Love In Trouble

Love In Trouble
Psikiater



Mommy Nadya tiba di kamar anaknya dengan napas yang memburu. Tanpa pikir panjang perempuan tua itu langsung saja menyibak selimut sang anak membuat Zaina yang sedang melamun nyaris berteriak dan hampir memukul pelaku itu. Tapi tangannya berhenti di udara saat melihat sang mommy yang sangat pucat dan terus menatap ke arah belakang.


“Nak ... mommy nggak tahu apa yang terjadi di sini, tapi di depan sana ada nenek kamu. Seperti nya dia ke sini sama daddy. Mommy nggak tahu tapi mommy harap kamu jangan pernah terkecoh sama oma kamu lagi. Kamu biarin omongan jahat mereka. Pikirin hal yang buat kamu bahagia kalau oma kamu ini udah ngomong ke arah yang menyakitkan.”


Tangan di bawah selimut sudah mengepal, tapi wajah perempuan itu berusaha terlihat biasa saja.


“Mommy tenang aja, aku baik-baik aja.”


“No ... mommy benci kalau kamu udah ngomong kayak gitu.” Tiba-tiba ide berlian datang di benak mommy Nadya. Dengan cepat ia merogoh tas dan mengeluarkan headset bloetooth milik nya. Ia langsung konekan ke ponsel miliknya dan menyalakan lagu dengan volume yang cukup besar. Setelah bisa di gunakan, mommy Nadya langsung pakaikan ke telinga anaknya dan menutupi headset tersebut dengan rambut Zaina yang terurai.


“Mommy tahu kalau lagu ini nggak bakal nutupin semua hal yang nanti di omongin sama oma kamu. Tapi seenggaknya lagu ini bisa nyamarin omelan oma kamu dan selama oma kamu itu ngomong. Kamu bisa nikmatin lagu dan pikirin hal yang bikin kamu bahagia. Jangan pernah kamu mikirin hal lain ya.”


Zaina membalas genggaman tangan mommy nya dan tersenyum tipis.


“Makasih mom ...”


“Sudah ... pokoknya nanti mommy akan terus di samping kamu. Kalau kamu merasa omongan oma kamu udah berlebihan, kamu bisa cengkram tangan mommy. Jangan diam aja.”


Zaina mengangguk dengan yakin.


Baru mau berbicara lagi, suara pintu kamar yang dibuka membuat mommy Zaina kembali merapihkan rambut anaknya untuk menutupi headset yang sudah terpasang di kedua telinga anaknya.


Setelah itu, ia menoleh ke belakang dan melihat orang tua suaminya yang masuk dan di susul suaminya itu. Tidak ada tatapan apa pun dari suaminya, membuat mommy Nadya sedikit marah karena suaminya itu nggak izin terlebih dahulu pada dirinya. Di saat orang tua suaminya itu selalu saja nyindir anaknya dengan ucapan yang tajam.


“Ya ampun Zaina, gimana kabar kamu.”


Zaina hanya membalas tersenyum tipis.


Omanya Zidan menaruh tas di atas nakas dan duduk di samping mommy Nadya. Dua perempuan itu langsung menyalimi oma Zidan. Mereka bertindak seperti biasa, berusaha menutupi rasa cemas yang memebelenggu hati dan perasaan mereka.


“Baik oma ...”


“Kamu ini ya, sudah oma bilang berulang kali untuk jangan mengacau. Tapi sekarang malah buat kekacauan lagi. Lebih parah. Tapi ya sudah lah, oma datang bukan untuk memarahi atau menghakimi lagi. Tapi ada yang mau oma omongkan sama kamu.”


Zaina menelan saliva, merasa ada yang nggak beres.


“Kamu kan di isukan jadi perebut laki orang dan itu tentu buat oma malu banget. Nggak ada keturunan oma yang menjadi perebut laki orang dan karena itu juga, pasti orang tua kamu jadi sedih. Kamu nggak suka kan kalau orang tua kamu sedih karena ini?”


Suara samar yang tetap terdengar membuat Zaina menghela napas kasar.


Pikiran Zaina jadi terbagi, di satu sisi lagu itu terasa seperti angan-angan yang mendayu di benaknya. Terasa abu-abu karena itu tidak membantu sama sekali. Suara titahan dari oma nya membuat perempuan itu sedikit bingung, seperti tubuh yang tak berjiwa.


Zaina terlihat sangat ling lung.


Ia melirik pada mommy nya dan mommy Nadya menggeleng kecil, mengelak ucapan orang tua suaminya.


“Kamu mau jadi anak baik kan?” tanya oma nya Zidan yang entah kenapa kepala Zaina ikut mengangguk pelan.


