
Pusat perbelanjaan tidak lagi menarik untuk saat ini. Zaina yang niat awalnya ingin membeli banyak barang. Kini malah malas, mengingat omongan Mahen yang bilang kalau barang itu dibeli saat butuh. Karena masih banyak orang di luaran sana yang membutuhkan. Kita kalau tidak bisa bantu mereka semua. Setidaknya kita bisa berpartisipasi untuk tidak menghambur kan uang.
Sudah tiga jam lamanya mereka masih di mall. Mereka terus muter tanpa henti. Tapi waktu sang tidak terasa karena mereka selalu bercanda.
Kebahagiaan yang diciptakan bersama membuat mereka lupa akan sekitar dan lupa akan waktu yang nyatanya sudah sangat lama itu.
Mahen melirik jam di pergelangan tangannya dan baru sadar kalau mereka sudah selama itu menghabiskan waktu di mall. Tanpa membeli apa-apa.
"Ini kalau kita cuma muter-muter aja, mending langsung ke alun-alun depan nggak sih? kamu mau makan di sana kan?"
Zaina yang tadinya mau mengangguk. Tapi langsung nahan lengan Mahen.
"Nanti deh mas, aku mau makan cake dulu!" serunya disertai rengekan kecil. "Janji deh nanti pasti makan nasi lagi. Tapi sekarang mau makan cake dulu. Lihat deh mas. Keliatan enak banget nggak sih?" bisik Zaina sambil menatap toko cake yang ada tak jauh dari mereka.
"Harusnya sih cake jadi dessert ya. Tapi kalau kamu janji nanti bakalan makan. Oke aja yuk kita ke sana."
"MAKASIH MAS!"
Layaknya anak kecil Zaina berlari masuk ke dalam.
"Kayaknya aku lagi bareng anak kecil deh," tawa Mahen lalu mengikuti Zaina dengan santai.
Begitu masuk, aroma manis langsung tercium. Mahen melihat Zaina yang berdiri di depan etalase kue dan menunjuk beberapa kue yang ia inginkan.
"Kamu mau apa mas?" tanya Zaina sambil menarik Mahen untuk lebih mendekat.
"Kamu aja ... mas nggak terlalu suka makanan manis. Lebih tepatnya lagi nggak mau aja."
"Ih beli aja!" paksa Zaina berbisik. "Nanti kalau kamu nggak mau, biar aku yang makan." Mahen tertawa kecil.
"Ya sudah, kamu pilih aja yang pas buat mas."
"Oke!"
Zaina menatap satu per satu kue di sana lagi. Ia tergiur dengan banyaknya kue. Ingin rasanya ia membeli semua. Tapi Zaina ingat kalau mereka akan makan berat di alun-alun depan. Jadi, ia berusaha untuk nggak kalap.
"Biar mas aja," ucap Mahen tiba-tiba mendorong pelan Zaina yang mau membayar.
"Ih enggak usah mas."
"Memangnya kamu kuat bawa kue sebanyak tadi? udah kamu cari tempat duduk yang nyaman aja. Biar mas yang bawa sekaligus bayar."
"Makasih mas ..."
Setelah Zaina pergi. Mahen beralih ke meja kasir. Laki-laki itu sedikit kaget karena ada hampir sepuluh jenis kue yang sedang dihitung. Ia menggeleng kaget. Apa Zaina bisa makan semua itu kue?
"Totalnya dua ratus tiga puluh lima ribu mas."
Mahen mengeluarkan kartunya dan setelah pembayaran selesai. Ia bergegas membawa nampan berisi kue itu dan menghampiri Zaina yang sudah siap dengan sendoknya.
"Woah ... semuanya keliatan enak banget. Tapi mereka yang paling narik perhatian aku."
"Siap mas."
***
Seperti dugaan Mahen.
Sekarang Zaina sedang kekenyangan dan mereka memutuskan untuk menetap di toko kue tersebut sampai Zaina merasa lebih lega.
"Kamu nih kebiasaan deh. Kalau kalap pasti kayak gini. Padahal kalau kamu memang suka. Kamu bisa beli di bungkus. Nanti makan di rumah. Bukan tujuh kue langsung di makan sekaligus. Mana ngasih tiga kue sisanya buat mas lagi."
Zaina tersenyum memperlihatkan giginya.
"Maaf mas ... kan ukuran kuenya nggak gede. Makanya aku kira, aku sanggup buat habisin semuanya. Tapi ternyata aku nggak sanggup." Zaina mengusap perutnya yang kekenyangan. "Duh, mana kekenyangan banget lagi. Ini pasti berat badan aku nambah deh."
Mahen mendelik menatap Zaina.
"Mas nggak mau denger kamu diet lagi ya sayang."
"Iya mas ... aku udah nggak terlalu obsesi sama badan aku kok. Kamu kan nerima aku apa adanya. Kecuali kalau kamu protes aku gemukan. Pasti aku langsung diet."
"Nggak dong, mas nerima kamu apa adanya."
Setelah beberapa saat, Zaina mulai merasa perutnya terasa lebih baik. Ia mengajak Mahen untuk pergi dan mereka segera meninggalkan tempat tadi.
"Tapi mas ... aku nggak bakalan sanggup kalau langsung makan di alun-alun. Kecuali kalau kita jalan keliling dulu di sini. Nggak apa-apa kan?" ajak Zaina. "Soalnya aku keinget mau beli sesuatu juga buat kamu."
"Buat mas?" Mahen menunjuk dirinya sendiri dan Zaina mengangguk. "Buat apa? ulang tahun mas kan masih lama? ulang tahun kamu tuh yang sebentar lagi. Harusnya mas yang kasih kado sama kamu."
"Aku tuh udah mau beli ini dari lama! memangnya kasih hadiah buat cuma yang ulang tahun doang ya? lagi nggak ulang tahun itu nggak boleh kasih kado kah? ada aturan kayak gitu?" ucap Zaina yang kesal sendiri.
"Idih pacar mas emosian deh." Zaina mengaduh saat pipinya di cubit oleh Mahen.
"Lagian mas kayak nggak suka dikasih hadiah sama aku. Kan aku sedih."
"Bukan nggak suka. Tapi kan mas cuma nanya? kayaknya kamu lagi red days ya?"
"IH KOK MAS TAHU!"
Mahen tertawa maklum. Dirinya kini tahu kalau Zaina emosi begini. Pasti tamu bulanannya sedang datang dan ia cukup maklum akan hal ini.
"Maaf ya karena mas nggak ngertiin kamu dari tadi. Harus nya mas tahu kalau kamu lagi haid. Pasti perutnya lagi gak enak ya. Kalau ada apa-apa bilang aja ya sama mas. Jangan sungkan."
"Iya mas ... maaf ya aku jadi marah-marah gini. Oh iya aku tuh mau kasih hadiah ke kamu gelang couple. Bagus nggak sih mas kayaknya? aku mau kita punya barang couple. Aku baru sadar selama ini kalau kita belum punya barang couple. Kamu mau kan?"
Mahen tersenyum dan mengangguk.
"Mau dong."