
Zaina diam mendengar usulan sang daddy. Ia memikirkan kemungkinan yang akan terjadi kalau dia menerima atau menolak usulan sang daddy. Ia menatap daddy nya kembali dengan serius.
“Memangnya masih ada yang mau sama aku setelah banyak berita buruk yang keluar tentang aku?” tanya Zaina yang memandang buruk dirinya juga. “Dulu mungkin masih ada laki-laki baik yang mau nerima aku ya cuman Mahen. Tapi emang selain Mahen masih ada yang baik gitu?”
“Ya bakal daddy cari tau dulu dong,” jawab daddy nya membuat Zaina mendengus.
Perempuan itu kira daddy nya sudah menemukannya dan tinggal langsung memberi tahu ke dirinya. Lagi pula dirinya belum siap menerima laki-laki lain dulu di hidup nya. Dia juga nggak mau hidup di kekang sama laki-laki asing yang baru memasuki hidupnya.
“Ah ... nggak mau ah dad, aku belum siap sama sekali. Aku masih nggak mau deket sama laki-laki lain. Aku mau sama daddy terus mommy dulu.”
Mommy Nadya mencibir.
“Emang kamunya aja yang males.”
Zaina tertawa dan menggeleng.
“Bukannya males, mom. Aku masih males mulai semua dari awal. Harus kasih tau semuanya dari awal. Aku nggak ada kekuatan buat mulai gitu. Nggak ah. Buat sekarang masih enggak. Aku masih nikmatin hidup aku yang sekarang dan nggak mau musingin diri buat mikirin pasangan yang bisa nya cuman bikin sakit hati aja."
"Ya, kamu mikirnya jangan sampai ke arah sana dong."
Zaina menggeleng.
Bagi perempuan itu, mengenal laki-laki sama saja seperti penyakit. Semakin dia nggak peduli, maka sakitnya nggak akan pernah datang ke dirinya. Tapi kalau dia mulai tertarik dan penasaran. Maka, akan terserang penyakitnya dan Zaina nggak mau terperangkap pesona laki-laki lagi. Dia nggak mau sama sekali!
Sudah cukup dua kali dia terperangkap pesona laki-laki dan semua berakhir gagal dan menyakitkan.
Bahkan, dengan membayangkannya saja mampu buat napas Zaina jadi memburu. Ia menggeleng dan menolak keinginan sang daddy.
"Tapi ... tidak mungkin selamanya kamu kayak gini kan?" tanya sang daddy sambil tersenyum lembut. "Daddy tau kalau ini pasti menyulitkan kamu. Tapi daddy nggak mau karena masalah ini membuat kamu trauma juga. Daddy nggak mau kalau kamu hidup sendirian karena masalah ini."
Zaina menghela napas.
Mendadak dia sangat sedih. Padahal tanpa sepengetahuan daddy dan mommy nya. Bahkan dia nggak pernah mikir sampai sejauh itu. Toh, dalam beberapa tahun atau bulan yang akan datang juga dirinya akan pergi menemui sang anak. Jadi, buat apa susah-susah mencari cara untuk lanjuti hidup ke depannya.
"Kenapa diam saja?" tanya sang mommy.
Zaina mengerjap pelan.
"Kamu beneran nggak ada pemikiran untuk melajang selamanya kan? Kamu masih trauma sama hubungan kamu di masa lalu? Tenang, nak ... punya pasangan nggak selama nya berakhir menyedihkan. Kamu bisa melihat mommy sama daddy sebagai contohnya."
Di pandangnya wajah mommy dan daddy. Zaina tersenyum kecut. Hati kecilnya memberontak. Dia nggak mau ninggalin orang tua yang udah menjaganya dari kecil dengan penuh kasih sayang itu. Tapi, dia juga nggak tega untuk ninggalin sang anak yang cuman punya sendirian di atas sana. Tanpa ada yang menemani sama sekali.
