Love In Trouble

Love In Trouble
Simulasi



Semenjak kejadian siang itu, Zaina belum sempat berhubungan lagi sama Mahen. Lebih tepatnya dia sangat khawatir akan respon Mahen untuk ke depannya. Dia bener nggak tahu apa saat ini Mahen marah pada dirinya atau tidak.


Banyak pertanyaan yang hinggap di benak perempuan itu, sampai Zaina baru sadar kalau hari ini adalah hari minggu. Yang artinya oma bakalan datang ke rumah ini untuk terus membuktikan omongan dia yang memang hanya bualan semata atau memang benar adanya.


"Ya ampun ... kalau oma memang beneran dateng. Aku harus nurutin semua omongan oma dong?" seru Zaina yang terus bolak-balik di dalam kamarnya. "Kalau memang gitu, masa iya aku harus punya hubungan sama laki-laki waktu itu? Ogah banget ... aku nikah sama laki-laki yang punya mulut gampang ngatain kayak gitu."


Zaina menggeleng kuat-kuat.


"Aish ... apa yang harus aku lakuin sekarang?"


Tok ... Tok ... Tok ... "Zaina sayang, bantu mommy bentar yuk."


Dengan cepat Zaina keluar. Ia langsung dikejutkan dengan penampilan sang mommy yang sudah memakai celemek yang penuh akan tepung. Zaina mengerutkan keningnya. "Mommy habis ngapain?" tanya Zaina dengan begitu hati hati.


"Ini loh ... mommy lagi berusaha buat kue kesukaan oma kamu. Makanya mommy mau minta tolong kamu rasain."


Zaina terhenyak dan menatap sang mommy. Sampai pandangan perempuan itu turun ke tangan mommy yang terlihat ada perban. "Ini kenapa?!" pekik Zaina sembari memegang tangan mommynya.


"Ah ini ... sedikit kena oven. Tapi nggak apa-apa. Rasa sakit tangan mommy nggak sebanding sama kebahagiaan mom karena akhirnya setelah bertahun-tahun menikah. Ini perdana banget oma kamu itu datang ke sini! Pokoknya mom beneran lagi usaha buat makanan kesukaan oma kamu. Walaupun susah, tapi mommy bakalan usaha terus. Dan juga ... mommy sengaja nggak suruh bibi buat bantu. Karena mommy pikir ini harus mommy yang usaha."


Zaina menatap miris mommy nya yang kelihatan sangat excited.


"Dan kamu tau nggak sih ... ini sama sekali nggak pernah ada di bayangan mommy sama sekali. Karena oma tuh emang sebenci itu sama mom. Kayak ... ini beneran hal luar biasa banget."


"Mommy sebahagia itu ya?" tanya Zaina.


"Tentu dong ... ini salah satu impian mommy dari lama. Dekat sama mertua. Sebenarnya, dari dulu mommy suka menyalahkan diri mommy sendiri karena belum bisa gitu merebut hati oma kamu. Mommy merasa ini salah mommy. Makanya, terkadang mom iri sama tante kamu yang bisa narik perhatian oma. Jadi ... mom beneran seneng banget. Mungkin ini salah satu langkah supaya mom bisa dekat dengan oma kamu. Semoga saja oma kamu beneran bisa berubah ya."


Zaina menggenggam tangan mommynya dan ikut tersenyum.


Ya ... Zaina berjanji akan menjaganya.


Demi bundanya.


Ia memilih menyerah untuk bertahan sama Mahen demi kebahagiaan sang mommy.


Zaina menghela napas pelan. "Aku harap mommy terus bahagia kayak gini ya. Karena aku ikutan seneng lihatnya."


***


Zaina berdiri dari lantai dua dan menatap omanya yang sedang mengobrol bersama mommynya. Sampai detik ini, Zaina masih sangat terkejut karena omanya itu benar benar menepati janji yang telah dia bicarakan.


Bukan, Zaina hanya takut kalau setelah ini omanya juga akan langsung menagih janji yang dia buat.


Sedang asyik melamun, Tiba-tiba saja Zaina tersadar karena suara tawa dari lantai bawah. Mata perempuan itu berkaca-kaca, rasanya ini pertama kalinya Zaina melihat kedekatan antara dua orang ini.


"Mom ... mommy beneran kelihatan bahagia banget ya?" gumam sang Zaina sambil tersenyum miris. "Ya ampun, aku ke mana aja. Ternyata selama ini, hanya ini yang mommy mau."


"Tapi kan ...


Sedang bingung, Tiba-tiba ponsel Zaina bergetar. Perempuan itu langsung saja menatap layar ponsel dan dunia serasa terhenti saat melihat nama Mahen yang ada di layar ponsel. Tiba-tiba saja dia beralih menatap ke arah sang mommy yang ada di bawah.


Ini, kenapa dirinya ada di simulasi yang harus memilih di antara dua pilihan.


"Jadi ... apa yang akan aku pilih nanti?"