
Seiring berjalannya waktu, luka itu kian sembuh. Zaina tak mau lagi menyimpan semua kesakitan ini sendiri. Ia mulai berdamai dan berusaha menguatkan diri, jika ke depannya ia akan bertemu kepahitan hidup yang lebih banyak. Zaina juga udah mulai berusaha memahami kalau dirinya sama Mahen memang tidak sejalan.
Jadi, akhir-akhir ini Zaina mulai bisa mengontrol lagi. Tapi entah kenapa nih. Hari ini rasanya Zaina malas sekali untuk bangun dari tempat tidur. Malas sekali untuk pergi ke kantor dan bekerja. Bukan ... bukan karena lelah atau sakit. Tapi tepat hari ini, ada jadwal pertemuan antara dia sama Mahen. Hanya berdua saja.
Zaina menghela napas kasar sambil merapihkan pita di kerah bajunya. Rasanya setiap dia mau menjauh, kenapa takdir malah membawa mereka untuk mendekat.
"Itu artinya Tuhan menakdirkan kalian untuk saling memaafkan satu sama lain," ungkap mommy yang baru masuk ke kamarnya sambil membawa segelas susu putih. "Mommy tau kalau kamu kelihatan khawatir banget dan mommy jelas tau kalau kamu sedikit panik karena ini. Tapi mommy harap kamu bisa profesional. Jangan campur aduk masalah dulu sama kerjaan. Dan dengan pertemuan kayak gini. Buat kamu makin kuat. Terbenteng dari masalah yang kamu hadapi."
"Tapi mom ... dia bakal maafin aku nggak?"
"Mahen maksud kamu?"
Zaina mengangguk kecil. "Iya ... aku kan udah sadar nih, kalau meninggalnya anak aku emang takdir dan aku malah nuduh Mahen yang enggak-enggak. Makanya aku mau minta maaf sama dia. Beneran sekedar minta maaf aja, karena aku nggak bakalan pernah mau berhubungan lebih jauh lagi. Aku masih takut dan kayaknya juga ... Mahen udah deket sama perempuan lain. Jadi, aku nggak mau ganggu dia sama sekali."
"Huft ... padahal mommy suka sekali sama Mahen," ucap sang mommy dengan jujur. "Dia beneran anak yang sopan. Mommy menyukainya. Walaupun sampai sekarang mommy masih berharap kalau kamu ini punya hubungan sama Mahen. Tapi mommy bisa apa kalau takdir nggak membawa kalian untuk bersama? Mommy cuman do'ain kalau kamu bisa berteman sama Mahen lagi. Tanpa melibatkan perasaan sama sekali."
"Aku juga mau. Tapi aku takut mom," jawab Zaina dengan sangat pasrah. "Ya ... mommy tahu sendiri kan pandangan orang sama aku? dan aku nggak mau ngebuat Mahen di pandang buruk lagi karena aku. Jadi ... aku nggak bisa kayak dulu lagi, termasuk berteman sama Mahen. Jadi, ya begini aja deh. Aku nggak mengharapkan lebih selain dapat maaf dari dia."
Mommy Nadya menepuk punggung anaknya pelan sambil sesekali mengangguk kecil.
"Apa pun itu, mommy akan terus doakan yang terbaik untuk kamu. Kamu bisa bebas lakuin apa yang kamu mau! asal satu ... mommy mau kamu cerita apa pun yang terjadi di hidup kamu."
Zaina merengut dan menghentakkan kaki.
"Ih mommy!" rengeknya kesal. "Aku nih udah gede. Masa aku harus laporan terus sama mommy. Memangnya mommy kira aku ini anak kecil? nggak mau ah ... aku malu."
Mommy Nadya menepuk pelan lengan atas Zaina sambil menggeleng. "Seberapa pun dewasa kamu, mommy tetep anggap kamu anak kecil. Bahkan sampai nikah nanti. Udah, jangan cari alasan terus ... mommy mau kamu cerita apa pun yang terjadi sama mommy."
