
Pagi menjelang siang, matahari cukup terik dan hangat saat menyapa kulit. Zaina berjalan di atas pasir, di tepi pantai dengan laut biru. Hari ini ia sengaja memakau dress biru bercorak bunga untuk menutupi perutnya. Jangan lupakan kaca mata merah mudah yang menghalau sinar matahari dari matanya. Kaki telanjangnya tenggelam ketika air laut naik, dengan matanya yang terus mengedar, zaina berusaha menikmati alam sekitar serta beberapa pasangan yang sedang bersanda gurau.
Zaina merasa ia butuh waktu untuk dirinya sendiri. Memutuskan untuk berlibur seorang diri di salah satu pantai. Jujur saja, Zaina pergi tanpa izin sama sekali dari keluarganya.
Beberapa masalah yang datang, menurutnya sangat tidak masuk akal. Tapi ia tetap sakit hati. Hatinya benar-benar nggak bisa merelakan itu semua.
Selesai berjalan selama kurang lebih sepuluh menit, Zaina memilih untuk beristirahat. Berbaring di atas kursi pantai khusus dengan payung besar di atasnya. Meja kecil di sebelah kursinya sudah tersedia sepotong cake dan segelas minuman dingin.
Zaina benar-benar menghabiskan waktunya sendiri. Dia berusaha menutupi kekosongan hati yang nggak biasa ini.
Perempuan itu kembali mengedarkan pandangan. Sedikit tersenyum pilu melihat orang yang kelihatan sangat bahagia. Berbanding terbalik dengan dirinya yang benar-benar sangat sendu. Bahkan matanya sangat sembab. Dia nggak paham sudah berapa kali dia menangis. Dia terus-terusana meratapi nasibnya.
Huft ...
Drrt ... Drrt ...
Zaina melirik meja kecil di sebelahnya, melepas kaca matanya lalu mendudukkan diri. Ia meraih ponselnya yang berkedip. Menampilkan nama Mahen.
“Ah ... bullshit. Udah beberapa hari berlalu tapi mas Mahen baru aja berani nelepon. Kemana dia pas beberapa bulan yang lalu? Nggak ada kan ... dia beneran nggak peduli sama sekali sama perasaan aku. Dia cuman mikir keegoisannya doang.”
Akhirnya Zaina membiarkan ponsel itu, ia kembali menarik napas dalam. Menikmati angin yang begitu kencang menyelimuti dirinya.
“Aku bahkan nggak ada kesiapan untuk datang ke sini dan berita itu?”
Zaina tertawa lirih.
Karena sebelum liburan, Zaina melihat berita yang dikeluarkan dari keluarga Mahen. Keluarga itu menyangkal semuanya dan memilih untuk memundurkan selama satu bulan pernikahan mereka. Ya ... mereka melakukannya tanpa pembicaraan antar dua keluarga sama sekali. Hati Zaina semakin sakit membaca itu.
“Kan ... kalau memang mau mundurin, harusnya mereka bisa datang ke rumah aku dan ngomong secara langsung. Bukannya gini. Mereka melakukan apa yang mereka mau. Tanpa mikirin perasaan aku sama sekali. Aku beneran nggak peduli lagi deh sama apa yang mau mereka lakuin lagi. Aku udah muak.”
“Zaina?”
Zaina menoleh dan terkejut. “Ghaly?” serunya langsung saja berdiri. “Lu di sini?” ucapnya sambil melangkah mundur saat Ghaly mendekati dirinya.
“Gue yang harusnya tanya, kenapa lu bisa ada di sini?” tanya Ghaly lalu langsung duduk di sebelah Zaina setelah perempuan itu memberi izin. “Oh iya .. gimana kabar lu? Dan— gimana kabar kandungan lu? Yang ... anak gue,” ucapnya terbata sambil melirik ke perut Zaina
Dia bisa melihatnya.
“Ternyata udah semakin membesar ya.”
“Jangan macam-macam!” potong Zaina sambil memeluk perutnya.