“Nah ... pas banget, oma rasa juga kamu harus jadi anak berbakti sih. Nggak mungkin kamu cuman jadi beban dari orang tua kamu ini dan karena masalah ini, daddy kamu jadi melakukan banyak cara sampai lupa tidur. Itu sangat kasihan loh. Makanya oma punya cara supaya masalah ini akan lenyap dan nggak cuman itu aja. Daddy kamu nggak akan bingung cari cara untuk hilangin semua masalah ini lagi.”


“Apa itu ...”


“Oma punya beberapa calon untuk kamu,” jawab omanya Zidan dengan santai.


JEDER!


Seperti ada petir yang menghatam jiwa Zaina. Perempuan itu diam terpaku sambil menatap ling lung ke arah sekitar. Dia tertawa kecil, sangat lirih. Benar-benar menyesakkan hati. Kenapa, sampai masalah seperti ini omanya jadi ikut campur?


“Semua orang pasti langsung paham kalau berita itu cuman bohongan, kalau kamu itu bawa calon ke media. Mereka pasti langsung lupain masalah ini. Asal kamu bawa calon ke hadapan media.”


“...”


“IBU!” seru daddy Zidan yang sejak tadi diam dan memikirkan hal ini. “Ibu tadi ngomong nggak bakal berbuat macam-macam ya. Ibu janji cuman mau minta maaf sama Zaina dan jalin hubungan baik sama kami. Tapi, kenapa malah kayak gini? Aku nggak mau dan nggak terima sama sekali. Itu hidup Zaina dan aku nggak mau memaksanya sama sekali.”


“Kamu nggak akan paham ...”


“Ibu yang nggak paham. Zaina ini anak aku, aku nggak mau orang lain ikut campur sama hal kayak gini. Biar aku sama Nadya yang mengurus anak kami sendiri. Karena kami jauh lebih tahu apa yang terbaik untuk Zaina, bukan orang lain.”


“Ibu bukan orang lain!” bentak oma dengan kencang.


Zaina memejamkan mata, ia menggeleng kecil. Menutup telinganya sampai headset itu terlihat dan oma hanya menatap terkejut melihat Zaina yang semakin lepas kontrol dan mulai menendang selimut yang menyelimuti kakinya.


“Mas ... bawa ibu keluar,” pinta mommy Nadya langsung memeluk anaknya dan berusaha membisikkan kata yang menenangkan anaknya itu.


“Kamu berani sama ibu?! Udah merasa sombong dan nggak suka kalau ibu ada di sini. Sampai berani ngusir ibu—


Ibu Zidan kembali berteriak saat Daddy Zidan mulai menarik tubuh ibunya sambil menatap dengan memohon. “Bu ... anak aku lagi kambuh lagi, jangan katakan hal kayak gini. Ibu cuman buat anak aku jadi kambuh.”


Masih terus berteriak ibunya Zidan nggak terima karena mereka semua seolah mengusirnya.


Tepat di depan pintu, ibu Zidan menunjuk Zaina. “Kamu hanya pembawa sial bagi orang tua kamu! Dasar, lebih baik kamu ikutin jejak anak kamu itu yang mati!” seru ibunya Zidan dengan penuh penekanan sebelum pintu kamar Zaina benar-benar tertutup.


“Enggak sayang ...,” seru mommy Nadya sambil memegang kedua pipi Zaina, berusaha menatap mata Zaina yang kehilangan sinarnya. “Jangan dengerin omongan oma, masih ada mommy di sini. Mommy nggak akan pergi. Kamu masih jadi anak terbaik untuk mommy. Jadi, jangan dengerin omongan oma ya.”


“Mommy ...”


“Iya nak, masih ada mommy. Jangan dengerin omongan orang jahat. Kamu punya mommy dan daddy. Jangan nangis lagi ya. mommy mohon ...”


Zaina semakin meremas kuat ujung baju mommy nya dan menangis semakin kencang.


Rasa sakit yang terus menimpa tubuhnya benar-benar ia keluarkan sebelum kesadarannya tiba-tiba lenyap dan mommy Nadya merasakan tubuh Zaina yang sangat lemas dan dengan panik, mommy Nadya menekan tombol untuk memanggil dokter sambil terus berteriak memanggil suaminya.


***


Kesadaran Zaina mulai kembali, perempuan itu mengerjap ingin memanggil mommy atau daddy nya, tapi suara teriakan dari kamar yang ada di dalam ruangan ini, membuat Zaina bungkam karena mengenal suara teriakan ini.


