
"Kamu beneran nggak masalah mau anterin aku belanja?" tanya Zaina lagi untuk yang ke sekian kalinya.
Tangannya memeluk lengan Mahen dan mereka berjalan memasuki mall dengan bercanda. Sesekali Zaina akan berhenti di satu toko yang menarik perhatiannya. Tapi kini tiba-tiba Zaina bertanya hal tersebut? Mahen hanya bisa terkekeh mendengarnya.
"Kalau mas nggak mau. Udah dari tadi mas nggak dateng ke mall gini. Kamu nih ada-ada aja." Mengacak rambut Zaina. "Ini udah hampir satu jam kita di dalam mall dan kamu itu baru nanya ke mas? dasar ..."
Zaina tertawa lepas.
"Aku tiba-tiba inget aja gitu sama laki-laki yang kadang terpaksa bawa pacarnya ke mall. Soalnya laki-laki itu tuh suka kesel kalau liat pacarnya yang lama banget. Makanya aku tiba-tiba inget kamu. Siapa tau kamu memang nggak suka ada di mall? nggak nyaman aja gitu. Kalau nggak nyaman, mending kita keluar lagi. Aku belanjanya nanti aja."
Mahen mengusap rambut Zaina.
Ia menarik lengan Zaina yang ingin membawanya kembali keluar.
"Mas suka ... nggak usah sama ratain mas sama laki-laki lain. Mas seneng banget di ajak kamu mau kemana pun itu. Jadi nggak usah mikir yang macem-macem," titah Mahen dengan tegas. "Kamu ini kalau udah baca berita kayak gitu. Suka kebawa pengaruh buruknya deh dan selalu ikutin bacaan kamu itu. Padahal nggak semuanya sama seperti yang kamu baca."
Zaina tersenyum tipis.
"Tapi kan bacaan yang aku baca tuh gambaran sikap orang yang hampir semuanya sama. Aku kebantu banget loh sama bacaan kayak gitu Memangnya mas nggak kebantu ya?"
"Bukannya nggak kebantu. Tapi kamu selalu nyama ratain semuanya. Padahal nggak begitu. Mas beda tuh. Kayak mas gini. Mas malah suka nemenin kamu belanja. Berarti ya buku itu bohong dong?"
"Eh iya ya ..."
Mahen tertawa lagi. Bersama Zaina, laki-laki itu nggak pernah merasa murung. Zaina seolah memiliki banyak sikap yang mampu membuat Mahen tertawa puas. Setiap tingkah Zaina entah kenapa malah terasa lucu di mata Mahen dan ia menikmati semua tingkah Zaina.
Mahen merasa, setelah ia menikah sama Zaina.
Dia akan hidup dengan penuh senyuman. Ia merasa akan awet muda, karena terus bahagia. Tanpa sadar kini tangan nya melingkar di pinggul Zaina. Membuat perempuan yang sejak tadi nyerocos, entah membicarakan apa kini menoleh dan wajah Mahen yang begitu dekat dengannya membuat perempuan itu mengerjap.
"Mas?" seru Zaina dengan jantung berdegup kencang.
"Hmm?" Mahen tidak menoleh sama sekali. Sadar kalau jantungnya juga berdegup sangat kencang saat ini. Dia hanya takut kalau nanti Zaina mendengar suara jantungnya yang begitu berdebar.
Zaina menggeleng, bingung ingin meneruskan kalimatnya jadi apa. Ia terlalu malu sekarang.
"Udah, jadinya kamu mau apa?" tanya Mahen sembari menatap sekitar. "Katanya kamu udah lama nggak belanja karena sibuk kan? sekarang kamu bisa belanja. Bebas. Mas janji akan nunggu kamu. Tanpa ngeluh sama sekali."
Mendapat persetujuan dari Mahen, Zaina langsung menatap sekitar mencari toko yang menarik perhatiannya sejak tadi.
Pasangan kekasih itu kini masuk ke dalam salah satu toko baju dengan merek terkenal.
