
Zaina menatap layar laptop dan tertawa kecil. Kini dia mengetahui perbedaan psikolog dan psikiater. Sejak kemarin dia, masih penasaran kenapa orang tuanya membawa dia ke psikiater yang setahu Zaina tingkatannya jauh di atas psikolog dan setelah membaca di salah satu jurnal dia semakin tahu, kalau memang ada yang nggak beres sama dirinya itu.
“Jadi ... bisa aku ambil kesimpulan kalau psikolog itu dokter yang mendengar curhatan pasien, kurang jauh kayak gitu deh. Belum terlalu kompleks. Tapi kalau psikiater udah memiliki kaitan sama kejiwaan dan jauh lebih kompleks.”
Zaina memajukan bibir bawahnya.
“Ternyata memang diri aku nggak sebaik itu ya.”
Panggilan dari mommy di lantai bawah membuat Zaina langsung menoleh dan menjawabnya sembari meminta mommy nya untuk menunggu sebentar. Dengan cepat, perempuan itu menutup laptop dan masuk ke ruang ganti. Ia kenakan one set miliknya, tanpa berdandan sama sekali. Perempuan itu turun ke lantai bawah.
“Mommy ... janji sama dokternya kapan sih? Kalau aku mau pergi ke suatu tempat dulu boleh nggak?” tanya Zaina sambil menenggak pil yang udah di sediakan sama mommy nya. “Udah lama banget, soalnya ... dan aku rasa, aku bakalan jauh lebih tenang kalau nyempatin diri buat pergi ke sini dulu.”
“Memangnya kamu mau ke mana?”
Mommy Nadya mengambil syal dan menutupi leher anaknya sampai ke arah mulutnya dan tak lupa meminta Zaina untuk memakai masker karena di depan sana masih banyak awak media yang menunggu. “Kamu pakai ya ... nanti kalau udah di mobil, baru lepas. Oh iya, tadi kamu mau ke mana?” mommy Nadya melirik ke arah jam. “Masih ada waktu sih kalau kamu mau pergi dulu. Memangnya kamu mau ke mana?”
“Ke makam anak aku ... udah lama mom, aku nggak ke sana.”
Mommy Nadya sempat tertegun sebelum mengacak rambut anaknya. “Kita ke sana ...”
Zaina memekik dan langsung mengucapkan terima kasih karena mommy Nadya memberi izin untuk mendatangi makam anaknya. Akhirnya Zaina akan bertemu sama kebahagiaan dia selama ini. Zaina jadi nggak sabar sama sekali.
Dengan cepat, dia membereskan semuanya dan langsung pergi.
“Kalau denger teriakan para wartawan, kamu cukup abaiin aja. Kita langsung masuk ke dalam mobil. Cukup itu.” Mommy Nadya menarik napas dalam. “Itu lagunya sudah nyala?” tanya Mommy Nadya saat melihat anaknya sudah mengenakan headphone.
Zaina mengangguk.
“Seperti kata mommy, udah terpasang kok.”
Mereka sudah berdiri di depan pintu. Mommy Nadya menggenggam erat tangan anaknya sebelum mereka kenakan kaca mata hitam dan beranjak keluar. Benar saja, keadaan langsung ricuh. Banyak wartawan yang langsung memotret mereka dan meminta mommy Nadya sama Zaina untuk mendekat.
Tapi semua itu diabaikan sama kedua perempuan itu, mommy Nadya langsung memaksa Zaina untuk masuk ke dalam mobil sebelum mereka benar-benar sudah berada di dalam mobil dan supir langsung mengunci pintu mobil dari dalam. Membiarkan para penjaga yang memaksa wartawan untuk meminggir karena mobil mau lewat.
Mata Zaina menatap satu per satu wartawan yang dia lewati.
Rasanya ...
Semenjak masalah ini datang, Zaina sangat membenci orang yang mengorek privasinya dan salah satunya adalah mereka. Wartawan. Zaina tahu kok, perempuan itu tahu kalau ini memang pekerjaan mereka. Jadi, mereka harus melakukan ini. Tapi ... terkadang Zaina benar-benar benci sama mereka yang udah jahat sama dirinya.
Ia tersenyum sangat tipis sebelum genggaman tangan mommy nya menyapa lembut telapak tangannya.
“Abaikan saja mereka, mereka nggak akan bisa mendekati kita. Kamu cukup fokus aja sama kegiatan kamu selanjutnya. Kamu mau ke makam dulu kan?”
Zaina mengangguk.
“Pak ... kita ke makam cucu saya dulu ya.”
“Baik nona,” jawab sang supir
***
Langkah Zaina terhenti saat melihat Mahen sedang berlutut di samping makam anaknya. Ia menatap datar pada pria itu lalu, Zaina meminta mommy Nadya untuk berhenti melangkah mendekati Mahen yang belum sadar sama keberadaan mereka.
“Mom ... aku boleh minta waktu berdua sama Mahen?” tanya Zaina
Mommy Nadya menatap bergantian pada mereka berdua sebelum akhirnya mengangguk. Saat itu, mereka sempat bertemu sama sekali dan mungkin saat ini takdir membawa mereka untuk bertemu kembali. Jadi, mommy Nadya menyerahkan buket bunga yang tadi dia pegang dan meminta Zaina untuk menghampiri Mahen.
