Love In Trouble

Love In Trouble
Isi Hati (2)



Untuk beberapa saat dua manusia itu hanya saling diam, keduanya memandang ke arah yang berbeda. Kedua tangan yang merasakan segelintir angin yang menyapu rambut mereka. Keduanya sama-sama berusaha merendahkan emosi yang ada di dalam hatinya.


"Zaina, maaf ...," ucap Mahen pada akhirnya setelah mulai menyadarkan dirinya.


"..."


"Maaf karena aku kelepasan. Aku nggak ada maksud buat bentak kayak tadi. Beneran deh. Rasanya sakit pas tau kamu itu mengesampingkan aku dan memilih pilihan mom kamu. Padahal harusnya akh sadar. Kalau orang tua akan selalu di atas apa pun. Jadi aku sama sekali nggak berhak untuk marah. Aku beneran minta maaf ..."


Zaina menunduk.


"Dan maaf karena udah menuduh kayak tadi. Aku nggak ada maksud untuk mengatakan itu. Maaf karena aku yang emosi malah mengatakan banyak hal menyakitkan kayak tadi. Aku beneran minta maaf ..."


"Mahen."


"Ya?"


"Aku cuman mau menekankan sekali lagi. Kalau sejak dulu, nama kamu selalu terukir indah di hati aku," ujar Zaina pelan dan sembari menatap ke langit. "Kamu sama pentingnya dengan almarhum anak aku. Kalian sama-sama penting. Tapi sepertinya rasa cinta ini nggak kelihatan ya di mata kamu?" tanya Zaina lalu tertawa miris.


"Maaf ... mas nggak bermaksud kayak gitu."


"Apa ... semua ini karena aku tumbuh tanpa bisa ngutarain isi hati aku ya? Apa sikap aku yang memilih diam membuat kamu salah paham ya? Apa kamu juga mengira kalau elakan yang selalu aku lontarkan ke kamu itu sebagai bentuk penolakan yang aku buat ke kamu ya? Apa kamu salah paham karena semua itu?"


"..."


"Kamu nggak tahu kalau setiap saat aku berusaha menghilangkan rasa gemas aku ke kamu. Karena aku nggak mau melihat kamu jijik karena sifat aku yang sebenarnya. Karena yang aku tahu kamu itu suka perempuan mandiri seperti yang aku tunjukin selama ini."


"..."


"Kamu nggak tahu betapa terpuruknya aku saat kamu marah. Walaupun itu semua karena kesalahan aku. Rasanya aku saat itu marah sama diri aku sendiri bahkan aku nggak pernah berhenti menyalahkan diri aku sendiri. Mungkin yang kamu tau, aku cuman minta maaf sekali. Tapi aku selalu mengirim pesan panjang ke nomor lama kamu yang udah nggak aktif. Setiap harinya aku selalu meminta maaf sama kamu. Walaupun aku tahu, nggak bakal ada balasan sama sekali."


"..."


"Kamu tau nggak betapa bahagianya aku pas pertama kali kita bertemu? Walau sorenya aku harus sakit hati karena melihat kamu sama perempuan lain. Yang nggak lain itu Restu. Rasa sakit hati karena Restu juga yang udah mempermalukan aku ngebuat hati aku makin sakit."


"..."


"..."


"Kamu nggak tahu betapa sakitnya aku karena harus terus menahan rindu setiap malamnya. Bagaimana aku yang cuman bisa membayangkan kalau hubungan kita baik-baik aja kayak dulu. Tapi sayang nggak akan pernah bisa sama sekali."


"..."


"Sampai semuanya aku berusaha kubur dalam-dalam. Sampai pada akhirnya takdir membawa kita untuk bertemu lagi dan aku menemukan fakta. Kalau kamu melakukan banyak hal hanya demi aku. Betapa bahagianya aku. Betapa aku yang terus berusaha menahan pekikan ruang. Bagaimana aku berusaha menahan sudut bibir aku biar nggak terus tersenyum."


Mahen masih dengan tampang terkejutnya melihat Zaina yang sudah menangis itu.


"Sayangnya semua itu tertutup karena gengsi aku. Aku selalu berpikir kalau diri aku yang sekarang itu nggak pantas buat kamu. Karena kamu jauh lebih berhak dapat perempuan yang jauh lebih baik. Aku kayak pendosa doang yang hidup di tengah kehidupan suci kamu."


"Mana ada kayak gitu ..."


"Tetap saja Mahen, rasanya insecure. Ditambah, oma bilang suatu hal yang buat aku mikir. Kalau memang aku ini nggak pantas hidup bersanding sama kamu. Karena kamu lebih cocok sama perempuan lebih baik di luaran sana. Di saat aku ini cuman—


"Hei."


Zaina membungkam mulutnya dan kembali menatap ke arah Mahen. Belum sempat berseru lagi. Tubuhnya itu langsung di rengkuh begitu kuat sama laki-laki itu. Zaina tertegun, tangannya berhenti di udara. Sampai tepukan pelan di punggungnya membuat tubuh kaku Zaina mulai melemas dan ia membalas pelukan Mahen.


"Nggak ada yang merasa kayak gitu. Sekarang aku paham kenapa kamu kekeuh mengorbankan perasaan kamu demi ibu kamu. Salah satunya mungkin karena kamu mau lihat kebahagiaan di wajah mom kamu. Tapi aku yakin banget kalau alasan lainnya, karena kamu merasa nggak pantas sama aku. Iya kan?"


Pada akhirnya Zaina hanya pasrah dan ia mengangguk.


"Nggak! Sekarang kita datang ke rumah oma kamu. Aku bakal lamar kamu detik itu juga. Aku mau oma kamu tau, kalau kamu sangat pantas untuk aku. Begitu juga aku yang sangat pantas untuk kamu. Sekarang tunjukin di mana oma kamu itu tinggal."


"Ta— tapi?"


Mahen menatap Zaina dengan sangat serius.


"Tunjukan sekarang juga atau aku kasih tau ke media, kalau kita akan menikah minggu depan! Terserah, tinggal kamu yang pilih."