"Nanti kamu pilihin aku bagusan pakai yang mana ya," pinta Zaina dengan riang.
"Iya," jawab Mahen singkat. Laki-laki itu melipir sedikit ke pojokan toko. Memilih menunggu di sana. Ia memainkan ponselnya. Sesekali ia akan melirik Zaina, memastikan kalau kekasihnya itu baik-baik saja.
"Mas ... mendingan yang mana?" tanya Zaina yang udah ada di depannya.
Baju dress berwarna merah yang menunjukkan belahan di pinggiran dan baju dress berwarna biru dongker selutut di tunjukan oleh Zaina. Mahen mendesis dan menggeleng. Tak ada baju yang bagus menurut pandangannya. Ia tak suka kalau Zaina memakai baju yang kekurangan bahan seperti itu.
"Ih mas." Zaina merengek. "Ini baju bagus banget loh. Aku nanya kamu biar bisa milih. Soalnya aku suka keduanya. Tapi kamu malah geleng gitu. Padahal keduanya bagus."
"Carinya yang panjang dong Zaina."
Mahen mengambil dua baju tersebut. "Kaki kamu itu aset mas dan mas nggak akan biarin laki-laki lain ngeliat kaki kamu. Mas nggak mau kamu ke napa-napa. Lagian mau beli dress buat apa? kamu ada acara? atau mau ke mana?"
Zaina menggeleng.
"Buat di rumah aja kok," jujurnya.
"Baju sebagus ini buat di rumah?" kaget Mahen lalu hanya bisa menggeleng speechless. Orang kaya memang beda ya, baju yang hampir belasan juta ini dipakai untuk di rumah?
"Kamu beli baju kayak gini, bukan karena butuh?" tanya Mahen lagi yang disetujui sama Zaina. "Oke, mas nggak bisa ngelarang kamu. Tapi buat apa kamu beli barang yang belum tentu kamu pakai? menuhin lemari doang. Kecuali kalau kamu memang mau pakai di suatu acara. Lagian kalau ada acara juga, mas nggak akan pernah biarin kamu pakai baju ini. Enggak sama sekali!" final Mahen
Laki-laki itu beranjak menaruh dua baju tadi di tempatnya yang Zaina ambil.
Perempuan itu bergegas mengikutinya dari belakang.
Bukannya menjawab. Mahen langsung merangkul Zaina dan membawanya meninggalkan toko tadi.
"Kalau nanti ada acara. Mas bakalan antar kamu buat beli. Nggak usah males kayak gitu dan kalau beli pun. Mas gak bakalan izinin kamu buat pakai baju kekurangan bahan kayak tadi. Masih banyak dress bagus yang menutupi badan kamu."
Zaina mencibir.
"Kamu nih posesif banget ya, dari duluuuu," jawabnya merengek kecil. "Padahal aku suka banget sama dress yang tadi. Masa kamu nggak kasih izin sama sekali sih?"
Mahen berhenti melangkah membuat Zaina ikut berhenti juga. Laki-laki itu menoleh dan tersenyum tipis.
"Okei, kamu boleh pakai baju kayak tadi," ucap Mahen tiba-tiba membuat Zaina tersenyum lebar. "Asal kamu izinin mas buat ikut foto di majalah cover itu gimana?"
"IH ENGGAK YA!" Tanpa mengatakan apa-apa lagi. Zaina langsung menghentakkan kakinya dan meninggalkan Mahen yang sudah tertawa puas sampai memegang perut nya.
Beberapa minggu yang lalu,
Tiba-tiba saja ada wartawan begitu yang mengajak Mahen untuk wawancara. Temanya sih tentang pebisnis yang udah sukses di usia mudanya. Sampai sini memang tidak ada yang salah.
Tapi karena wajah Mahen yang tampan. Orang tersebut merubah keinginannya juga untuk membuat majalah yang isinya tentang Mahen. Dari foto sampai kegiatan yang Mahen lakukan tiap harinya.
