
Pihak Zania dan Mahen sama-sama meluncurkan kabar tentang pernikahan anak mereka dan BOM berita itu menjadi viral di berbagai kalangan. Semuanya mendukung perempuan cantik dan laki-laki tampan itu untuk bersatu. Perbincangan netizen yang mengatakan bakal secantik atau setampan apa anaknya kalau mereka bersatu menjadi hal yang terus di perbincangkan.
Wajah Zaina dan Mahen tak luput dari pemberitaan para media. Setiap stasiun televisi terus menampilkan wajah mereka, ditambah prediksi saham perusahaan yang akan menguntungkan kedua belah pihak. Tak jarang beberapa orang juga mengatakan kalau pernikahan mereka cuman karena harta doang.
Bukan karena cinta.
Semua berita itu juga tak luput dari perhatian seseorang yaitu Ghaly.
Laki-laki yang menghamili Zaina itu mengepalkan tangan sambil menatap televisi di salah satu restoran yang menampilkan berita tentang Zaina.
“Lihat saja Zaina ... kalau kamu nggak bisa bersama saya, maka kamu nggak akan pernah bisa pergi sama yang lain juga! Kamu milik saya dan selamanya hanya akan begitu.”
***
“Mas ... kenapa ya, akhir-ahir ini perasaan aku nggak enak.”
Zaina mengutarakan isi hatinya dengan jujur. “Aku udah cek kehamilan aku dan kata dokter juga semuanya baik-baik aja. Aku juga cek kesehatan biasa, tapi semuanya nggak ada yang janggal. Aku sehat-sehat aja. Tapi perasaan aku tuh kayak yang nggak enak. Karena suatu hal. Tapi aku nggak tahu ada apa. Jangan bilang ... ada hal buruk yang bakalan terjadi lagi?”
Mahen merangkul pinggang Zaina dan membawanya duduk.
“Kayaknya kamu kecapean deh,” beri tahu Mahen. “Beberapa hari terakhir kita memang bareng terus buat ngurus pernikahan kita kan? Baru kemarin kita cek tempat, sekarang kita harus pergi fitting baju. Apa, karena ini? kamu butuh istirahat ... jadi nggak usah mikir yang macem-macem ya. Buat hari ini kita batalin aja. Mas antar kamu aja ke rumah ...”
Zaina menahan lengan suaminya dan menggeleng.
“Bukan itu, mas ... bahkan kaki aku aja nggak pernah sakit, itu artinya aku nggak kecapean dan aku juga enjoi ngelakuin ini semua. Nggak pernah ngerasa terpaksa sama sekali. Jadi, aneh kalau kamu ngomong kayak gini. Karena aku nggak kecapean.”
Perempuan itu merasakan jantungnya berdegup kencang.
“Resah aja gitu loh mas, seolah bakalan ada hal yang menghancurkan hidup aku untuk ke depannya. Tapi, aku nggak tahu itu apa. Aku cuman takut, sekaligus khawatir ...”
Mahen menenangkan perempuan itu.
“Nggak ... mas pastikan nggak bakalan ada hal buruk yang terjadi. Kamu tenang aja ... kita berdoa semoga nggak ada hal buruk yang terjadi.”
Zaina mengangguk.
Semoga saja memang ini keresahan aku doang.
“Ya udah ... sekarang, kamu mau lanjut fitting baju atau pulang? Mas nggak mau sampai hal buruk terjadi sama kamu.”
Zaina menatap tumpukan gaun yang udah dipilih desainer untuknya lalu beralih menatap ke arah luar. “Kalau pulang aja, boleh nggak?”
“Ya ... boleh dong. Ya udah, kita pulang sekarang aja ya.”
Mahen berpamitan pada pemilik butik dan memundurkan perjanjian mereka. Sekalian membuat pertemuan ulang. Setelah Mahen mendekati dia, Zaina turut berdiri dan menunduk sopan sebagai tanda permintaan maaf pada pelayan di sana lalu mereka keluar dari butik yang di rekomendasikan oleh orang tua dari Mahen tersebut.
“Oh iya ... mas aku tiba-tiba pengin sesuatu deh,” seru Zaina.