Zaina menggeleng kecil, membuat orang tuanya menatap bingung.
/Enggak Zaina! kamu nggak boleh plin plan lagi. Di sini mommy masih ada daddy yang menemaninya dan begitu juga sebaliknya. Beda sama anak aku yang ada di sana cuman sendirian. Ya ... aku nggak boleh plin plan lagi. Aku harus yakin kalau pilihan akh yang sekarang itu terbaik banget!/
"Kamu kenapa?"
Zaina menggeleng. "Oh iya mom, dad, aku boleh minta sesuatu nggak sama kalian?"
"Ck ... kayak sama siapa aja. Kita ini orang tua kamu ya tinggal bilang aja. Nggak usah sungkan sama sekali. Apa? apa yang kamu mau! kamu langsung bilang aja sama kami. Nggak usah khawatir sama sekali."
"Mommy sama daddy mau nggak liburan bareng sama aku?"
"Setelah ngomongin pasangan untuk kamu? kamu malah nanya bisa liburan atau enggak?" gumam sang mommy dengan wajah bingung. "Mommy kira ini masih ada sangkut pautnya gitu tentang pasangan. Kenapa malab ke liburan? Ya ... kalau mau liburan mah tinggal liburan aja. Nggak usah nanya dulu. Mommy sama daddy pasti bisa dan mau kok. Malahan aneh, kamu mau di ajak liburan. Biasanya juga nolak."
Zaina tersenyum tipis.
Tidak mungkin dia mengatakan ada misi tertentu. Makanya dia harus melakukan liburan ini. Walaupun sebenarnya Zaina malas. Karena energi dia cepat terkuras kalau sudah liburan seperti ini.
Tapi, Zaina nggak mau membuang waktu begitu aja dan dia juga nggak mau membuat orang tuanya sedih setelah dia pergi karena dirinya yang nggak memiliki banyak kenangan. Anggap aja liburan ini sebagai akhir dari kenangan indah yang akan dia berikan. Zaina rela menghancurkan rasa malas nya demi melewati ini semua.
"ZAINA!" seru sang mommy membuat perempuan itu tersadar dari lamunannya.
"Kamu nggak lagi mikirin masalah ini kan?" tanya daddy yang sejak tadi masih fokus dengan laptopnya. "Udah daddy kasih tau, nggak usah terlalu memusingkan masalah ini. Biar daddy yang urus. Dan tentang liburan, kamu mau ke mana? biar daddy pesankan tiket untuk kita semua."
Zaina menggeleng kecil.
"Nggak sekarang, dad. Dua sampai tiga bulan lagi?"
"Tumben ... ada apa?"
Zaina tertawa canggung dan menggeleng. "Masa liburan sama keluarga aja di bilang tumben. Aku kan mau lebih deket sama mommy dan daddy. Mau habisin waktu bareng gitu. Mau kan? daddy sama mommy nggak ada yang kepaksa sama sekali."
"Ya enggak dong."
Mommy Nadya menarik tubuh anaknya lalu mengusap lembut kepala anaknya itu. Ia kecup kening Zaina dengan cukup lama. Sambil terus mendoakan supaya Zaina nggak merasakan sakit yang berlebih di dalam hatinya. Doa mommy Nadya begitu tulus, membuat air mata perempuan tua itu tak sengaja mengalir pelan ke pipi Zaina.
Zaina mendongak. "Mommy ... jangan nangis."
Mommy Nadya langsung menarik kepalanya dari kepala Zaina dan menggeleng. Ia mengusap air matanya sambil tersenyum. Ia pegang wajah Zaina.
"Bahagia terus ya, nak. Kamu harus bahagia! pokoknya nggak ada yang boleh jahat sama kamu. Kamu anak terbai mommy! untuk masalah ini, mommy nggak mau kalau kamu kepikiran lagi seperti waktu itu .."
Zaina memandang jauh ke depan lalu menggeleng kecil.
