
Zaina menatap ke sekitar rumah. Sepi. Perempuan itu meringis. Perutnya sedikit sakit karena dirinya juga yang sedang benar-benar tegang.
"Sayang ... jangan macem macem dulu ya. Kuat ya nak. Temenin bunda, jangan nyusahin bunda."
Zaina mengusap perutnya. Setelah lebih baik. "Nak, kamu harus ngertiin bunda ya. Kamu harus paham! ini bunda lagi serius. Kamu jangan macem-macem dulu ya ..."
Dan sedetik kemudian Zania tersenyum sangat lega karena perutnya tiba-tiba saja terasa nyaman. Ia benar-benar gak merasakan sakit perutnya lagi. Langsung aja dia bergegas kembalj membuka pintu kamar dengan hati-hati dan menutup dengan pelan.
Zaina berjalan jinjit menelusuri tangga rumah.
Saat ini jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi dan orang tuanya sudah pada pergi untuk mengurus berbagai hal. Satu yang Zaina tahu, semua orang pergi untuk buat berita dirinya lenyap ditambah menghukum diam diam orang yang sudah membagikan berita buruk tentang dia. Tapi ... yang namanya orang tua, mereka nggak lepas tangan gitu aja.
Orang tuanya menyewa banyak penjaga untuk selalu mengawasi dirinya. Ya ... Zaina nggak peduli. Dia akan memutar otaknya untuk bisa keluar.
Dengan pandangan yakin, Zaina mengepalkan tangan sambil terus mengangguk.
"Pokoknya aku harus nemuin Mahen sekarang juga! aku harus jelasin sama dia dan tanya kejelasan hubungan ini."
Zaina harus tahu! Mau di bawa kemana hubungan ini. Kalau memang mau berakhir, maka akhirin dari awal. Biar Zaina bisa nata hatinya lagi. Tapi, kalau mau lanjut. Mau gimana dan harus melakukan apa biar mereka bisa sama-sama paham sama hubungan ini.
Zaina menarik tudung hoodie hitamnya dan berjalan hati-hati. Iringan jantung yang berdegup kencang membuat Zaina harus sesekali berhenti dan berusaha menetralkan dirinya.
Setelah memastikan kalau penjaga para mengalihkan pandangan ke arah lain. Langsung aja dia berlarian ke tempat yang tak terjangkau dari pandangan orang. Sesekali Zaina harus mengumpat saat beberapa penjaga menoleh ke arah dirinya.
"Tenang ... aku harus tenang."
Zaina kemudian menajamkan pandangan, melihat ada kesempatan untuk lari. Langsung saja Zaina berlari menuju pagar mansion. Untung saja sedang tidak ada satpam yang menjaga. Jadi, Zaina bisa lolos.
Beberapa kali Zaina menoleh ke belakang untuk memastikan kalau semua orang nggak ada yang melihat keberadaan nya. Setelah sedikit jauh, langsung saja Zaina berlutut dengan napas yang memburu.
"Padahal, aku cuman mau cari keadilan doang. Tapi kenapa kayak buronan gini. Nggak paham juga sama mommy dan daddy. Kenapa mereka nggak percaya banget sama aku. Sampai harus nyewa banyak penjaga untuk aku doang."
Setelah berusaha menenangkan dirinya. Zaina menghentikan taxi dan bergegas pergi menuju perusahaan milik Mahen.
"Semoga Mahen ada di sana!"
Zaina mengernyit heran. "Kenapa di depan perusahaan mas Mahen banyak orang?" serunya.
Ia mendongakkan kepala dan mengangguk yakin. Dan benar kok, ternyata ia udah ada di perusahaan milik Mahen.
"Tapi ... kenapa mereka pada nunggu di depan ini."
Pada akhirnya, Zaina berusaha memberanikan diri untuk melewati mereka semua sembari sesekali ngomong permisi dan terus menunduk.
"BUKANNYA ITU ZAINA!"
Langkah perempuan itu terhenti dan jantungnya langsung berdegup kencang. Ia nggak berani menoleh sama sekali. Saat mendengar derap langkah banyak orang yang makin mendekati dirinya.
Tubuhnya seolah kaku dan Zaina nggak tahu harus lakukan apa lagi selain menunduk.
Banyak kamera yang menyoroti ke arah dirinya. Puluhan mikrofon langsung tertuju ke depan dirinya. Kilatan dari jepretan kamera membuat Zaina pusing dan bingung bukan main.
"Bagaimana tanggapan saudara Zaina tentang berita yang sedang beredar?"
"Siapa laki-laki yang ada bersama dengan saudara Zaina di pantai sana?"
"Bagaimana hubungan anda sama saudara Mahen?"
"Bagaimana tanggapan anda mengenai pertunangan calon anda bersama perempuan lain?"
"Apakah pertunangan anda tetap berlanjut?"
"Jadi ... bagaimana tentang semua tuduhan yang di lakukan ke anda? Kenapa anda sama sekali nggak menanggapi! Apa berarti semuanya benar? Tolong jelaskan sama kami ... kaki butuh penjelasan!"
Zaina merasa sangat sesak. Ribuan todongan pertanyaan membuat Zaina nggak bisa berkutik. Ingin kabur pun tidak bisa lantaran Zaina yang terus di tahan sama mereka.
"SAUDARA ZAINA, BAGAIMANA TUDUHAN TENTANG KEHAMILAN ANDA? APA ANDA BENAR-BENAR SEDANG HAMIL?"
DEGH! Dan detik itu juga Zaina nggak tahu harus melakukan apa. Kakinya lemas. Dan dia semakin dibuat sesak karena hal ini.