Daddy mengangguk.
"Kami menerima itikad baik kalian," jawabnya dengan berseru terima kasih atas kunjungan mereka
"Tapi ... kalian nggak akan bahas perjodohan ini lagi kan?" sambung mommy dengan tatapan memicing. "Kalian gak akan maksa anak kami buat menikah sama anak kalian kan? Karena mau apa pun paksaan kalian, saya nggak bakalan kasih anak saya ke kalian."
"Eh bukan," elak bunda Sofyan.
Orang tua Zaina langsung saling pandang dan menatap mereka dengan bingung.
"Jadi begini ... beberapa hari yang lalu nak Zaina datang ke rumah kami," jelas bunda Sofyan membuat orang tua Zaina langsung ingat omongan Zaina yang mengatakan akan menyelesaikan masalah ini lebih dulu sendirian.
"Zaina nggak bertingkah yang macam-macam kan?"
Bunda Sofyan menggeleng.
"Tenang aja, nak Zaina adalah anak yang paling baik dan sopan yang pernah saya lihat," ucap bunda Sofyan. "Banyak berita buruk yang menyeret nama anak kalian. Tapi saya sama sekali nggak bisa melihat kalau anak kalian seburuk yang orang bilang. Karena nak Zaina benar-benar sangat baik dan nggak tertandingi sama sekali."
Mommy Nadya tersenyum simpul. Hatinya sedikit berbunga mendengar seruan itu. Ia merasa anaknya memang sebaik itu dan akhirnya hari ini tiba. Tanpa ada yang menjudge anak nya lagi karena satu per satu orang akan sadar dengan kebaikan anaknya itu.
Mommy Nadya mengibaskan tangan di udara, berusaha fokus. "Jadi ... apa yang udah anak saya lakukan?" tanya mommy Nadya. "Maksudnya, dia nggak mungkin datang tanpa itikad baik atau apa pun itu kan?"
Bunda Sofyan mengangguk.
"Waktu itu ... saya beneran kaget karena Zaina yang tiba-tiba datang gitu aja. Ya awalnya saya kira nak Zaina mau bahas perjodohan ini kan. Tapi saya beneran kaget karena nak Zaina nggak sendiri."
"..."
"Dia membawa seorang laki-laki? Hmm ... saya nggak ingat namanya. Tapi mereka keliatan sangat mesra," jelasnya
"Mahen?" sela mommy Nadya dan bunda Sofyan langsung menunjuk dan mengangguk.
"Nah iya! namanya nak Mahen. Pokoknya nak Zaina pas itu langsung jelasin kalau nak Mahen itu kekasihnya. Apa itu benar ya?" tanya bunda Sofyan karena takut dirinya itu di tipu atau ini semua cuma akal-akalan Zaina saja biar nggak di jodohin sama anaknya. Siapa yang tau kan?
Daddy Zidan mengangguk.
"Mereka bahkan sempat menikah, tapi karena suatu masalah akhirnya mereka berpisah," jawab daddy Zidan dengan sangat lugas. "Dan beberapa hari terakhir, mereka ternyata kembali bersama. Memang jodoh nggak ada yang tau kan."
Orang tua Sofyan hanya tersenyum tipis.
"Mahen sama Zaina nggak ngomong hal yang jahat kan?" tanya Mommy Nadya yang beneran khawatir. "Mereka tuh jalan sendiri. Mereka nggak jelasin ke kita rencana yang mau mereka lakuin. Mereka cuma yakin kalau mereka bisa lewatin ini sendirian. Yo wes, kami biarin aja. Tapi tetap aja kadang kepikiran kalau mereka bakalan macam-macam."
"Hahaha enggak kok, malahan saya kagum karena mereka yang berani."
"Berani gimana?" tanya daddy Zidan yang mulai khawatir juga. Ini masalahnya Zaina tuh anak yang nggak bisa di tebak sama sekali. Yo daddy kan jadi khawatir juga.
"Pokoknya mereka sama sekali nggak mau nyinggung saya dan jelasin hati-hati apa yang terjadi di sini. Termasuk kenapa perjodohan ini bisa terjalin. Awalnya sih saya marah. Merasa ditipu kan dan saya udah punya tekad bulat kalau anak saya harus menikah sama nak Zaina. Nggak boleh sama perempuan lain."
Bunda Sofyan menghela napas. Sadar kalau sifatnya begitu keras kepala sampai membuat banyak orang kesulitan.
Ia menoleh ke arah suaminya dan menggenggam tangannya dengan sangat erat.
