
“Apa yang nona ketahui tentang saudari Restu?”
Zaina menoleh ke semua orang. Semuanya menatap ke arah dirinya dan itu cukup mengganggu. Tanpa pikir panjang Zaina menggeleng kecil, “Mahen, mom, dad, bisa tinggalin aku sendirian di sini?” pinta Zaina dengan sangat memohon.
“Aku terganggu sama kalian, maksudnya bukan karena nggak suka. Tapi, aku takut ada salah ngomong karena gugup diliatin kalian kayak tadi.”
“Tapi ... kita nggak mungkin tinggalin kamu gitu aja dong,” balas sang mommy dan menggeleng. “Nggak bisa, nak. Mommy takut kalau kamu juga malah bersikap baik lagi dan malah ngebela perempuan itu. Nggak mau. Mom nggak mau. Perempuan itu harus kena akibat nya. Mom nggak mau kalau kamu yang terkena getah karena omongan kamu sendiri. Kita di sini juga karena wanti-wanti sama omongan kamu, karena kami tidak tau apa yang bakalan kamu omongin nanti di sana.”
“Mom nggak percaya sama aku?” Zaina memandang memelas
“Bukannya nggak percaya, nak,” tambah sang mommy sambil menghampiri anaknya itu. “Tapi pikiran kamu itu di luar nalar. Kamu nggak ragu untuk bersikap baik sama orang yang udah jahat sama kamu. Bahkan mom nggak tahu terbuat dari apa hati kamu itu. Nanti, kalau kami tinggalkan kamu malah nggak mengakui semua kejahatan Restu selama ini. Nggak deh ... mom nggak mau kamu berdiri di sini sendirian.”
Daddy Zidan yang sejak tadi ada di sana ikut mengangguk.
Ada benarnya juga omongan dari istrinya itu.
“Benar nak, kami nggak akan mengganggu kamu. Kamu cukup fokus sama dua pengacara di sana. Anggap saja kami tidak ada. Nggak usah perdulikan kami. Yang penting kamu cukup fokus sama apa yang ada di depan kamu. Kamu ceritakan semuanya dengan versi kamu. Tanpa ada yang kamu tutupi sama sekali."
Zaina menepuk keningnya dan menggeleng. Bagaimana dia bisa anggap nggak ada Mahen atau orang tuanya sama sekali. Di saat depan Zaina adalah kaca besar yang nampilin wajah tegas mereka. Perempuan itu sudah tertawa di dalam hati sambil menggeleng kecil.
"Kalian percaya kan sama aku?"
Wajah tak enak dari mereka membuat senyuman Zaina luntur. Perempuan itu menunduk, menghela napas pasrah. Jujur saja, terkadang pergerakan dia selalu di tahan sama keluarganya sendiri. Walau Zaina tahu, dirinya ini memang suka bertingkah ajaib.
Dengan kata lain, ada aja hal gila yang biasa dia lakukan.
"Mom, Dad, Mahen." Zaina memundurkan kursinya dan beralih menatap mereka satu-satu. "Aku tahu kok, kalian pasti khawatir banget sama aku. Apa lagi aku selalu punya rasa kasihan sama orang lain. Nggak peduli orang itu udah jahat sama aku atau enggak. Tapi balik lagi, benar kata Mahen ... kalau kalian udah sejauh ini. Kalian udah lakuin banyak hal buat aku."
"..."
"Jadi aku akan berusaha kuat untuk nggak ngecewain kalian semua. Kalian juga pasti udah ngeluarin banyak uang untuk aku kan? Jadi ... tenang aja, aku nggak akan buat kecewa kalian kok. Aku janji ... ada hal yang mau aku omongin sama om pengacara ini. Dan ini sangat serius."
"Kami nggak boleh tahu kah?"
"Bukan nggak boleh, tapi—
"Ya sudah," sela Mahen sembari mengangguk, menatap penuh mohon sama orang tua Zaina. "Kami akan menuruti permintaan kamu. Asal kamh nggak akan mengecewakan kami. Kami semua akan nurut omongan kamu."
