
“Sekarang sudah aman, ternyata mantan kekasihmu yang ngelakuin ini semua. Maaf karena daddy kurang cepet menanggapinya. Tapi, daddy sudah coba menahan hate komen ke kamu. Juga ... mereka nggak akan berani lagi ngomong macem-macem sama kamu,” ucap sang daddy lalu duduk di samping anaknya. “Sekali lagi, maafin daddy karena nggak bisa jaga kamu dari awal. Harusnya daddy tahu kalau mantan kamu bukan orang yang baik.”
Zaina masih diam.
Ternyata pemikiran dia selama ini itu benar. “Beneran Ghaly, ternyata?” gumamnya pelan lalu terkekeh kecil. “Dad ... kenapa dia harus ngelakuin itu sama aku? Padahal selama ini aku udah nggak usik dia sama sekali. Kenapa dia jahat banget sama aku, padahal aku nggak pernah minta dia buat tanggung jawab. Aku biarin dia. Aku nggak marahin dia. Tapi ... kenapa Ghaly ngelakuin ini semua sama aku?”
Zaina semakin histeris. Ia memeluk tubuh daddynya, membuat Dad Zidan menggeram. Melihat putri satu-satunya yang kelihatan sangat hancur kayak gini.
“Aku nggak pernah minta ini itu sama Ghaly, dad ... tapi, ini salah aku ya?” tanya dia lalu trtawa kecil. “Memang akunya yang salah, coba dari awal aku nggak punya hubungan sama dia. Pasti, sekarang nggak bakalan ada kejadian kayak gini. Gara-gara kenal dia, semuanya jadi gini. Bahkan perusahaan daddy juga ikut-ikutan turun karena masalah ini, bukan ... tapi karena aku juga.”
“Nak ... nggak baik menyesali apa yang sudah terjadi,” nasihat daddynya sambil melepas pelukan pada anak semata wayangnya itu. “Mau berulang kali kamu menoleh ke belakang dan menyesali keputusan kamu juga nggak akan merubah fakta yang sekarang kan? Dan daddy nggak pernh ngajarin kamu untuk menyesali apa yang udah terjadi. Anggap aja semua ini sebagai pelajaran untuk kamu. Dan karena masalah ini juga, kamu jadi kuat kan?”
Dengan lirih, Zaina mengangguk.
“Daddy cuman mau tanya sama kamu, apa kamu ada hubungin dia dan ngasih tahu tentang anak kamu?” tanya dad Zidan dengan pelan-pelan
Zaina terus menunduk. Kenangan beberapa saat yang lalu membuat dia mengerang. Aish, ini mah salah drinya lagi. Ia menarik napas dalam dan semua itu nggak luput dari penglihatan daddynya.
“Ngomong aja, nak. Daddy nggak bakalan marah sama kamu ...”
“Sebenarnya, beberapa hari yang lalu tuh. Ghaly ngajak aku ketemu,” jujurnya. “Tapi ... beneran kok yah, aku mau ketemuan juga, bukan karena aku kangen sama dia atau aku yang mau ketemu dia lagi,” ucapnya dengan panik. “Aku bahkan udah nggak punya rasa apa-apa sama dia. Aku nemuin dia pure mau tanya alesan dia pergi gitu aja di hidup aku. Sama ... aku juga mau kaish tau anak ini.”
Zaina mengelus perutnya itu.
“Aku ... juga dateng sama mas Mahen kok. Dia juga tau dan dia yang jaga aku. Tapi ... aku nggak tau kalau jujurnya aku bakalan buat Ghaly berpikiran sampai sejauh ini. karena ... aku kira, dia nggak bakalan berani lagi.”
“Jadi ... kamu ngasih tau gitu sama dia tentang anak kamu?”
Zaina menunduk dan mengangguk. “Maaf dad ... aku beneran minta maaf. Aku nggak kepikiran panjang banget. Aku nggak tau kalau jujurnya aku bakal buat keadaan kayak gini. Ini salah aku juga, ini salah aku karena udah main nggak aman. Salah aku ... karena udah bohongin daddy. Aku minta maaf, karena udah nggak jujur sama daddy tentang aku yang nemuin Ghaly. Aku beneran minta maaf.”
“Nak ... untuk ke depannya kamu hat-hati ya dalam ngelakuin apa-apa.”
Zaina mengangguk dan kembali meminta maaf.
“Daddy sama sekali nggak peduli sama rekan kerja daddy yang ngambil kesempatan untuk jatohin perusahaan. Karena uang nggak ada apa-apanya di banding kamu sama mom kamu itu. Tapi ... daddy takut kalau ini malah jadi sasaran ke kalian. Jangan kan begitu ... melihat kamu yang di hina abis-abisan sama semua orang aja, udah buat daddy super sakit hati.”
Zaina semakin merasa bersalah.
“Dad ... aku minta maaf.”
“Tidak ... sudahlah, udah berlalu juga kan? Daddy juga bingung harus apa. Tapi, daddy cuman mau minta maaf sama kamu kalau daddy bakalan bersikap jahat sama mantan kekasihmu itu. Daddy akan suruh orang untuk cari keberadaan Ghaly dan kalau bisa daddy akan menghukum dia. Sesuai dengan tindakan yang udah dia lakuin.”