Langit terasa sangat panas dan enaknya memang minum yang segar. “Es kacang merah!” celotehnya semangat. “Masih ada nggak sih di kitaran sini yang jual es kacang merah, kayak nya enak deh makan itu.”
“Es kacang merah?”
Mahen membuka ponselnya dan mencari tukang es kacang merah, “eh ada nih, di sekitaran sini. Kamu mau?” tanya Mahen sambil menunjukkan lokasi yang tak terlalu jauh. “Tapi, ya memang harus agak muter dulu. Kamu nggak apa-apa kalau kita datang ke tempat ini? maksudnya ... kamu pulang cepetu tuh mau langsung istirahat kan?”
“Nggak juga sih, aku mau habisin waktu sama kamu,” manja Zaina sambil menarik lengan Mahen dan memeluknya sangat erat.
“Ya ampun ... ternyata calonnya mas lagi mau manja-manja,” ledek Mahen lalu tertawa melihat wajah Zaina yang memerah. “Tapi ... nggak masalah dong, toh kamu ini calonnya mas kan? Kecuali kalau kamu manja-manja sama laki-laki asing, baru deh itu nggak boleh,” jelas Mahen membuat Zaina terbahak.
“Bisa-bisanya kamu mikir kayak gitu, mas ...”
“Hahahah ... jadi, lanjut nggak nih?”
“Es kacang merah? Iya dong ... aku mau dari kemarin.”
Mahen mendekati wajah Zaina membuat perempuan itu berhenti menapas, tapi Mahen hanya menarik seat belt dan memasangkannya membuat Zaina langsung mengalihkan pandangan. Mengira kalau Mahen mau mengecup pipinya. Aish, dasar dirinya yang selalu memikirkan hal seperti ini. memalukan saja.
“Hahahah ... kenapa mukanya kamu merah nih,” ledek Mahen
“Aish, diem mas! Aku nggak mau ngomong sama kamu.”
“Hhahaa, calonnya mas kenapa lucu banget sih,” gereget Mahen lalu mendekat dan mencuri kecupan di pipi Zaina. “Maaf ya, mas udah nggak sabar. Pipi kamu terlalu gemas untuk mas abaiin gitu aja,” serunya membuat Zaina semakin mengalihkan pandangan, menolak melihat Mahen.
“Zaina ...,” panggil Mahen dengan maksud bercanda. “Lihat sini dulu dong, ada yang mau mas omongin sama kamu.”
“Mas ih! Cepetan jalanin mobilnya, keburu aku nggak mood,” serunya berusaha menutupi rasa malunya itu.
“Hahaha ... suap tuan putri!”
***
“Mas mau mampir dulu nggak?” tanya Zaina dengan pintu mobil yang masih terbuka. “Pintu rumah aku akan selalu terbuka untuk kamu,” ajaknya lagi yang memang menyukai kalau Mahen lebih dulu menetap di rumahnya.
“Duh ... maaf banget sayang, mas memang mau mampir dulu dan sekedar ngobrol sama kamu atau orang tua kamu. Tapi, mas beneran nggak bisa ... ada kerjaan yang harus mas selesaikan. Untuk mengganti waktu yang kita pakau buat fitting ke depannya nanti.”
“Yah ...”
Mahen merasa nggak enak melihat wajah kecewa dari Zania itu. “Atau aku mampir bentar dulu aja ya?” serunya. Mahen bakalan mengurangi waktu istirahatnya demi membuat Zaina tersenyum dan nggak sedih lagi. “Gimana? Mas masukin mobilnya dulu aja ya.”
Tapi kali ini, malah Zaina yang menolak.
“Nggak usah deh, mas ... aku nggak mau kamu nanti nggak istirahat kalau maksain buat ke sini dulu. Udah kamu pulang aja dan semangat ya mas kerjanya! Kalau ada apa-apa chat aku aja. Aku bakal langsung jawab dan jangan maksain diri. Kalau capek, langsung istirahat aja. Aku takut kamu kenapa-napa.”
“Iya sayang, makasih banyak ya pengertiannya.”
“Udah kamu pergi, mas ... biar aku tunggu di sini.”
