Love In Trouble

Love In Trouble
Nasihat



Ghaly pamit dengan perasaan campur aduk. Ia hanya melamun dan sesekali menghela napas kasar. Sampai Ghaly sendiri nggak sadar kalau dirinya sudah sampai di rumah. Ia benar-benar melamun.


Memasuki apartemen nya, ia langsung duduk di dalam tanpa menyalakan lampu penerangan sama sekali. Dia tertawa pahit sama semua hal yang terjadi belakangan ini.


"Sebenarnya ... apa lagi yang aku inginkan?" gumam Ghaly dengan pelan sambil sesekali menggeleng. "Hidup aku tuh berjalan terlampau indah. Di maafkan sama keluarga yang dulu aku jahati. Berteman baik sama mantan. Mendapat kerjaan yang gajinya bukan main besarnya. Sampai aku bisa biayain orang tua aku. Tapi ... rasanya hampa."


Dengan tertatih Ghaly bangkit dan memasuki kamarnya. Di sana ia hanya menyalakan lampu tidurnya lalu menghampiri laci. Ia keluarkan sebuah kotak besar dan membawanya ke balkon.


Disibaknya gorden hitam yang menutupi balkon dan seketika hembusan angin malam hari menyapu rambutnya. Ia menarik napas dalam, merasakan tiap angin yang memeluk tubuhnya. Terasa sangat dingin dan mengigilkan. Tapi memang hawa seperti ini yang dia inginkan.


Setelah puas merasakan sejuknya malam, Ghaly langsung duduk di bawah. Menyilangkan kaki dan menaruh kotak itu di pangkuannya. Ia tersenyum sangat tipis dan menggeleng kecil.


"Ternyata ... semua ini masih nggak gampang ya buat di lupain sedalam itu."


Ghaly menatap berbinar satu per satu barang yang ada di dalam kotak itu. Rasanya perih sekaligus menenangkan untuk menyimpan ini semua. Hatinya perih tapi dengan semua barang ini, luka di hatinya juga terobati. Entah, emang pilihan sulit menyimpan ini semua. Tapi dengan ini hatinya merasa lebih baik.


Di dalam kotak itu,


Berisi semua kenangan yang dia punya saat dulu masih berpacaran sama Zaina. Banyak foto kenangan mereka. Barang yang dulu Zaina kasih. Sampai beberapa barang couple yang mereka dulu miliki. Hampir sebagian besar barang di sana diberikan sama Zaina dan bohong rasanya kalau dulu dia sudah membuang semua itu.


"Pertemuan kita dari awal aja udah salah," gumam Ghaly lalu tertawa sarkas.


Zaina, perempuan yang disukai banyak orang membuat Ghaly jadi penasaran. Dia yang biasanya hanya fokus untuk mencari uang, kini berubah fokusnya pada perempuan yang mulai ia kenali. Di awal, mereka sering berinteraksi karena mereka memang memiliki satu pemahaman.


Setelah saling mengenal lebih dalam. Ghaly mulai merasa bahwa Zaina perempuan yang tepat. Tidak, ia tidak terlalu mencintai Zaina. Saat itu banyak pikiran licik yang datang ke benaknya, apalagi Ghaly mengetahui kalau Zaina ini anak dari pemilik perusahaan. Akhirnya pikiran licik semakin mendominasi dirinya.


Tanpa Ghaly pahami, beberapa bulan setelah mengenal. Akhirnya mereka berpacaran. Ghaly juga nggak paham, kenapa perempuan yang secantik dan sesempurna Zaina bisa mencintai laki-laki seperti dirinya.


Dia nggak paham sama sekali.


Bahkan saat mereka berpacaran. Rasa cinta itu belum tumbuh sama sekali, Ghaly hanya terus terpengaruh dengan keroyalan Zaina. Dia yang nggak pernah merasakan makan di restauran, kini mulai merasakannya. Ghaly yang nggak pernah naik mobil, kini dia mulai naik. Ghaly yang nggak pernah memiliki tabungan, kini tabungannya mulai terisi. Ghaly yang biasanya hanya beli baju tanpa merek, kini Ghaly memiliki semuanya. Dan itu semua karena Zaina. Apa yang belum Ghaly rasakan, laki-laki itu mulai rasakan saat bersama Zaina.