"Ah elah," kesalnya. "Iya deh," lanjut Zaina yang udah pasrah dan nggak bisa apa-apa lagi.
"Udah sana sarapan ... kamu perlu beratin badan kamu," perintah sang mommy. "Pokoknya bulan depan kamu harus naik berat badannya!"
"Iya-iya .."
***
Zaina membuka pintu belakang mobilnya dan mengeluarkan banyak bungkusan kue di depan barisan anak kecil yang baru saja ia kumpulkan di dekat lampu merah. Zaina tersenyum sangat lebar melihat mata berbinar penuh harapan yang di pancarkan sama mereka. Ia benar-benar bahagia melihat semua anak itu.
"Iya tante cantik!"
Zaina tersenyum lebar saat memberikan mereka satu per satu. Hatinya menghangat saat beberapa dari mereka memeluk sebentar dirinya.
Inilah kegiatan rutinitas Zaina belakangan ini. Tanpa penjagaan dari siapa pun. Bahkan Ghaly sebagai asisten Zaina nggak pernah membantu, bukan karena nggak mau. Tapi Zaina yang memang melarang. Tidak hanya itu, Zaina juga membungkus semua makanan sendiri. Ia melakukan semuanya sendiri. Karena setelah melakukan semuanya sendiri, ada kepuasan tersendiri di hatinya. Apalagi saat melihat senyuman mereka.
"Tante ... makasih banyak ya tante. Kata nenek, aku beruntung banget bisa ketemu orang baik kayak tante. Tante pokoknya bakalan disayang sama Allah! aku yakin kalau orang baik kayak tante pasti bahagia!" ucap salah satu anak perempuan.
Zaina mengusap air matanya yang turun.
"Kalian juga harus bahagia ya. Kalau ada apa-apa jangan sungkan buat telepon tante. Tante udah kasih nomor ke salah satu kakak kalian yang paling tua di sini. Pokoknya kalau ada apa-apa harus kabarin tante. Sekarang juga ... tante nggak bisa lama-lama di sini. Tante ada kerjaan. Jadi tante harus kerja ya."
Zaina masih berlutut sambil menatap mereka satu per satu. Wajah mereka yang sendu membuat Zaina tertawa kecil.
"Nggak usah pada murung gitu dong. Minggu depan tante bakalan ke sini lagi. Jadi, kalian nggak perlu sedih. Tante janji bakalan datang ke sini."
Setelah banyak ucapan yang Zaina katakan akhirnya ia meninggalkan mereka dengan perasaan sedih. Baru mau masuk ke dalam sebuah tarikan di ujung bajunya membuat Zaina menoleh lagi. Ia melihat anak perempuan yang masih sangat kecil di sana sambil menatap Zaina. Perempuan itu langsung saja berlututu, menyamakan tingginya dengan anak itu sambil mengusap rambutnya.
"Ada apa? kamu butuh bantuan tante?"
"Tante ... tante minta doa apa?"
"Doa?" bingung Zaina.
"Iya ... kata nenek. Kalau ada olang baik ke kita, kita halus bales. Soalnya bial nggak ada bayalan gitu. Aku kulang tau!" ucapnya dengan masih cadel. "Tapi ... kalena aku nggak punya uang. Jadi, tante boleh minta doa apa aja ke aku. Nah setiap aku shalat sama kakak. Aku bakal do'ain biar apa yang tante mau itu telkabul."
Zaina tertegun.
"Tante ... kenapa diem? tante nggak mau ya?" tanya anak itu dengan sedih lagi.
"Tidak ... tante minta kamu do'ain supaya anak tante hidup bahagia di syurgaNya Allah ya." Setelah itu tanpa menatap anak itu lagi. Zaina langsung masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat tadi.
Selama menyetir, air matanya sudah terus mengalir. Sesekali ia mengusap air matanya yang turun.
"Nak ... seperti permintaan bunda tadi. Bunda juga berharap kalau kamu bisa bahagia di sana. Tunggu bunda ya ..."