Love In Trouble

Love In Trouble
Terpaksa



“Bukan ... bukan maksud aku nggak suka atau merasa aneh sama kemauan kamu. Tapi kalau kamu ngelakuin ini semua karena memang suka sama aku. Terus, kenapa kamu harus nyenggol Zaina yang bahkan nggak ada kaitannya sama kamu? Maksudnya ... ini aku ngomong gini, bukan karena mau bahas Zaina lagi ya atau masukin Zaina ke pembicaraan kita. Tapi, aku tuh beneran masih penasaran sama apa yang ada di pikiran kamu waktu itu. Kenapa kamu selalu mengaitkan Zaina di masalah kita? Padahal tanpa bawa Zaina, kamu bisa usaha buat deketin aku. Ya ... walaupun sekarang aku udah punya kamu. Jadi, kamu memang jarang kaitin ke Zaina lagi. Tapi, apa alasannya dulu kamu sebenci itu sama Zaina.”


“Belum tau,” jawab Restu membuat Mahen bingung.


Mahen memiringkan wajahnya, “maksudnya?”


“Iya ... katanya, aku tuh udah punya kamu. Tapi belum kok,” jawab Restu sambil merengut.


Mungkin kalau Zaina yang begini, Mahen akan merasa gemas. Tapi melihat Restu yang pura-pura imut malah membuat dirinya jijik bukan main. Laki-laki itu memiringkan wajah, menatap ke arah lain. Berusaha untuk mentralkan dirinya itu.


“Ya ... aku masih berusaha kan?”


“Tetep aja, rasanya masih belum pas kalau kamu belum nembak aku sama sekali. Kita juga belum ada hubungan fix. Kadang aku masih resah sih. Memangnya harus sampai kapan biar kamu bisa cinta sama aku. Apa semua yang kita laluin beberapa waktu belakngan ini nggak cukup buat kamu cinta sama aku?”


“...”


“Padahal aku udah banyak usaha buat bikin kamu bener bener cinta sama aku.”


“Jatuh cinta nggak segampang itu kan?” ucap Mahen pada akhirnya. “Bukannya semua juga butuh waktu? Jadi, wajar dong kalau sampai saat ini aku belum sejatuh cinta itu sama kamu? Aku masih berusaha untuk bisa jatuh cinta terus sama kamu. Nggak cuman itu aja, aku juga terus berusaha kok ... yang penting aku udah mulai nyaman kan sama kamu?”


Diam-diam Mahen mendengus.


Restu ini banyak maunya ya? nggak bisa satu per satu gitu ngelakuinnya?


Lagian, siapa yang bisa jatuh cinta sama perempuan pemaksa seperti Restu? Dirinya bahkan selalu risih kalau bersama Restu.


Ya ... walaupun Mahen akuin kalau perasaan Restu nggak main main sama dirinya. Dan kadang malah buat Mahen ngerasa nggak enak sendiri. Karena Restu sudah memberikan banyak effort untuk dirinya, tapi ia malah mengabaikan dan menganggap enteng perasaan itu.


Tapi, anggap aja ini hukum timbal balik kan?


Kalau saja nama Restu belum buruk dari awal, atau dari awal Restu nggak bertingkah. Mungkin aja Mahen bisa jauh lebih nyaman sama perempuan itu? Walau sampai kapan pun itu, Mahen nggak akan pernah bisa bersama Restu.


Karena ... di hatinya hanya ada Zaina, bukan yang lain.


Mahen menatap mata Restu.


“Kamu sabar ya. Kamu udah percaya kan sama aku? Jadi, nggak mungkin kalau aku pergi cuman cuman dari hidup kamu. Tolong tunggu. Jangan memaksa, karena yang ada aku risih loh ...”


Restu mengangguk dengan bibirnya yang mengerucut.


“Iya deh ... aku bakalan nunggu dengan sabar lagi. Tapi, kamu tetep beneran bakal suka sama aku kan? Kamu nggak bakalan tinggalin aku kan? Aku cuman punya kamu. Nggak punya orang lain lagi. Aku takut ... aku beneran takut kalau kamu pergi, aku tinggal sendiri dan aku bakalan hancur, kalau nggak ada kamu di sisi aku.”


“Ya ... tenang saja, kita lihat nanti.”


Di dalam hati, Mahen hanya mengatakan ‘maaf’ pada Restu. Perempuan itu sudah memiliki ekspetasi tinggi untuk dirinya, tapi dia sama sekali nggak bisa memenuhi ekspetasi perempuan itu. Tapi ... biar lah saja. Mahen nggak terlalu peduli.


“Oh iya ... tadi kan kamu nanya, ke napa aku benci banget sama Zaina?”


Laki-laki itu mengangguk.


