
Zaina menatap pagi hari yang begitu cerah. Setelah benar-benar terbuka akan semuanya, Zaina tidak merasakan tekanan lebih banyak di dalam hidupnya. Dia merasakan semuanya jauh lebih tenang.
Ditambah kedua orang tuanya udah mulai bersikap kayak dulu lagi. Mereka sama sekali nggak mengungkit masalah ini dan berusaha untuk terus mendukung apa pun yang di lakuin sama Zaina dan dukungan itu yang membuat Zaina jauh lebih hidup bahagia dan nggak minta apa-apa.
Dia hanya meminta semuanya untuk seperti ini. Dia hanya mau kalau semua orang berada di sisinya tanpa judge apapun karena Zaina belum memiliki mental yang aman untuk mengetahui isi hati orang lain.
"Zaina ... ada yang mau mommy omongin sama kamu."
Perasaan perempuan itu jadi berdebar dan menatap mommynya dengan pandangan bingung. Tidak pernah melihat wajah mommy dia yang seserius ini. Zaina menarik napas dalam, sebelum bangkit dari tempat tidurnya.
"Nggak usah bangun ... kamu tiduran aja. Mommy cuma mau ngomong sesuatu sama kamu aja."
Zaina tetap bangkit dan merubah duduknya. Sementara itu mommy Nadya datang dan duduk di pinggiran kasur, membuat Zaina kembali tiduran dengan kepala dia yang ditaruh pada paha mommynya. Mommy Nadya nggak banyak mengatakan hal, dia hanya mengusap rambut anaknya itu dan tersenyum tipis.
"Mommy? Ada apa? Kenapa diam aja?" tanya Zaina sambil mendongak menatap mommynya itu.
Menyadari raut wajah mommynya yang berubah, membuat perempuan itu langsung menegang.
“Mommy ... ada apa ini?”
Zaina mau bangkit, tapi mommy Nadya malah menahan kepala anaknya di paha dia. Terus mengusap rambut Zaina. Di tengah perasaan khawatirnya, Zaina hanya menunggu sampai mommy dia mengatakan sesuatu. Selama belum ngomong, dia hanya memandang mata mommy Nadya yang mirip dengan matanya.
“Sayang ... kamu tahu kan kalau mommy sama daddy itu sayang banget sama kamu? Kami benar-benar sayang banget sama kamu. Selalu mau kamu mendapat hal terbaik, walau kami sempat kecolongan sesuatu dari kamu?”
Zaina paham. Ini saatnya serius. Dia bngkit dan duduk di samping mommy Nadya. Membuat mommy Nadya merubah duduknya dan menatap dirinya. Mommy Nadya membawa tangan anaknya itu ke tangannya dan mengusap lengan atas dengan pelan.
“Mommy sama daddy cuman punya kamu doang. Kebahagiaan kamu sama seperti kebahagiaan kami. Walaupun sempat terluka. Kami berusaha untuk iklhas karena memang semua ini udah takdir kan? Jadi, sama sekali nggak ada yang bisa menandingi sama sekali.”
Zaina mengangguk pelan, “iya ... aku tahu banget kok. Mommy sama daddy udah sayang banget sama aku. Karena selama ini aku cuman salah paham doang. Aku beneran nggak tahu harus apa. aku selama ini udah bodoh banget karena nggak paham sama perasaan dan kasih sayang yang di tujukkan sama mommy dan daddy. Karena kalian sesayang itu sama aku.”
“Kamu juga tahu kan kalau mommy sama daddy mau melakukan yang terbaik untuk kamu?” tanya mommy Nadya lagi lalu membuat Zaina mengangguk.
Mommy Nadya mengusap surai rambut anaknya dan pipi tembam Zaina, “mommy memang kurang memberikan waktu untuk kamu. Mommy sama daddy kadang cuman bekerja terus tanpa sadar kalau kamu pasti kesepian di rumah ini. Tapi kamu harus tahu kalau kami beneran sesayang itu sama kamu. Kamu harus tahu kalau kami selalu memantau kamu dari jauh.”
