Love In Trouble

Love In Trouble
39 - Memperburuk Keadaan



Drrt ... Drrt ...


Zaina mengerang. Paginya benar-benar buruk, harus mendengar dering telepon yang tak berhenti sejak tadi. Ia menarik bantal dan menutup telinganya. Tak lama suara dering telepon itu berhenti membuatnya menghela napas lega.  Tak berselang lama, ponselnya kembali berdering membuat Zaina berteriak frustasi dan langsung bangun.


“Aish ... siapa sih,” marahnya merampas ponsel yang ada di atas nakas.


“Mommy?”


Buru-buru Zaina mengangkatnya.


“Kenapa mom?” tanya Zaina dengan malas. “Mommy tahu kan kalau aku lagi nggak mau di ganggu. Kalau mommy mau nanya kabar aku, tenang aja ... aku baik-baik aja di sini. Tapi aku masih nggak mau pulang. Aku masih betah di sini!” seru Zaina


“ZAINA! Tidak ... mommy tidak mau bertanya tentang itu. Mommy cuman mau nanya tentang kamu. Kamu ada ketemu sama Ghaly di sana?” tanya mommy Nadya dengan memburu


“Hah? Mommy tahu dari mana?”


“Ya ampun, nak ... kenapa kamu nggak hati-hati dan kenapa kamu nggak kasih tahu mommy atau daddy tentang hal ini? kamu udah lihat berita belum ... semua penuh sama berita kamu!”


“Hah? Maksud mommy tuh kayak gimana ...”


“Bagus deh kalau kamu belum lihat berita! Intinya ada yang nyebarin foto kamu sama Ghaly. Di sana kalian keliatan dekat sekali dan judul beritanya tuh benar-benar merugikan kamu. Alias ada yang tahu siapa Ghaly yang sebenarnya ..”


“Mom?” kaget Zaina


“Makanya mommy juga nggak paham, apa yang sebenarnya terjadi di sini dan kenapa mereka pada tahu tentang Ghaly? Kamu juga kenapa nggak hati-hati, nak. Udah tahu keadaan lagi nggak kondusif. Kenapa kamu masih deket sama Ghaly? Ya ampun, nak ... mommy khawatir banget sama kamu!”


“Maaf mom ...,” sesal Zaina yang masih memikirkan apa yang sedang terjadi. “Aku nggak tahu sama sekali kalau akhirnya bakalan begini. Kemarin ... aku cuman nggak sengaja ketemu sama Ghaly. Kita ngobrol biasa. Nggak bahas masa lalu sama sekali. Kita udah sepakat jadi teman aja. Nggak lebih, tapi ... aku nggak tahu kalau bakalan begini. Aku juga baru bangun .... nggak tahu apa yang lagi terjadi di sini.”


“Ya sudah ... tarik napas, hembuskan ... tenang, jangan panik. Bagus kalau kamu memang belum baca berita itu. Sekarang kamu taruh ponsel kamu jauh-jauh dan nggak usah lihat apa yang seharusnya nggak kamu lihat ... cukup diam di sana. Daddy lagi dalam perjalanan ke sana. Jangan keluar sama sekali!”


“Ta— tapi mom.”


“Kalau kamu sayang sama mommy. Kamu bakal lakuin apa yang mommy minta. Karena ini udah berurusan sama masalah kamu!”


Tut ... Tut ... Tut ...


Zaina mengerang saat panggilan telepon terhenti, baterai ponselnya ternyata habis. Langsung saja, ia mencari charger dan buru-buru mencharger ponselnya.


“Ya ampun ... apa yang sebenarnya terjadi,” pekik Zaina sambil mengerang kecil. “Ada apa ini? kenapa suara mommy keliatan panik banget.”


Zaina memilih diam. Ia nggak berani mendekati ponselnya. Ia juga nggak berniat untuk menyalakan televisi untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Yang dia lakukan hanya lah terus berdoa dan menanti kedatangan daddynya.


***


“DADDY!”


Daddy Zidan langsung merengkuh anaknya. “Ssst ... okei, sekarang udah ada daddy. Semuanya bakalan baik-baik aja. Kamu udah aman. Nggak usah nangis. Nanti anak kamu ikut kesakitan di dalam sana. Mendingan, sekarang kamu rapihin semua barang kamu dan kita kembali ke rumah.”