Ghaly tersenyum dan mengalihkan pandangan. “Tenang aja ... gue nggak bakalan macem-macem kok. Toh, gue udah janji sama orang tua lu. Ini aja gue kaget karena bisa ketemu lu di sini. Tadinya, gue lagi lewat sekalian antar barang pesanan orang. Tapi dari jauh gue lihat lu. Ya gue mastiin aja deh. Itu beneran atau nggak. Ternyata beneran, kalau ini lu ... ya gue samperin deh.”
“Tapi—
Ghaly menggeleng, tangannya bergerak di udara. “Tenang aja ... gue nggak ada niatan buruk sama lu kok. Gue nemuin lu cuman mau nanya kabar doang. Tapi, kalau lu nggak nyaman. Gue janji bakalan pergi dari sini kok. Beneran deh ...”
“Hahaha, santai aja,” ucap Zaina pada akhirnya membuat Ghaly kembali duduk dengan nyaman dan berterima kasih.
“Jadi ... gimana kabar lu?”
Zaina tersenyum lirih. “Kayaknya tanpa lu nanya kabar gue, harusnya lu udah paham sih sama apa yang sedang terjadi. Jadi, tanpa nanya juga. Lu harusnya udah tahu.”
Ghaly terdiam dan menunduk.
Dua orang itu sama sekali nggak mengatakan apa-apa, selain memilih diam. Terutama Zaina. Perempuan itu hanya terus menanggapi saja. nggak terlalu bergairah akan kedatangan Ghaly. Bahkan dia juga nggak bisa berpikiran macam-macam. Wong, pikirannya ada jauh di sana. Ia masih memikirkan masalah ini.
“Jadi, masalah itu benar?” tanya Ghaly membuat Zaina mengalihkan pandangan.
“Hmm ...”
“Lu ... baik-baik aja?” tanya Ghaly dengan pelan
“Ya harusnya lu sadar sih, kenapa gue ada di sini,” sarkas Zaina lalu mendengus. “Gue mau pergi dari semua masalah itu dan nikmatin kesendirian. Ya ... walaupun setelah ada di sini juga. Masalah itu terus menghantui gue. Jadi, nggak ada bedanya mau gue liburan atau enggak. Karena gue masih ngerasain semua itu.”
“Ya ampun Zaina ...”
“Nggak usah kasihani gue. Gue cuman mau cerita doang,” ucap Zaina dengan cepat. “Jadi gimana kabar lu?” tanya Zaina pada akhirnya. “Dan gue juga belum sempet minta maaf. Maafin gue ya atas tingkah daddy sama mas Mahen. Pasti mereka udah nyulitin lu banget.”
Ghaly menggeleng.
“Gue nggak masalah sama sekali,” seru Ghaly dengan cepat. “Malahan gue yang harusnya berterima kasih sama mereka. Karena mereka nggak pernah macem-macem sama gue. Mereka lepasin gue gitu aja. Mereka baik banget. Padahal, kalau mereka sadar. Harusnya tahu kalau lepasin gue bukanlah jalan yang terbaik karena lu bisa bebas gitu aja.”
Zaina mengendikan bahu.
“Gue cuman nggak mau menambah masalah doang. Jadi ya gue suruh lepasin lu. Toh, selama lu nggak ganggu gue juga. Gue nggak masalah sama sekali. Gue malahan seneng banget kalau kita bisa hidup bebas tanpa harus ada tekanan lagi. Gue yang nggak perlu merasa tertekan karena lu, karena nggak pernah lihat lu terus dan lu nggak perlu merasa tertekan sama gua karena harus tanggung jawab sama anak ini.”
“Ah iya ... gue juga mau minta maaf banget atas perbuatan gue di masa lalu, termasuk ambil keperawanan lu sampai hadirnya anak itu. Gue beneran minta maaf banget. Gue nggak ada maksud untuk kayak gini ... tapi gue beneran berterima kasih banyak banget sama kamu karena kamu nggak ada niatan untuk bunuh anak itu.”
Zaina tersenyum tipis.
“Gue udah berdosa karena ngelakuin hal itu dan gue nggak mau menambah dosa karena jadi pembunuh atas anak gue. Jadi, gue harus nerima dia kan dengan baik? Dan sekarang tugas gue hanyalah jadi orang tua yang baik. Supaya anak gue maafin perbuatan gue dan nggak malu atas perbuatan kita di masa lalu.”