"Aku nggak akan terlalu kepikiran sama masalah ini kok. Mommy sama dadsy tenang aja."
"..."
"Kami mau menjadi teman kamu. Hilangkan semua rasa nggak enak di dalam diri kamu. Kamu nggak cuman punya Ghaly kok. Kamu masih punya mommy, daddy di sini. Kalau semua orang menentang kamu. Kami akan selalu berdiri di belakang kamu. Jadi ... selalu libatkan kami di dalam semua masalah yang kamu punya ya. Jangan simpan semuanya sendiri."
Tenggorokan Zaina serasa tercekat.
Rasanya ia nggak tahu harus mengatakan apa. Dia serasa jadi orang yang benar-benar jahat di keluarganya sendiri. Begitu banyak limpahan kasih sayang yang udah di beri kan sama orang tuanya, tapi karena dia yang menutup mata dan telinga. Ia malah menjadi pribadi yang egois.
"Nak ... kami tahu kok, hidup kamu sangat berat. Kamu melewati banyak hal. Baru bernapas dengan santai. Eh ini malah nambah masalah aja. Kami juga sebenarnya khawatir sama kamu."
"Aku baik-baik aja ..."
Daddy Zidan mengelak sembari tertawa kecil.
"Mana ada baik-baik aja. Kamu itu kewalahan kan sama semua yang terjadi sama kamu? Bahkan dadsy suka nyalahin diri daddy sendiri. Kenapa harus kamu yang alamin ini semua? Kenapa nggak kami aja."
Zaina langsung menggeleng.
"Kenapa harus mommy sama daddy?" ucap Zaina dengan sangat kesal. Ia sangat mengelaknya. "Aku memang kesulitan, aku memang nggak gampang lewatin ini semua. Tapi ... aku juga jelas tau. Kalau ini jalan takdir yang harus aku lewatin. Atau ... anggap aja sebagai penutup dosa atas kesalahan yang dulu aku lakuin. Udah ... mommy sama dady mikirin yang lain aja. Jangan mikirin aku!"
Alih-alih mendapat anggukan, Zaina malah mendapat sentilan di keningnya sampai ia mengaduh dan mengusap keningnya. Lalu memandang marah pada sang mommy.
"Kamu tuh mulutnya ... ya yang mommy sama daddy pikirin tuh udah pasti kamu! kamu kan anak kami. Lagian aneh aja ih kamu."
Zaina tertawa kecil. Mengusap tengkuknya dengan perasaan canggung.
"Ya ... maksud aku kan, masih banyak yang harus mommy sama dadsy pikirin selain aku. Aku kayak beban banget kalau kayak gini. Kan kasihan sama mommy dan daddy juga kalau aku terus yang jadi sumber masalah."
"Nggak ada yang beban sama sekali! nggak ada yang jadi sumber masalah!" tegas sang daddy membuat Zaina ikut bungkam karena takut. "Kamu itu anak kami dan sudah tugas kami, memikirkan kamu. Sekali lagi kalau daddy itu sampai denger kamu ngomong kayak tadi. Daddy beneran marah banget sama kamu."
Zaina bergidik dan langsung menggeleng. Ia meminta maaf sama daddy nya.
"Pokoknya ... sekarang kamu nggak usah mikirin masalah yang tadi. Ini pure kamu di bawa-bawa sama mereka aja. Bukan karena kamu sama sekali. Lebih baik kamu masuk kamar dan istirahat. Nggak usah buka internet dulu. Karena kita nggak tahu apa yang akan terjadi ke depannya."
"Iya dad ..."
Zaina patuh dan memilih masuk ke dalam kamarnya.
Ribuan masalah kembali ia pikirkan. Selangkah demi langkah hanya membuat perempuan itu semakin tersiksa. Hingga sampai di ujung anak tangga, pikirannya mulai menghantam. Tangannya berkeringat dan langkahnya berhenti.
Zaina menyentuh kepalanya sembari mengernyit kecil.