Tanpa sadar ...


Dari tahun ke tahun, perasaan itu benar-benar nggak ada. Yang ada hanya lah kepuasan karena Zaina memberikan tubuhnya begitu saja. Memberikan uang semudah itu. Saat itu Ghaly benar benar kalap dan nggak memikir panjang. Bahkan dia berpikir kalau Zaina ini sangat bodoh dan terlampau polos.


Baru ...


Saat dia mulai bosan sama hubungannya dan merasa sudah memiliki tabungan yang cukup banyak, Ghaly akhirnya memilih untuk pergi. Dia benar-benar meninggalkan sampai suatu waktu dia mendengar berita pertunangan Zaina sama perempuan lain.


Rasa iri langsung saja membelenggu hatinya. Dia tak menyukainya. Kenapa perempuan yang bertahun-tahun sama dirinya, tapi baru saja ia tinggal pergi kini malah bersama laki-laki lain lagi? Ghaly sama sekali nggak suka. Egonya tumbuh dan ia memilih kembali. Sampai dia tahu kalau ternyata Zaina sedang hamil.


Saat itu pikirannya terbagi. Hatinya bergetar karena dia akan memiliki seorang anak. Di sisi lain, Ghaly nggak tahu harus melakukan apa karena marah melihat laki-laki lain yang akan menjadi anaknya. Saat itu dia hanya melakukan hal bodoh dan menyakiti hati Zaina. Tapi setelah semakin ke sini, Ghaly menyadari kalau keluarganya Zaina benar-benar baik. Dia di maafkan dan semakin itu juga. Ghaly semakin menyadari kalau perasaan itu mulai tumbuh dan sekarang dia benar-benar di tahap mencintai Zaina.


Sakit rasanya melihat Zaina yang masih memiliki perasaan sama laki-laki lain.


Sakit rasanya melihat Zaina yang menangis karena orang lain.


Sakit rasanya karena Zaina sering menangis, salah satu penyebab masalahnya adalah dia.


Puncaknya, saat ini.


Melihat Zaina menangis membuat Ghaly sadar kalau sedalam itu juga Zaina masih mencintai Mahen. Dan dia juga menyadari, kalau dirinya udah sepatah itu. Hatinya benar-benar sangat sakit.


Ghaly meremas kuat dadany yang terasa sangat pedih.


“Aku telat ...”


Ghaly memandang ke arah langit. Tak ada bintang, seolah langit juga menyadari kesedihan yang dia rasakan dan nggak mau memberi penerangan sama sekali. Ghaly berulang menarik napas dalam. Semakin berusaha menenangkan jiwanya, semakin bayangan masa lalu terus menghantui dirinya dan itu benar-benar sangat menyakitkan.


Ghaly menggeleng frustasi, rasanya sangat pedih.


“Ya Allah ... hamba sudah memiliki banyak kesalahan. Namun kenapa yang ini benar-benar sangat sakit. Hamba membuang kesempatan bagus yang dulu sudah ada di tangan hamba. Tapi dengan bodohnya Hamba malah meninggalkan semuanya dan memilih jalan yang salah.”


Menyesal.


Ghaly memang menyesal, sangat menyesal. Sayang ... mau Ghaly berteriak sekencang apa pun. Masa lalu tetap lah masa lalu yang nggak akan bisa di ulang sama sekali. Dia memang menyesal, tapi itu nggak bisa membuat Ghaly kembali ke masa itu.


Ghaly duduk menyandar, pandangannya sangat nanar.


“Dulu aku ketawa ngeliat Zaina yang sakit hati karena ulah aku, tapi masih bisa baik lagi karena aku yang nggak peduli sama sekali. Terus ngeliat dia yang marah tapi ujungnya minta maaf balik sama aku. Dulu ... aku benar-benar meremehkan dia dan sepertinya ini pembalasan yang memang harus aku dapetin dari semua kesalahan yang dulu aku buat.”


Ghaly mengambil sebungkus rokok di atas meja dan dengan susah payah ia berusaha untuk menyalakannya. Tidak hanya itu saja, Ghaly juga langsung menghabiskan sebatang dengan cepat.


