
Suasana semakin riuh saat Zaina beneran turun dari mobil dan menghampiri mereka semua. Untung saja ada tali pembatas yang membuat mereka semua nggak bisa begitu saja menghampiri Zaina.
Melihat Zaina yang mulai gugup, dengan cepat Ghaly itu memarkirkan mobil dan menghampiri Zaina. Berdiri di belakang perempuan itu. Memastikan tidak ada apa-apa yang terjadi.
/*Mbak ... bagaimana dengan semua berita yang ada? apa mbak benar menjadi orang ketiga dalam hubungan orang lain?/
/Apa alasan mbak melakukan hal ini? Apa benar karena mbak yang nggak terima melihat mantan tunangan mbak itu bersanding sama perempuan lain?/
/Mengapa mbak melakukan hal yang jahat seperti ini?/
/Apa alasan mbak menjadi orang ketiga di hubungan orang lain*?/
Dan masih banyak lagi pertanyaan yang membuat Zaina tertegun. Dari pertanyaan yang masih di katakan dengan sopan sampai pertanyaan menuduh yang memojokkan diri nya. Semua pertanyaan diterima dengan senyuman.
Walau banyak pertanyaan buruk yang tertuju sama dirinya. Zaina terus berusaha memikirkan hal yang positif supaya dirinya nggak tergocek sama pertanyaan mereka dan jadi membuatnya lepas kendali.
Ia menarik napas dalam.
"Selamat pagi ... sebelumnya saya minta maaf karena di sini sudah membuat keributan banyak orang. Tapi keberadaan saya di sini bukan untuk menjawab pertanyaan kalian semua."
Terdengar seruan memburu dari mereka membuat Ghaly langsung menenangkan kerumunan itu.
"Di sini saya ingin menyangkal juga rasanya nggak mungkin, di saat kalian semua sudah menuduh saya dan nggak hanya itu saja. Saya mau minta maaf karena mungkin saya punya salah sama kalian semua atau pemberitaan ini mengganggu hidup kalian."
Zaina tersenyum miris dan menunduk cukup lama. Berusaha menyampaikan maaf dari lubuk hatinya yang paling dalam.
"Saya melakukan ini bukan untuk mendapat pembelaan dari kalian semua. Tapi saya hanya ingin meredakan keributan yang terjadi dan di sini saya nggak mau menyinggung masalah ini. Karena tidak ada yang mau saya bahas. Saya hanya mau memberi tahu sedikit, kalau saya mau hidup dengan tenang dan berusaha hidup jadi yang jauh lebih baik. Jadi, saya nggak mungkin menghampiri hal yang buat hidup saya jadi tergocek lagi."
Zaina tersenyum simpul.
"Dan ... tolong jangan terlalu percaya sama semua berita yang menggiring dan saya akan memaafkan semua orang yang udah membuat saya ada di posisi ini. Saya tidak apa apa, kalau itu yang kamu mau. Atau kamu masih kurang dalam menyakiti saya?" tanya Zaina yang membuat para wartawan saling menatap, merasa penasaran dengan maksud dari Zaina.
Zaina merogoh uang dalam tasnya dan menyerahkan pada Ghaly.
"Ghaly ... saya minta tolong untuk hitung semua wartawan yang ada di sini. Belikan mereka kopi dan cemilan. Saya rasa mereka cukup lelah karena sudah menunggu saya sejak tadi."
"Baik mbak ..."
Zaina kembali menatap mereka semua.
"Saya pamit dulu ya, oh iya saya juga mau meminta maaf sama kalian. Karena masalah ini, kalian jadi harus repot terus mencari saya. Maaf karena sudah menyita waktu kalian."
Tanpa mengatakan apa-apa lagi Zaina langsung meninggal kan depan kantornya dan masuk ke dalam. Zaina sengaja tidak memusatkan perhatian pada pegawainya. Karena dia masih belum bisa menatap mereka balik. Lagian ... sebagian energinya sudah terkuras banyak dan dia hanya takut kalau dirinya lepas kendali lagi kalau mendapati orang yang jahat sama dirinya.
***
Zaina tersenyum saat melihat Mahen yang menelpon dirinya. Tanpa pikir panjang dirinya langsung mengangkat.
"Halo Mahen ... ada apa nih, tumben teleponnya pas siang. Biasanya juga pas malem. Memangnya kamu lagi nggak ada kesibukan?"
"Enggak kok Zaina. Oh iya, aku udah melihat beritanya. Dan kamu beneran keren banget. Oh iya, kamu udah lihat para komenan atau berita yang baru muncul tentang kamu gak?"
Zaina menelan saliva. Dia menggeleng walau tahu Mahen tak akan melihatnya.
"Belum sama sekali. Aku masih belum siap, takut semakin banyak orang yang hujat aku karena tindakan bodoh aku yang tadi. Bahkan mommy sama daddy aja nggak aku izinin buat dateng. Karena aku takut banget ..."
"Zaina ... aku ke sana ya."
Dan seketika panggilan terhenti membuat Zaina semakin di buat panik. Karena tahu kalau Mahen ini orangnya nekat banget.
"Ya ampun ... apa kata orang kalau dia beneran dateng?"