
"Nak ..."
Zaina memundurkan kursinya dengan tubuh dia dan sekali lagi menatap mereka satu per satu. "Apa lagi yang ganggu kalian? apa keberadaan aku di sini juga udah buat kalian muak? apa memang seharusnya aku nggak datang biar kalian bisa makan dengan tenang?"
"..."
"Aku tau, aku salah. Aku tau, kalau aku ngerugiin banyak orang. Tapi apa kalian punya hati untuk mikirin perasaan aku?" tanya Zaina lagi. Ia menatap ke arah tantenya itu. "Buat tante ... tante nyalahin aku dan mojokin aku. Hanya karena nggak mau uang yang di kirimin daddy itu berkurang kan? apa tante punya hati? lagian .. memang seharusnya daddy nggak ngebiayain kalian. Karena bukan tugas daddy buat kasih uang kalian. Daddy perlunya cuman biayain aku sama mommy. Selebihnya bukan kewajiban daddy sama sekali."
"Kamu masih kecil, nggak akan paham. Daddy kamu itu kakak tante, ya sudah seharusnya dia biayain hidup kami," jawab sang tante dengan sangat sengak
Zaina tertawa kecil sambil menggeleng.
"LUCU! anak tante punya ayah dan sudah seharusnya dia di biayain sama ayahnya sendiri. Bukan sama daddy aku dan dari pada ngurusin aku, mending tante tanya ke anak tante. Kapan lulus ... hampir enam tahun kuliah, tapi nggak ada tanda-tanda mau lulus. Jangan mentang mentang daddy aku biayain uang kuliah kalian. Kalian jadi bisa seenaknya kayak gini ..."
"Nak," gumam sang daddy sambil menggenggam tangan anaknya, nggak mau memperpanjang masalah.
"Dad ... aku mohon, aku capek. Setiap bulan pas perusahaan daddy lagi kambuh. Daddy masih harus mikirin mereka semua. Padahal bukan ranah daddy buat kasih uang untuk mereka. Mereka masih punya keluarga lengkap dan mereka malah nggak kerja karena tahu daddy bakal biayain. Aku kasihan lihat daddy. Masalahnya mereka selalu minta uang di luar nalar alias banyak banget."
Daddy Zidan menghela napas.
Salahnya juga selalu mengeluh di depan Zaina dan memang sudah dari lama selalu begini. Dirinya selalu menjadi tameng untuk keluarganya. Bahkan biaya hidup orang tua sampai adiknya di berikan dari dia. Kalau sekali saja Zidan tidak memberikan uang sama mereka. Mereka bakalan marah dan mengatakan kalau Zidan anak tidak tahu diri dan tidak tahu terima kasih karena selama ini udah di biayain sama orang tuanya.
"Nak ..." Mommy Nadya menggeleng.
"Mommy tahu nggak sih, dari tadi mereka ngelirik aku dan natap aku dengan pandangan jijik. Kalau mereka emang butuh uang mommy sama daddy harusnya mereka bisa bertingkah baik, bukannya malah gini."
Zaina menepuk dadanya dengan kencang.
"Aku juga punya hati .."
"Tetap saja, kamu sangat tidak sopan," gumam oma nya dengan santai.
"Aku nggak peduli," geleng Zaina lalu tertawa. "Aku mau di bilang apa pun juga nggak peduli. Tapi aku nggak bakalan lupa sama omongan oma yang malah bersyukur atas kepergian anak aku."
"Iya kan ... nggak seharusnya kamu marah Zaina. Padahal di sini kami sedang menasihati kamu. Biar kamu nggak lavi melakukan kesalahan yang sama. Tapi kamu malah marah dan nggak terima. Apa salahnya kami? dan juga tentang uang. Tante rasa ... kalau daddy kamu nggak suka. Dia akan bilang. Bukannya malah kamu yang speak up kayak gini. Ini mah kamunya aja yang pelit."
Adik daddy Zidan yang lain langsung mengangguk juga.
