
Sesaat,
Bunda Mina dan Mahen hanya termenung. Bunda Mina terus mengusap rambut sang anak yang masih tiduran di atas pahnya dan Mahen yang terus menghembuskan napas kasar. Meratapi dirinya.
"Orang yang berpendidikan aja dikecam sama keluarga ayah," ucap Mahen pada akhirnya. "Mereka juga nggak pernah seneng kalau seorang istri tuh lebih berkuasa di dalam keluarga. Mereka selalu yakin dan ngomong kalau derajat perempuan itu ada di bawah laki-laki. Mahen juga masih inget gimana, mereka yang selalu prioritas laki-laki di banding perempuan dan itu kadang buat Mahen kesal."
Tangannya mengepal, mengingat perbuatan keluarga sang ayah yang memang tidak bisa di ubah lagi. Karena sudah menjadi kebiasaan dan rutinitas mereka. Jadi, susah kalau di kasih tau.
Bunda Mina mengangguk.
"Tapi yang namanya usaha harus tetep bisa di lakuin kan? siapa tahu keluarga ayah kamu luluh sama kamu dan Zaina? Jangan suudzon dulu. Siapa tahu mereka minta kamu itu datang sama Zaina juga buat ngomongin masalah ini? siapa tau mereka setuju lagi sama hubungan kalian? bukannya itu malah bagus kan?"
Senyum Mahen langsung terbit walau beberapa detik kemudian ia langsung cemberut lagi.
"Dari beberapa pengalama dulu sih, kayaknya susah," papar Mahen yang lebih dulu menyerah. "Aku beneran trauma sama keluarga ayah. Memangnya kita nggak bisa abaiin mereka aja? nggak usah ajak mereka dan aku juga nggak butuh izin dari mereka kan? aku bisa jalanin dan pilih hidup aku sendiri tanpa mereka kan?"
Mahen langsung bangkit dan duduk menyila di hadapan sang bunda. Dia mengangguk pelan. "Bunda juga harus tau kan kalau mereka nggak pernah mau tahu sama hidup kita?"
Tangannya mengatup seolah memohon.
"Kita juga jarang berurusan sama mereka. Soalnya antara bunda, ayah terus keluarga ayah tuh selalu beda persepsi. Makanya, ya ayah jarang ngasih tau ini itu sama mereka kan? Jadi, nggak masalah dong kalau sekarang aku nggak usah bawa-bawa mereka di hidup aku? aku bisa bebas nentuin pasangan aku. Toh, aku yakin seratus persen kalau mereka nggak bakalan setuju sama Zaina."
Mahen tersenyum tipis, hanya dengan mengingat nama Zaina mampu membuatnya sedikit salting.
"Zaina itu perempuan mandiri. Dan itu sangat jauh dari apa yang dimau sama keluarga ayah kan? jadi, aku udah pasrah duluan dan menurut Mahen ... salah satu rencana yang paling pas itu ya dengan tidak memberi tahu mereka."
Tak suka melihat anaknya yang sedih. Bunda Mina buru-buru menarik lengan Mahen dan membawanya untuk di genggam. Sesekali bunda Mina mengusap, tanpa bicara sama sekali. Hanya memberikan afeksi kenyamanan untuk Mahen.
"Memang semua yang kamu omongin itu hal yang gampang. Tapi tentunya, semua ini nggak semudah itu kan?"
Mahen tersentak dan berakhir mengangguk pelan.
"Kita memang maunya begini, tapi ada hal yang harus kita lewatin kan?" tanya bunda Mina yang bermaksud untuk menenangkan anaknya.
Mahen menghembuskan napas kasar. Tangannya terus memilin selimut, tanda dia benar-benar sedang gugup.
"Bunda juga maunya seperti yang kamu bilang. Tapi nyatanya kita nggak bisa lewatin semudah itu kan? dan tentunya, Hubungan keluarga kita sama keluarga ayah kamu bakalan makin berantakan setelah ini. Memangnya kamu mau mengorbankan hubungan keluarga orang lain demi hubungan kamu sama Zaina doang?"
Mahen refleks menggeleng. Ia tidak mau melakukan itu.
Hubungan dirinya sama Zaina, kalau bisa jangan merusak suatu hal. Karena Mahen tidak mau kalau dirinya yang nanti terkena dampaknya.
"Tapi bun ... sekedar perempuan yang kerja aja mereka nggak suka. Apa lagi yang kayak Zaina? sudah berpendidikan, terus bekerja di perusahaan juga sampai kasus yang kemarin?"
Bunda terdiam, bingung harus menjawab seperti apa.
"Kemarin sih ... pas aku mau nikah sama Zaina, hubungan ayah sama keluarga nya lagi nggak akur. Jadi, kita nggak ada tuh perlu repot-repot buat ketemu atau kenalin Zaina. Karena aku nya juga yang ogah. Tapi sekarang? bunda tau sendiri kan ayah yang udah mulai berhubungan baik sama kelurganya. Jadi ... aku harus apa?"