Love In Trouble

Love In Trouble
Semakin Parah



Restu tertawa di dalam kamarnya. Banyak rencana buruk yang akan ia lakukan ke Zaina. Omelan dari Mahen, benar benar dia singkirkan karena perempuan itu sama sekali gak peduli. Ia malah semakin menyukai, melihat wajah memelas Mahen yang akan memohon padanya untuk berhenti. Biar lah orang mengatakan kalau dirinya sangat berlebihan.


Selama Zaina belum mendapatkan akibatnya, dia akan terus melakukan seperti ini.


Restu menarik kursi kerjanya dan duduk di sana. Ia pandang satu per satu printan yang baru saja ia kerjakan. Kening dia mengkerut.


“Kalau ... aku ngelakuin sesuatu lagi sama Zaina gimana ya?” gumam Restu saat melihat banyak komenan yang malah mendukung Zaina dan itu membuat dirinya sedikit tergocek dan lumayan merasa kesal. “Point utama aku ngeluarin berita itu kan biar Zaina di hujat sama yang lain. Tapi kalau kayak gini, kenapa malah aku yang di hujat sama mereka?”


Restu mendengus.


Ia kembali beranjak ke meja rias. Di sana ia memilah make up yang akan membuatnya kelihatan sedang sedih. Jangan lupakan, Restu akan membuat kantung mata nya semakin menghitam supaya semua orang tau kalau di sini dirinya lah yang tersiksa.


Tangannya terus memoles wajahnya sampai Restu menyerukan kata puas. Melihat wajahnya yang benar benar keliatan menyedihkan. Ia menyeringai melihat wajahnya sendiri lalu bergumam setuju merasa mendapat point utama yang dia inginkan.


Setelah puas akan dandanannya, Restu mendatangi lemari dan mengeluarkan baju tipis. Ia melirik ke arah luar yang tampak mendung, sengaja ia pilih pakaian yang sangat tipis.


Saat ini, Restu tahu kalau sudah banyak wartawan yang berdiam di depan apartemennya. Dan rencananya, dia akan keluar seolah tidak tahu apa yang terjadi di depan sana dan sudah pasti wartawan akan bertanya-tanya pada dirinya. Dan saat itu juga, Restu akan memberikan jawaban yang menggiring opini sehingga dirinya semakin kelihatan menyedihkan. Dia akan melakukan yang terbaik supaya Zaina semakin tersiksa.


“Aku harus melakukan yang terbaik,” gumam Restu sambil mengepalkan tangannya. Mata perempuan itu melirik ke arah televisi yang menampilkan Zaina di sana.


Restu membenci fakta saat Zaina masih terlihat baik baik saja hingga detik ini. Di saat sudah banyak berita buruk yang keluar menggiring perempuan itu, tapi Zaina masih berangkat kerja seperti biasa dan menghiraukan banyak wartawan yang mengelilingi dirinya.


Restu menggeram. “Kenapa dia masih keliatan baik baik aja!”


Tatapan Restu menajam sambil terus mengikuti ke mana Zaina pergi di dalam televisi tersebut.


“Lu beneran perempuan yang pengin gue lenyapin di muka bumi ini!” seru Restu dengan tatapan yang terus dan semakin menyayangi. “Kebahagiaan lu adalah kehancuran bagi gue. Yang artinya, gue nggak akan pernah biarin lu bahagia sama sekali! Gue akan lihat tangisan lu. Biar gue bisa ngerasain kebahagiaan.”


“Tunggu ... aja kehancuran lu!”


***


Restu mengenakan tudung jaketnya dan pura-pura jalan keluar dari apartemen. Ia pura-pura terkejut melihat kerumunan kamera di sana dan berhenti sejenak. Sebelum ia berbalik, kini para wartawan sudah datang mengerubungi dirinya. Membuat Restu tidak bisa lagi ke mana-mana.