“Dad ... apa yang sebenarnya terjadi?” tanya perempuan itu. “Aku masih nggak paham. Apa yang sebenernya terjadi? Ghaly? Emangnya ada apa antara aku sama Ghaly? Dan kenapa mommy larang aku buat buka HP. Aku kan jadi takut ... aku nggak mau nentang omongan mommy sama daddy lagi.”


“Kamu belum tahu?”


Zaina menggeleng.


Daddy Zidan menatap sendu anaknya. Digandengnya lengan Zaina seraya mereka duduk beriringan di salah satu sofa panjang di sana. Zaina hanya diam, menunggu daddynya berbicara tapi daddynya hanya menatap dia.


“Dad ... aku nggak suka tatapan itu. Aku paling nggak suka di kasihani kayak gini,” seru Zaina. “Udah ... daddy nggak usha mikirin perasaan aku. Aku penasaran banget apa yang sebenarnya terjadi ... aku mau tahu, kenapa mommy kedengaran panik banget dan daddy sampai inisiatif buat pergi ke sini.”


Daddy Zidan menghela napas.


“Jadi, nak ... sepertinya ada yang mebuntuti kamu sampai ke sini?”


“Membuntuti?” heran Zaina lalu menunjuk dirinya sendiri. “Aku? Hahaha ... daddy bercanda aja. Siapa yang mau mengikuti aku? Kurang kerjaan banget. Memangnya aku siapa ... aku bukan orang terkenal yang masuk sana sini ke stasiun televisi. Jadi, mana mungkin ada yang ngikutin aku.”


“Tapi kenyataannya kayak gitu ...”


Zaina terhenyak.


“Buat apa?” ucapnya pelan. “Kenapa aku?”


“Daddy juga nggak paham maksud dia mengikuti kamu tuh untuk apa. Tapi orang yang mengikuti kamu merasa aji mumpung pas lihat kamu bareng laki-laki lain. Dan tanpa pikir panjang dia langsung membuat berita tentang perselingkuhan kamu sama laki-laki itu alias Ghaly.”


“Kok bisa?” tanya Zaina. Ia menggeleng tak percaya lalu tertawa remeh. “Daddy jangan bercanda ah. Nggak lucu sama sekali!”


“Daddy lagi panik loh Zaina ... daddy nggak bercanda sama sekali. Bahkan sekarang daddy mau marah sama kamu. Kenapa bisa-bisanya kamu ngobrol santai sama laki-laki yang udah nyakitin kamu! Daddy maafin dia, bukan berarti kamu bisa bebas ngobrol sama dia. Tapi, mau gimana lagi kan? Daddy marah juga nggak mengembalikan ke awal kan? Nggak buat berita itu menghilang? Jadi ... mendingan, sekarang kamu ikuti daddy. Kita pulang!”


“Tapi dad—


“Jangan bantah Zaina!” tegas daddy Zidan.


Zaina tersentak. Ini pertama kali ia dibentak sama daddynya. Dengan pikiran kalut Zaina langsung kembali ke kamarnya dan memasukkan semua pakaian ke dalam tas besar. Zaina masih nggak pikir panjang sampai dia sadar dan mulai paham sama apa yang sedang terjadi dengannya.


“Jadi ... lagi dan lagi aku pembuat onar?” ucapnya dengan suara gemetar. “Kenapa aku bodoh banget!” Zaina memukul dadanya yang sangat sesak. “Kenapa setelah semua dosa yang aku buat, aku masih aja ngebuat orang tua aku jadi kewalahan karena aku ...”


Zaina menunduk. Air matanya mulai turun. Ia mengepalkan tangan, menangis dalam diam.


“Bodoh ... aku benar-benar bodoh. Nggak seharusnya aku bertingkah kayak gini. Nggak seharusnya aku nyusahin lagi. Ya ampun ... bukannya mengurangi masalah. Aku malah nambah masalah kayak gini.”


Zaina memukul pahanya, terus menyakiti dirinya. Berusaha menghilangkan rasa sesak yang menyelimuti hati dia.


“ZAINA!” panggil daddy Zidan membuat Zaina langsung terkesiap. “Cepetan! Kita nggak ada waktu lagi,” serunya


“Iya dad .."