Malam itu, ia habiskan duduk di balkon sambil terus merenung atas perbuatan yang ada di masa lalu. Sampai pagi buta membuat Ghaly mulai tersadar dari lamunanya. Ia mendengus, melihat banyak abu berserakan di lantai balkonnya. Tanpa sadar ia sudah menghabiskan sebungkus rokok dengan cepat.


“Ah ... padahal waktu itu aku udah janji sama Zaina untuk nggak ngerokok lagi.”


Ghaly tersenyum tipis.


/Aku bukannya benci perokok, aku ngomong gini juga bukan berarti aku mau nyuruh-nyuruh kamu! Tapi beneran deh Ghaly. Hidup tanpa ngerokok itu jauh lebih nyaman. Sayangin tubuh kamu dulu. Karena kalau kamu ngerokok bukan cuman kamu doang yang sakit. Tapi semua orang yang ada di sekitar kamu!/


Omelan Zaina yang terekam jelas di benaknya membuat laki-laki itu terkekeh kecil.


“Ternyata aku memang sebodoh itu,” ucap Ghaly sambil menghela napas kasar. “Gue malahan ngebuang berlian yang jelas-jelas benar secinta itu sama gue. Demi rasa bosan doang. Ya ampun. Tapi ... kenapa balasannya bisa sesakit ini?’


Hati Ghaly seperti ditabrak truk tronton. Yang mana Ghaly nggak bisa ke mana-mana karena di depan dia hanya ada jurang. Dia ada diantara dua pilihan yang nggak bisa terelakkan sama sekali. Dua-duanya seperti maut bagi Ghaly. Akhirnya ia hanya bisa diam, sambil menunggu truk itu menabraknya atau dia akan terjatuh ke bawah jurang.


Ghaly menggeleng, ia mengusap matanya yang bengkak karena belum tidur sama sekali.


“Sekarang bukan waktunya aku untuk menangis dulu. Sekarang aku harus bangkit! Zaina cuman punya aku. Jadi, kamu nggak berhak nangis atau gimana.”


Ghaly pada akhirnya hanya bisa menghela napas, mengasihani hidupnya sendiri yang seperti ini.


“Nggak apa-apa Ghaly ... toh hidupmu sekarang cuman di dedikasiin untuk Zaina aja kan? Udah janji sama tuan puteri bayi,” gumamnya. “Aku harus jaga Zaina, apa pun hal yang nanti aku terima ...”


***


“Tunangan?”


Dengan perasaan tak menentu Zaina turun dari lantai kamarnya dan menghampiri sang mommy yang duduk santai di ruang tamu. Ia meraih remote dan menyalakan televisi. Tapi lagi dan lagi berita yang lagi hangat di perbincangkan malah ada di sana.


Zaina menghela napas kasar.


“Mom ... itu beneran?” tanya Zaina sambil menghela napas kecil.


Mommy Nadya beralih menatap ke arah televisi dan mengerutkan kening. “Tunangan? Mahen mau tunangan sama perempuan itu? Dih ... jauh banget sama kamu. Selera Mahen kok jadi turun banget sih. Mommy kira dia nggak akan seturun itu selerannya. Kalau kayak gini mah, kamu nggak perlu khawatir sama sekali.”


Zaina tertawa dan menggeleng.


“Ish mommy ... ada-ada aja ngomongnya,” papar Zaina dengan pelan. “Maksud aku ... terlalu tiba-tiba nggak sih Mahen laksanain tunangan sama perempuan lain? Kayak nggak ada gembor sama sekali. Aneh ...”


“Daddy rasa juga ada yang aneh.”


Zaina menatap kedatangan daddy nya yang memegang tablet. Ia mengikuti gerakan sang daddy sampai daddy nya itu duduk di salah satu sofa yang berjarak dari mereka.


“Maksud daddy?”


“Lihat deh ... yang konfirmasi tuh dari perusahaan perempuan itu,” jelas sang daddy sambil memperlihatkan isi berita yang lagi dibaca di tablet. “Dan daddy rasa, kalau memang benar. Kedua belah pihak perusahaan harus saling mengatakan. Bukan salah satu doang. Kalau kayak gini, yang ada keliatan aneh banget.”


“Gitu?”


Daddy Zidan mengangguk.