Perempuan itu berpura-pura menghindari banyak pertanyaan, tanpa semua wartawan itu sadari. Restu tersenyum simpul. Mereka akting nya sudah berhasil. Ia hanya pura-pura menunduk, terlihat kesedihan sambil sesekali menggeleng. Seperti nggak suka sama setiap pertanyaan yang tertuju pada dirinya.


“Nona ... Bgaimana tanggapan nona tentang berita yang sedang tersebar luas?”


“Bagaimana perasaan nona tentang tunangan nona yang dekat dengan mantannya?”


“Apa memang benar nona Zaina menjadi perusak di hubungan nona dan tuan Mahen?”


“Bukankah nona Zaina memiliki nama yang buruk akibat semua perbuatan dia di masa lalu. Lalu bagaimana tanggapan nona terkait masalah ini?”


“Jadi ... Nona Zaina memang benar perusak hubungan kalian?”


Dengan pura-pura sedih Restu mengangkat wajahnya. Ia mengusap air matanya yang turun sembari sesekali menggeleng. Ia menutup mulutnya, seolah terkejut saat mendengar semua pertanyaan itu.


“Jangan bawa-bawa Zaina,” gumam Restu dengan sendu. “Aku nggak tau kalau dia ternyata bisa mikir sampai sejauh sana. Tapi ... jangan bawa-bawa Zaina ya. Aku takut sama dia. Takut kalau ngomong sesuatu malah buat Zaina semakin ngelakuin hal yang macem macem sama hubungan aku.”


/Lalu bagaimana tanggapan nona, tentang masalah ini? Apa memang benar kalau nona Zaina kerap nindas orang yang lemah? Apa nona juga termasuk salah satu korban nya?/


Restu enggan menjawab dan menggeleng kecil. Dia menunduk seolah benar-benar ketakutan.


/Nona nggak perlu khawatir. Saya yakin nona Zaina nggak akan melakukan hal yang jahat atau macam macam sama nona karena sudah banyak yang judge nona Zaina. Hukum berlaku adil kok. Jadi, nona tenang aja dan ceritakan. Dan ... Mungkin karena ini, hak nona bisa terjalani dan nggak di rundung lagi sama nona Zaina./


“Apakah bener? Aku nggak bakalan di jahatin lagi sama dia?” dramatis Restu masih menggeleng kecil. “Tapi ... untuk menyebut namanya aja aku nggak sanggup,” ucap Restu dengan sangat sedih. “Dia terlalu jahat di hidup aku. Aku benar-benar sangat sakit hati karena ulah dia.”


Semua wartawan menatap terkejut. Fakta baru yang mereka dapatkan dapat membuat semua orang kembali menghujat Zaina. Tugas para wartawan hanya membuat judul yang menarik dan menyinggung banyak orang. Lalu netizen sendiri lah yang akan menghujatnya tanpa pandang bulu sama sekali.


/Kenapa bisa sejahat itu?/ tanya salah satu wartawan sambil menyodorkan mikrofon lebih dekat.


“Dia ngelakuin banyak hal. Mas Mahen sendiri yang jadi  saksi mata atas perbuatan perempuan itu. Dia terus aja mengancam banyak orang untuk menutupi tingkahnya, tapi aku udah nggak tahan lagi!” seru Restu dengan sangat menggebu-gebu.  


/Ya ampun ... ternyata wanita itu memang sangat jahat. Nggak habis pikir aku, dikira bakal berubah setelah banyak orang ngehujat dia. Ternyata malah makin jadi./


/Salah buat semua orang yang udah bela dia, karena aslinya dia masih aja jahat sama banyak orang./


·        /Memang dasar tumbuh dari anak orang kaya, jadi bisa berlaku semaunya. Pasti dia ngerasa kalau semua hal dan masalah yang dia perbuat bisa berakhir dengan uang. Makanya ... bisa ngelakuin banyak hal semau dia./


/Alah jangan di ampunin. Yang ada makin banyak korban kalau kayak gini. Jangan ada yang ampunin sama sekali! Bikin malu aja./


/Ini mah harga diri perempuan semakin jatuh. Nggak bisa, dia harus kena akibatnya!/


Dan masih banyak lagi omongan buruk lainnya yang membuat Restu tersenyum penuh kemenangan walau masih tertutup dengan wajah sendunya.