Zaina sungguh berterima kasih sama laki-laki di depannya ini.
Sebelum pergi Mahen menggenggam tangan Zaina. "Aku beneran bisa percaya kan sama kamu?"
Zaina mengangguk dengan sangat yakin. Ia mengepalkan tangan di udara. "Aku sama sekali nggak akan pernah buat kamu atau orang tua aku kecewa. Aku janji!"
"Ya sudah ... kami tunggu di luar yak."
Zaina memandangi mereka yang keluar satu per satu sampai pintu ruangan tertutup. Menyisakan dua pengacara dan dirinya di sana. Lalu Zaina kembali menatap serius ke arah dua pengacara itu. Matanya yang sejak tadi menyendu kini berubah penuh dengan tatapan berapi.
Seperti mata yang nggak akan mengampuni orang yang udah jahat sama dirinya itu.
"Jadi bagaimana nona Zaina ... sebelumnya, apa anda mengenal saudari Restu ini? Apa kalian terlibat sesuatu di masa lalu?" tanya pengacara itu sambil menunjukkan sebuah kertas yang menunjukkan cuitan twitter Restu yang sepertinya ada di akun kosongan tempat perempuan itu selalu mengumpat dan mencurahkan isi hatinya.
"Eits kalian nemuin ini?" kaget Zaina menatap banyak umpatan kasar di akun Restu yang sudah di print itu.
"Hal kayak gini sangat gampang kok kami dapatkan."
Zaina menutup mulutnya dan menggeleng. "Ih kalian nggak nyari akun sambat aku juga kan?" tanya Zaina. "Beneran deh nggak seru kalau mainnya buka privasi kayak gini. Ih lagian kok serem banget sih. Masa bisa buka akun gembokan gini. Nggak suka ah ..."
Dua pengacara itu tertawa sambil saling memandang satu sama lain. Mereka terkekeh. Wajah menyeramkan Zaina tiba tiba saja berubah. Sikapnya berubah menjadi layaknya seumuran anak itu.
"Hal kayak gini biasa dilakukan kami kok, nona. Mungkin memang sedikit menyimpang karena mengorek privasi tanpa ada izin sama sekali. Tapi ini salah satu cara buat para pengacara seperti kami untuk mendapatkan informasi. Walaupun ... isi dari akun ini nggak bisa menjadi bahan bukti saat persidangan. Karena ini termasuk hal yang ilegal."
Zaina mengangguk mengerti.
"Tapi kalian nggak ambil apa-apa dari akun twitter aku kan?"
Zaina beneran nggak mau kalau akun sambatnya, akun yang selama ini jadi tempat dia untuk curhat dilacak. Apalagi di sana banyak tulisan untuk Mahen. Malu atuh ...
"Hahaha sepertinya ada rahasia yang nona sembunyikan di akun twitter gembokan nona ya?" tanya pengacara itu sambil tertawa kecil. "Tapi nona tenang aja. Tidak ada yang kami ingin tahu dari nona. Lagi pula di sini posisi nona adalah korban bukan pelaku. Jadi, kami nggak ada hak untuk mencari tahu sesuatu dan mencuri data akun punya nona Zaina."
Perempuan itu langsung mengelus dadanya. Benar-benar terasa lega karena mengetahui hal ini.
Untung saja ...
Rahasianya masih aman.
"Jadi bagaimana nona Zaina? Apa nona mengenal saudari Restu sebelumnya. Karena di sini tertulis seperti saudari Restu sudah mengenal nona dari lama dan iri sama hidup nona. Makanya bertindak jahat dan bertingkah seperti ini. Karena saya berusaha mencari data tempat nona mengenyam pendidikan. Kami dilarang sama sekali. Karena nona mengenyam pendidikan di bukan tempat yang biasa. Jadi, mereka sama sekali nggak memberi kami data."
Zaina mengabaikan omongan mereka.
Ia berusaha memutar benaknya saat masa lalu. Sampai Zaina hanya bisa menggeleng pasrah. Tak bisa mengingat sama sekali.
