Love In Trouble

Love In Trouble
Rencana



Zaina meluruskan kakinya. Mendengar seruan dari Sofyan seperti tadi membuat perempuan itu sadar kalau apa yang di lakukan sama pacar Sofyan bukan karena dia nggak mau pertahankan dirinya. Melainkan dia nggak mau menghalangi hubungan Sofyan dan orang tuanya.


Mendengar itu membuat Zaina jadi ingat sama dirinya sendiri. Dia juga sama seperti itu kan? Sampai waktu itu Mahen di titik marah karena dirinya yang terus nggak pernah berjuang demi hubungan mereka. Padahal alasan yang dia lakukan bukan karena ini. Melainkan karena diri nya punya alasan lain.


"Jangan di lihat dari satu sisi aja. Lihat juga dari sisi yang lain harusnya," seru Zaina membuat Sofyan semakin memutar otak untuk menangkap maksud dari Zaina.


"Ini maksudnya gimana sih?"


"Ih masa gitu aja nggak tau."


"Ya ... namanya juga nggak tau. Makanya gue nanya sama lu. Ini hal yang baik kan? Mau bagaimana pun, ini demi hubungan gue sama pacar gue kan? Gue cinta sama dia. Gue nggak mau ngelepas dia sama sekali. Tapi di satu titik kadang gue capek karena ngeliat dia nggak pernah ikutan berjuang kayak gue."


Sofyan menarik napas dalam.


"Kayak ... dia nggak pernah mau datang ke rumah. Bahkan dia juga enggan untuk di ajak ketemu Mamah. Walau setiap mereka ketemu juga, yang ada mereka berakhir berantem. Eh, nggak sampai berantem sih. Karena pacar gue ini yang selalu mengalah. Cuman ya yang berantem malah gue sama mamah. Karena mamah yang nggak bisa ngehargain pacar gue sama sekali."


"Tuh ... bahkan di sini harusnya lu bisa ambil kesimpulan kan?"


Sofyan mulai mengingat ingat omongan nya yang tadi. Tapi memang otaknya sedang buntu. Ia malah menggeleng dan terus memaksa Zaina menjelaskan apa yang dia maksud itu.


"Coba deh lu posisiin diri dari pacar lu. Gimana sedihnya dia saat tau orang tua pacarnya malah berantem sama pacar nya karena dia. Gimana kalau sebenarnya dia juga secinta itu sama kamu. Dia juga pengin bareng sama kamu. Tapi karena dia nggak mau ngerebut kamu dari mamah kamu, dia milih mundur."


Sofyan diam.


"Dia cuman mau menghargai hubungan kamu sama keluarga kamu. Tapi dia malah ngorbanin dirinya. Pasti dia juga sedih kalau ngeliat lu malah nyetujuin perjodohan ini. Alah ... ini elu nya punya otak nggak sih? Kenapa malahan segampang itu buat nerima perjodohan cuman karena lu marah sama dia?"


Sofyan tertegun.


Nggak peduli dengan omelan Zaina yang tertuju pada diri nya itu.


"Benar juga ... ya ampun, kenapa gue nggak pernah kepikiran sejauh ini? Kenapa gue cuman lihat dari sisi gue doang. Tanpa pernah mikirin perasaan dia sama sekali? Ya ampun, selama ini gue udah salah besar sama dia. Dasar bodoh!" Sofyan memukul kepalanya sendiri. "Benar benar sangat bodoh!'


" Pemikiran perempuan itu unik."


Sofyan menoleh dan mengangguk.


"Iya sih ... padahal nggak seharusnya dia nyimpen semua ini sendiri kan? Lebih baik dia jelasin sama gue dan kita bisa bongkar semuanya bersama. Jadi, dari pada mikirin masalah ini mendingan dia jelasin ke gue dan kita bisa mikirin penyelesaian masalah ini."


Zaina tertawa kecil.


"Pemikiran laki-laki itu beda sama perempuan yang apa apa nya selalu menggunakan hati. Di sini gue cuman mau kasih tau dan nekanin aja sama lu. Kalau hati perempuan itu lembut dan dia paling nggak bisa memutuskan keputusan tanpa memikirkan perasaan orang lain. Pasti dia bakalan bawa perasaan orang lain. Sambil ngorbanin perasaan dia. Jadi, dari pada lu marah sama pacar lu itu. Mendingan lu deketin dia dan ngomongin masalah ini bareng-bareng bukan nya malah nambah masalah aja."


Laki-laki itu menunduk dan menghela napas dalam.


"Gue juga kayak gitu kok. Itu salah satu kebodohan yang gue lakuin. Bahkan sampai buat pacar gue marah besar sama gue. Jadi, gue nggak mau kalau ada perempuan lain yang jadi korban nya lagi. Sebelum lu marah. Mendingan lu intropeksi diri. Kalau apa yang dia lakuin ini sebenarnya udah karena mikirin perasaan lu."


Zaina kembali diam. Bingung mau mengatakan apa lagi.


Kenapa dirinya ini malah di jodohkan sama orang yang sepertinya punya kisah cinta mirip sama hidup gue.