“Aku sebenarnya nggak mau besar besarin masalah ini lagi. Tapi ... aku juga sama kayak kalian. Aku nggak mau ada wanita lain yang jadi korban darinya. Dia udah jahat banget dan nggak bisa di kasih ampun sama sekali. Cukup aku yang sakit hati aja. Cukup aku yang ngerasain seolah jadi korban kayak gini.”


Restu menunduk.


“Dan ... pasti kalian semua dateng ke sini mau nanya apa berita itu benar kan?” pertanyaan yang mampu membuat para wartawan langsung mengangguk dengan cepat.


/Jadi berita tentang pertunangan itu benar ya?/


Dengan malu-malu Restu mengangguk.  


/Ya ampun, selamat ya nona. Doa terbaik untuk hubungan nona sama tuan Mahen. Jaga baik-baik tuan Mahen nya ya nona. Jangan sampai ada perebut lagi atau pengganggu lagi. Kita semua ada di pihak nona.”


Dan sejak itu, Restu merasa sudah menang.


Ia akan melihat bagaimana orang yang akan membela dirinya dan melupakan banyak orang. Dirinya benar-benar sudah menang dan nggak akan terpinggirkan lagi.


Yang utama ...


Orang-orang akan menghujat Zaina lagi. Yang artinya, dia akan melihat kesedihan Zaina lagi untuk yang ke sekian kalinya. Perempuan itu jadi sangat nggak sabar.


***


Zaina menatap terkejut pada berita yang ada di internet. Ia mengerjap dan menggeleng kecil. Hati nya terasa sakit membaca setiap tulisan yang ada di sana. Tatapan nya sangat terluka membaca tulisan yang lagi dan lagi menyerang dirinya.


Kemarin,


Zaina masih bisa sabar di saat tidak banyak orang yang terlalu peduli sama dirinya. Tapi kali ini, kenapa Restu sendiri yang speak up kalau dirinya menjadi perusak di hubungan mereka. Di saat Zaina saja jarang sekali bertemu sama mereka.


Dengan langkah tertatih, Zaina menghampiri pintu ruangan nya dan mengunci dari dalam. Selang beberapa detik pintu dibuka dari luar dan panggilan dari Ghaly membuat perempuan itu langsung menjauh dari pintu. Zaina mendengar seruan Ghaly disusul bentakan kecil, meminta Zaina untuk keluar. Tapi perempuan itu butuh waktunya sendiri.


Ia menggeleng dan melangkah kecil dan duduk di dekat meja ke besarannya. Ia duduk di bawah sambil memeluk kakinya.


“Apa lagi salah hamba Ya Allah ... Kenapa lagi dan lagi hamba yang harus lewatin dan ngerasain ini semua??? Apa nggak cukup sama semua masalah yang sudah Engkau berikan waktu itu. Sudah banyak Ya Allah. Dan hamba nggak kuat lagi. Saya beneran capek.”


Zaina kembali di tuduh tanpa rasa bersalah. Ia kembali di salahkan atas perbuatan yang nggak pernah dia laku kan sama sekali. Dan ini sangat menyakitkan. Di saat banyak orang yang menjadikan dirinya sebagai sumber masalah dan dirinya selalu menjadi bulan-bulanan bagi mereka.


Zaina mendengus.


Ponselnya kembali berdering. Ia menatap ke arah meja tempat ponselnya berada. Tapi nggak ada tanggapan sama sekali dari nya. Ia hanya melirik dan kembali mencengkram tangannya dengan kuat. Menyalurkan rasa sakit yang cukup perih karena masih ada bekas luka dari cengkraman tangan sebelumnya.


