Love In Trouble

Love In Trouble
Mengungkapkan Isi Hati



Malamnya,


Zaina kembali memasak untuk sang oma. Bahkan Zaina sengaja menelepon mommy nya untuk menanyakan beberapa hal untuk memasak. Tak lupa perempuan itu juga menceritakan apa yang terjadi selama di sini termasuk niat baik untuk menemani oma karena ternyata selama ini tuh oma merasa kesepian, untung orang tuanya menerima dengan baik dan malah menyemangati Zaina.


Orang tuanya benar-benar welcome. Semua kesalahan oma yang terjadi di masa lalu nggak membuat mereka dendam sama sekali. Mereka memilih untuk melupakan dan mulai semuanya dari awal. Selama tidak ada yang membahas hal ini lagi. Maka orang tua Zaina juga akan melupakan masalah ini.


Mereka hanya meminta Zaina jangan bertingkah. Kalau ada apa-apa juga harus cepat mengabari orang tuanya.


Zaina hanya menurut. Dia tidak mungkin bertingkah hal yang aneh-aneh dan malah membuat dirinya juga jadi di lihat salah lagi. Bahkan Zaina rela melakukan apa pun, asal sang oma tidak mengungkit hal dulu lagi bahkan menyakiti dirinya dengan berbagai hal.


semuanya akan ia lakukan demi ini, termasuk saat ini.


Jam menunjukkan pukul lima pagi, tapi Zaina sudah segar dan mandi. Biasanya dia tuh bangun sekitar jam tujuh pagi, akan tidur lagi setelah shalat. Tapi karena ada misi yang harus dia lakukan. Makanya ia rela nggak tidur lagi.


"Masak dulu deh," gumam Zaina lalu melilit handuk di kepala nya, ia baru saja keramas. Biar segar. Biar dirinya nggak ada tuh ngantuk lagi.


Ia turun ke lantai bawah dan semuanya masih sangat gelap.


"Aktivis di rumah ini tuh mulai jam berapa dah?" ucap Zaina yang menyalakan lampu seisi rumah. "Kalau di rumah, pada bangun siang juga. Pasti mbak di rumah udah bangun tuh pas subuh dan ngurus rumah. Jadi pasti ada kegiatan waktu pagi. Tapi, kalau sekarang kayak gini?"


Zaina melipir ke bawah dengan langkah pelan. Langkah kaki nya ia langkahkan sepelan mungkin. Karena menimbulkan suara yang cukup kencang antara selop dan lantai. Dia tak mau membangunkan orang di rumah.


Begitu tiba di bawah, Zaina sengaja menyalakan televisi dengan volume yang cukup terdengar dari dapur. Sengaja semua itu ia lakukan, supaya nggak terlalu sepi. Sedikit merinding juga melihat ini yang sepi.


Zaina melipir ke dapur sambil menggulung lengan panjang nya. Ia membuka kulkas dan meneliti bahan makanan yang ada di sana.


"Makanan sehat semua," papar Zaina dengan pelan melihat seisi kulkas


Bahkan ... semalam Zaina sempat lapar. Ia sengaja turun ke bawah, tapi nggak melihat keberadaan mie instan sama sekali di rumah ini. Awalnya Zaina sedikit kesal sama para pelayan yang bisa-bisanya tidak menyetok makanan sekita umat itu. Tapi, Zaina ingat. Kalau ... di sini yang tinggal hanya oma dan mereka yang bekerja sambil menginap saja.


Jadi,


Mungkin makanan di sini menyesuaikan makanan oma. Jadi, hanya ada beberapa makan sehat saka dan banyak buah. Makanya, terkadang Zaina bingung harus masak apa dengan lauk sehat seperti ini. Sementara di hidupnya penuh dengan micin. Makanan yang tidak sehat.


Tapi, perempuan itu memutar otak dan akhirnya memilih masak sup cream jagung dan roti panggang.


Sambil bersenandung ia terus memaksa dengan bahagia. Katanya, masak dengan bahagia akan membuat makanan jauh lebih enak karena energi yang dikeluarkan akan ikut terbawa ke masakan yang dimasak.


"Aw!"


Zaina meringis dan langsung memasukkan tangannya yang terkena panci panas ke dalam baskom berisi air. Sangat perih dan sakit.


"Mana merah banget lagi, ini mah bakalan melepuh."


Zaina beranjak ke kamar mandi dan mengolesi luka lengannya dengan odol. Ia meringis saat odol yang terkena lukanya, sedikit perih tapi akhirnya terasa dingin.


Ia kembali memasak dan membiarkan odolnya mengering nanti.


Setengah jam kemudian,


Zaina sudah kelar memasak, ia juga sudah menata makanan yang dia masak ke atas meja. Kepulan asap dari makanan membuat Zaina tersenyum puas. Ia memilih menuang sebagian sup cream jagung ke atas mangkuk.


"Mbak," panggil Zaina saat sejak tadi pelayan sudah pada keluaran dari kamar di bawah.


"Iya? ada apa ya nona?"


"Ini saya sengaja buat sup cream jagung agak banyakan. Di makan aja ya sama kalian. Kalian nggak perlu masak lagi. Tapi saya nggak tau bakalan cukup atau enggak. Kalau ini masih kurang, kalian bawa roti sobek di rak atas aja. Itu punya aku kok. Dan ... maaf ya nggak bisa mastiin rasanya. Soalnya nggak tau rasanya bakalan bikin kalian suka atau enggak."