"Aku beneran nggak ingat sama sekali," lirih Zaina dengan pelan. "Aku bukan tipe orang yang suka merhatiin sekitar. Aku lebih suka ngelihat apa yang di depan aku dan asyik sama dunia aku sendiri. Jadi, aku nggak tahu kalau ternyata Restu kenal aku dari lama ..."
Zaina menunduk.
"Sebenarnya ... ada satu nomor yang udah dari lama chat aku dan dari semua itu. Hanya kata kasar dan makian aja yang aku dapetin," ucap Zaina dengan sendu. "Itu salah satu nomor yang buat aku terpuruk. Dia selalu ancem aku. Ya ... dan dengan bodohnya aku malah nyembunyiin masalah ini dari orang lain. Aku benar-benar bodoh banget, karena mereka semua nggak tahu. Tapi salah satu yang ada di pikiran aku, aku nggak mau membuat pusing mereka lagi. Jadi, lebih baik aku pendam saja sendiri."
"Boleh kami lihat? Anda tidak langsung menghapusnya kan?"
Zaina menggeleng.
Dengan perlahan dia mengeluarkan ponselnya. Nunjukin room chat tersebut yang sama sekali nggak pernah dia balas itu.
"Ini salah satu yang buat aku takut untuk jalanin hidup. Katanya terlalu kasar untuk aku."
Mereka mengangguk dan meminta izin untuk membacanya. Setelah Zaina memberikan izin, mata mereka langsung sigap menatap ponsel itu dengan serius.
Melihat itu membuat Zaina semakin menunduk. Dia malu, kalau ingat semua tulisan di sana. Banyak kata kasar yang sayangnya malah terekam kuat di benaknya itu. Salah satu dari sekian banyak pesan yang terkirim yaitu,
/Pelacu* seperti kamu layaknya hidup menderita! Wanita penuh dosa yang bahkan anak aja nggak mau ketemu kamu makanya milih untuk pergi ninggalin lu! Jadi, gue bakalan nambah masalah di hidup lu. Biar semua orang nggak ada yang sanggup di sisi lu. Biar semuanya pergi ninggalin lu juga. Biar lu tau rasa sama arti sendirian di dunia yang kejam ini!/
/Hidup kelam! Gue janji bakalan buat hidup lu benar-benar gelap. Lu bahkan nggak akan berani untuk lihat kaca lagi. Karena kaca aja nggak bakalan sanggup buat nampung semua dosa sama masalah hidup lu!/
/Dasar menjijikkan! Pergi aja dari sini. Semuanya cuman sok baik sama lu. Padahal gue yakin di belakang mereka juga jijik sama lu. Bahkan ... mungkin orang tua lu malu karena punya anak yang problematik kayak lu ini!/
Tiga pesan yang selalu teringat di benak Zaina. Membuat perempuan itu selalu saja kepikiran untuk mendatangi sang anak di atas sana. Kata-kata yang buat dirinya benar-benar merasa kotor dan nggak pantas untuk apa pun.
"Ya ampun jahat banget ..."
Laki-laki yang lainnya ikut mengangguk membuat Zaina beralih menatap ke arah mereka.
"Kalau saya punya putri dan tahu anak saya di giniin, saya nggak akan terima sama sekali. Ini sama saja sudah buat kamu merasa rugi. Bahkan dari pesan ini aja udah bisa bunuh kamu secara nggak langsung."
Hati perempuan itu mencelos.
Ternyata dua pengacara yang Zaina anggap akan jijik sama dirinya malah bersimpati akan kasus ini. Perempuan itu menghela napas lega. Ternyata apa yang dia pikirkan nggak selalu terjadi.
"Kamu tenang saja, saya sama Rudi akan mengusahakan supaya kamu mendapat keadilan. Tidak! Kami nggak akan mengusahakan. Tetapi kami berjanji supaya kamu nggak merasa sedih sama sekali. Kami janji supaya kamu dapat keadilan.
Zaina tersenyum sendu dan mengucapkan banyak terima kasih pada mereka.