“Eh, mana bisa begitu? Kamu yang masuk dulu aja, biar mas nunggu di sini.”
“Iya mas ... tenang aja.”
Zaina melambaikan tangan seiring mobil Mahen yang meninggalkan rumahnya. Setelah benar-benar menghilang, dia meminta satpam untuk menutup pagar rumahnya lalu dengan langkah lunglai dia masuk ke dalam rumah.
“Duh ... sebenarnya dari tadi aku masih nahan, soalnya perasaan aku beneran nggak enak banget. Ada apa ya? perasaan nggak enak ini hilangnya cuman pas bareng sama mas Mahen. Soalnya dia bisa nenangin aku. Makanya aku mau dia ke sini. Tapi, ternyata ... aku nggak mungkin maksa dia terus.”
Zaina menyentuh dadanya yang masih terus berdegup.
“Sebenarnya ... ada apa ini?”
“Zaina ... Mahen nggak mampir?” tanya mom Nadya melihat anaknya masuk dan langsung duduk di sofa
“Ada kerjaan, mom. Makanya nggak mampir dulu.”
Mom Nadya mengangguk dan membawakan minuman untuk anaknya. “Gimana tadi fitting baju pernikahannya?” tanya mom Nadya sambil duduk di dekat anaknya. “Kamu kelihatan capek banget sih,” seru mom Nadya yang khawatir bukan main dan langsung membawa kaki anaknya untuk ditaruh pada pahanya.
Mom Nadya memijat kaki anaknya yang dari hari ke hari semakin membengkak itu.
“Aku belum fitting bajunya.”
“Loh belum? Memangnya nggak mepet? Nggak sampai satu bulan lagi kan kalian menikah. Kenapa belum fitting juga? Ada sesuatu yang terjadi?” khawatirnya.
Zaina menggeleng kecil.
“Mom ... dari kemarin hati aku tuh kayak yang resah banget, kayak ada sesuatu hal yang bakalan terjadi dan mempengaruhi semuanya. Aku nggak tahu, tapi dari bangun tidur aku udah ngerasa kayak gitu. Makanya hari ini berjalan dengan kacau. Aku nggak pernah fokus sama sekali. Jadi, dari pada malah buat kacau semuanya. Aku minta mas Mahen untuk mundurin waktunya aja. Sekalian aku istirahatin diri aku.”
“Ternyata bukan cuman mommy doang ya?”
“Maksud mommy?” bingung Zaina mendengarnya.
“Iya ... perasaan mommy juga nggak enak banget,” ucapnya penuh penekanan. “Mommy terus aja kepikiran kamu, padahal biasanya kamu pergi sama Mahen tuh kayak hal biasa yang nggak perlu mommy khawatirin sama sekali. Tapi ... kamu harusnya sadar kalau dari tadi mommy nggak pernah berhenti hubungin kamu.”
“Ah iya.” Zaina baru sadar.
“Sebenarnya ada apa ya mom?” tanya Zania, wajahnya semakin memucat.
Keyakinan dia semakin meningkat kalau bakalan ada sesuatu hal buruk terjadi nantinya. Dia beneran nggak tahu harus apa dan gimana. Rasanya semua ini membuat pikirannya semakin rancu.
“Aku takut,” ucap Zaina dengan lirih. “Aku nggak pernah setakut ini, aku nggak sepanik ini padahal dulu aku hamil dengan pacar aku dan dia pergi gitu aja. Tapi, ini jauh lebih buat aku takut di banding saat itu.”
“Nak ...”
Zaina menutup wajahnya dan menangis.
“Aku takut, mom ..”
Mommy Nadya mengangguk dan mengusap belakang punggung anaknya. “Semoga aja nggak ada hal buruk yang terjadi ya.”
Maudy masih nggak puas.
“Aku takut— AW!” serunya sambil menyentuh perut dia yang melilit. “Kram lagi,” ucap dia dengan gemetar.
Mommy Nadya membantu dengan mengusap perut anaknya itu. Setelah Zania nggak meringis lagi, betapa bersyukurnya mommy Nadya.
