
Sudah waktunya persidangan di mulai. Bahkan seluruh keluarga Zaina dan Mahen mengunjungi persidangan dan Zaina memilih untuk berdiam sendiri di rumah. Bukan, bukan karena Zaina enggak ikut. Sungguh dia mau bertemu sama Restu. Mau melihat bagaimana keadaan perempuan itu setelah ada di sana. Apakah masih bisa sombong sama dirinya. Apa matanya masih terus menatap remeh ke dia. Atau masih petantang pententeng ke arah dirinya?
"Ah tapi kenapa aku di larang buat ke sana sih?!"
Ia memandang sekeliling kamarnya. Benar-benar nggak ada kegiatan yang bisa dia lakukan. Sampai matanya tertuju ke arah laptopnya.
"Kenapa aku nggak ke kantor aja? Udah lama juga aku nggak ke sana. Lumayan ... udah lama aku nggak ketemu sama Ghaly. Sekalian pengin tahu, gimana kabar dia."
Dengan cepat Zaina turun dari mobil. Ia masuk ke kamar mandi. Tak membutuhkan waktu lama, ia kelar mandi. Aroma lavender langsung memenuhi kamar ini. Zaina duduk di meja rias, masih dengan handuk yang meliliti tubuhnya. Ia menatap cermin.
"Nggak usah dandan full kali ya. Cuman mau ke kantor buat nyapa doang. Bukan buat yang macem-macem gitu."
Zaina mengangguk menjawab pertanyaannya sendiri. Dia memakai pelembab, moisturizer, sunscreen dan tidak lupa pelembab bibir untuk menutup bibirnya yang kering. Terakhir ia hanya mengenakan body spray dan setelahnya ia langsung menghampiri almari. Mengambil setelan formal untuk ia pakai.
Dirinya sudah siap pergi ke kantor.
***
"Tapi nona tidak di izinkan tuan besar untuk pergi," beri tahu penjaga saat Zaina mau masuk ke dalam mobil.
"Loh? Nggak boleh ke napa? Aku juga mau cari angin loh. Aku nggak bakalan ke tempat pengadilan. Beneran deh. Bapak bisa lihat aku pakai baju formal kan? Nah ini aku mau ke kantor. Ada kerjaan mendadak," dusta Zaina. "Masa ada kerjaan mendadak dan masalah di kantor, aku diam aja di rumah. Padahal daddy lagi di tempat pengadilan. Jadi nggak ada yang jaga kantor sama sekali. Makanya ... aku harus turun tangan dong."
Zaina menatap penuh harap. Berharap pegawai daddy nya itu memberikan izin.
"Baiklah ...," putusnya pada akhirnya. "Tapi saya harus ikut dengan nona. Karena tuan besar memberikan saya petuah untuk menjaga nona. Jadi, saya nggak mau kalau nona itu sampai ke napa-napa. Ditambah takutnya nona malah tiba tiba datang ke tempat persidangan itu. Karena tuan besar sama nona besar, sudah mewanti-wanti saya untuk larang nona datang ke sana."
Zaina memutar matanya, jengah.
"Bapak nggak percaya ya sama saya?"
"Bukan begitu nona, saya hanya menjalankan perintah dari tuan besar saja. Saya bekerja di bawah naungan tuan besar. Jadi saya tidak bisa menolak permintaan tuan besar sama sekali. Jadi, nona nggak masalah kan kalau saya ikut bersama nona. Anggap saja saya penjaga yang akan jaga nona."
Zaina mengibaskan tangan di udara.
"Tapi aku nggak mau satu mobil ya, pak. Aku mau habisin waktu sendiri di mobil. Tapi kalau bapak mau ikutin mobil aku dari belakang juga, aku nggak masalah sama sekali."
"Ya sudah ... Terima kasih atas pengertiannya, nona."
Zaina mengangguk dan berjalan mengitari mobil, masuk ke dalam kursi di balik kemudi. Ia turunkan kaca depan, melihat wajahnya yang masih terlihat cantik. Perempuan itu menjentikkan jari.
"Sudah selesai," lanjutnya kembali membenarkan kaca spion di depan itu.