“Jangan salahkan pria itu,” nasihat mommy Nadya sambil menepuk punggung anaknya. “Karena ada yang kamu tidak tahu, dia hanya terpaksa melakukan seperti ini.”
“Mommy tidak bisa menjelaskan lebih lanjut, biarkan dia sendiri yang menjelaskan ke kamu.”
Zaina hanya mengangguk, walau dia juga bingung apa yang sedang terjadi di sana. Ia melihat mommy Nadya yang kembali masuk ke dalam mobilnya, membuat Zaina kembali mendekati ke arah makam anaknya. Mahen masih terlihat sangat serius sambil sesekali mengusap nisan anaknya. Zaina melangkah dengan pelan. Suara sepatu yang beradu dengan daun kering buat Mahen akhirnya tersadar kalau ada seseorang juga di sana.
Ia mendongak dan terkesiap saat melihat Zaina sudah berdiri di dekat dirinya.
“Zaina ...” panggil Mahen dan buru-buru berdiri.
“Kamu di sini?” tanya Zaina sambil melirik ke arah makam. “Aku kira kamu udah lupa sama anak aku. Aku beneran kaget banget, karena kamu masih datang ke sini.”
“Apa aku kelihatan sejahat itu di mata kamu?” tanya Mahen sambil kembali berlutut dan Zaina mengikutinya. “Aku tidak sejahat itu, dan ... walau kamu cuman masa lalu aku. Aku pernah punya janji sama putri kecil di sini dan aku nggak akan pernah ingkar sama sekali. Jadi, aku pasti akan selalu datang ke sini. Ada kamu maupun nggak ada kamu. Mau kita dekat atau enggak, aku bakalan tetap datang ke sini.”
Zaina mengigit bibir bawahnya.
“Maaf, sudah menuduhmu yang tidak-tidak.”
“Tidak ... aku paham sama apa yang ada di pikiran kamu,” ucap Mahen mencoba memaklumi Zaina. “Dan ... bagaimana keadaan kamu?” tanya Mahen setelah beberapa saat diam. “Maaf ...”
“Kenapa minta maaf?”
“Maaf karena kelakuan Restu, kamu harus melewati semua ini sendirian. Maaf karena aku yang terlalu pecundang dan nggak pernah bisa datang menemui kamu. Aku beneran minta maaf banget karena udah jadi orang pecundang di hidup kamu.”
Zaina menggeleng.
“Aku baik-baik saja.”
“Bohong ...”
Hati Zaina mencelos saat mendengar seruan dari Mahen. Ia menunduk sambil menebar kelopak bunga di makam anaknya. Ia tidak sanggup berkata-kata, selain terus menghela napas dengan kasar.
“Gimana aku bisa percaya kalau kamu baik-baik aja, tapi di sisi lain tangan kamu masih penuh luka kayak gini?” seru Mahen sambil merampas tangan Zaina dan menunjuk pergelangan tangan perempuan itu yang penuh dengan luka. “Kamu masih melakukan ini? bukannya aku udah bilang berulang kali, kalau hal ini sama sekali nggak baik?!”
Zaina menarik lengannya dan menyembunyikan di balik tubuhnya.
“Zaina ... aku bahkan nggak pernah memikirkan ke arah sana lagi. Karena yang aku tahu, kamu itu udah ninggalin hal ini. Tapi apa? ternyata kamu masih ngelakuin hal yang nyakitin kamu. Kan berulang kali aku bilang kalau jangan pernah lukain diri kamu kalau lagi sedih. Ada aku, ada orang di sekeliling kamu yang akan menjadi tempat cerita.”
Mahen menggeram marah.
Marah pada dirinya sendiri karena tahu Zaina melakukan hal ini untuk yang kesekian kalinya.
Dulu ...
Dia juga pernah melihat Zaina di kondisi yang sama. Bedanya saat itu, Mahen yang memergoki sendiri saat tangan Zaina berdarah karena ulah perempuan itu sendiri dan sekarang dia malah melihat yang seperti ini?
“Zaina ... ya ampun, kalau gini yang ada aku kecewa loh sama kamu. Bukannya kamu udah janji sama aku kalau nggak akan ngelakuin ini lagi? Tapi ... kenapa malah di ulang lagi?”
“Mahen ...”
“Hmm?”
“Jangan sok deket lagi deh sama aku,” jawaban yang di luar nalar Mahen. “Kamu dulu memang deket sama aku dan aku bakalan ikutin semua kemauan kamu. Tapi? Sekarang kita hanya lah orang asing. Karena kamu sendiri yang bikin kita jadi asing gini dan kalau kita udah nggak deket kayak gini. Apa masih ada hak lagi untuk aku buat ikutin semua yang kamu mau?”
Mahen sangat spechleess mendengar penuturan Zaina.
“Tapi—
“Mahen ... maaf kalau ini menyakiti kamu. Tapi kamu sendiri kan yang menjauh dari aku? Kamu sendiri yang buat aku mikir kalau kamu nggak mau deket-deket sama aku. Bahkan pas aku dulu minta kamu buat kembali! Tapi kamu yang maksa aku buat jauh-jauh! Karena kita yang bisa kembali kayak dulu!” pekik Zaina dengan napas memburu