Membuat Zaina mendekat.
Mereka membuka halaman pertama dan di sana ada Zaina yang masih bayi dan ada dalam gendongan mommy sama daddynya bersama.
“Mommy ingat banget, kalau kami sudah menunggu kedatangan kamu dari lama. Akhirnya princess cantik datang di rumah kami yang sudah menunggu lama. Kamu tahu kan bagaimana daddy kamu yang susah berekspresi dan menyatakan perasaan dia? tapi begitu kamu lahir, itu pertama kali mommy melihat wajah daddy kamu yang benar-benar bahagia saat melihat kamu. Kebahagiaan daddy yang menular sama mommy.”
Mommy Nadya tersenyum tipis dan membuka album lainnya. Melihat Zaina yang sedang merayakan ulang tahun keduanya.
“Di sini mommy sama daddy diam-diam menangis di belakang acara,” jelas mommy Nadya membuat Zaina langsung menoleh. Karena baru tahu fakta ini. “Iya nak ... kami diam-diam menangis. Bukan karena sedih. Kami bahagia melihat kamu yang tumbuh dengan baik, kami beneran nggak menyangka kalau anak yang dulu masih kecil dan cuman ada di gendongan kita. Ternyata udah sebesar itu, kami bahagia karena keberadaan kamu.”
Zaina tersenyum tipis.
“Tapi nyatanya orang yang udah buat mommy sama daddy ini bahagia, ternyata sekarang malah memberi kalian luka,” papar Zaina dengan suara pelan. Ia berbalik dan tiduran menyamping. “Aku bodoh banget karena udah ngelakuin hal ini, harusnya aku nggak lupa sama apa yang selalu daddy sama mommy kasih tahu ke aku. Kalau kayak gini, aku yang salah sendiri. Aku yang memulai semuanya. Aku yang udah membuat banyak orang kecewa.”
“Tidak sayang ... dulu selama mommy hamil kamu, daddy selalu memaksa mommy untuk terus bahagia. Kalau ada yang sedih jangan di pendam sendiri. Karena bisa terkena ke kamunya. Dan di sini mommy yang akan memperingati kamu supaya nggak sedih di saat kamu lagi hamil.”
Zaina menegakkan tubuhnya dan menggenggam lengan mommy Nadya.
“Mommy ... boleh nggak jujur sekali aja? Apa mommy sebenarnya kecewa karena aku yang gini? Aku cuman berulang kali dengar kalau mommy sama daddy nggak kecewa, karena kalian merasa ini salah kalian. Sekarang mommy jawab dari sudut hati mommy paling dalam. Sebenarnya kalian kecewa nggak sih sama aku.”
Mommy Nadya menarik napas dalam.
“Nak ... sebelumnya mommy mau kasih tahu kamu suatu hal. Dulu di saat kamu meminta untuk pergi dari sini karena mau tinggal di apartemen kamu. Mommy sama daddy langsung kumpul dan bingung harus jawab apa. pada akhirnya kita memberikan izin sama kamu dengan harap kamu selalu membawa nasiha kita di sisi kamu dan setelah mengetahui ini semua. Kami menyerah nak. Kami gagal. Kami sungguh kecewa sama kamu. Seolah keberadaan kami sama sekali nggak di akui sama kamu.”
Zaina menunduk sedih.
“Mommy sama daddy memang nggak bisa marah sama kamu, tapi kami beneran sekecewa itu sama anak kami sendiri. Karena kami nggak sanggup untuk memarahi kamu. Pada akhirnya kita cuman bisa marah sama diri sendiri karena udah gagal menjaga kamu dan sekarang kami memiliki sebuaah usul yang bagus banget buat kamu dan mommy harap kam bisa menerima semua ini dengan baik dan berubah jadi anak yang nurut. Mommy harap besar ya.”
Zaina menunggu jawaban dari mommynya itu.
“Lanjutkan perjodohan yang kami tunda waktu itu. Bagaimana?”