“Mungkin nggak banyak orang sadar, kalau sejak zaman kuliah aku satu tempat universitas sama Zaina. Mungkin Zaina juga nggak sadar, karen dulu penampilan aku beda banget sama yang sekarang.”


“Okei ... terus?”


“Dari dulu aku benci fakta dia terkenal cuman karena kekayaan sama kecantikannya doang. Pokoknya dia itu ngeselin deh. Aku males ngomong dan jelasin sama kamu. Anggap aja itu luka di hidup aku. Intinya dari situ aku benci sama Zaina. Sayangnya ... dulu aku masih nggak punya apa-apa untuk balas Zaina dan sekarang aku udah punya sesuatu hal untuk balas semua perbuatan dia.”


“Ya ... lihat aja kalau sekarang udah banyak orang yang benci sama dia. Anggap aja ini sebagai karma yang harus dia terima karena selama ini udah jahat sama banyak orang.”


“Oh iya? Berarti memang benar ya kalau Zaina tuh bukan orang yang baik,” tambah Mahen dengan sangat sengaja, berusaha memperseteru Restu yang benar benar kelihatan sedang emosi.


“Nah kan ... kayaknya sekarang aja kamu udah sadar kalau Zaina tuh nggak sebaik yang di kira kamu pas dulu. Mungkin ... dulu kamu mikir dia baik tuh, karena terus ada di samping dia.”


“Begitu ya?”


Restu mengangguk dengan cepat.


“Namanya juga kamu sering di samping dia, udah pasti kamu terus denger omongan dia. jadi, secara nggak langsung otak kamu itu udah terpengaruh sama omongan dia. Jadi lah, kamu di kenal sebagai laki-laki yang terlalu baik. Sayangnya kebaikan kamu ada di tempat yang salah.”


“Kenapa bisa begitu?”


Rasanya, Mahen mau tertawa sangat kencang sampai puas melihat Restu yang percaya kalau dirinya itu benar-benar udah lupa sama Zaina. Melihat Restu yang kelihatan senang karena dia percaya sama omongannya. Bisa di bilang, Restu ini polos atau bodoh? Bisa-bisanya dia malah percaya semudah itu.


“Ya ... karena kebaikan kamu tuh cuman di manfaatkan sama mereka doang. Dan, kayaknya semua keluarganya juga gitu deh? Makanya kamu tuh diperdaya sama mereka. Baru deh pas lepas dari mereka, kamu sadar. Memang harusnya dari dulu, kamu tuh percaya sama aku. Kalau bisa kamu jangan pernah dekat-dekat lagi sama mereka deh. Khawatir aku sama kamu ...”


“Ah iya ... bener kata kamu. Kayaknya aku di perdaya sama mereka.”


“Nah kan ... udah kamu percaya aja sama aku. Nih, aku kasih tau ya. Aku kayak gini juga memang kelihatan jahat di mata kamu. Mungkin, kamu juga mikir kalau aku ini egois atau buat orang jadi kesusahan. Padahal yang aku lakuin tuh udah bener banget. Aku cuman mau semua orang tahu kalau Zaina tuh nggak sebaik yang mereka kira ... kalau mereka memang tahunya Zaina itu baik, mungkin itu karena mereka cuman lihat sisi Zaina yang pura-pura.”


Mahen pura-pura mengangguk.


Ia akting frustasi di depan Restu.


Sampai perempuan itu kelihatan bahagia bukan main.


“Ternyata aku ketipu sama muka polosnya. Makasih ya Restu karena udah buat aku sadar dari tipu daya mereka.”


Restu mengangguk.


Perempuan itu mendekat dan merengkuh tubuh Mahen. Buat laki-laki itu memutar matanya, merasa jengah dan terpaksa membalas pelukan perempuan itu.


“Aku harap kamu akan selalu ada di dekat aku, sampai kapan pun itu.”


***


Sementara itu di seberang sana,


Mommy Nadya mengusap rambut anaknya dan tersenyum bangga. Semakin diterpa masalah, Zaina, anaknya semakin dewasa dan itu sangat membuat mommy Nadya bangga sama anaknya. Ia terus mengusap rambut anaknya yang terus memeluk perut mommy Nadya. Mommy Nadya turut mengecupi kening sang anak.


“Mommy beneran bangga banget sama kamu. Anggap aja ini sebagai buah kesabaran kamu selama ini, karena kamu lebih memilih diam. Lihat ... mereka semua berbalik memuji kamu, karena kamu benar-benar nggak pernah membalas mereka sama sekali. Memang anak mommy yang terbaik ...”


Zaina tersenyum simpul.


“Mommy, aku beneran nggak nyangka loh sama hal ini,” ucap Zaina dengan pelan.


“...”


“Padahal aku nggak pernah ada bayangan bakal melakukan hal ini. Aku akan di posisi ini.”


“Maksud kamu?”