
"Kenapa ... kenapa harus aku yang ngalamin ini semua?" histeris Zaina sambil terus menitikkan air mata. "Kenapa anak aku nggak mau bertahan di sisi aku. Terus, sekarang aku harus sama siapa? aku cuman punya diriku sama anak aku doang. Selebihnya, nggak ada yang pernah ngertiin aku sama sekali."
Zaina terus menangis.
Perempuan itu sudah tidak sehisteris tadi. Benang kusut yang ada di benaknya mulai tersusun dan ia mulai paham sama apa yang sedang terjadi di sini. Inti dari semuanya, Zaina hanya paham kalau anaknya pergi meninggalkan dirinya sendirian di sini.
Mommy Nadya mendekat dan menyentuh punggung Zanka, tapi perempuan itu langsung menyingkir dan menarik selimut lebih menenggelamkan tubuhnya. Ia menggeleng kecil.
Zaina masih terus membelakangi mereka semua. Ia nggak mau lepas kendali dan malah marah sama mereka semua.
"Nak ... dengerin omongan mommy dulu yuk. Tapi jangan begini, sini liat mommy. Ada yang mau mommy omongin sama kamu," ucap mommy Nadya dengan sangat lembut sambil sesekali mengusap air matanya yang terus turun.
"Nak—
"Kenapa aku nggak pergi aja dari dunia ini?" seru Zaina dengan suara sangat sendu. "Kenapa aku harus terjebak di sini juga. Padahal di sini banyak orang yang udah jahat sama aku."
Semua orang di belakang Zaina semakin meringis mendengar penuturan Zaina. Mommy Nadya yang meluk daddy Zidan. Mereka udah nggak sanggup untuk menahan nangis sedari tadi. Keduanya nggak tahan melihat Zaina yang seperti ini. Mereka juga nggak bisa menghampiri Zaina dan berusaha menenangkan anak itu, lantaran Zaina akan terus histeris setiap di dekati.
Orang tua Mahen bahkan hanya bisa menunduk.
Paham, bagaimana hancurnya perasaan Zaina saat ini.
Sementara Mahen. Laki-laki itu hanya mengepalkan tangan kuat. Tak ada ucapan apa pun yang dilontarkannya. Sungguh, bahkan Mahen nggak sanggup sekedar untuk membuka mulutnya. Dia benar-benar takut dan merasa kalau Zaina udah sangat membenci dirinya. Sampai kalau dia ngomong aja, malah membuat perempuan itu semakin benci sama dirinya.
"Nak, kita bagi kesedihan bersama ya—
"Pergi kalian!" ucap Zaina pada akhirnya. "Pasti sekarang kalian lagi seneng kan karena cucu yang kalian anggap sebagai beban keluarga itu akhirnya pergi juga?" sarkas Zaina masih menangis. "Anak yang aku selama ini pertahankan ini akhirnya meninggalkan aku juga karena mungkin kalian yang nggak pernah berharap sama anak ini."
"Nak, nggak gitu— kami juga sedih karena masalah ini. Tapi kamu jangan menganggap kami seneng karena kepergian cucu kami. Kami juga sedih, nak. Nggak mungkin kami gak sedih sama sekali."
"Gimana aku nggak mikir yang enggak enggak. Kalau terakhir kali aja kalian semua nunjukin kalau kalian emang nggak suka sama anak yang aku kandung dan jangan bilang kalian juga yang sengaja gugurin anak ini. Pas aku lagi nggak sadar. Bisa aja—
"ZAINA!" bentak Mahen tanpa sadar.
Laki-laki itu menutup mulutnya, keceplosan. Tangannya ingin menggapai tubuh Zaina yang tersentak. Tapi ia tahan dengan kepalan tangannya.
"Nak ...," panggil mommy Nadya sambil menggeleng. Meminta pengertian dari Mahen untuk nggak memarahi anak mereka.
"Enggak, mom. Aku tahu kalau Zaina masih kaget dan mungkin linglung karena masalah ini. Tapi dia nggak bisa seenaknya untuk marah sama mommy dan daddy. Jelas jelas aku lihat beberapa hari belakangan ini, gimana sedih nya kalian berdua. Gimana kalian yang terus saling nguatin satu sama lain—
"Udah lah, nak ..."
Mahen menggeleng.
"Mom ... ada yang mau aku bicarain sama Zaina. Berdua aja. Kalian boleh nggak tinggalin kami berdua di sini."
Daddy Zidan melayangkan tatapan protes.
"Enggak, dad. Aku nggak akan macam-macam di sini. Aku cuman mau cerita aja selama ini dan mau nguatin Zaina. Tenang, aku nggak akan membuat Zaina semakin ilfil sama aku."
"Jangan macam-macam ..."
Akhirnya, semua orang tua di sana meninggalkan pasangan yang sekarng tidak tahu statusnya akan di bawa kemana. Zaina yang masih merasa ada seseorang berdiri di belakang nya langsung mendengus.
"Pergi kamu ... aku nggak mau ketemu sama laki-laki yang udah ngatain aku sama anak aku berulang kali. Aku nggak mau sama sekali mendapat omongan jahat dari mulut kamu itu ..."
"Sayang ..."