“Udah ... buat sekarang, kamu nggak usah mikirin yang macem-macem dulu. Fokus sama kehamilan kamu, kalau kamu nggak nyaman. Anak kamu juga ikutan nggak nyaman di sana. Biar mom yang omongin sama ayah kamu. Semoga aja nggak ada hal buruk yang terjadi.”
Zaina mengangguk lirih.
***
Mommy Nadya menunggu sampai Zaina tertidur, setelah beberapa menit ia menemani Zaina sampai tertidur. Baru mommy Nadya bangkir. Ia membenarkan selimut anaknya dan mengecup kening Zania.
“Mom cuman berharap nggak ada hal buruk yang terjadi sama kamu,” doanya dengan penuh harapan. “Mommy berharap kamu selalu di kelilingi kebahagiaan, nak. Sudah cukup waktu itu kamu hilang arah dan nggak mendapatkan kebahagiaan. Sekarang kamu harus bahagia dan bunda janjiin, nggak bakalan ada hal buruk yang menyakiti kamu!”
Setelah puas memandang wajah anaknya, mom Nadya keluar dan dia malah di kejutkan dengan keberadaan suaminya yang ada di depan pintu kamar Zaina.
“Mas ... ya ampun, mengejutkan saja.”
“Zaina sudah tertidur?”
Nadya mengangguk dan langsung menghela napas dalam menatap suaminya itu yang mengintip Zania dari balik pintu dan langsung menutupnya. Nggak mau mengganggu.
“Ada apa sebenarnya? Kenapa kamu sama Zaina kelihatan lesu banget?” tanya sang suami yang khawatir. Ia mengusap peluh keringat yang turun di kening Nadya alis istrinya. “Kamu juga, dari pagi mas lihat-lihat kamu kayak yang nggak seneng gitu. Lesu mulu. Ada masalah kah?”
“Mas ... semuanya bakalan baik-baik saja kan?” tanya mom Nadya yang udah duduk di pinggiran kasur kamar mereka.
“Maksud kamu?”
“Perasaan aku sama Zaina, sama-sama nggak enak. Kayak bakalan ada hal buruk yang terjadi dan kami sama-sama nggak tahu hal apa itu. Makanya kami keliatan kalut banget dan kamu tau sendiri kan kalau feeling aku sama Zaina itu lumayan bagus. Kalau ada hal buruk, ya pasti bakalan terjadi, selalu aja begitu kan? Dari dulu ...”
Dad Zidan terdiam.
“Mas juga nggak tahu,” ucapnya dengan parau. “Mas juga sebenarnya merasa khawatir walau nggak tahu apa yang di khawatirin.”
“TUH KAN!” seru istrinya histeris. “Kayaknya ada yang mau jahat sama keluarga kita deh, mas ... duh, ya ampun. Nggak bisa gini nih. Aku takut kalau ada hal buruk terjadi sama keluarga kita. Kalau kenanya ke aku, aku sama sekali nggak masalah. Tapi, aku nggak mau sampai kena anak kita. Zaina udah mendapat banyak masalah di hidupnya dan kadang mental dia masih belum stabil kalau udah ngomongin tentang kehamilannya. Jadi, aku harap nggak bakalan ada orang jahat lagi yang menyakiti dia.”
“Mas juga berharap kayak gitu ...”
Pasangan suami istri itu hanya bisa saling berpelukan. Berharap nggak ada yang buruk terjadi sama anaknya. Doa terbaik mereka panjatkan untuk anak mereka. Walaupun mereka sudah di kecewakan sedemikian rupa sama Zaina, tapi mereka tetaplah orang tua Zaina yang selalu mengharapkan kebahagiaan anaknya itu.
Selalu saja begitu harapan mereka.
“Mas ... kalau ada hal buruk terjadi sama Zaina, kita harus terus berusaha demi kebaikan Zaina ya. Jangan sampai anak kita mendapat perkataan buruk lagi dari orang lain.”
Dad Zidan tentu saja mengangguk. “Mas ... akan melakuakn usaha apa pun demi keluarga mas. Jadi, kamu tenang aja. Kita berdoa saja, semoga nggak ada hal buruk yang terjadi.”