
Wajah Ghaly langsung berubah dan Zaina jelas menyadari semua itu. Ia mengigit bibir bawahnya sambil melirik ke jam yang melingkar di pergelangan tangan dia. Terlalu cepat sebenarnya untuk Mahen datang ke sini. Tapi Zaina tetap meminta OG tersebut untuk membawa Mahen masuk.
“Sudah datang?”
Zaina berhenti seraya merapihkan bajunya. Ia buru-buru masuk ke kamar mandi. Kelihatan sedang sangat sibuk untuk memperhatikan dirinya sendiri. Melihat itu membuat Ghaly menghela napas pasrah.
Walaupun selama ini Ghaly sudah sadar kalau dirinya memang nggak ada kesempatan sama sekali. Tapi melihat seperti ini di depan matanya masih saja mampu membuat dia sakit hati.
/Melihat dia sibuk untuk laki-laki lain ternyata senyesek ini ya. Mungkin ini yang dulu dirasain sama Zaina./
Pintu kamar mandi yang terbuka membuat Ghaly langsung reflek fokus menatap layar laptop. Dirinya langsung beralih menatap Zaina yang masih sibuk dengan dandanannya.
“Udah bagus kok, udah rapih.”
“Beneran?” tanya Zaina yang khawatir. “Nggak terlalu berlebihan banget kan? Juga ... dandanannya juga ngak yang berlebihan banget? Gue beneran takut nanti Mahen bakalan ngomong macem-macem. Nggak suka nih. Ribet tapi gue nggak mau keliatan biasa aja.”
Ghaly tersenyum pahit.
“Udah cantik kok, beneran kok. Nggak berlebihan sama sekali. Bagus, nggak ada yang kurang. Tapi satu ... jangan keliatan gugup. Jangan keliatan canggung gitu. Beneran deh. Nanti suasana pas bareng sama Mahen jadi kaku gitu.”
“Gitu ya?”
Ghaly mengangguk, "pokoknya lu harus bisa sesantai mungkin dan tentu aja tetep sopan dong. Karena itu yang paling utama, selain itu jangan pernah ngomongin hal dulu. Atau kalau mereka aja udah nyinggung yang dulu. Nggak usah terlalu di hiraukan sama sekali. Yang penting kamu itu jangan sampai bablas aja ..."
"Gue sebenarnya deg-degan banget." Zaina menyentuh dada nya yang berdegup sangat kencang. Ia menarik napas berat sembari sesekali menggeleng kecil. Karena memang dia masih sangat takut akan hal ini.
"Ya ampun ... setegang itu ya? gue bantu doa dari sini ya. Semoga lu baik-baik aja dan nggak ada hal buruk yang terjadi. Pokoknya semuanya berjalan baik. Jangan lupa, kalau ada apa-apa—
"Hubungin kamu secepatnya!"
Pecahlah tawa mereka berdua karena Zaina yang sudah paham sama peraturan laki-laki itu. Zaina mengangguk dan menatap serius kembali ke arah Ghaly yang masih setia duduk di mejanya itu.
"Pokoknya kamu cukup do'ain aja. Dan nanti aku bakalan terus ngabarin kamu. Nggak apa-apa kan kalau aku itu ngabarin kamu terus sampai kamu itu ngerasa berisik gitu?"
Ghaly tertawa kecil dan menggeleng.
"Gue sendiri kan yang minta? jadi gue malah seneng kalau tiap jam dapet kabar dari lu."
Tok ... Tok ... Tok ...
Zaina memekik dalam diamnya. Ia berjalan heboh menatap Ghaly. Ghaly yang melihat hanya tertawa sambil menggeleng kecil karena lucu melihat Zaina yang seperti ini. Ghaly memberikan gesture untuk membuka pintu dan dengan cepat Zaina mengangguk.
Zaina menghampiri depan pintu dan menarik napas dalam sebelum membuka pintu. Wajah Mahen langsung saja terpampang nyata di depan. Zaina sempat terkesiap dan langsung melangkah mundur.
"Eh ada Ghaly?" gumam Mahen sambil masuk.
Laki-laki itu mengedarkan pandangan ke segala arah dan duduk di sana sambil mengangguk. "Dulu ruangan ini tuh yang biasa ada om Zidan ya. Sedikit aneh karena ruangan ini berubah jadi perempuan banget kayak gini," gumam Mahen sambil melirik ke segala arah.
Zaina meringis.
Dia pernah mendengar kalau dia harus di kelilingi sama barang yang dia sukai untuk menciptakan lingkungan yang nyaman dan karena itu juga. Zaina membuat ruangan ini jadi seperti yang dia suka.
Ia menaruh bantal karakter di sofa. Lemari map juga ia kasih banyak stiker lucu. Banyak gantungan animasi yang dia sukai. Benar-benar membuat semua orang tahu kalau yang menempati tempat ini pasti perempuan.
