Love In Trouble

Love In Trouble
16 - Menghilangkan Jejak



"Mommy harap kamu nggak cuma kasih harapan ke dia. Maksudnya dia udah niat baik dan nggak ada memojokkan kamu sama sekali. Jadi, kalau bisa ya kamu jangan buat dia sakit hati. Apa lagi kamu yang cuma bercandain dia doang. Jangan sama sekali. Di sini kamu harus tegas. Mau milih atau enggak sama sekali."


Mommy Nadya menatap sang anak dengan serius setelah anaknya itu cerita apa aja yang mereka bahas sesaat dua orang itu bertemu.


"Mommy tenang aja ... aku cuma mau lurusin hati aku. Aku juga minta dia gak terlalu berharap sama aku. Toh mommy tahu sendiri aku datang bukan untuk terimain permintaan dia kan? Aku cuma butuh teman dan setelah ketemu aku rasa dia memang teman yang pas."


"Kamu tenang aja .. mas yakin kalau Zaina nggak akan kasih harapan yang banyak dan Mahen juga mengerti. Udah sayang ... biarin Zaina mengurus urusan dia sendiri. Karena sekarang daddy dan mommy bakalan kasih pengertian ya ke kamu seutuhnya. Jadi, kamu nggak perlu ngerasa aneh atau yang gimana gitu. Karena ini ya pure untuk kamu."


Zaina membasuh bibir nya yang kering dan tertawa canggung.


"Dapet kayak gini malah jadi sedikit gak tenang ya ... kayak aku yang di pantau banget gitu. Padahal mah kan ya enggak sama sekali, tapi kenapa malah ngerasa kayak gitu ya?" seru Zaina lalu mengusap tengkuk dia.


"Aih ... tapi makasih ya mommy, sama daddy atas kepercayaan yang kalian kasih. Setelah aku membuat buruk ini kepercayaan kalian. Aku beneran minta maaf dan berjanji nggak akan buat mom sama dad jadi kecewa lagi sama aku. Aku bakalan kasih yang terbaik."


Daddy Zidan mengusap rambut anak nya itu. "Jadiin permasalahan kemarin itu pembelajaran dan jangan terlalu lama berlarut. Karena mau gimana pun tugas kamu ya tetap terus jalan dan nggak bisa kembali ke masa lampau."


"Hahaha siap ..."


***


Dengan perasaan tak menentu, Zaina mengumpulkan semua barang yang ia punya bersama Ghaly. Zaina sedang ada di apartemen yang dulu dia miliki dan mengumpulkan semua kenangan buruk itu di sana.


"Ah ... nggak ada kenangan indah, semua nya benar-benar cuma hal buruk yang bahkan aku nggak mau ingat sama sekali. Sakit rasanya. Tapi memang aku nya juga yang bodoh. Mau aja di suruh apa pun sama dia. Harusnya aku tau diri dan nggak lakuin apa yang dia mau. Itu sama aja aku nyodorin diri aku. Tapi apa ini? Aku malah setuju aja dan kasih apa pun sama Ghaly. Termasuk hal yang paling penting untuk seorang wanita."


Zaina menertawakan dirinya sendiri.


"Nak ... bunda nggak akan pernah bisa kasih tahu kalau dia ayah kamu. Dia itu hanya orang yang lari dari masalah, gak taun Terima kasih, gak bertanggung jawab yang benar-benar bunda benci. Dan maaf kalau hal ini buat kamu gak akan pernah kenal sama dia. Karena sungguh bunda benci banget sama dia."


Zaina mencengkram kuat foto mereka di masa lalu sampai lecek tak bersisa.


"Aku nggk tahu! Bodoh banget aku karena udah laluin ini dan nggak sadar sama sekali. Aku cuma orang bodoh yang nggak paham semua ini. Harus nya kan aku sadar kalau cinta itu nggak mesti memberikan segalanya."


Dengan perasaan emosi, Zaina masukin semua barang itu ke dalam kardus. Hingga kegiatannya berhenti saat dengar suara dering ponselnya. Ia pegang perutnya dan berdiri.


"Mahen?"


Zaina langsung mengangkat panggilan itu dan beranjak ke balkon.


Zaina mengerjap.


"Apaan sih? Ga mungkin gue nangisin ini lagi. Males banget gue nangisin laki yang ga ada tanggung jawabnya sama sekali. Jadi lu nggak perlu khawatir sama sekali karena ini gue cuma mau buang semua barang."


/Beneran? saya perlu kesana nggak? Kamu nggak boleh kerja yang berat kan nanti ngaruh ke dedek bayinya?/


Zaina tersenyum tipis. "Nggak perlu, Mahen ... ini bentar lagi juga selesai kok dan gue belum hamil besar. Jadi masih belum ada larangan ini itu. Gue masih bisa bebas lakuin apa pun yang mau gue lakuin."


/Tetap saja Zaina ... kamu jangan malah meremehkan segala hal. Ya sudah kalau kamu memang nggak perlu bantuan saya untuk kali ini. Tapi untuk ke depan nya saya harap kamu bisa mulai kabarin saya atas apa pun yang kamu lakukan. Jadi saya nggak perlu tahu kamu dari ibu kamu itu./


"hahaha ... Siap-siap. Nanti kalau ada urusan apa pun itu, gue bakalan kasih kabar sama lu dan makasih banyak ya karena udah khawatirin gue sampai kayak gini."


/Anythingfor you. Toh kita mau mulai hubungan yang baik kan? Ya udah saya mau lanjut kerja lagi. Yang baik-baik ya dan kalau ada apa-apa jangan lupa buat bilang./


"Iya-iya ..."


Zaina tersenyum tipis memandang ponsel dia dan menarik napas dalam. Ini beneran deh. Bahkan mereka belum kenal sampai dia puluh empat jam tapi Mahen benar-benar udah kasih pengertian sama dirinya.


"Terima kasih banyak karena udah kirim banyak orang baik di sisi aku."


***


Zaina menatap kobaran api yang ada di depannya. Kini semua barang sudah hangus. Ia benar-benar membakar semua hal. Termasuk barang biasa yang ada di apartemen. Karena sama saja barang itu bekas Ghaly dan dirinya itu sama sekali gak mau memberikan celah untuk Ghaly sama sekali.


"Maaf mas ... kenangan buruk memang harus nya di bakar dan nggak perlu di pertahanin sama sekali. Semua hal yang kamu bentuk juga cuma kenangan buruk yang selamanya akan jadi mimpi buruk buat aku."


Zaina menatap salah satu foto yang paling favorit dan mulai merobeknya sampai kecil. Benar-benar tak bersisa lalu menaruhnya di atas kobaran api itu.


Zaina beneran tak memberi belas kasihan sama sekali.


"Huh ... perasaan ini memang belum hilang sepenuhnya. Kadang aku juga masih mikirin kamu. Tapi memang ini udah waktunya aku melupakan semua hal kan? Walaupun ya memang sulit. Tapi tenang aja ... aku janji bakal lanjutin hidup aku yang sekarang tanpa bawa nama kamu."


Zaina menarik napas dalam-dalam dan tersenyum miris. Bingung juga rasanya.


"Makasih karena sempat memberikan kebahagiaan dan luka terbesar dalam hidup aku, Ghaly!"