"Mommy," ucapnya yang hanya tersapy angin sangking kecilnya. Ia menoleh ke belakang dan sayang kakinya salah berpijak dan berakhir jatuh menggelinding di anak tangga.
Seketika, semuanya gelap.
***
POV Mahen
Laki-laki itu melangkah tegap memasuki ruangan kerja Restu. Ia terobos asisten dan pekerja lainnya yang sudah menjaga. Tatapan Mahen memanas saat melihat Restu sedang asyik bermain ponsel dan tertawa dengan ponsel nya.
"PEREMPUAN SIYALAN!" bentak Mahen membuat Restu meloncat dari tempat duduk nya dan langsung menoleh ke arah Mahen. "Dasar perempuan nggak tahu di untung!"
"Oh ... sudah datang?" ucap Restu lalu menurunkan kaki nya dari atas kursi dan memandang Mahen yang masih menatap dia dengan penuh emosi. Tidak ada raut panik atau ketakutan yang di tunjukan Restu. Perempuan itu hanya tertawa dan berjalan mengitari Mahen sambil sesekali menepuk tubuh laki-laki itu.
Mahen menepisnya.
"Lu itu kenapa sih? gue bilang jangan pernah ganggu Zaina. Tapi apa ini! kenapa lagi dan lagi lu malah ganggu Zaina. Dia nggak ada salah sama lu. Tapi kenapa lu mati-matian jatohin Zaina. Lu tuh harus inget. Mau lu jatohin dia sebanyak apa pun. Hidup Zaina tetap ada jauh di atas lu, sementara lu masih bisa dia injek."
Restu mengangkat bahu acuh, terlihat nggak peduli.
"Kalau lu begini terus, yang ada gue malahan semakin nekat loh," beri tahu Restu sambil tawa kecil.
Mahen benar-benar menahan emosinya yang sudah sangat menggebu.
"Lu tau nggak sih, lu tuh perempuan paling bodoh yang pernah gue lihat. Lu tuh nggak pernah mikir sama semua tindakan yang lu lakuin. Memangnya lu nggak perhatiin sama berita yang muncul karena ulah lu itu? Hampir sebagian orang nyalahin lu dan malah jelekin lu balik. Itu sama aja lu bakar nama lu sendiri. Bukannya jatohin orang lain, lu malah nyalahin diri lu sendiri."
Restu masih tertawa dan menatap Mahen dari atas sampai bawah.
"Sebagian orang memang nyalahin gue, tapi ... sebagian lagi nyalahin Zaina kan? Yah ... kasian dong. Gimana ya nasib Zaina sekarang. Pasti dia lagi nangis ketakutan karena di hujat lagi sama banyak orang. Duh ... aku jadi penasaran liat muka dia yang nangis."
Mahen berbalik dan menendang meja di belakangnya. Suara kaca yang pecah membiat Restu menutup telinga dan berakhir menggeleng kepalanya.
"Hancurin aja, gue semakin gila kalau lihat lu yang kayak gini. Dan jangan lupa kalau gue berhasil lakuin apa yang gue mau. Gue nggak peduli sama Zaina sama sekali. Karena gue di sini terus dapetin lu. Bahkan dengan lu ada di sisi gue aja udah seneng banget. Bisa merintah ini itu. Jadi ... kalau lu nggak mau Zaina ke napa-napa lagi. Mendingan lu tunduk lagi sama gue."
Mahen menggeram marah, berusaha menahan emosinya.
Laki-laki itu tersenyum tipis.
"Lu memang punya raga gue," jawab Mahen membuat senyum Restu terbit. "Tapi hanya sebatas itu, nggak lebih sama sekali. Karena hati gue selamanya bakalan tetep di milikin sama Zaina!" ucapnya dengan penuh arti sebelum meninggalkan ruangan Restu dengan penuh emosi.
Menyisakan Restu yang sudah berteriak emosi, tidak terima sama fakta yang baru saja menyentilnya.