Love In Trouble

Love In Trouble
Bersama



Setelah mengatakan pernyataan tersebut, Mahen dan Zaina sama-sama berhenti berjalan dan berdiri tepat di samping pagar penyangga. Keduanya menatap sungai yang mengalir tenang. Pantulan cahaya bulan terlihat sangat indah. Berbanding terbalik dengan hati mereka yang sedang pusing memikirkan masalah ini.


“Mas kira setelah kasus Restu kelar, hubungan kita bisa kembali baik kayak biasanya. Tapi ternyata masih aja ada halangannya ya.”


Zaina menghembuskan napas kasar. “Aku minta maaf ya mas,” ucap Zaina.


Perempuan itu mendongak, menatap gelapnya malam yang terlihat indah karena taburan bintang. Walau tak banyak tapi cukup menutupi gelapnya langit.


“Andai aja waktu itu aku nggak pikir pendek dan main menyetujui permintaan mereka. Pasti sekarang mereka alias mom sama oma nggak berharap lebih. Tapi, karena aku juga udah setuju. Mereka pasti mikir aku harus mau ngurus permintaan mereka.”


“...”


“Aku tuh beneran bingung, mas. Aku nggak mau di jodohin sama mereka. Karena aku cintanya cuman sama kamu.”


“ZAINA!” seru Mahen mendorong pelan tubuh Zaina


“Ih kok ngedorong sih,” omel Zaina, tidak terima sama sekali sembari menjulurkan lidah.


“Lagian ... kamu kebiasaan banget. Kalau gombal tuh harusnya bilang-bilang dulu. Biar mas bisa siap-siap. Kalau kayak gini, yang ada jantung mas nggak aman sama sekali tau! Atau kamu malah seneng ya kalau mas kayak gini."


"Kayak gini gimana sih?" tambah Zaina dengan bingung.


"Ya itu ... gombal kayak tadi. Nggak bisa nih. Kamu cuman bikin mas cepet kagetan kalau kayak tadi. Udah cukup ya ... mas baru tau kalau kamu aslinya malah bikin aku itu jadi jantungan."


Zaina menepuk keningnya dan menggeleng.


Sudah menjadi kebiasaan kalau Mahen itu lebay dalam melakukan apa-apa. Tapi perempuan itu nggak merasa kalau Mahen akan melakukan sejauh ini.


"Serah kamu deh, aku lagi serius juga." Kesal Zaina lalu meninggalkan Mahen begitu saja.


"Ayang ... jangan marah," pekik Mahen sambil mengejar perempuan itu. "Aku nggak maksud buat kamu marah. Ih ayang, jangan pergi!" teriak Mahen


Yang mana malah membuat Zaina semakin malu. Ia nutup wajahnya dan dengan cepat berlari menjauh dari Mahen. Dan Mahen malah semakin yakin mengejarnya. Mereka ini jadinya seperti lari-larian yang ada di film-film India. Membuat beberapa orang yang ada di sana hanya bisa menatap gemas sambil menggeleng kecil.


***


Setelah adegan lari-larian tadi, kini Mahen sama Zaina sedang ada di tukang nasi goreng. Mereka mau makan dulu sebelum pulang.


"Untuk masalah tadi, kamu nggak perlu mikirin. Kamu ikutin dulu aja kemauan mereka. Baru deh setelah ada di tengah perjalanan. Kita bilang ke mereka, kalau kamu nggak bisa lanjutin ini semua karena kamunya nggak nyaman."


"..."


"Walau rasanya, aku nggak sanggup ngebayangin kalau kamu itu bakalan sama laki-laki lain. Banyak faktor kalau aku ngebiarin kamu deket sama laki-laki lain. Siapa tahu nanti kamu bisa kepincut sama mereka. Siapa tahu laki-laki itu nantinya malah bisa yakinin semua orang, buat keluarga kamu lebih setuju sama kamu. Siapa tau laki-laki itu bisa treatment kamu lebih baik. Dan buat kamu pada akhirnya akan milih ke dia."


Zaina terkekeh kecil dan menggeleng.


"Buat apa? Cuman kamu doang yang bisa bikin aku jadi bucin. Hanya kamu doang. Nggak ada yang lain. Kamu kira aku segampang itu buat jatuh cinta?" tanya Zaina


Mahen menggeleng kecil sembari mengacak rambut Zaina.


"Aku percaya banget sama kamu kok. Kalau kamu nggak semudah itu buat jatuh cinta sama orang lain. Tapi kan aku takut kalau kamu nemuin laki-laki yang ternyata cinta banget sama kamu. Terus akhirnya dia akan melakukan berbagai cara untuk dapetin kamu ..."


"Tenang aja mas. Aku janji untuk nggak ikutin kemauan mom sama oma sejauh itu. Aku cukup minta keringanan sama mereka dan minta pertemuan baru bisa memutuskan. Baru deh nanti kalau ketemuan, aku jujur sama dia kalau kita masih punya hubungan. Jadi, aku nggak bisa lanjutin perjodohan tipuan ini."


"Eh ... masih punya hubungan?" goda Mahen sambil pura-pura menutup mulutnya. "Kamu anggep aku apa nih? sampai ternyata kita masih punya hubungan. Aku seneng sih, kalau kamu anggepnya begitu. Tapi sejak kapan ya kita ini punya hubungan?"


Zaina menggeram kecil.


Mahen kebiasaan, kalau mereka sedang serius. Ada aja tingkah konyolnya buat Zaina terkadang jadi kesal. Dengan pelan ia memukul Mahen dan mendorong tubuh laki-laki itu yang sedang berusaha mendekati dirinya.


"Bercanda Zaina ... aku cuman nggak mau buat suasana jadi nggak nyaman, karena permasalahan yang kita omongin. Aku cuman berusaha buat nyairin suasana aja kok. Dan aku beneran seneng banget kalau kamu ngebayangin kita ini masih punya hubungan."


Mahen menarik tangan Zaina dan menggenggamnya.


"Tapi ... kita belum ada hubungan sama sekali. Jangan mendahului aku. Karena aku belum mengajak kamu lagi. Jadi, mas berharap kamu nggak melakukan sejauh itu. Toh, masih ada hal yang harus aku urus. Baru deh aku bakalan datang ke rumah kamu dan minta status kita untuk kembali."


"Mahen ..."


Mahen tersenyum tipis sambil mengusap rambut Zaina dengan sangat lembut.


"Nggak usah kaget kayak gitu deh. Ini aku beneran akan lakuin kalau masalah Restu sama masalah perjodohan ini udah selesai. Jadi, sampai waktu itu tiba kamu harus tunggu ya ... karena aku nggak akan ke mana-mana. Aku bakalan masih ada di sini. Bersama kamu sampai kapan pun itu aku akan selalu ada di dekat kamu."


Zaina menatap sendu. Mahen selalu aja berhasil membuat dia terharu dengan ucapan dan sikapnya yang tidak terduga.


"Kita selesaiin masalah ini bersama ya. Baru kita akan melanjutkan hal yang sempat terlewat. Kamu nggak perlu khawatir. Mas yakin kalau kita bakalan berhasil lewatin ini semua. Siapa sih yang bisa menghalangi hubungan kita ini?"


Zaina tersenyum simpul dan balas mengangguk.


"Iya ... kita pasti bisa lewatin ini semua bersama ya!"