"Iya kan mbak ... aku dari tadi muak banget sama omongan Zaina. Dia itu umurnya jauh di bawah kita. Tapi sok banget mau ngajarin. Alah .. dia ngomong kayak gitu. Pasti karena dia takut uang daddynya habis sama kita. Dia memang pelit. Dasar ..."
Omanya malah ikut tertawa.
"Zaina ... Zaina ... kamu marahin kedua tante kamu. Padahal mereka juga punya hubungan darah sama ayahmu. Mereka sama-sama anak oma. Jadi, memang sudah seharusnya mereka di biayain sama ayah kamu yang punya banyak uang. Sudah pelit, mau menang sendiri, eh kelakuannya juga jahat banget ... ini mah Zidan sama Nadya sudah gagal dalam merawat anak."
"IBU!"
"MAH!"
Daddy Zidan ikut berdiri dan menggenggam tangan anak nya. "Selama ini aku diam aja, bukan karena bela kalian. Tapi aku nggak mau cari ribut aja dan nggak usah sudutin anak Zidan karena apa yang dia omongin ada benarnya."
"Nak ... kamu mau jadi anak durhaka?"
"Terserah ibu mau ngomong apa tapi Zidan capek terus di omongin hal yang sama berulang kali. Apa kalian nggak ada pernah mikir gitu, gimana kehidupan Zidan. Bagaimana Zidan sampai ada di titik ini? kalian cuman datang pas Zidan udah banyak uang. Tanpa pernah basa basi pas Zidan dulu masih mengusahakan semuanya."
"Nggak ingat ibu sama bapak biayain kamu banyak uang? kami keluar banyak uang hanya untuk biayain kamu."
"Dan uang yang di keluarin Zidan jauh lebih banyak dari apa yang di kasih ibu kan?" jawab daddy Zidan dengan sewot. Ia menatap kecewa pada mereka semua. "Kalian ini siapa sih sebenernya? keluarga Zidan kan? tapi kenapa kalian pojokin anak Zidan kayak gini? Dia memang salah ... tapi cukup Zidan sama mommy nya yang kasih pelajaran. Bukan sama kalian. Dan kami tidak perlu ulasan kalian sama sekali."
"Kak ...," panggil adiknya Zidan. "Ini pertama kalinya kita berantem loh. Masa berantem cuman karena Zaina sih? jangan lah terpengaruh sama omongan anak kamu. Dia malah seneng kalau kita berantem."
"Iya bang .. dia ngelakuin itu cuman karena nggak mau uang kamu tuh terbagi sama kita. Udah jangan ribut karena anak kamu doang."
"MAYA?!" seru daddy Zidan lalu menggeleng. "Zaina itu anak abang dan kamu cuman adik abang? kalian sama-sama dari keluarga abang. Tapi abang tentu pilih anak abang. Dan yang dj bilang kamu nggak benar kok. Karena apa? karena pas dulu anak kamu kesusahan biaya sekolah. Zaina sendiri yang meminta abang untuk biayain anak kamu. Kalau dia memang nggak suka berbagi, harusnya dia nggak nyaranin itu. Tapi di sini dia yang maksa abang untuk biayain anak kamu. Jadi apa?"
Daddy Zidan menarik napas dalam.
"Tapi ... kalian malah jadi kebiasaan. Seolah kalau sebulan aja abang nggak biayain hidup kalian. Kalian langsung marah dan koar-koar."
Daddy Zidan menggandeng tangan istrinya dan Zaina.
"Di sini Zidan ngerasa udah nggak punya wibawa di depan kalian. Padahal Zidan ini abang kalian dan anak pertama. Tapi apa? kalian malah perintah ini itu sampai Zidan gak bisa nolak sama sekali."
"Maaf ... tapi kalian ini sebenarnya kenapa sih? abang gak gila hormat. Tapi bener apa yang di bilang Zaina. Kalau kalian itu butuh sama kakak. Udah seharusnya kalian minta yang baik-baik sama kakak. Atau nggak kalian bisa baik sama keluarga kakak. Bukannya malah kayak gini ..."