Pelayan itu menunduk sopan.


"Dari penampilannya aja udah keliatan enak banget. Ini mah pasti banyak yang suka nona. Terima kasih banyak ya nona atas sarapan yang sangat mewah ini."


"Ih mewah apanya. Udah kalian makan aja gih ..." seru Zaina yang malu. "Eh iya—


"Biasanya oma bakalan bangun jam berapa ya?" gumam Zaina pelan. "Kok sampai sekarang belum turun juga. Ini takut makanannya jadi pada dingin dan nggak enak."


"Oh itu ... biasanya oma harus di samperin dulu ke kamar nona. Baru turun. Apa saya yang panggil oma dan bilang kalau sarapan udah siap?"


"Nggak perlu," lanjut Zaina. "Biar aku aja. Udah mbak sama yang lain makan aja."


Pelayan itu kembali menunduk sopan dan berpamitan pamit.


***


"Selamat pagi oma! Bagaimana malam oma. Pasti oma tidur nyenyak kan karena setelah Zaina ada di sini. Oma jadi sangat bahagia," papar Zaina dengan tingkat percaya diri yang sangat tinggi


"Dasar ...," desis oma


"Loh, kenapa oma? aku benar kan. Pasti oma mimpi indah karena aku. Karena nggak biasanya kan ada anak yang berisik di hidup oma. Jadi, pasti oma mimpi bagus deh. Tidur oma juga pasti nyenyak banget kan?!"


Oma mendengus dan menggeleng.


"Kamu memang sangat berisik," jawabnya membuat Zaina memajukan bibirnya. "Sudah ... Sudah mm... jadi untuk apa, kamu masuk ke sini. Kalau kamu mau tau, biasanya oma itu bakal keluar kalau sudah siang. Ini masih terlalu pagi untuk keluar."


Zaina menarik napas pelan.


"Oma jarang sarapan ya?"


Tak ada jawaban membuat Zaina yakin kalau jawaban dari pertanyaannya itu adalah iya. Zaina mendatangi oma dan duduk di depan oma setelah menarik kursi di depan meja rias.


"Oma ... jangan kayak gini lagi ya. Oma jangan pernah lewatin jam makan. Apalagi sarapan. Aku tau mungkin ada sebagian orang yang nggak suka makan. Tapi balik lagi, imun setiap orang beda-beda dan oma itu imunnya udah nggak sebagus orang lain. Jadi, sebisa mungkin oma jangan pernah tinggalin makan."


"Tapi oma selalu lupa dan kalau merasa nggak lapar tuh ya sudah. Lebih enak makan pas lapar saja."


Zaina menggeleng.


"Nanti Zaina bakal buat jadwal deh buat oma. Nanti di situ udah ada jadwal oma makan pagi, siang, malam. Terus ada jadwal minum susu dan buah. Teh juga deh sekalian. Sama kalau konsumsi obat, nanti Zaina tulis juga."


Oma yang mendengar hanya bisa merasa bersalah atas semua kesalahan yang udah dia perbuat selama ini.


Orang yang sangat dia benci ternyata malah menjadi orang yang begitu peduli sama kesehatannya. Orang yang bahkan selalu dia sayangi selama ini, malah menjadi orang yang nggak pernah peduli sama kondisinya sama sekali.


"Zaina ... jangan terlalu baik sama oma."


Zaina yang baru menaruh kursi ke tempat semula langsung menoleh dan menatap bingung.


"Kenapa? aku harus jahat gitu sama oma?"


Oma terkekeh dan menunduk. "Kalau kamu baik terus, yang ada oma jadi nggak enak sama kamu. Karena kamu sudah melakukan banyak hal setelah oma yang jahat banget sama kamu. Oma yang ngatur hidup kamu, oma yang hina kamu dan masih banyak hal jahat yang oma lakuin ke kamu. Jadi, kalau kamu terlalu baik malah membuat oma jadi buruk banget."


"Oma ..."


"Sungguh oma merasa bersalah sama kamu dan daddy kamu terutama mommy kamu. Rasanya oma udah nggak ada harga diri buat ketemu tatap muka sama orang tua kamu."


"..."


"Semakin oma pikirin, semakin oma ngelihat tingkah kamu. Semakin oma nyalahin diri oma sendiri. Kenapa pemikiran kuno oma malah membuat kalian jadi tersiksa. Oma tahu kalau hidup oma sangat tersiksa karena perilaku orang tua oma. Tapi kenapa oma malah nggak belajar dari kesalahan itu dan malah melakukan hal yang sama ke kalian."


Zaina menatap sang oma yang benar-benar kelihatan merasa bersalah itu.


"Oma ..." Zaina menarik napas dalam dan tersenyum sangat tipis. "Kan oma sendiri yang bilang sama Zaina kalau kita harus ngelupain masalah ini? jadi buat apa di inget-inget lagi. Bikin sedih aja ... Zaina benar-benar udah maafin oma kok. Jadi, kita nggak usah ungkit lagi ya om. Zaina jadi sedih tau nggak sih ..."


"Maafin oma ya."


Zaina menghela napas dalam dan menatap serius pada sang oma.