Love In Trouble

Love In Trouble
Harus Siap!



Setelah mendengar pertanyaan dari ibu kandungnya. Daddy Zidan hanya memiringkan wajahnya. Bingung harus dari mana ia menjawab. Sangking banyaknya kebaikan Mahen di matanya.


"Dari banyaknya kebaikan yang dibuat Mahen, Zidan cuma mau ngasih tau kalau Mahen pernah menjaga Zaina lebih dari Zidan yang menjaga anak Zidan sendiri," ucap daddy Zidan sambil membayangkan kala itu.


"Maksud kamu?"


"Panjang ceritanya ... tapi ibu harus tahu kalau dulu Mahen pernah dapet kabar mau nikah sama orang lain. Dia lakuin itu dengan terpaksa. Karena tahu calonnya membenci Zaina gitu. Ia ingin menjaga Zaina secara nggak langsung dengan memiliki hubungan sama pembencinya. Jadi, ia akan lebih dulu tahu rencananya dan akan membuat rencana itu jadi gagal."


Oma tertegun. Wajah keriputnya itu terlihat sangat terkejut.


Mengingat dulu dia sangat membenci Mahen karena ini. Dikira Mahen semudah itu mendapatkan calon lain di saat hubungannya selesai dengan Zaina belum lama. Tapi kini ia mendapat kabar baru dan itu sedikit mengejutkan dirinya.


"Pokoknya Mahen udah bisa menjaga Zaina melebihi Zidan yang merawat Zaina. Anak itu sudah aku perhatikan dan memang cuma dia yang buat Zidan rela melepas Zaina. Dari situ Zidan selalu membiarkan Mahen pergi bareng sama Zaina. Sekalian mereka semakin dekat juga. Makanya aku harap ibu juga kasih izin buat mereka. Gimana bu? jangan mangkir. Kasih kejelasan buat hubungan mereka. Zidan mohon ..."


Oma mengangguk.


"Kalau kamu memang yakin sama dia. Ibu juga bisa apa? kamu lebih berhak. Tapi nanti suruh anak itu menghadap ke ibu dulu. Ada yang mau ibu bahas."


"Baik bu! makasih banyak ya karena ibu udah nurunin ego buat hubungan cucu ibu."


Oma mengangguk.


Sembari menunggu kedatangan Mahen. Oma memilih untuk pergi meninggalkan ruang tamu. Tangan tuanya mencengkram tongkat yang sudah menjadi pegangannya setiap berjalan. Dengan langkah tertatih, oma masuk ke dalam kamar. Ia ingin istirahat lebih dulu dan mengontrol hatinya supaya nanti tidak terlalu malu-maluin saat bertemu calon cucunya itu.


***


"Mas!" seru Zaina dengan girang begitu Mahen mengangkat panggilannya dari seberang sana. "Kamu udah berangkat?" tanya Zaina membiarkan ponselnya memakai fitur speaker sementara lengannya sibuk mencatok rambut.


/Belum sayang ... kan kamu sendiri yang minta agak siangan (?) eh mas nggak salah denger kan? ini bentar lagi mas mau berangkat kok./


Zaina terkekeh. Dia yang membuat janji tapi malah dirinya sendiri yang lupa. Memang dasar aneh.


"Enggak mas ..." Mengalir lah cerita tadi pagi dari mulut Zaina. Diakhiri kekehan kecil Zaina hanya bisa menggeleng, menertawakan dirinya yang masih lag pas tadi pagi. "Aku aja lupa loh mas kalau kita janjian. Untung daddy ingetin aku. Ya ampun ... mana aku berantakan banget lagi, soalnya buru-buru mau berangkat kerja. Aku takut kalau nanti telat."


/Ya ampun ... ada-ada saja kamu./


Zaina terus cerita dan seperti biasa Mahen akan menjadi pendengar yang baik.


Di tengah ceritanya, ia mendengar notifikasi pesan dari ponselnya. Ia membuka dan membaca pesan sang daddy. Keningnya ikut mengkerut seiring membaca kalimat panjang itu sampai akhir.


Untuk sesaat Zaina tertegun. Kaget membaca tulisan di sana. Hingga suara Mahen dari seberang sana memecah keheningan.


/Sayang ... kenapa diem aja? mas masih mau denger cerita kamu? Sayang! kamu kenapa? baik-baik aja kan di sana? apa mas langsung kesana aja?/ Mahen panik.


