
Sudah satu bulan lamanya semenjak kejadian itu terjadi dan sejak itu juga, Zaina belum dinyatakan sadar. Perempuan itu masih betah dalam tidurnya dan terus memejamkan mata, tanpa menyadari semua orang di sana memandang Zaina dengan tatapan yang sangat khawatir.
Satu bulan yang lalu,
Mommy Nadya sama Ayah Zidan kelimpungan karena nggak menemui keberadaan Zaina di sekeliling ruangan kerja Mahen. Aneh rasanya, baru ditinggal sebentar tapi anaknya bisa langsung menghilang. Oleh karena itu, mereka semua memilih untuk berpencar dalam mencari Zaina.
Sampai, saat mereka kembali bertemu di lobby. Mereka benar-benar menyerah, karena Zaina nggak di temuin sama sekali. Hingga orang tua Zaina memilih keluar dan di buat terkejut saat melihat anaknya yang menyebrang jalanan utama yang sangat ramai, tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri.
Belum sempat memanggil, waktu seakan berhenti saat sebuah truk besar menabrak tubuh Zaina hingga tubuh anaknya terpental jauh. Hanya teriakan yang mereka bisa ucapkan sebelum menghampiri tubuh Zaina yang terlempar lumayan jauh.
Dunia seakan berhenti waktu itu juga.
Saat mereka menghampiri Zaina. Semuanya benar-benar kacau. Mereka panik dan tanpa pikir panjang langsung bawa Zaina ke rumah sakit. Dan sampai detik ini, Zaina belum dinyatakan siuman sama sekali.
Perempuan dengan hati sangat lembut itu masih nyaman dengan topangan berbagai alat yang memenuhi tubuhnya. Berharap mampu membawa Zaina kembali dan meneruskan memperlihatkan senyuman indah ke semua orang.
"Mas ... kapan Zaina bangun."
Mommy Nadya berbalik setelah puas memandang tubuh anaknya dari balik kaca dan memeluk suaminya. Ia nangis, benar-benar tersayat melihat kondisi anaknya yang seperti ini.
"Seumur hidup ... aku nggak pernah lihat Zaina sampai kayak gini. Bahkan, dulu aku panik kalau Zaina sakit panas. Soalnya, anak kita nggak pernah kuat sama sakit apa pun. Dia cepet ngeluh dan jauh lebih manja kalau sakit. Makanya aku nggak mau Zaina sakit lagi. Tapi sekarang? anak kita nggak ngeluh, mas. Bahkan dia nggak dateng ke aku dan terus ngerengek. Aku kangen Zaina ..."
Daddy Zidan berusaha tegar dan terus mengelus punggung istrinya itu.
"Kalau Zaina ngeliat kamu nangis kayak gini, dia pasti nangis loh. Sekarang kamu nggak usah nangis ya. Kita doakan saja supaya anak kita baik-baik aja. Semoga Zaina cepet siuman dan kembali sama kita."
"Tapi mas—
"Gimana kalau pas sadar, Zaina nanyain itu?" tanya mommy Nadya dengan ambigu.
Dia melirik Zaina di dalam sana. Pandangannya tepat tertuju ke arah perut anaknya yang sudah rata. "Rasanya aku nggak sanggup kasih tau ke Zaina kalau dia keguguran sampai kayak gini. Aku benar-benar takut ngeliat respon Zaina nanti kalau dia tau, kita nggak bisa jaga anaknya."
Tubuh mommy Nadya semakin melemas.
Satu hari setelah para medis berusaha menyelamatkan Zaina. Orang tua perempuan itu mendapat kabar kalau mereka nggak bisa menyelamatkan kandungan Zaina. Lantaran perutnya Zaina terbentur kencang dan nggak ada yang bisa diselamatkan.
"Cucu kita, mas ... aku beneran marah sama diri aku sendiri karena terakhir kali udah jahat banget sama Zaina. Kita cuman mikirin reputasi kita doang tanpa mikirin hati sama perasaan anak kita. Bahkan kita juga patut di salahin atas kecelakaan itu, mas. Andai kita bela Zaina dan nggak malah nyudutin Zaina. Pasti dia nggak bakalan melamun kayak gitu dan ketabrak sampai kondisinya kayak gini."
Ribuan kata menyesal telah mereka lontarkan. Tapi semua itu nggak cukup membuat Zaina kembali.
"Sudahlah ... kita jangan memperburuk keadaan. Lebih baik kita berdoa supaya Zaina cepet siuman dan untuk urusan kasih tau masalah itu. Kita pikirin belakangan. Lebih penting liat anak kita dalam posisi sadar. Ya ..."
Mommy Nadya akhirnya mengangguk.
"Mommy ... Daddy ..."
"Kamu datang lagi?"
Mahen yang baru datang langsung mengangguk dan menunduk hormat pada daddy Zidan. "Aku mau nemuin Zaina lagi. Rasanya aku dipenuhin rasa bersalah karena keadaan Zaina yang kayak gini," jujurnya pelan sambil memandang Zaina dari luar.
"Ya sudah ... silahkan masuk."