Mereka semua menunduk.
Pertama kali daddy Zidan marah seperti ini.
"Kalian kira selama ini abang diam saja karena nggak marah di injak-injak terus sama kalian? memangnya kalian kira dengan abang yang diam bisa ngebuat kalian bebas lakuin apa yang kalian suka? enggak kan ..."
"..."
"Kalian cuman butuh uang abang aja dan abang tahu itu. Jadi, nggak usah macam macam sama abang. Abang udah capek dan muak sama kalian. Abang diam saja karena gak mau cari masalah. Tapi karena kalian udah sangkut pautin anak abang sama istri abang. Mulai detik ini abang nggak akan biayain hidup kalian lagi."
Daddy Zidan tetap tegas sama pendiriannya.
"Zidan ... kamu kenapa gitu sama dua adik kamu? kamu nggak ingat kalau kita ini keluarga. Benar kan kata ibu kalau istri sama anak kamu itu bukan keluarga yang pas. Harus nya dulu kamu mau di jodohin sama perempuan yang ibu pinta."
"IBU!"
Zaina sendiri yang mendengar sangat kaget dan langsung menoleh pada mommy nya. Terlihat wajah terkejut mommy nya membuat Zaina sadar kalau mommy nya juga baru tahu masalah yang satu ini.
Perempuan itu jadi merasa nggak enak.
Dengan gugup Zaina menggandeng tangan daddy nya dan daddy nya itu menoleh membuat Zaina menggeleng kecil.
"Dad ... masalahnya jadi melebar. Jangan kayak gini, aku jadi nggak enak sama daddy," bisik Zaina dengan perasaan luar biasa nggak enak sama orang tuanya.
Tapi daddy Zidan malah melepaskan tangan sang anak dan kembali berdiri di antara istri sama anaknya.
"Abang rasa di sini abang sudah bersama keluarga yang tepat." Daddy Zidan merangkul istri dan anaknya. "Jadi, apa yang terjadi di masa lalu nggak perlu di umbar lagi."
"Nadya juga udah jadi istri dan anak yang terbaik. Dia yang selalu ada di samping abang pas abang susah. Bukan kalian yang cuman butuh uang abang aja. Jadi ... kalian nggak perlu maksa ini itu. Kalian yang jahat, kenapa ibu malahan limpahin semuanya ke anak sama istri abang?"
"..."
"Untuk ibu, tenang aja ... uang untuk ibu tetap bakalan terus mengalir. Ibu nggak perlu khawatir sama sekali. Zidan akan tetap biayain hidup ibu sampai nanti. Abang hanya nggak mau biayain hidup adik abang saja. Karena mereka masih punya kepala keluarga yang lebih berhak."
Mereka masih memandang protes tapi ayah Zidan tetap teguh dan nggak bisa di bantah sama sekali. Membuat mereka jadi sungkan dan takut untuk sekedar bertanya hal kecil sekali pun.
"Dan juga ... stop sampai di sini. Jangan pernah hina istri sama anak Zidan lagi. Abang sama Nadya tentu tahu apa yang harus di ajarkan untuk Zaina. Jadi, kalian nggak perlu sama sekali ikut campur lagi. Jadi, tenang saja ..."
Mereka akhirnya diam dan menunduk.
Sampai Zidan menggiring istri sama anaknya keluar dari rumah juga, masih tak ada yang mengucapkan sepatah kata pun.
Zaina berserta orang tuanya masuk ke dalam mobil dan duduk di sana. Daddy nya mengendarai mobil, membawa mereka pergi dari pekarangan rumah yang meninggalkan luka begitu dalam untuk Zaina.
Dengan takut Zaina sesekali menatap kedua orang tua nya dengan pandangan yang sangat sayu. Mereka sama sekali nggak terganggu sama sekali sampai Zaina berdeham.
