
Ghaly sejak tadi hanya duduk diam, melihat Zaina yang diam melamun. Benar-benar sangat memprihatinkan. Bahkan saat ini Ghaly tidak tahu harus bertindak seperti apa karena dia juga nggak kuat melihat perempuan yang dia cintai melamun seperti ini.
"Ghaly ..."
"Iya?"
"Apa aku nggak pantes sama sekali buat hidup ya?" tanya Zaina lalu tertawa kecil. "Aku tau kok ... perbuatan kita pas dulu tuh buruk banget. Aku juga nggak akan pernah tuh ngebenerin perbuatan aku. Tapi ... apa mereka harus segitu nya sama aku? aku udah diabaikan sama keluarga aku sendiri. Bahkan aku usah merasakan sakit hati karena ketikan jahat netizen pas dulu. Sampai ... aku harus rasain sakit hati banget karena kepergian anak aku ..."
"Tapi ... kenapa mereka malah sejahat itu sama aku?" tanya Zaina lagi lalu tertawa. "Aku nggak pernah jahat loh sama mereka. Aku nggak pernah balas mereka sama sekali. Aku cuman punya diri aku sendiri untuk saling nguatin. Butuh waktu berbulan-bulan untuk bisa sampai titik ini. Tapi kenapa mereka bisa segampang itu ngomong jahat sama aku?"
"Mbak ...
"Panggil aja kayak biasa," titah Zaina sambil tersenyum tipis. "Bukan jam kerja ini."
Ghaly menarik napas dalam dan memandang khawatir pada Zaina. "Kamu baik-baik aja?"
Zaina mengangguk lalu menggeleng, terus aja begitu sampai dia terkekeh dan mengangkat bahu acuh. Nggak paham sendiri sama perasaan yang sedang dia rasakan.
"Zaina, jujur aja sakit loh liatnya," ungkap Ghaly sambil duduk menyandar. Nggak lagi memandang Zaina tapi memilih melihat ke arah langit yang tampak kemerahan. "Sakit banget ngeliat kamu yang masih bisa tersenyum. Ya walaupun aku bisa lihat, kalau kamu senyum bukan sengaja atau kamu senyum juga bukan karena mau. Tapi bisa nggak sih kamu keluarin aja semua air mata itu? jangan kayak gini. Jangan nahan tangisan lagi. Sakit kan? pasti nyesek?"
Zaina menggigit bibirnya, getir. Berusaha menahan kuat air mata yang mau turun. Sampai akhirnya hanya helaan napas kasar yang keluar dari mulutnya.
"Nggak mau ... aku udah sering nangis selama ini dan beberapa waktu lalu aku baru sadar kalau mungkin anak kita pasti sedih di atas sana kalau lihat ibunya nangis terus. Jadi aku nguatin diri untuk nggak nangis!"
"Mana ada kayak begitu!"
Ghaly menggeleng.
"Maaf." Ghaly menggenggam tangan Zaina dan langsung menghela napas lega saat Zaina nggak menepisnya. "Di sini kita berdua anaknya peri mungil. Peri—
"Peri mungil?"
Ghaly mengangguk. "Panggilan yang aku buat untuk anak yang kamu kandung waktu itu."
"Woah ... bagus banget."
"Susah Ghaly ..."
"Bisa! pasti sakit kan hati kamu? kamu nggak mau nangis?" tanya Ghaly. "Ada aku ... kita orang tua Peri mungil. Kalau ada yang jahat sama kamu. Kamu bisa bagi semuanya sama aku. Jangan diem aja kayak gini. Aku beneran nggak suka liatnya. Jadi ... jangan kayak gini ya. Please ..."
Zaina menunduk. Perasaannya campur aduk. Pria yang dulu menyakiti hatinya kini malah menjadi orang yang menghibur dia. Sangat berkebalikan dengan orang yang dulu menjadi obat di lukanya, kini malah menjadi racun di hidupnya.
Zaina menggeleng dan tertawa kecil. Ia bangun sambil menyampirkan tasnya di bahu.
"Kita bicarain ini nanti lagi ya. Sekarang anterin aku ke rumah dong. Aku mau istirahat. Seketika pusing nih!" adu Zaina.
Ghaly menatap nanar dari belakang. Ghaly jelas tahu kalau Zaina hanya berpura-pura. Dia nggak mau kelihatan sedih dan selalu saja begini, Zaina akan berusaha mengalihkan perhatian.
Tapi, Ghaly tidak bisa apa-apa selain mengikuti Zaina dari belakang.
"Semuanya bakalan baik-baik aja, aku yakin. Aku nggak mau nanya kalau kamu nggak ada niatan untuk bercerita. Tapi aku cuman mau bilang kalau kamu harus buktiin sama mereka kalau kamu bukan orang yang perlu di salahkan sampai segitunya! karena kamu perempuan hebat yang masih ada di titik ini setelah semua yang kamu lewatin."
Langkah Zaina terhenti, ia tersenyum tipis saat Ghaly langsung melangkah buru-buru setelah mengatakan itu.
"Maaf Ghaly ... tapi aku nggak sekuat yang kamu kira dan maaf kalau aku malah milih jalan yang kurang baik nantinya. Tapi untuk saat ini, aku belum mau kok!"
"TUNGGUIN!" pekik Zaina pelan lalu berlari kecil sampai ia mendengar suara yang ia kenal dan langsung menoleh. Senyum di mulutnya tiba-tiba luntur saat melihat Mahen ada di sana.
Bukan Mahen yang menjadi fokus utama, tapi Mahen kelihatan sangat bahagia karena tertawa sangat lebar. Tapi bukan cuma itu. Perempuan di sampingnya. Napas Zaina memburu. Dia ... perempuan yang memancing perkataan buruk di tempat tadi.
Pandangan Zaina menyendu lalu ia menarik napas dalam.
"Pantas saja ... Mahen nggak bela aku sama sekali. Toh perempuan itu udah sama dia. Jadi, buat apa Mahen bela aku lagi."
Zaina terkejut saat matanya bersitatap sama Mahen. Beberapa detik mereka saling menatap dalam. Seolah ada yang mau mereka katakan, tapi keduanya memilih diam. Pada akhirnya Zaina hanya tersenyum sangat tipis, senyum kecut. Sebelum dia mengalihkan pandangan dan masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil Zaina hanya memandang ke arah jendela.
.../Memang seharusnya kayak gini kan? aku nggak boleh ngeharepin apa-apa lagi sama mas Mahen. Aku deketin dia buat minta maaf doang. Bukan yang lain!/...