Setelah melihat ke arah belakang, memastikan penjaganya tadi sudah ada di mobil dan ada di belakang dirinya. Zaina langsung klakson, memberi ultimatum kalau dia akan berangkat dan detik itu juga Zaina meninggalkan pekarangan rumahnya. Pergi menuju kantornya.
***
Begitu tiba,
Perempuan itu menunduk sopan, pada penjaganya yang masih saja mengikutinya di belakang. Lalu dia berbalik dan masuk ke perusahaan yang sudah lama ia pijak.
Begitu masuk, Zaina langsung disambut banyak orang yang menyapa ke arah dirinya. Beberapa orang yang terlihat masuk sambil membawa dokumen. Dan sebagian keliatan sedang menelepon. Ah ... kesibukan ini. Sudah lama tidak Zaina rasakan.
Sesekali Zaina menyapa mereka dan tersenyum, sampai pintu lift tertutup membuat perempuan itu menghela napas dan menggeleng kecil.
"Andai aja aku bukan anak daddy. Aku yakin pasti perlakuan mereka bakalan beda sama aku," gumam Zaina lalu tertawa miris.
Ting!
Zaina beranjak dari lift. Pergi menuju ruangan kerjanya.
"Za— Zaina?!" pekik seseorang dari belakang membuat perempuan itu menoleh dan melihat Ghaly di sana sambil membawa tumpukan file.
"Ya ampun."
Ghaly menaruh asal file tadi dan menghampiri Zaina. Menarik perempuan itu dan memeluknya dengan sangat erat membuat Zaina tertawa kecil dan membalas pelukan Ghaly. Keduanya menyalurkan rasa rindu yang sudah lama terasa ini.
"Ya ampun ... gue nggak percaya banget karena akhirnya lihat lu di kantor ini lagi. Kita udah lama banget nggak ketemu. Pengin gue datang ke rumah lu atau nggak sekedar nemuin lu. Tapi selalu aja ada kerjaan. Lu tahu sendiri kan kalau perusahaan ini mau kerja sama sama perusahaan luar negeri yang selama ini di inginin sama om Zidan. Jadi, di sini tuh benar-benar sibuk," seru Ghaly tanpa jeda
"Hahaha ... iya-iya, duduk dulu yuk."
Zaina melihat sekitar dan duduk di kursi plastik depan ruangannya. Meminta Ghaly untuk duduk di sana.
"Gue minta maaf ya karena masalah gue. Lu jadi kerja sendirian kayak gini. Padahal seharusnya gue nemenin lu di sini. Harusnya gue ikut bantu kerjaan kalian. Bukannya malah santai di rumah."
Ghaly menggeleng.
"Gue malah suka kalau lu nggak kerja. Biar otak lu lebih refresh dan nggak ngepikirin seputar kerjaan doang. Jadi, gimana keadaan lu? Baikan kan? Gue beneran minta maaf banget karena jarang ngehubungin lu. Karena yang gue tau dari om Mahen, lu itu jarang buka HP. Karena ya nomor lu nggak sengaja disebar karena ulah perempuan itu kan?"
Wajah ramah Ghaly langsung berubah menjadi emosi.
"Eh ... tuh perempuan bener jahat banget deh. Ya ampun, cuman karena iri dan cemburu. Dia malah lakuin berbagai cara buat jatuhin lu. Tapi untung deh, sekarang dia udah di penjara. Eh ... bukannya sekarang lu sidang ya?"
Ghaly sampai berdiri karena ingat yang satu ini.
"Iya loh, hari ini. Karena niatnya setelah ngirim file ke email, gue mau datang ke sana. Tapi kenapa lu malah ada di sini? Nggak jadi kah persidangan nya? Ah jangan sampai! Restu harus dapet bayarannya. Karena udah jahat banget sama lu. Dia nggak boleh lepas gitu aja setelah buat masalah yang besar banget kayak gini," omel Ghaly.
Yang mana membuat Zaina menggelengkan kepala. Ia menyentuh kepalanya. Ghaly terlalu bawel dan itu buat Zaina jadi sedikit pusing. Walau kayak gitu, Zaina tetap mendengarkan omongan Ghaly. Karena semua yang di omongin Ghaly tetap demi kebaikan dirinya.