“Terserah daddy,” ucap Zaina dengan cepat. “Aku udah nggak ada hak sama sekali untuk melarang dan kalau memang Ghaly yang melakukan semua ini. Dia pantes mendapat hukuman dari daddy ...”
“Baiklah ... daddy mau ke ruang kerja dulu. Kamu istirahat dan jangan lupakan kalau lusa kamu harus fitting lagi dan sorenya kamu kumpul di keluarga besar Mahen. Jadi, jaga diri dan jangan sampai kamu kecapean lalu bahayain anak kamu ...”
“Ghaly ... untuk sekarang, aku sama sekali nggak bisa nolong apa-apa sama kamu. Kamu berani main-main dengan daddy aku dan sekarang rasakan akibatnya, dan aku nggak paham kenapa kamu seberani ini. Padahal kamu nggak dapet apa-apa dengan ngebagiin masalah ini ke media.”
Tatapan Zania semakin menajam seiring dengan smirk yang jelas terlihat.
“Sekarang ... kamu nggak cuman dapet balesan dari daddy aku, tapi aku juga bakalan lakuin sesuatu buat kamu. Dan ... jangan lupain kalau kamu ini sedang di awasi sama banyak orang. Aku yakin ... hidupmu nggak akan pernah tenang setelah ini!”
Zania bersenandung sambil masuk ke kamar mandi. Kini, perasaan dia jauh lebih tenang di banding sebelumnya. Dia sudah tahu, akan apa yang harus dia lakukan untuk sekarang.
***
“Eh siapa nih!”
Suara laki-laki memekik saat suara tembakan terdengar. Matanya yang di tutup membuat dia nggak bisa menerka-nerka apa yang terjadi di luaran sana. Ia hanya tahu kalau dua orang pria berbadan besar menghentikannya dan menarik paksa hingga dia duduk di satu tempat yang benar-benar sepi. Karena dia nggak mendengar suara Ghaly sama sekali.
“Ck ... apa yang sebenarnya terjadi,” gumam laki-laki itu alis Ghaly yang sangat panik. “Dan kenapa gue bisa ada di sini.”
“Siapa pun lu yang nyulik gue, lu nggak bakalan untung!” teriak Ghaly membabi buta. “Gue bukan orang kaya, gue nggak punya banyak duit, gue hidup dengan hutang gue di mana-mana. Jadi, nggak ada untungnya lu nyulik gue. Jadi, cepet lepasin gue ...”
Suara kekehan pria membuat tubuh Ghaly mematung. Ia memberontak lagi, tapi malahan tangannya terkena sayatan tali yang mengikat tubuhnya itu. Ia berusaha melepas tapi ikatannya sangat kuat, membat tubuh dia yang malahan semakin sakit jika sedikit bergerak.
“Siapa pun lu yang nyulik gue, gue kasih tau kalau gue nggak bisa dapet apa-apa. Kalau lu mau lepasin gue, gue janji bakalan kasih berapa pun yang lu mau dan lu harus tau, kalau gue punya pacar yang kaya banget. Gue bisa minta uang seberapa banyak, asal lu mau lepasin gue ...”
“Hahaha ... dan lu kira pacar lu itu mau ngaish semuanya?” balas seseorang membuat tubuh Ghaly tersentak.
“Iya ... asal lu lepasin gue,” seru Ghaly dengan semangat. “Gue bakalan kasih uang sebanyak apa pun, asal lu mau lepasin gue. Gimana? Gue tahu lu lakuin ini pasti karena ekonomi kan? Tenang aja ... nanti gue bakalan bayar berapa pun uang yang lu butuhin dan gue juga nggak bakal laporin lu ke polisi. Asal lu mau lepasin gue.”
DOR!
Peluru di hempaskan ke tembok kosong membuat Ghaly memekik. Hingga sebuah tangan merampas penutup mata dan Ghaly dibuat kaget saat melihat laki-laki yang beberapaa saat lalu bersama dengan Zaina, ada di sana. Sedang memandang dia dengan penuh amarah. Ia menelan saliva dan berusaha tertawa kecil dan menggeleng.
“Maksud lu apa, bawa-bawa nama calon istri gue dan siapa lu berhak ngomong kayak tadi di hadapan gue!” bentak Mahen membuat Ghaly memejamkan mata.
“Lu—
“Iya ... gue, calon suami ZAINA!” ucap Mahen dengan marah. “Gue datang ke sini karena mau ngomong empat mata sama orang yang udah buat nama calon istri gue jadi buruk di mata semua orang.”
Mahen melangkah mendekati Ghaly, membuat laki-laki itu menelan saliva dan sedikit mundur.
“Lu tau ... lu salah besar karena udah main-main sama Zaina. Karena sekarang, bukan cuman bokapnya Zaina doang yang bakal lakuin sesuatu sama lu. Tapi gue juga bakal lakuin sesuatu sama lu dan gue yakin lu benci dapetin ini semua.”
“Tapi ...”
“Dan, gue di kenal sebagai pengusaha berdarah dingin bukan karena bualan doang,” seru Mahen lalu mendekati Ghaly. “Gue dipanggil begitu, karena ... gue paling nggak suka keluarga gue di senggol dan siapa pun yang main-main sama keluarga gue. Gue nggak akan segan buat b.u.n.u.h dia,” bisik Mahen di telingat Ghaly hingga tubuh di depan Mahen itu tersentak dan bergetar bukan main ...