"Sampai ternyata ayahnya Sofyan jelasin ke aku. Dan sekarang saya sadar kalau tindakan saya udah jahat banget. Jahat sama anak saya sendiri dan jahat sama nak Zaina kalau tetap maksa ini untuk lanjut. Makanya saya mau datang ke sini untuk meminta maaf karena sempat egois untuk masalah ini. Saya beneran minta maaf karena sudah menjadi pribadi yang egois."
"Eh enggak ..."
"Awalnya saya cuma mau anak saya menikah sama orang yang tepat sampai terus maksa Sofyan. Tapi saya nggak tau kalau ternyata Sofyan tersiksa sama paksaan saya. Jadi saya menyesal dan ingin meminta maaf ya sama kalian."
Mommy Nadya tersenyum.
"Wajar kok kalau orang tua mau kasih yang terbaik untuk anaknya," lanjut mommy Nadya dengan serius. "Kadang kita mau yang terbaik untuk mereka dan maksa mereka untuk ikutin yang kita mau. Sampai nggak sadar kalau tindakan kita ini malah buat anaknya tersiksa."
Bunda Sofyan mengangguk.
"Tapi kalau kata Zaina mah, ya nggak apa-apa. Selama kita bisa sadar dan berubah itu nggak masalah. Namanya juga manusia, nggak akan pernah luput dari kesalahan sama sekali. Jadi, nggak masalah bu dan nggak usah minta maaf kayak tadi. Karena saya juga ikut andil sama masalah ini."
"Tapi nak Zaina bijak juga ya," lanjut bunda Sofyan
"Anaknya memang bijak banget."
Mereka tertawa dan terus berbincang, sangat asyik sampai suara pintu dibuka membuat mereka menoleh. Zaina terus masuk dengan bersenandung kecil, masih nggak sadar sama apa yang ada di depannya. Sampai panggilan mommy Nadya membuat Zaina menoleh dan langkahnya terhenti.
keningnya mengkerut dan emosinya langsung bergejolak.
Mommy Nadya mendesis dan menghampiri anaknya yang mau melangkah pergi lagi. Mommy Nadya menahan tubuh Zaina membuat anaknya itu memberontak. Mommy Nadya langsung saja menarik mulut anaknya yang udah ngomong asal dan bikin malu saja.
"Dengar dulu, nggak usah langsung nyimpulin gitu!"
"Ya gimana aku bisa nggak nyimpulin, kalau ngeliat orang tua Sofyan ada di sini. Pasti kalian mau omongin hubungan aku sama Sofyan kan!" marah Zaina sambil mengusap bibir nya yang nyut-nyutan habis ditarik. "Mom sama dad nggak lupa kan kalau aku punya Maneh. Dia—
"Tenang aja nak Zaina, kami datang untuk menyudahi perjodohan ini kan."
"Eh—," Zaina mengerjap dan menatap bingung pada empat orang dewasa yang ada di sana. "Ma— maksudnya?"
"Iya ... bunda udah sadar kalau perbuatan bunda udah berlebihan banget sama kamu dan Sofyan. Bunda juga udah mikirin semua omongan kamu waktu itu dan sekarang bunda beneran udah sadar kalau perbuatan bunda udah berlebihan banget. Jadi kami datang ke sini buat bilang ke orang tua kamu kalau hubungan ini cukup di sudahi saja dan berhenti sampai di sini aja."
"Beneran?!" tanya Zaina penuh harap.
Anggukan dari orang tua Sofyan, membuat Zaina memekik dan langsung meloncat riang. Membuat semua orang tua di sana ikut merasa bahagia. Wajah sumringah Zaina bantu mereka merasa lebih lega karena udah mendapat jawaban yang benar.
Zaina langsung refleks memeluk sang mommy dengan erat.
"Mom, akhirnya ... semuanya terlewati. Aku kira ini semua bakalan berakhir gagal. Tapi ternyata terwujud juga. Mom, ya ampun ... aku bahagia banget."
mommy Nadya menarik napas dan mengangguk pelan. Ikut bahagia melihat anaknya yang seperti ini.
"Kamu pantas bahagia kayak gini, nak. Bahagia seperti ini terus ya nak dan jangan lupa bilang makasih sama orang tua Sofyan karena mereka udah mutusin kayak gini. Hayo, gih makasih sama mereka."
Zaina melepas pelukan dan menghampiri mereka, ia menyalimi lengan orang tua Sofyan berulang kali buat mereka terkekeh sama tingkah Zaina yang lucu.