"Jadi kok ...," jawab Zaina pada akhirnya.
"Ya terus kenapa lu di sini?"
"Karena nggak ada yang izinin gue buat datang ke sana. Gue nggak paham juga deh alesan mereka kenapa larang gue buat datang ke persidangan. Padahal harusnya persidangan kayak gini tuh harus datang korbannya kan? Dan di sini yang jadi korbannya malah gue. Tapi gue kenapa di larang buat datang ke sana. Gue juga nggak paham deh kenapa bisa di larang kayak gitu."
Ghaly menaruh ujung jarinya di pipi sambil memikirkan kemungkinan yang paling dekat karena pelarangan ini.
"Apa karena orang tua lu takut Restu ngamuk pas lihat lu? Atau gimana ..."
"Nggak tahu ah. Makanya dari pada aku bosen di rumah dan cuman ngelamun nggak jelas doang. Mendingan aku datang ke sini. Anggep aja selesaiin sebagian kerjaan karena udah lama banget gue nggak kerja kayak gini."
"..."
"Jadi ... ada kerjaan nggak buat gue?"
Ghaly reflek berdiri dan menyilangkan tangan di dada.
"NO! Semua kerjaan udah selesai, jadi lu diem aja di sini. Mendingan istirahat atau mau makan? Biar gue pesenin makan atau minuman yang lu mau."
Zaina mengerang frustasi dan menatap sebal ke arah Ghaly. Ah semuanya sama aja.
"Padahal gue datang ke sini tuh buat ngelakuin sesuatu karena di rumah beneran bosen banget. Tapi kenapa malah di suruh diem lagi. Ih ini mah, nggak ada yang bener. Pada nggak tau ya kalau gue tuh bosen banget."
"Tapi beneran nggak ada kerjaan, Zaina ..."
Zaina mencebik, masih merasa Ghaly menipu dirinya.
"Tadi ... kan gue udah kasih tau ke lu. Kalau habis ngirim file, gue mau datang ke persidangan lu. Makanya gue sengaja buat selesaiin semua kerjaan pas kemarin malam. Jadi di sini beneran nggak ada kerjaan sama sekali."
"Ya terus gue harus ngapain dong?"
Zaina berdiri dan berkacak pinggang. Menelusuri lorong lantai ruangannya ini. Mencari hal yang seru. Tapi nggak ada hal yang dia temukan sama sekali. Lagian, mau nyari apa dirinya di kantor kayak gini? Hanya ada tumpukan kerjaan yang membuat banyak orang pusing saja. Selebihnya nggak akan ada yang menyenangkan di sini.
"Tau nggak sih ... padahal gue susah-susah buat datang ke sini karena pegawai daddy udah larang gue buat datang. Gue udah ngelakuin berbagai cara sampai bujuk, tapi pas di sini malahan bengong juga."
"Hahaha ... maaf ya Zaina, gue nggak tau sih lu mau datang kayak gini. Dari pada bosen, mendingan lu tungguin gue bentar. Nggak sampai setengah jam. Nanti kalau udah, kita cari angin. Kita jalan-jalan ke tempat yang lu mau. Janji deh bakal wujudin."
"Beneran?"
Ghaly mengangguk.
Sayang Zaina ingat perkataan laki-laki itu tadi. Membuat Zaina menggeleng pelan.
"Katanya lu mau datang ke persidangan gue? Masa sekarang mau jalan jalan sama gue. Udah lah nggak usah. Mendingan lu datang aja ke sana dan gue jalan-jalan aja sendirian."
"Mana ada kayak gitu. Udah lah gue nggak usah datang ke sana. Lagian hasil persidangan juga bakalan ada di Hideline berita. Jadi gue nggak perlu banget datang ke sana. Toh niat awal datang ke sana juga biar ketemu sama lu. Tapi lu nya malah di sini. Jadi, mendingan kita cari angin kan?"
Zaina tidak menjawab dan malah mengikuti Ghaly masuk ke dalam ruangannya. Ia duduk di sofa sambil melihat seisi ruangan sampai matanya menatap sebuah figura. Foto janin nya dulu. Si kecil yang sudah lama tidak ia jumpai.