Orang itu mengatakan majalahnya pasti akan cepat viral karena siapa yang tidak suka dengan wajah tampan Mahen? semua orang pasti terpikat. Sampai sini Mahen setuju.
Hingga dia melihat berbagai tema pemotretan yang akan ia lakukan. Ada yang vibe ceo yang mengenakan jas rapih, dan masih banyak lagi. Tapi ada satu hal yang membuat Zaina meminta Mahen untuk menolak. Karena tema yang terakhir adalah Mahen akan dibuat sebagai cowok bad boy yang bajunya memperlihatkan perut sic packnya. Zaina langsung mengomel pas tahu hal ini.
/Kamu nih mau foto pemotretan atau mau pamerin perut kamu? nggak ada ya mas. Aku nggak bakal kasih izin sama kamu buat ambil ini. Kalau sekedar wawancara mah masih its oke. Tapi kalau sampai sejauh ini. Aku nggak bakalan kasih izin./ Zaina dengan wajah cemberutnya masih Mahen ingat sampai saat ini. /Kalau kamu sampai nekat. Aku bakal diemin kamu loh mas!/
Makanya,
Topik ini sedikit sensitif bagi Zaina dan sekarang laki-laki itu malah menyinggung nya?
Mahen menatap Zaina yang berjalan mulai jauh.
Ia bergegas berlari menghampiri Zaina dan merangkul kekasihnya itu. Tak ada gerakan penolakan sama sekali.
"Bukannya mas posesif, mas cuma nggak mau kamu di lirik sama laki-laki lain. Kamu juga nggak mau kan, kalau mas di lirik sama perempuan lain karena badan mas? nah itu juga yang mas rasain. Jadi, kita impas ya. Kita sama-sama gak suka kalau aset badan kita di lihat sama orang lain."
"Iya ..."
Zaina merengek dan memeluk tubuh Mahen dari samping.
"Iya mas," jawabnya lagi sambil merengek kecil. "Maaf kalau aku ngerengek kayak gini. Aku baru paham sama omongan kamu. Janji deh, nggak lagi aku pakai baju pendek kayak tadi."
"Pintarnya kekasih mas."
"Udah yuk, sekarang lanjut. Kamu mau beli apa? mas antar."
Zaina mengangguk.
Ia melirik kesana-kemari. Banyak orang yang melirik ke arah mereka. Mungkin merasa aneh (?) karena Mahen yang gak mau melepas rangkulannya sejak tadi. Zaina sendiri sedikit merasa risih. Takut akan tatapan orang pada dirinya.
"Mas ... lepas aja." Zaina menyikut tubuh suaminya. "Malu ih dilihat banyak orang. Pasti mereka ngomongin yang jelek. Lepas mas," pinta Zaina dengan penuh harap.
"Buat apa? omongan orang nggak berpengaruh apa-apa di hidup kita. Jadi, buat apa mas nurut sama kamu? lagian ... memang udah pasti mereka judge kita? gimana kalau mereka malah puji kita karena kita mesra?" tanya Mahen.
Sebelah lengannya yang luang, Mahen pakai untuk mengusap pipi Zaina.
"Kamu tuh terlalu takut sama pandangan orang dan anggapan banyak orang. Mas merasa kamu harus ubah pola pikir kamu. Kamu harus bayangin kalau mereka ngomong positif. Atau nggak abai aja sama mereka. Celotehan mereka sama sekali nggak berpengaruh di hidup kita kan? jadi cukup fokus sama diri kamu sendiri. Nggak usah mikir sama sekali."
Zaina tertegun.
"Kamu tokoh utama di hidup kamu sendiri. Kamu yang harus cari kebahagiaan kamu sendiri. Jadi, buat apa kamu mikirin omongan orang lain? nggak ada gunanya."
"Selama mas ada di samping kamu. Kamu nggak usah mikir macem-macem ya."
Zaina mulai memekik pelan dan tiba-tiba menubruk tubuh Mahen. "Makin sayang aku tuh sama kamu."