Love In Trouble

Love In Trouble
Baru Sadar



Mommy sama daddy menjadi terkejut mendengar penjelasan dari Zaina. Orang tua itu selama ini mengira kalau hanya anaknya yang mendapat ketidakadilan dari oma. Tapi ternyata keponakan mereka juga merasakan hal yang sama.


"Aku memang nggak mau ikut campur," jujur Zaina pelan. "Tapi aku ngerasain posisi yang sekarang Rahma rasain dan aku paham sama rasa sakitnya." Zaina menatap orang tua nya satu per satu. "Dan aku nggak mau ada korban lagi dari perbuatan oma. Udah cukup aku aja ..."


"Ya sudah kalau itu yang kamu mau. Nanti kami bahas ya. Kamu masuk aja ke kamar dulu. Nanti kalau udah waktunya tiba. Kami panggil kamu. Karena ada yang harus mom sama dad kerjain dulu."


Tak banyak tanya Zaina hanya mengangguk saja. Ia mengantarkan orang tuanya ke mobil, ia terus menunggu sampai mobil orang tuanya keluar dari pekarangan rumah oma.


Ia kembali masuk, namun langkahnya terhenti tepat di pintu masuk. Ia menarik napas dalam melihat kekosongan rumah ini.


"Sebenarnya kasihan oma," ucap Zaina pelan


Zaina menatap rumah besar yang tampak kosong ini. Semua barang keliatan mewah tapi tak kelihatan ada kebahagiaan di rumah ini. Terkesan mewah namun suram. Sangat berbeda dengan rumah Zaina yang begitu terang dan menenangkan.


"Di saat semua orang pasti datang ke rumah neneknya dengan bahagia. Tapi cucunya oma cuma datang dengan rasa takut aja."


Zaina merenung.


"Apa oma nggak bisa luluh karena semua orang nyerang oma ya? gimana kalau ngobrol dari hati ke hati? apa oma bakal luluh juga?"


Zaina memilih melipir ke kamarnya yang memang sengaja di bangun dalam rumah ini. Supaya memudahkan kalau mau menginap di sini.


Zaina duduk di balkon dan mengeluarkan ponselnya. Menghubungi Mahen. Belum sampai dua menit, Mahen mengangkatnya dari seberang sana.


/Hallo Zaina ... gimana kabar kamu? jadi kenapa kamu di suruh pulang sama orang tua kamu? ada sesuatu hal yang terjadi kah atau gimana? soalnya kata kamu mom keliatan agak panik kan pas tadi di telepon?/


Zaina menceritakan alasan mom nya menyuruh dia pulang.


"Mungkin sekarang Sofyan udah tau kalau bundanya udah kasih izin anaknya sama Karina. Aku jadi nggak sabar buat ketemu sama mereka lagi. Pasti sekarang mereka udah jadi bahagia banget. Ya ampun, aku suka ngelihat orang bahagia deh."


/Ini semua karena keberanian kamu./


"Kok aku? ini mah memang udah waktunya mereka di kasih izin sama orang tuanya. Maksud aku tuh, mereka juga pantas mendapat izin kayak gini. Karena mereka yang udah berjuang atas hubungan mereka."


/Tetap saja ... selama ini mereka sudah tersiksa dan kalau saja nggak ada kamu, mungkin sekarang mereka itu udah pada pisah? ya kita nggak tau ... tapi kamu malah beraniin diri buat ketemu sama orang tuanya. Dan jadilah kayak gini, orang tua mereka yang akhirnya sadar kalau anaknya itu butuh kebahagiaan sendiri tanpa harus di paksa sama mereka./


"Ah tetap aja ... ini sama aja udah takdir. Mereka selama ini udah berjuang dan sekarang waktunya mereka itu buat bahagia. Oh iya, mas ... aku mau nanya sesuatu deh sama kamu."


/Iya sayang? kamu mau nanya apaa?/


"Tadi kan mom sama dad keluar lagi, kayaknya sih ada urusan gitu dan pas aku masuk. Aku baru sadar kalau rumah ini kayaknya kosong banget. Ada yang tinggal di sini tapi aku nggak nemuin kenyamanan sama sekali. Aku jadi kepikiran sama oma deh."


/Maksud kamu sayang? oma kamu itu kesepian?/


"Itu salah satunya ... dan yang aku pikirin lainnya kalau oma ini memang merasa sendiri jadi ngerasa nggak ada yang peduli atau berpihak sama dia. Makanya lebih sering marah gitu."


/Bisa jadi yang, apa lagi ini oma kamu cuma sendirian ya? bisa jadi bentuk amarahnya sebagai bentuk kekesalan karena nggak pernah ada orang yang ada di sisiNya? terus kamu mau apa? karena mas rasa kamu nggak mungkin diam saja kan?/


Zaina terkikik, kekasihnya tau aja apa yang dia pikirkan.


"Gimana kalau aku buat sesuatu untuk oma?"


/Maksud kamu?"