Seperti ada sihir yang menarik, Zaina mengambil figura itu dan mengusapnya pelan.
Rasa sakit hati yang sudah lama ia lupakan kini mulai terasa lagi. Ia tersenyum miris. Melihat ini semua yang sungguh sebenarnya sangat menyakitkan.
"Kamu masih menyimpan ini?" tanya Zaina tiba-tiba yang berubah menjadi sopan. "Aku nggak menyangka kalau kamu masih nyimpan ini."
"Hahaha ... nggak nyangka kayak gimana? Foto itu buat gue jadi inget kalau gue pernah jadi seorang ayah. Walau nggak lama. Banyak kenangan indah yang ada di foto itu. Dan karena satu foto itu, gue bisa ada di sini. Maksudnya gue bisa berubah jadi orang yang baik dan nggak mau macam macam karena pasti di atas sana anak kita sudah menunggu."
Zaina beralih menatap ke arah Ghaly, mendengarkan penjelasan dari laki-laki itu.
"Dedek yang buat gue bertahan dan kuat hingga detik ini. Dedek belum lahir yang artinya sekarang dia ada di syurga nya Allah. Jadi kita nggak boleh khawatir sama sekali. Dan karena fakta itu, buat gue berkeinginan besar buat jadi orang baik biar bisa mengikuti jejak dedek."
"..."
"Walau ... nggak tau juga sih. Karena perbuatan di masa lalu gue masih terus menghantui. Walaupun gitu, gue akan terus berusaha jadi orang yang baik. Biar nanti bisa ketemu sama dedek di atas sana."
Rasanya tubuh Zaina membeku.
Teringat kembali dosa orang yang bunuh diri. Maka orang itu tidak akan pernah bisa menyentuh syurganya Allah dan omongan Ghaly benar-benar membuka mata hatinya. Dia tertegun.
"Nggak cuman foto kok. Tapi barang yang dulu pernah gue beli, gue masih simpan. Bahkan ... kalau ada orang yang nanya. Gue nggak akan segan cerita kalau gue pernah jadi seorang ayah."
Wajah bangga Ghaly membuat Zaina jadi merasa nggak enak dan memandang sendu. Ia menatap perutnya yang masih rata. Siapa sangka?
Padahal dulu Zaina membayangkan kalau beberapa tahun ke depan, dia akan tumbuh bersama anaknya. Tapi takdir berkata lain. Hanya dirinya yang masih terus menjalankan hidup. Sementara anaknya malah meninggalkan dirinya.
"Kamu sebahagia itu ya?"
Ghaly tersenyum tipis dan mengangguk.
"Bahkan gue nggak akan merasa malu kalau mereka tau gue jadi seorang ayah karena kebobolan. Walau belum status menikah. Gue nggak akan pernah peduli lagi sama semua omongan mereka. Karena kebahagiaan anak gue adalah yang paling utama."
Zaina ikut mengangguk. Dia juga pernah berpikiran yang sama dengan apa yang Ghaly pikirkan saat ini.
Dirinya nggak akan pernah peduli dengan omongan orang lain. Toh, yang menjalani hidupnya adalah diri dia sendiri. Jadi dirinya nggak perlu takut sama omongan mereka.
Sampai,
Akhirnya Ghaly berdiri dan merentangkan tubuhnya.
"Dah ... mumpung udah selesai. Jadi, kita bisa jalan ke tempat yang lu mau secepat mungkin. Mau ke mana?" tanya Ghaly lagi sambil membereskan barang.
Zaina bergumam. "Ghaly ..."
"Iya?"
"Boleh antar gue ke tempat persidangan itu nggak? Gue cuman mau lihat aja kok. Gue beneran penasaran sebenar nya. Dari tadi gue cuman nahan diri doang. Tapi karena gue nggak tau tujuan mau pergi ke mana. Jadi, gimana kalau kita pergi ke sana dulu?"
"Tapi? Orang tua lu ngelarang kan?" tanya Ghaly yang menolak.
"Gue mohon ... gue yang akan tanggung jawab dan nggak akan nyalahin lu. Gue mohon. Habis dari sana, kita pergi ke makam dedek. Gimana?"
Ghaly tertegun dan akhirnya mengangguk.
"Ya sudah."