Love In Trouble

Love In Trouble
Lupa



Setelah berdikusi panjang lebar akhirnya semua orang setuju kalau Zaina akan menghubungi pihak terkait. Tidak ada yang boleh ikut campur, Zaina hanya perlu mengabari asisten ayahnya dan Mahen setiap langkah yang Zaina pilih.


Saat ini, Zaina yakin untuk menyelesaikan masalah ini. Dirinya akan menunjukkan ke semua orang kalau dirinya bisa melewati ini semua. Dirinya bisa melakukan apa yang orang lain anggap tidak bisa. Zaina berjanji akan menuntaskan masalah ini sendiri. Dia nggak akan takut atau ragu. Dia akan melakukan yang terbaik untuk mendapatkan hasil yang terbaik juga.


***


Zaina berkutat di balik laptop. Matanya menatap serius barisan tulisan yang ada di laptop. Sesekali Zaina akan mencatat hal yang penting di kertas catatan yang selalu dia bawa. Ia berusaha merangkum apa yang dia pelajari.


“Dari jurnal yang aku baca, kayaknya aku memang nggak bisa gegabah untuk nyelesaiin masalah ini. Aku harus santai tapi tetap serius buat nyelesaiin masalah,” gumam Zaina sambil sesekali membaca semua jurnal. “Pokoknya jangan grasak grusuk yang malah buat pihak mereka paham kalau aku lagi ngelakuin sesuatu.”


Zaina mendorong laptopnya sedikit menjauh lalu duduk menyandar di kursi kebesarannya.


Ia memijat keningnya yang terasa begitu pening lalu menarik napas dalam.


“Ini pengalaman pertama aku sih,” aku Zaina. “Dan aku masih takut kalau harus melangkah ke hal yang salah. Tapi apa pun yang terjadi aku nggak boleh mundur sama sekali.”


Setelah berbagai pertimbangan yang membuat Zaina sungkan, pada akhirnya Zaina membaca pesan yang di kirim Ghaly. Berisi nomor pemilik perusahaab Z yang mau Zaina urus. Sebenar nya, Ghaly sudah menawarkan diri untuk mengurus masalah ini. karena mau bagaimana juga Ghaly berhak membantu Zaina. Tapi lagi dan lagi sifat keras kepala Zaina sudah mendarah daging, ia tetap kekeuh mau mengurus semuanya sendiri.


“Apa aku hubungin sekarang aja ya?” gumam Zaina menatap nomor telepon di layar ponselnya


Setelah mengukuhkan hati, pada akhirnya Zaina memutuskann untuk menghubungi pemilik perusahaan Z yang sudah bermain-main dengan dirinya. Pandangannya berubah begitu mendengar nada yang terhubung. Jarinya berulang kali mengetuk meja dan ia menarik napas dalam untuk menenangkan jiwanya.


***


Besok,


Tepatnya besok Zaina akan bertemu dengan pemilik perusahaan Z yang ternyata bernama tuan Brandon itu. Sungguh saat mereka masih menelepon. Ingin rasanya Zaina langsung memaki dan menagih bayaran atas perbuatan jahat yang sudah ia lakukan. Zaina terus menahan kekesalan di dalam hati dan jiwanya untuk tidak mengumpat dan berkata kasar.


Zaina juga sangat kesal dengan dirinya yang masih mengatakan banyak hal baik dan sopan kepada Brandon. Tapi, misinya harus berjalan dan Zaina tidak ingin membiarkan misinya tercium sama pihak Brandon. Jadi, dengan begitu baik ia meminta Brandon untuk bertemu dan akhirnya mereka besok akan bertemu di perusahaan Z itu sendiri.


Ah ... Zaina sudah tidak sabar menunggu hari itu tiba.


“Kayaknya ada yang lagi senang banget nih.”


Zaina tersentak dan menoleh. Ah ... perempuan itu baru sadar kalau sejak tadi Mahen ada di satu ruangan dengannya. Akibat emosi perempuan itu yang kurang stabil setelah menghubungi Brandon. Akhirnya tanpa sadar Zaina mengirim pesan ke Mahen, membuat laki-laki itu langsung datang tanpa harus dipaksa.


Tapi setelah Mahen datang, keberadaannya seperti abu-abu di mata Zaina. Perempuan itu malah sibuk dengan lamunannya sendiri dan berakhir mengerjap lucu sambil menatap Mahen.


“Aku lupa mas ada kamu di sini,” jujur Zaina sambil mengusap tengkuknya dan tertawa canggung.