"Daddy ... Zaina minta maaf." Zaina menunduk, nggak berani menatap daddy nya yang langsung menoleh ke arah dirinya itu.
"Loh ... kenapa jadi kamu yang minta maaf?" tanya daddy Zidan.
Zaina spontan menghela napas lega. Kalau tadi dia dengar suara tajam sang daddy yang sedikit menakuti dirinya. Kini dia sudah mendengar suara hangat daddy nya lagi.
"Karena aku yang meledak dan marah tadi, hubungan daddy sama keluarga daddy jadi berantakan. Secara nggak langsung kan itu aku yang jadi penyebab nya kan? aku jadi minta maaf sama daddy. Aku beneran minta maaf banget sama daddy ..."
"Bukan salah kamu, daddy malahan seneng kamu bisa mengeluarkan semuanya kayak tadi."
Zaina sangat terkejut dan mendekat ke kursi depan mobil.
"Daddy nggak bohong kan? padahal kemaren daddy bilang ke aku jangan macam macam gitu. Makanya aku takut banget tadi. Aku takut kalau daddy malah marah sama aku. Aku udah takut banget. Tapi, kenapa respon daddy malahan kayak gini deh?"
Daddy Zidan tersenyum sangat tipis.
"Nak ... kamu sadar nggak sih kalau kamu terlalu sering menyimpan semuanya sendiri? kamu terlalu diam dan buat mommy sama daddy jadi nggak tahu apa yang lagi kamu alami. Daddy sengaja ngomong kayak gitu sengaja mau menyindir kamu. Eh ternyata kamu malah mengiyakan ya?"
Zaina mengusap tengkuknya, bingung. Nggak paham sama pemikiran dari daddy nya itu.
"Maksud daddy, aku nggak paham."
"Intinya daddy malah seneng kalau kamu keluarin uneg uneg kamu kayak tadi. Sampai daddy kaget kalau kamu pernah ada niatan untuk meninggalkan mommy sama daddy sendiri di sini."
Mommy Nadya menoleh ke belakang.
"Iya nak ... mommy beneran nggak suka sama pemikiran kamu yang satu ini ya. Kalau kamu memang lagi capek atau bingung. Cerita aja sama kami. Apa lagi kalau kamu lagi down. Mommy sama daddy akan selalu terbuka untuk kamu. Asal kamu jangan pernah kepikiran ke arah sana."
"Iya maaf mommy, daddy. Nggak lagi lagi aku kepikiran ke arah sana."
"Dan ... satu yang harus kamu tahu kalau daddy suruh kamu lanjutin kinerja daddy salah satunya mau menyibukkan kamu. Kalau kamu sibuk pasti pikiran kamu tertuju ke kerjaan bukan ke arah sana. Jadi, daddy harap kamu gak lakuin hal bodoh lagi apa lagi sampai mikir ke arah sana."
Zaina mengangguk.
"Aku sekali lagi mau minta maaf sama daddy karena gak bisa jaga baik hubungan daddy sama keluarga daddy dan aku juga mau makasih sama mommy dan daddy karena udah bela aku. Padahal, aku kira. Aku bakalan sendirian dan nggak ada yang bela sama sekali."
"Hahaha ... kamu ngomong apa toh? kami akan selalu di sini dong untuk bela kamu. Jadi, jangan pernah mikir yang aneh atau macam-macam lagi ya."
Zaina mengangguk dan kembali duduk menyandar. Ia pandang jalanan dan sesekali tersenyum miris sekaligus meminta maaf kepada mereka di dalam hatinya.
Mereka menaruh harapan besar pada Zaina tapi Zaina memilih jalan yang lain.
"Aku bakalan seneng seneng dulu, baru lakuin apa yang aku mau. Aku harus centang terlebih dulu keinginan yang aku mau untuk pergi dari sini. Maaf mom, dad, tapi ini pilihan hidup yang paling aku mau."