Love In Trouble

Love In Trouble
Canggung



“Okei ... stop ribut. Gue nggak bakal bahas yang bikin kita canggung dan marah lagi. Sekarang kita langsung ke rumah gue aja. Gimana?”


“Eh ... ya ampun, gue lupa bawa buah tangan. Lu mau nggak kalau kita ke supermarket dulu gitu. Gue mau beli sesuatu buat keluarga lu.”


“Ya elah, nggak usah kali. Kayak yang sama siapa aja. Dulu aja santai kan kalau nggak beli apa-apa atau nggak bawa apa pun ke rumah.”


Hati Zaina sedikit meringis mendengar semua itu. Dia tersenyum paksa, karena tahu apa yang terjadi sekarang itu berbeda saat dulu. Banyak hal terjadi yang membuat semuanya berubah. Begitu cepat sampai Zaina sendiri paham kalau kini berbeda.


“Kenapa diem aja?”


“Mahen ... kalau dulu, gue punya hubungan sama lu. Keluarga lu pasti welcome banget sama  gue dan nggak peduli kalau gue nggak bawa apa-apa juga. Tapi kan sekarang keadaan udah berbeda. Jadi, gue harus bawa sesuatu buat lu. Lu mau kan anterin? Kalau emang gak bisa. Gue turun di sini. Nggak jauh dari sini ada supermarket kan kalau nggak salah.”


“Nggak usah ... Gue anterin aja.”


***


Setelah tiba di supermarket. Dua orang tersebut langsung turun dan Mahen refleks mengambil troli lalu keduanya masuk ke bagian makanan.


“Masih pada suka lapis tales kan?”


Mahen mengernyit. “Lah ... Emangnya pada suka lapis tales? Gue baru tau malah,” gumam Mahen yang selama ini nggak terlalu peduli sama makanan yang di suka sama keluarganya.


“Lu gimana sih, masa makanan keluarga sendiri nggak ada yang tau. Padahal bunda lu suka banget loh lapis tales bogor. Kalau ayah lu suka brownies gitu, tapi yang pakai topping keju. Kalau udah makan itu harus minum teh anget yang aroma melati itu. Kebiasaan mereka kalau lagi nyemil. Masa lu nggak tau sih.”


“Ya ... namanya juga nggak pernah merhatiin sama sekali.”


“Iya lah, palingan yang di perhatiin perempuan lain kan? Yang— eh nggak jadi deh,” ucap Zaina sambil menutup mulutnya, saat sadar ke arah mana dia berbicara.


Suasana canggung kembali menyergap mereka, Mahen hanya mengikuti ke arah mana Zaina pergi. Sesekali Zaina menaruh kue bolu yang menurutnya bakal di sukai sama keluarga Mahen dan laki-laki itu dengan sigap membantu Mahen.


Tanpa sadar, beberapa orang menatap mereka dan berseru lucu karena sesekali mereka terlihat berdebat. Layaknya pasangan yang sedang bertengkar karena hal kecil. Terlihat sangat menggemaskan nan lucu.


“Udah segini aja?”


Zaina mengangguk.


Mereka mendatangi kasir, setelah nominal muncul dj layar keduanya sama-sama memberikan kartu mereka. Membuat Zaina langsung menatap sinis.


“Udah, pake uang gue aja. Ini kan buat keluarga gue. Jadi, lu nggak usah ngeluarin uang sama sekali.”


“Ish ... nggak perlu Mahen. Ini kan hadiah gue. Jadi udah tugas gue buat bayar untuk keluarga lu. Nggak apa-apa ya. Boleh kan?”


Mahen menarik napas dalam dan mengangguk.


“Kalau gitu, gue beli sesuatu dulu ya. Nanti gue tunggu di mobil.”


Zaina hanya mengacungkan jempol.


***


Sudah dua puluh menit lamanya Zaina menunggu di depan mobil Mahen. Ia sampai menaruh belanjaannya di bawah karena cukup berat.


“Kemana sih Mahen? Ini dia nggak lagi ngerjain gue kan?”


Zaina menyilangkan tangan di dada. Mulai bete karena sinar matahari yang sangat terik saat ini. Saat sedang bergumam kesal, Tiba-tiba dari jauh Ia melihat Mahen yang berlari sambil melambaikan tangan ke arahnya.


“Zaina! Lihat ... Ini gue ketemu sama ice cream kesukaan kita berdua.”