Love In Trouble

Love In Trouble
15 - Saling Menguntungkan



"Umur saya udah jauh lebih dewasa dan hampir setiap hari saya di pinta menikah sama keluarga saya sendiri. Saya cukup muak mendengar pertanyaan itu berulang kali dan ini bukan orang tua saya saja. Tapi seluruh keluarga besar."


"Jadi lu menikah sama gue cuma karena terpaksa?"


Mahen mengangguk lalu menggeleng.


"Tidak ... saya tidak terpaksa sama sekali. Ini pure dari pilihan saya karena saya mulai tahu kalau saya nggak mungkin hidup selamanya sendirian kan? Jadi saya mutusin untuk nikah dan sepertinya kamu jadi salah satu orang yang mau saya nikahi."


Kening Zaina mengkerut.


"Bahkan setelah lu tahu keadaan gue? Okei ... di sini lu mungkin kepepet dan mau nikah. Tapi kenapa harus gue? Di saat gue yakin banget ada orang lain yang pasti lebih berhak sama lu dan lu memangnya nggak mau apa nikah sama perempuan yang jauh lebih sempurna di bandung gue yang udah berbadan dua dan apa kata orang tua lu kalau tahu lu nikah sama perempuan yang lagi hamil?"


Mahen menggeleng.


"Mereka nggak akan peduli. Salah satu hal saya di paksa nikah juga karena nanti warisan dari kakek saya bakalan turun kalau saya menikah. Mereka gak akan pernah peduli sama saya. Jadi ya gitu deh. Mau menikah sama perempuan yang nggak di ketahui asal usulnya aja, mereka nggak akan pernah peduli sama sekali."


Ah kehidupan orang kaya ...


Zaina selalu menemui yang kayak gini. Entah orang kaya tapi keluarga harmonis atau yang kayak begini. Tak ada kata harmonis sama sekali di masa hidupnya.


"Ah ... tapi kenapa harus gue? Di saat perempuan di luaran sana jauh lebih menarik? Dan okei ... mungkin orang tua atau keluarga lu nggak ada yang peduli sama sekali, tapi gimana dengan rekan kerja lu. Atau pamor lu yang pasti udah bagus banget di dunia bisnis kan? Apa yang bakal di bilang mereka kalau tahu lu malah menikah sama orang hamil dan mungkin mereka bakalan buat ini jadi serangan ke perusahaan lu kan?"


Mahen menggeleng dan duduknya mulai menyandar.


"Saya muak hidup kayak gini ... saya ingin hidup kayak biasa aja dan juga saya nggak peduli sama apa kata mereka. Ini hidup saya dan nggak ngaruh semua omongan mereka. Dan juga ... pernikahan kita akan privat karena saya nggak mau ada orang yang ambil untung karena pernikahan ini. Jadi lu nggak perlu khawatir sama sekali kalau mereka bakalan marah atau apa pun itu."


Zaina masih saja bingung.


"Kenapa harus gue sih? Gue ini cuma perempuan nggak sempurna. Ya ampun, beneran deh. Nggak ada di benak gue kalau ada laki-laki yang mau sama perempuan yang udah nggak perawan kayak gue. Bahkan gue sekarang lagi hamil anak dari laki-laki lain. Bahkan nih kalau gue laki-laki. Gue nggak bakalan mau tuh nikah sama perempuan yang kayak gue."


Mahen tertawa dan menggeleng.


"When ... zaman sekarang temuin perempuan yang benar-benar bersih tuh udah mulai susah nggak sih? Saya juga gak munafik kalau saya masih bersih dan ya bukankah saling melengkapi satu sama lain? Dan saya janji akan rawat anak itu dengan baik. Walaupun gue bukan ayah yang baik. Ataupun kita yang nggak ada hubungan darah sama sekali. Tapi saya juga suka kok sama anak kecil."


Sekarang waktunya Zaina benar-benar bingung harus menjawab apa.


Ia beneran bingung di mana orang tua nya bertemu sama laki-laki yang super baik kayak gini. Baik karena mau terima perempuan seperti dirinya.


"And ... gue juga buka  perempuan baik-baik. Walau sekarang gue udah sadar dan nggan mau lakuin hal buruk yang dulu gue lakuin. Jadi, kalau pada akhir nya kita bersama. Lu mau berubah juga kan?


"Sorry kalau hal ini buat lu marah. Karena ya gue yang nggak sempurna tapi malah menuntut lu sempurna. Hm, kesannya nggak adil banget nggak sih? Jadi ya .. maaf kalau kesannya maksa banget dan kalau lu nggak sanggup juga nggak masalah sama sekali kok. Karena gue nggak mau maksa orang lain."


Mahen tertawa.


"Sepertinya kamu minta kayak gini tuh karena masih ragu ya sama saya?"


Zaina mengerucutkan bibirnya karena merasa ketahuan akan tingkahnya itu. Yang mana malah membuat Mahen makin tertawa puas.


"Zaina ... saya bukan anak muda yang masih labil lagi. Pikiran dewasa saya udah tahu apa yang harusnya saya lakuin dan apa yang nggak boleh saya lakuin. Jadi kamu nggak perlu bingung dan khawatir sama sekali. Karena saya nggak mungkin lakuin hal yang buat hati kamu terluka. Setelah kita berkomitmen saya akan melepas semua keburukan saya dan mendedikasikan diri hanya sama kamu."


Zaina sampai merinding mendengar semua ini.


Bahkan Ghaly aja yang udah pacaran sama dirinya dari lama nggak pernah buat janji sampai kayak gitu. Sedangkan orang yang baru kenal sama dia? Malah bisa menjanjikan hal seperti ini.


Zaina menarik napas dalam.


"Ini beneran ya?"


Mahen mengangguk, "pernikahan itu serius loh. Mau kamu menyangkal sampai segimana juga. Nggak akan pernah bisa ya karena kamu harus tahu kalau saya orangnya serius dan aekali udah lakuin sesuatu. Saya bakalan fokus sampai ke depannya. Sampai orang itu gak akan pernah tertandingi sama sekali."


Zaina tertawa dengan kiasan yang di sebut sama Mahen.


"Okei ... misalnya gue nanti malah buat reputasi lu buruk? Dan sebutin alasan lu beneran pilih gue."


Mahen tersenyum tipis.


"Saya nggak pernah peduli sama reputasi dalam bentuk apa pun. Kalau mereka ada yang mengatakan buruk sama kamu. Saya yang akan turun tangan. Saya lebih berhak lakuin hal itu ketimbang mengurus reputasi perusahaan yang saya nggak pedulikan itu."


Hati Zaina menghangat, mendengar semua itu.


"Dan juga ... saya terlampau malas sama perempuan yang cuma cinta sama harta saya saja. Saya lebih memilih perempuan bermartabat seperti kamu. Saya nggak peduli kamu hamil atau gak. Tapi dengan hanya lihat kamu saya udah merasa nyaman dan menjatuhkan pilihan sama kamu. Jadi nggak ada alasan sama sekali untuk nggak jatuh cinta sama kamu."


"Hmm ... mungkin belum di bilang cinta. Tapi cuma sekedar kagum. Tapi terlepas dari itu semua. Saya beneran bakalan berusaha untuk mencintai kamu setelah kita menikah."


Pada akhirnya Zaina mengangguk.


"Baiklah ... Mungkin ini memang awal yang harus di lakuin kan? Gue bakalan berusaha dan tolong ajarin gue untuk bisa menerima hubungan ini dan terima kasih karena udah menjadi orang baik yang nggak memojokkan gue."