Ponselnya kembali mati membuat Zaina menghela napas lega. Ia kembali duduk menyandar dan berusaha menenangkan diri dengan rasa sakit yang dia ciptakan sendiri. Dia benar-benar nggak peduli dengan darah yang terus mengalir.


Itu malah semakin menenangkan dirinya.


Sampai, ponselnya kembali berdering.


Sangat mengganggu dirinya.


Ia beranjak, menggeser tubuhnya dan menggapai ponsel nya di atas meja. Setelah mendapat benda yang dia mau, Zaina langsung mengangkatnya tanpa pikir panjang lagi.


/Zaina! Gimana kamu. Kamu ada di mana. Kok Ghaly gak bisa di hubungin sama sekali sih? Ya ampun Zaina. Jangan buat mommy jadi khawatir sama kamu. Ini berita ke napa bisa jadi nyerang kamu. Memangnya kamu kenal sama Restu? Dia kenapa sih? Kenapa dia keliatan benci banget sama kamu./


Tatapan Zaina menyendu.


Ia cengkram kuat ponselnya dengan gemetar.


“Mom ... kenapa ini sangat menyakitkan?” gumam Zaina dengan sangat gemetar. “Kenapa banyak banget yang nggak suka sama aku? Memangnya aku apa? Apa kehadiran aku ganggu banyak orang. Aku cuman mau hidup tenang, mom. Tapi kenap malah gini? Kenapa lagi dan lagi aku yang terus jadi korbannya.”


/Nak  ... kamu di mana? Mommy ke sana ya. Jangan sendirian. Ya ampun! Mommy beneran marah sama perempuan itu. Siapa pun yang hancurin perasaan anak mommy, mommy nggak akan terima sama sekali! Mommy nggak akan diam aja. Pokoknya kamu diem di situ dulu aja, biar mommy sama daddy ke ssana/


“Nggak mom, aku masih mau sendiri. Jangan ke sini dulu,” pinta Zaina dengan penuh harap.


/Tapi .../


“Aku cuman mau ngomong aja sama mommy. Tapi aku nggak mau ketemu dulu. Aku malu ...”


/Ngapain malu. Kami orang tua kamu. Kami malah khawatir sama kamu kalau kamu sendirian./


“Mom ... mereka jahat ya. Aku nggak kenal Restu, aku juga nggak ada niatan untuk deket sama Mahen lagi. Aku cuman  mau berteman doang. Nggak lebih. Aku juga nggak ada niatan untuk ngerebut sama sekali. Tapi kenapa dia malah ngomong kayak gitu? Aku beneran gak mau bakal begini.”


/.../


“Mereka jahat banget sama aku, ya mom. Aku salah apa. Aku ini kenapa? Kenapa mereka jahat banget sama aku. Aku beneran nggak terima sama sekali. Aku nggak tau harus apa dan bagaimana. Aku takut. Gimana kalau semua orang benci aku lagi. Gimana kalau keluarga daddy bakal hujat aku lagi dan buat hubungan daddy sama keluarganya jadi makin buruk? Aku beneran gak mau sama sekali. Aku nggak mau gini ...”


Zaina memeluk kakinya dan menatap kosong ke arah depan. Tangannya masih menggapai telepon.


“Mom ... aku mulai malu sama hidup aku sendiri. Kenapa banyak banget masalah. Pasti mommy sama daddy malu kan punya anak kayak aku. Aku makin capek sama hidup aku sendiri.”


Dan,


Detik itu juga mommy Zaina langsung  memerintah suaminya untuk menyalakan mesin mobil. Perempuan itu benar-benar khawatir sama kondisi anaknya yang kemarin baru saja jatuh dari anak tangga itu.


“MAS! Cari Zaina sekarang. Atau kita ke perusahaan sekarang juga! Aku khawatir sama anak kita.”