"Ah ya udah kalau kayak gitu. Gue beneran juga nggak tau harus ngomong apa lagi. Karena gue langsung dapet suatu pencerahan dari omongan lu. Sekarang kita balik ke lu ya. Jadi ... tadi kalau nggak salah denger. Lu punya pacar juga? Alesan nggak boleh karena apa? Apa karena harta juga?"


Zaina menggeleng.


"Eh ... lu sebenarnya tau nggak sih siapa gue?"


Dia lagi nanya kenapa Zaina malah bertanya balik ke dirinya.


"Zaina kan? Orang yang di jodohin sama gue? Kenapa lu tiba-tiba nanya kayak tadi? Aneh banget deh."


Zaina menggeleng. Dia sepertinya sadar kalau laki-laki itu nggak mengetahui siapa dirinya sama sekali.


"Lu beneran nggak tau gue? Gue orang yang sering ada di berita dan masuk TV. Masa lu nggak tau sih? Padahal kayak nya booming banget deh. Jadi, walaupun orang yang nggak ikutin sama sekali. Paling nggak dia bakalan tau sedikit kisah tentang hidup gue."


"Lah ... memang nya lu siape sampai kisahnya aja harus gue ikutin. Apa lu pemain ftv ya? atau sinetron penuh drama itu? Kagak tau ... gue kagak tau sama sekali. Gue jarang nonton TV. Memang nya ada apa sih? Kenapa lu nanya kayak gitu. Iya deh ... lu mah anak orang kaya. Pasti sering masuk TV. Jadi nggak usah sombong kayak tadi juga dong."


'Lah ... siapa yang sombong?" gumam Zaina sambil memiring kan wajahnya.


"LU!" tuduh Sofyan tanpa sadar.


Zaina menepuk kening nya dan tertawa remeh.


"Gue bukan pemain ftv atau sinetron sama sekali. Tapi gue adalah Zaina, perempuan yang kisah hidupnya sering jadi tontonan banyak orang. Banyak yang nggak suka sama gue. Maka nya selalu cari celah. Dan kalau ada hal buruk pasti semuanya langsung ramai di media. Dan itu cukup sering, karena yang benci sama gue juga nggak main-main benci nya. Makanya ... gue sering dah masuk media."


"..."


"Dan selama ini, gue mengira kalau semua orang bakalan nonton TV Dan tau gue. Bukannya untuk bermaksud ke hal yang sombong. Tapi gue masuk TV juga karena kasus. Jadi, karena tadi lu nanya ke gue tentang pacar gue. Harus nya sih lu tau, karena dia juga sering masuk TV."


Sofyan mengangguk mengerti, lalu dia beralih menggeleng sambil menurunkan kakinya itu.


"Gue jarang banget nonton TV. Nggak ada faedah nya sama sekali kalau kata gue mah. Makanya gue nggak kenal lu sama sekali. Jadi, cukup jelasin aja. Kenapa lu mau nolak perjodohan ini selain karena punya pacar itu."


"Intinya ada sesuatu yang terjadi. Makanya gue terjebak di sini dengan posisi yang bahkan sebenarnya gue nggak paham sama sekali. Ya ... lu bisa liat aja tadi, gimana marah nya gue. Ya, walau pun lu malah ngomong gue aneh sih. Tapi kan balik lagi. Itu beneran reaksi aku karena nggak terima sama semua ini."


Sofyan yang merasa di sindir langsung menjulurkan tangan.


"Minta maaf deh. Nggak lagi-lagi ngomong jahat kayak tadi, ini gue beneran nggak tau kalau cewek tuh pendendam banget kayak gini."


Zaina mendengus dan membalas genggaman tangan dari laki-laki itu. "Bukan nya pendendam padahal. Tapi cuman mau ingetin aja dikit."


"Iya deh sama aja ... Jadi, karena udah damai. Mau lakuin rencana apa kita? Karena, sepertinya kita nggak bisa diam aja. Karena takut nya mereka yang di dalam ini malah serius jodohin kita. Gue beneran nggak mau sama sekali. Bener bener setidak mau itu."


Zaina mengangguk juga.


"Sampai detik ini sebenar nya gue belum ada kepikiran apa apa sama sekali. Karena otak gue beneran buntu. Masih kesal karena kelakuan mommy sama oma gue yang main maksa aja kayak gini."


"Gimana ya ..."


Zaina menggumam bingung.


"Gimana kalau kita jangan omongin sekarang. Kita udah terlalu lama di luar. Yang ada mereka curiga, atau yang lebih parah mereka malah anggap kita klop karena berhasil bicara bareng selama ini. Mendingan besok atau lusa kita kumpul di salah satu restoran sambil bawa pacar kita? Dan kita bisa makai empat otak buat mikir bareng."


Sofyan berdeham dan walau pun bingung, pada akhirnya Sofyan memilih mengangguk saja. Karena ini salah satu jalan yang menurut dirinya terbaik.


"Ya udah lah kalau gitu kita sekarang ke dalem. Oh iya buat hubungan kita gimana?" tanya Sofyan lagi.


"Ikutin aja dulu kemauan mereka. Kalau nanya, bilang aja kita masih mau temenan dulu. Belum mau ke tahap yang serius gitu."


"Cerdas!" Sofyan menjentikkan jari