"Enggak! pergi kamu," ucap Zaina dengan sangat lirih. "Aku benci sama kamu, mas. Kamu nggak perlu dateng lagi ke sini. Pembicaraan hari itu udah aku anggap sebagai akhir dari hubungan kita. Jadi, kamu nggak perlu jelasin apa-apa sama aku!"
"Zaina ..."
"Kamu boleh minta apa aja deh sama aku. Asal jangan minta hubungan ini selesai," seru Mahen terus memohon. "Kita omongin dulu baik-baik ya. Biar kamu bisa mutusin apa yang kamu mau."
"Minta sesuatu?" tanya Zaina yang merasa tertarik dan mulai menoleh pada Mahen.
Perempuan itu terhenyak.
Degupan jantung di dadanya membiat Zaina langsung saja mengalihkan pandangan. Kenapa setelah semua perbuatan yang di lakukan Mahen, ia masih memiliki perasaan sama laki-laki itu?
Zaina menggeleng, tidak ... ia tidak boleh memiliki perasaan sama laki-laki yang udah jahat sama dirinya. Melihat Zaina yang seperti itu, Mahen malah menatap khawatir.
"Kamu, baik-baik aja kan sayang?" tanya Mahen dengan khawatir.
"NGGAK USAH SOK PEDULI SAMA AKU!"
Mahen merengut dan menghela napas pasrah. Ia memilih untuk menarik kursi dan duduk di sana, sedikit menjauh dari kasur. Seenggaknya Zaina udah mau menatap ke arahnya.
"Aku beneran peduli sama kamu ..."
"Peduli?" tawa Zaina dengan sangat sinis.
"Zaina, jangan gini dong," bingung Mahen. "Aku minta maaf. Aku beneran minta maaf atas semua omongan jahat yang aku lakuin ke kamu. Kamu mau kan maafin aku?"
Zaina menggertakan gigi dan menahan emosi sama orang yang udah menyakiti hati dan perasannya. Ia mengepalkan tangan sambil sesekali memejamkan mata.
"Maaf? kamu bisa segampang itu buat minta maaf sama aku?" tanya Zaina lalu tertawa kecil. "Aku bakalan maafin aku kalau kamu bisa bawa anak aku ke sini! aku cuman mau anak aku! bukan yang lain ..."
"Zaina ..."
"Nggak bisa kan, mas? nyatanya anak aku nggak akan pernah kembali ke sisi aku dan itu semua karena kalian. Mungkin, doa dari kalian yang udah buat anak aku malah milih pergi dari sisi aku .."
"Zaina ..."
"Aku memang benci sama diri aku. Tapi aku benci sama semua perbuatan aku, bukan anak ini." Pandangan Zaina semakin melebur bersama air mata yang turun. Ia mengusap perutnya yang udah sangat rata. "Menjadi ibu memang menyeramkan. Tapi aku udah membayangkan keindahan yang nanti terjadi. Tapi apa? semua itu lenyap. Bayangan indah aku benar-benar hilang. Nggak ada yang bisa wujudin mimpi aku lagi."
"Zaina ... kalau kamu sedih, nanti anak kamu bakalan jauh lebih sedih. Jangan gini ya. Jangan mikirin hal yang sedih terus. Kita cari cara yang bahagia. Jangan begini, mas gak kuat ngeliatnya."
"..."
"Bahkan aku selalu menyalahkan diri aku, Zaina. Aku merasa semua orang menyerang aku. Titik terlemah di hidup aku saat melihat tubuh kamu terpelanting saat di tabrak. Saat itu rasanya dunia aku hancur dan detik itu juga aku tahu. Kalau diriku udah sangat salah sama kamu."
Kaki Mahen mulai turun satu per satu dan ia berlutut di depan Zaina.
"Aku minta maaf. Mas benar-benar minta maaf sama kamu. Mas tahu mungkin kata maaf ini nggak ada apa-apanya di kamu karena kamu yang udah terlanjur benci sama mas. Tapi mas nggak peduli. Seberapa pun kamu benci sama mas. Mas akan terus berusaha supaya kita bisa kembali seperti dulu!" tekad Mahen
"Mas juga nggak akan pernah bisa membawa anak itu lagi bersama kita," sesalnya. "Mas minta maaf untuk itu."
Zaina berdecih.
"Bangun," serunya membuat Mahen dengan cepat langsung berdiri dan kembali duduk di kursinya. "Aku nggak sejahat itu untuk ngebiarin kamu berlutut. Tapi, maaf. Sampai kapan pun aku nggak akan pernah bisa maafin kamu. Aku akan tetap sama pendirian aku di sini. Aku akan jauhin orang yang udah jahat sama aku!"
"Dan aku tetep sama pendirian aku sendiri. Aku akan tetap terus berjuang sampai mendapat maaf dari kamu!" tegas Mahen membuat Zaina mendengus.
Keduanya sama-sama keras kepala dan tidak ada yang mau mengalah. Tidak ada yang tahu bagiamana ke depannya. Mereka bakalan bersama atau tidak. Tapi, segala usaha yang telah dilalui akan mendapatkan hasil yang setimpal kan?
Jadi ... kita lihat saja, bagaimana takdir yang akan membawa mereka ke depannya.