“Nggak cuman itu aja ... kalau dari pengumuman ini, keliatan jelas saham perusahaan dari perempuan itu langsung naik. Jadi, daddy nggak tahu mereka memang sengaja umumin ini tanpa persetujuan keluarga Mahen.”


“Jadi ... maksud daddy, mereka ngelakuin itu cuman demi saham doang?”


Daddy Zidan mengangguk.


“Memang ada yang sejahat itu mas?” tanya mommy Nadya yang memang kurang mengerti.


“Dunia kerjaan memang sekejam itu,” beri tahunya dengan sangat jujur. “Segala hal sengaja di lakuin demi keuntungan perusahaan. Jadi, nggak jarang banyak yang ngelakuin hal keji demi perusahaan doang. Mungkin ini salah satunya?”


“Ah ... masa iya sih?” tanya Zaina yang masih nggak paham. Bahkan hatinya masih terkejut bukan main. Dia masih nggak paham, di sisi lain hatinya pasrah. Karena memang sudah sejauh itu jarak yang dia punya sama Mahen. Mereka sudah nggak ada hubungan lagi dan mereka juga benar-benar sudah selesai.


“Zaina?” panggil sang mommy sambil melambaikan tangan di wajah Zaina. “Kamu baik-baik aja kan?”


Zaina mengerjap dan mengangguk.


“Aku masih kaget aja sih. Ternyata bayangan aku kalau aku sama Mahen yang berteman baik setelah ini, benar-benar lenyap. Karena dunia kita aja udah berbeda. Mungkin juga ... karena mas Mahen yang udah terlampau sakit hati karena perkataan aku waktu itu kan? Jadi ... aku juga nggak bisa ngebayangin hal sejauh itu.”


“Nak ...”


Zaina melepas tangan Mommy Nadya yang bertengger di tubuhnya. Tidak, ia tidak bisa diusap. Yang ada dirinya malah menangis.


Ia harus tegar.


“Aku beneran baik-baik aja kok.”


“Beneran?” tanya sang daddy kali ini dengan nada memaksa


Zaina mengangguk.


“Aku baik-baik aja kok, kalau memang beneran. Aku malahan seneng banget dan nanti kalau ada waktu mau nanya deh sama Mahen. Kok dia nggak ada ngabarin aku sama sekali. Aku kan juga ikutan seneng. Apa lagi kalau nanti menikah ... oh iya mom, untuk semua hal yang dulu udah diurus itu ada di mana ya?”


“Maksud kamu?”


“Itu loh .... kayak tempat, katering sampai undangan yang udah dipesen. Kan kalau tempat sama makanan palingan di balikin sebagian. Tapi kalau undangan, gaun sama yang lainnya pasti masih ada wujudnya kan? Di mana semua barang itu? Aku baru inget dan baru sempet nanya ...”


Mommy Nadya melirik suaminya, dan daddy Zidan hanya mengangguk. Membiarkan anak nya tahu hal ini.


“Semuanya ada di keluarga Mahen. Mereka nggak mengizinkan untuk mengambil sama sekali. Jadi, kami juga nggak bisa memaksa. Toh buat apa kan? Dari pada di kita juga dibuang? Jadi mendingan ada di mereka kan?”


“Mom ... kalau aku ambil bisa nggak.”


“Hah?”


Zaina menarik napas dalam. “Itu gaun ... aku yang desain sendiri. Aku yang mikir keras biar punya gaun bagus dan yang beda dari yang lain. Itu ide aku. Jadi ... aku nggak rela kalau nanti itu gaun dipakai sama perempuan lain. Aku takut, kalau mereka bakalan menikah. Mereka yang bakal pakai baju itu. Aku nggak rela sama sekali. Jadi, boleh nggak kalau aku ambil?”


“Tentu bodeh dong, tapi kamu hubungin mereka dulu ya sebelum datang. Siapa tahu mereka malah keberatan kalau kamu yang datang. Atau mereka mau hak milikin gaun itu? Tapi mommy rasa mereka bukan tipe yang pendendam kayak gitu. Jadi, kamu hubungin mereka dulu aja ya.”


Zaina berpikir sebentar lalu mengangguk.


“Nanti aku akan hubungin Mahen dulu,” finalnya