"Ghaly ..."
Laki-laki yang sejak tadi berusaha berkutat dengan laptop nya kini berbalik dan menatap dengan wajah yang berusaha terlihat biasa saja. "Kenapa?"
"Ini nggak apa-apa kan kalau gue pergi? lu nggak marah kan?"
"Eh kamu bener luang nggak?" tanya Mahen. "Kalau emang sekarang lagi nggak luang. Nggak apa-apa kok kalau cari waktu yang lain. Nggak usah sekarang juga. Beneran. Nanti gue yang nyamain waktu kita pas libur gitu."
Zaina langsung menyilangkan tangan di udara dengan cepat. "Nggak kok ... ini emang lagi luang. Gue ngomong gini tuh cuman karena nggak enak aja sama Ghaly."
"Oalah ..."
"Nggak apa-apa Zaina," jawab Ghaly pada akhirnya. "Nanti jangan lupa bawain makanan ya!" seru Ghaly dengan bercanda.
"Mau apa?" tanya Zaina. "Nanti gue beliin deh. Khusus buat lu," seru Zaina sambil merapihkan tas di meja kerjanya.
"Ck, elah ... bercanda. Balik dengan keadaan yang baik aja gue udah seneng banget. Udah sana pergi. Hus ... gue mau santai nih. Mumpung nggak ada ibu boss."
Zaina mencibir dan langsung menarik Mahen lalu mendorong tubuh laki-laki itu keluar ruangannya. "Gue pamit ya!" pekik Zaina sambil menjulurkan lidah sebelum pintu ruangan benar-benar tertutup.
Kini Mahen berjalan beriringan sama Zaina. Sampai mereka masuk ke dalam lift, mereka hanya diam saja. Hingga Mahen berdeham membuat Zaina langsung terkejut dan menunduk.
"Zaina," panggil Mahen dengan suara beratnya.
"Iya?"
"Kamu ngebiarin ada orang asing di ruangan kerja kamu?" tanya Mahen lagi. "Mungkin kamu memang udah kenal sama Ghaly dan nggak pernah mikir kalau Ghaly bakalan Khianatin kamu. Tapi ini dunia kerja. Yang artinya kamu nggak bisa terlalu polos. Kita nggak tahu kapan Ghaly itu bakalan ngelakuin hal yang macem-macem ke perusahaan kamu. Jadi, mendingan kita balik lagi. Terus kunci ruangan kamu."
Zaina memegang tangan Mahen saat laki-laki itu mau menekan tombol lift lagi. Mahen menoleh dan menatap protes.
"Jangan keliatan biasa aja. Mending kita langsung balik sekarang. Siapa tahu Ghaly masih awal dalam cari sesuatu di ruangan kamu. Ayo kembali. Sebelum kita sampai ke sana."
"Enggak Mahen, gue nggak pernah mikir sampai ke arah sana. Nggak usah khawatir sama sekali. Karena Ghaly gak akan ngelakuin sejauh itu."
Suasana tiba-tiba saja menjadi mencekam di dalam ruangan itu. Keduanya sama sekali nggak ada yang mau mengalah dan memilih diam sampai suara denting lift membuat dua orang itu keluar dari lift.
Puluhan pasang mata kini berpusat ke arah mereka. Kebersamaan antara Zaina sama Mahen menimbulkan banyak pertanyaan di benak mereka semua. Karena semua orang jelas tau status yang mereka punya pas dulu. Jadi, kini mereka mulai merasa aneh kalau melihat keduanya bersama.
Beberapa dari mereka langsung berbisik setelah dilewati sama Zaina dan Mahen. Banyak timbul gosip baru yang tentu aja Zaina sadari. Tapi perempuan itu memilih nggak peduli dan terus berjalan sampai mereka tiba di sebuah mobil yang sangat Zaina kenali.
"Kamu pakai mobil yang ini?" tanya Zaina melihat mobil berwarna silver yang sangat ia kenal itu.
"Iyaps kenapa?" seru Mahen dengan santai, yang mana malahan membuat jantung Zaina berdegup kencang. Karena ada sedikit cerita tentang mobil tersebut. "Oh ... karena yang dulu ya? tenang aja. Ini gue pakai mobil ini bukan karena mikir yang dulu kok. Gue cuman milih tanpa sadar aja. Jadi nggak usah mikir yang macem-macem ya."
Jantung Zaina seakan merosot. Ia juga menepis tangan Mahen yang mau membukakan pintu untuknya dan masuk ke dalam mobil.
Harga dirinya jatuh mendengar Mahen yang mengucap kalimat tersebut dengan santai di saat banyak histori sendiri tentang mobil ini.
Zaina menutup pintu mobil dan melihat Mahen jalan memutar dan saat itu dia baru sadar, kalau jalan mereka memang sudah tidak sama. Yang artinya dirinya nggak boleh berharap terlalu lebih lagi.