“...”
“Ghaly ... tapi, kita yang ngobrol kayak gini. Nggak menutup kemungkinan kalau gue masih benci ya sama lu. Gue masih benci semuanya. Gue masih benci karena perbuatan nggak berdasr lu. Gue masih benci fakta lu yang malah kabur gitu aja dan nggak tanggung jawab sama sekali. Gue beneran marah banget ...”
“Iya ... gue minta maaf.”
“Gue mau ngobrol kayak gini juga karena pikiran gue lagi kacau banget dan kayaknya dengan ngobrol sebentar. Semuanya bakalan baik-baik aja, seenggaknya gue bisa lepasin sebntar masalah gue dan nggak akan mikirin dulu.”
Mereka kembali diam.
Zaina sibuk mengambil cake yang ada di atas meja dan memakannya. Ia melamun dan memandang desiran air yang menyapu pasar pantai.
Nggak pernah ia duga, ia akan ada di sini untuk waktunya yang sekarang.
Kan,
Harusnya dia sedang berdebar di rumah menunggu waktu pernikahan mereka. Tapi nyatanya takdir masih mempermainkan mereka dan masalah kembali datang. Semuanya semudah membalikkan telapak tangan dan membuat Zaina sungguh merasa hancur.
“Zaina,” panggil Ghaly membuat dia menolah. Zaina enggan menjawab.
“Kalau ... dia ngelakuin yang jahat lagi sama lu. Apa yang bakal lu lakuin?” tanya Ghaly dengan hati-hati. “Apa gue bisa kembali sama lu?” tanyanya lagi.
Zaina tertawa dan menggeleng.
“Jangan sebut gue Zaina, kalau gue mau kembali sama orang yang udah nyakitin gue,” jawab Zaina memohok hati Ghaly.
Ghaly langsung mengangguk. Ya dia sadar kalau dirinya sudah melakukan kesalahan. Bukan kesalahan kecil lagi, tapi kesalahan super besar yang nggak segampang itu untuk di maafkan. Ghaly sama sekali nggak marah mendengar semua itu karena dirinya sadar memang sudah sangat salah.
Dia hanya menunduk, meratapi semua perbuatan buruknya di masa lalu.
Ia kembali mengenang kebersamaan dirinya bersama Zaina, bahkan kebaikan Zaina yang begitu cinta mati sama dirinya. Tapi, karena kesalahan dirinya. Ia malah melukai harga diri Zaina sampai membuat perempuan itu enggan untuk memaafkan dirinya lagi.
Ya, itulah hidup.
Ghaly sadar. Kalau harusnya dulu dia bisa bersikap baik karena udah mendapat apa yang dia mau. Bukannya malah sombong dan berbuat hal jahat dan mendapatkan akibat kayak gini.
“Jadi ... nggak ada kesempatan sama sekali ya?”
“Sayangnya begitu ...”
“Termasuk laki-laki itu?”
Zaina terdiam. Setelah beberapa saat dia mengendikan bahu. “Dia— aku— ah, intinya aku masih belum paham sama apa yang terjadi. Aku cuman masih kecewa doang. Aku masih cari tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini. Sampai ya menenangkan diri. Setelah agak tenang. Mungkin aku bakalan balik dan cari tahu apa yang sebenarnya terjadi di sana ...”
“Hmm gitu ya.”
Ghaly kecewa. Berarti Zaina hanya nggak akan memberi kesempatan pada dirinya.
“Tapi ... apa pun keputusan yang kamu buat. Aku beneran berharap untuk jaga anak kita dengan baik. Aku harap anak kita bisa mendapat kebahagiaan di hidup kamu karena dia bisa hidup bersama perempuan yang selembut kamu. Dia bisa bertemu sama perempuan yang udah mempertahanin dia.”
Zaina tersenyum tipis dan mengusap perutnya.
Ah, anaknya tercinta. Anaknya yang kadang masih dia salahkan kalau lagi terpuruk. Ah, Zaina jadi merasa bersalah gini.