"Dan ... kalau kamu memang nggak mengenal saudari Restu. Dari mana kamu mengenal dia? Apa saat pertama kali bertemu kalian sudah bersiteru? Atau dia malah baik sama kamu?"
Zaina mengingat saat pertama kali dia berkunjung di rapat pertemuan antar perusahaan kala itu.
"Aku bertemu sama dia pas rapat perusahaan. Waktu pertama kali ketemu dia juga sudah mengatakan hal yang buat aku sakit hati. Bukan kata yang kasar banget sih. Karena dia cuman jujur aja sama keadaan aku. Tapi dia beneran ngatain aku punya anak dan hamil di luar nikah pas lagi banyak orang. Intinya dia mempermalukan aku di depan umum. Gitu deh ..."
"Okei ... selain itu, tentang hubungan dia sama Mahen. Apa kamu pernah mengganggu dia. Makanya dia sampai dendam dan bawa asmara juga ke masalah ini? Karena sungguh, saya bingung sama motif yang dia mau. Kalau dia mau melakukan ini semua cuman karena iri atau benci. Bukan ini terlalu berlebihan? Dia sudah melangkah terlalu jauh."
Pengacara yang lain mengangguk.
"Dan, saya rasa ... saudari Restu terlalu berani untuk lawan keluarga kamu. Padahal keluarga kamu di kenal bisa nyelesaiin banyak masalah. Jadi, kalau cuman iri doang. Rasanya dia benar-benar berani."
"Entah lah," jawab Zaina sambil tertawa. Karena dirinya juga bingung.
"Tapi ... Restu sama sekali jarang ganggu aku secara langsung. Mungkin respon aku yang diam aja buat dia kesal, makanya dia males gitu. Ya masalah yang sering dia lakuin cuman nuduh dan buat berita hoax itu doang. Pasti om juga pada tau kan? dan ... cuman itu aja sih. Jujur bahkan pas mereka deket. Aku sama sekali nggak pernah deket sama Mahen. Kita berjaga jarak, karena aku mengira kalau mereka itu benar."
"..."
"Jadi, hanya itu saja. Nggak ada yang lebih sama sekali. Cuman pesan itu aja yang buat aku yakin kalau itu dari Reatu dan oh iya ... aku pernah beberapa kali merasa di buntuti. Sayangnya mereka selalu sadar pas aku udah sadar di ikuti. Jadi, aku nggak sempat foto plat mobil."
"..."
Mereka mencatat semua informasi yang di dapat termasuk yang penting bahkan tidak penting. Karena semua informasi itu sangat berguna untuk mereka.
Pengacara Rudi juga sigap memberi nomor itu pada orang suruhannya yang selalu pandai melacak untuk mencari tau orang yang ada di balik nomor itu.
"Nona tenang saja ... perempuan itu masih awam dalam hal ini. Mau dia serapat apa pun menutup masalah yang udah dia buat. Tetap saja, bagi kami yang sudah melewati banyak hal masalah kayak gini tuh. Cara dia termasuk riskan dan gampang utnuk di bongkar. Jadi, nona Zaina akan mendapat keadilan dan permohonan maaf dari saudari Restu. Saya yakin."
Mereka berdiri dan menumpuk semua file yang ada di sana.
"Om ... saya boleh minta sesuatu?" ucap Zaina dengan pelan.
"Apa ada lagi yang mau kamu katakan?"
Perempuan itu menggeleng. "Saya cuman mau semua ini berjalan dengan segimananya yang terjadi. Jangan karena daddy aku, kalian jadi menangin aku. Aku bakalan merasa lebih tenang karena keputusan hakim sendiri yang mutusin semuanya. Jadi, aku harap nggak akan ada lagi yang buat masalah atau nambah berita buruk tentang aku atau keluarga aku."
"Hanya itu?"
Zaina mengangguk dengan cepat.
"Baiklah kalau memang itu yang kamu mau. Tapi tenang saja, selama ini saya selalu jujur. Jadi, untuk persidangan kali ini. Saya juga akan jujur selayaknya yang biasa saya lakukan."
"Makasih banyak sekali lagi ..."