"Makasih ya bun, yah ... makasih karena udah mutusin kayak gini. Maaf karena waktu itu aku datang dengan nggak sopan dan malah sedikit marah. Aku minta maaf karena udah nyinggung bunda ini itu. Tapi makasih banget karena kalian yang relain ini dan mutusin semua ini. Aku berterima kasih banget."
Bunda Sofyan terkekeh dan menarik Zaina dan memeluk nya dengan sangat erat.
"Nggak apa-apa ... bunda yang minta maaf karena udah sempat egois banget sama kamu. Bunda nggak mikirin perasaan kamu sama sekali. Dan maaf karena bunda pernah marah waktu itu. Padahal semua yang kamu omongin itu benar adanya. Pokoknya kamu keren deh, terus lanjutin hubungan kamu saka nak Mahen ya. Karena bunda lihat kamu bahagia sekali dengannya."
Zaina mengangguk di pelukan bunda Sofyan.
"Juga ... bunda terlanjur sayang banget sama kamu. Sesekali jangan sungkan main ke rumah ya. Kita jalan bareng. Bunda nggak punya anak perempuan, jadi sepertinya seru mengenal kamu lebih dekat."
Zaina melepas pelukan.
"Aku sih nggak masalah dan dengan senang hati bakalan datang ke rumah bunda sama ayah," jujurnya. "Tapi gimana dengan Karina—," lanjutnya dengan hati-hati takut orang tua Sofyan belum merestui mereka.
Tapi, syukur sekali bunda Sofyan tersenyum tipis.
"Karena omongan kamu juga, bunda ingin mengenal dekat kekasih Sofyan. Terima kasih ya karena kamu sudah buka hati bunda. Di sini kita nanti bisa pergi bertiga kok. Kalau kamu nggak sungkan untuk menerima ajakan bunda."
Zaina mengangguk.
"Aku bakalan dengan senang hati terima ini kok!"
Mereka terus berbincang, kebahagiaan menguar di keluarga Zaina kali ini. Mereka berharap ini menjadi titik awal kebahagiaan Zaina. Tanpa ada orang yang akan merasa iri dan menyakiti anak mereka lagi.
***
"Mom ..."
"Eh kenapa nangis?" Mommy Nadya langsung menangkup pipi anaknya dan mengusap air mata Zaina yang turun itu. "Ini orang tua Sofyan baru aja pulang loh, kenapa kamu jadi nangis. Bukannya kamu senang karena ini ya? Udah dong, jangan nangis kayak gini."
Daddy Zidan menghampiri anaknya dan langsung rangkul Zaina.
"Ada apa lagi anal daddy? Kenapa kamu menangis. Ada yang buat kamu sedih. Bukannya harusnya kamu bahagia ya?" Daddy Zidan mengajak Zaina duduk di sofa dan menatap langsung wajah anaknya itu.
"Aku bahagia," jujur Zaina dengan sangat pelan. "Aku bahagia banget. Ini yang aku mau selama ini. Tapi aku nggak tau kenapa jadi menangis gini. Huaaaa."
Orang tuanya malah tertawa melihat Zaina yang seperti ini. Umur Zaina memang terbilang sudah dewasa. Tapi di mata orang tuanya Zaina masih anak-anak yang harus terus di bimbing. Berbagai tingkahnya membuat mereka terus merasa Zaina masih begitu kecil yang harus dijaga dengan sedemikian rupa.
Bukan kah setiap orang tua akan begitu ya?
Mau sedewasa apa pun umur anaknya, di mata orang tua mereka terus kecil.
"Mom ... sebenarnya aku takut banget selama ini," jujur Zaina sambil menatap mommy nya dan masih terus meluk daddy Zidan yang mengusap rambutnya. "Aku takut banget kalau masalah ini nggak berjalan seperti yang aku mau. Aku beneran takut banget kalau nanti aku bakalan pisah sama mas Mahen dan lanjutin hidup sama laki-laki yang nggak pernah aku bayangin sama sekali. Aku takut kalau misalnya nanti semua ini nggak berjalan seperti impian aku."
Daddy Zidan mengusap punggung sang anak dengan sangat lembut sembari mengangguk kecil.
"Sekarang kamu nggak usah khawatir lagi karena semua nya udah terjalin. Dan selanjutnya daddy harap kamu bakal terus bahagia apa pun yang terjadi. Tapi sebelum itu, masih ada yang harus kita selesai kan!"