/Loh ... daddy kamu udah sembuh? kenapa ngirim pesan. Memangnya nggak bisa ngomong langsung? atau memang udah pulih. Kok cepet banget sih? seneng sih kalau daddy kamu memang cepet sembuh. Tapi kok jauh banget sih dari perkiraan dokter?/


"Bukan mas ... daddy masih ada di bawah. Ini aku kaget pas baca pesan daddy yang nyuruh kamu buat siap-siap."


Mahen terdengar bertanya-tanya dari seberang sana.


/Memang mas lagi siap siap kok yang. Bentar lagi mas ke sana ya. Ini mas lagi nunggu bunda balik dari pengajian dulu. Bentar lagi kok. Kamu udah nggak sabar ya nunggu mas? sampai alibi ke daddy?/ canda Mahen sambil tertawa pelan.


"Ih mas jangan bercanda! ini serius," ucap Zaina yang jadi panik sendiri.


Ia memijat keningnya dan menyampaikan rambutnya ke sisi kanan. Ia mendesis. Bingung mencari cara yang tepat untuk menolak permintaan sang daddy.


/Ada apa sih sayang? kenapa suara kamu kedengeran panik kayak gitu? kamu nggak ke napa-napa kan?/


"Mas ... maksud omongan aku tadi tuh. Daddy nyuruh kamu siap-siap supaya kamu bisa lebih tenang buat menghadap oma. Duh mas, ini mendadak banget nggak sih mas? ah aku mah nggak mau ah. Nggak enak sama kamunya juga. Kalau memang kamu harus menghadap oma. Harusnya daddy tuh bisa kasih tahu dari lama. Bukannya malah tiba-tiba begini."


/Loh ... bagus dong yang. Kalau mereka memang mau cepat. Ya udah mas akan siapin diri buat ketemu sama oma kamu. Kita udah menunggu dari lama kan? jadi kamu nggak usah khawatir. Mas bakalan datang dengan siap untuk menjemput restu dari oma kamu./


Omongan Mahen terdengar sangat yakin.


Zaina juga yakin kalau Mahen pasti bisa lewatin semuanya dan ini memang kesempatan bagus untuk melanjutkan hubungan mereka. Tapi tetap saja, ada sedikit keraguan di hati Zaina dan mental Zaina belum terlalu kuat membayang kan sang oma dan Mahen duduk di satu meja untuk bahas sesuatu yang serius.


"Mas ih," kesal Zaina. "Kok kamunya santai banget sih?" tanya Zaina. "Ini akunya lagi panik banget. Aku memang mau kamu ketemu sama oma. Tapi kalau begini malahan kecepatan. Aku juga belum nyiapin diri. Duh ..."


Bukannya ikut merasa ketegangan. Mahen malah tertawa di seberang sana.


"Mas ih ... jangan ketawa. Aku takut nih. Oma memang udah lebih baik. Aku juga ngerasa oma tuh sebaik itu. Tapi kan itu ke aku. Gimana kalau ke kamu, oma masih nggak suka? memangnya kamu mau kalau di musuhin sama oma? aku sih nggak mau."


/Sayang ... tenang dulu ya. Nggak usah mikirin hal yang bahkan belum terjadi. Di sini mas mau membawa hubungan kita lebih serius. Kamu sendiri yang bilang, rintangan hubungan kita itu tinggal dua. Oma kamu dan nenek aku. Jadi wajar kalau sekarang ada jalan untuk menenangkan salah satu orang. Mas akan langsung menyetujui. Juga ... mas selalu nyiapin diri selama ini kok. Jadi, kalau ada hal kayak gini. Mas bisa langsung lakuin apa yang udah mas pelajari selama ini./


Zaina menarik napas dalam.


/Nggak usah takut, sayang. Selagi masih ada kamu, mas akan ngelakuin yang terbaik. Kamu jangan mikir yang macem macem ya. Mas bisa. Kamu cukup do'ain aja. Lagian ini mumpung daddy kamu yang nawarin sendiri kan? kita gak tau gimana ke depannya? siapa tahu daddy kamu malah mikir-mikir lagi kalau sekarang aja mas nggak setuju sama permintaannya."


"Iya sih ..."


/Tuh kan, udah ah mas nggak mau pikir panjang lagi. Mas mau siap-siap dan langsung ke sana. Mas siap ketemu sama oma kamu!/


Panggilan berakhir dan detik itu juga Zaina hanya bisa berdoa supaya semuanya akan baik-baik saja.