Dengan tatapan pasti, Zaina menatap pada Ghaly.
“Lu tenang aja ... mau gue nikah sama Mahen atau enggak. Atau gimana akhirnya, sampai takdir membawa gue pergi ke mana. Gue bakalan jaga anak ini dengan baik. Gue janji bakalan buat anak ini bahagia dengan hidupnya. Walaupun pada akhirnya, gue nggak menikah secepat ini. gue bakal pastiin anak aku bakalan terpenuhi kasih sayangnya.”
Ghaly mengangguk.
“Ya ... gue nggak meragukan itu lagi. Gue yakin kalau lu bisa lewatin ini semua. Jadi, gue beneran makasih banyak sama lu.”
“Nggak perlu berterima kasih karena ini udah tanggung jawab gue dan pilihan gue. Jadi ... ya lu nggak perlu mikirin apa-apa lagi. Karena ini anak akan selalu ada di sisi gue. Gue bakalan pastiin dia bahagia, apa pun yang terjadi— UHUK!”
“Eh kenapa?” panik Ghaly.
Zaina meraih gelas di atas meja dan menghela napas kasar saat melihat isinya kosong. Ghaly yang tahu langsung saja beranjak membeli minuman. Tak lama Ghaly kembali dan menyodorkan sebotol air putih.
“Nih minuman ...”
“Makasih,” ucap Zaina langsung menenggak minuman tersebut dan menghela napas lega saat tenggorokannya jauh lebih lega ketimbang tadi.
“Oh iya ... ini kalau gue sama lu kayak gini, nggak bakalan ada yang marah kan?” canda Ghaly
“Siapa yang mau marah? Toh ... orangnya juga lagi sibuk sama perempuan lain.” Zaina hanya bisa sarkas saja. “Ah lu mah ... gue jadi inget lagi kan sama masalah gue. Lu kenapa malah bahas itu lagi sih,” seru Zaina dengan kesal.
“Ya sorry ... gue nggak ada maksud,” balas Ghaly dengan memelas. “Takutnya emang ada yang marah kan? Gue takut aja, malah lu yang kena. Gue nggak mau. Gue nggak mau lagi kalau keberadaan gue malahan buat orang tersiksa lagi. Udah cukup selama ini gue jadi beban banyak orang ... gue nggak mau lagi.”
“...”
“Dari kejadian ini, bahkan gue nggak berani ngedeket lagi sama perempuan mana pun. Kayak yang gue juga nggak mau ada korban lain selain lu. Udah cukup lu yang gue lukain.”
“Ya enggak gitu dong,” balas Zaina yang nggak suka. “Walaupun gue benci sama lu. Gue juga mau kalau lu bisa hidup bebas di luaran sana. Jangan tergantung sama gue. Kesalahan yang lu lakuin ke gue, jadiin pembelajaran buat lu. Biar lu nggak lakuin hal yang sama ke perempuan mana pun.”
“Tapi—
“Ghaly ... kesalahan kita di masa lalu biarlah jadi kenangan kita. Dan kita bisa mulai hidup bebas lagi dengan awal yang baru. Gue udah mulai hidup dengan awal yang baru dan lupain semuanya. Masa lu mau terdiam di satu titik doang sih.”
“Bukannya gitu ...”
“Kita jalanin lagi sebagai temen ya. biar lu nggak terlalu ngerasa bersalah lagi dan setelah ini. Lu bisa bebas milih jalan hidup lu sendiri tanpa sangkut pautin sama gue. Gue nggak mau jadi alesan lu gini. Kita salah, kita berdosa. Tapi dunia tetep berjalan. Jadi, jangan pernah terdiam di satu titik. Kita harus tetep melangkah setelah intropeksi.”
"Ah, makasih banyak. Seenggaknya gue jauh lebih lega setelah lu ngomong kayak gitu. Makasih ya Zaina karena udah merendahkan diri untuk memaafkan semua kesalahan gue."
Keduanya benar-benar kelihatan sangat dekat,
Sampai tanpa sadar ada yang foto mereka berdua dan kembali membuat suasana jadi semakin memanas.