Model kamar inap rumah sakit ini memang sangat canggih. Karena di dalam kamar inap ini terdapat kamar sendiri untuk para tamu yang mau menginap.


Dan ... Zaina mendengar dari arah kamar itu.


“Kamu nih mikir dong mas ... udah tahu ibu kamu itu nggak suka sama aku dan Zaina! Tapi malah kamu bawa ke sini. Kamu nggak lihat kan kondisi anak kita! Dia nyaris nggak sadar lagi. Kamu tuh harusnya mikir .... jangan egois!” suara mommy nya terdengar sangat jelas di pendengaran Zaina.


“Ya aku nggak tahu, kata ibu dia mau minta maaf. Ya makanya aku izinkan dong. Aku nggak ada pikiran ke arah sana sama sekali, karena ibu beneran kelihatan menyesal atas perbuatan dia, makanya mas izinkan untuk datang. Kamu jangan salahin aku aja dong. Kamu yang harus nya mulai jaga Zaina. Jangan sampai dia kambuh kayak tadi.”


“MAS! Ini bukan salah Zaina sama sekali. Kalau ibu kamu nggak datang juga, Zaina nggak mungkin kayak tadi. Dia bakalan kambuh kalau ada yang jahat sama dia baru kambuh. Maka nya aku bilang dari awal, jangan sampai ada ornag yang hancurin jiwa Zaina buat datang. Biar kita-kita aja yang sayang sama dia, yang ada di sekeliling Zaina.”


Terdengar helaan napas memburu dari dalam sana.


“Jadi ... kapan kita bakalan bawa Zaina ke psikiater? Kayaknya, kita nggak bisa diem aja. Mas pertama kali lihat Zaina yang lepas kontrol kayak tadi dan kalau kita diemin aja, yang ada dia malah makin menjadi dan mas nggak mau kalau hal itu sampai terjadi.”


“Aku bingung, mas,” ucap mommy Nadya yang mulai berbicara dengan suara yang rendah. “Aku takut kalau Zaina bakalan mikir yang macam-macam kalau ajak dia ke psikiater. Aku takut kalau dia malah anggap dirinya gila karena hal ini. Aku masih takut banget, mas. Apa yang harus aku bilang ke dia?”


“Mas juga tidak tahu, tapi apa salah kita? Kenapa kita dapat masalah sampai sejauh ini. Benar ya kata orang, kalau setiap keluarga pasti memiliki masalah hidup yang beda-beda. Mungkin kita bukan harus menghadapi masalah ekonomi, tapi masalah keluarga kita ada di anak kita ...”


“Iya mas ... tapi aku nggak mau anggap ini masalah, anggap aja ini anugerah dan pembelajaran yang harus kita lalui. Dan ... maaf ya mas, karena aku malah marah sama kamu. Tapi aku beneran takut dan benar aja, ternyata anak kita malah seperti tadi.”


“Mas juga minta maaf ... mas nggak pikir panjang dan malah ngelakuin ini tanpa mikir ke kamu dulu. Sekali lagi, mas minta maaf ya ...”


Dan ...


Zaina malah mengeratkan bantal ke telinganya, dia nggak mau lagi mendengar perbincangan orang tuanya. Tidak, perempuan itu nggak menyalahkan orang tuanya sama sekali. Ia hanya menyalahkan dirinya sendiri yang lagi dan lagi malah menyusahkan orang tuanya.


Zaina menarik napas dalam dan tersenyum sanat pedih.


“Ternyata ... aku memang depresi, aku seperti orang nggak waras,” ucapnya dengan penuh luka.


***


Beberapa hari kemudian,


Zaina sudah dibawa kembali ke rumah saat dokter merasa kalau Zaina sudah mulai membaik. Dokter hanya menyarankan untuk orang tua Zaina yang selalu menemani perempuan itu dan mereka nggak boleh kelepasan lagi, karena bisa berakibat fatal dan dokter menyarankan Zaina untuk membayangkan hal yang menyenangkan, karena itu cukup berpengaruh ke mental Zaina.


Saat ini Zaina sedang mengenakan piyama pink dan duduk di balkon.


Ia menatap wartawan yang masih aja berdiri di depan rumahnya. Perempuan itu sedikit bersyukur karena balkon yang ada di kamarnya sedikit tertutupi dengan pohon. Jadi, tidak ada yang sadar kalau sejak tadi Zaina berada di sini.


Sedang asyik melamun, perempuan itu mendengar suara pintu kamarnya yang terbuka. Ia menoleh ke belakang dan tersenyum tipis melihat mommy Nadya yang datang sambil membawa kan dia segelas susu hangat. Mommy Nadya menaruh gelas itu di lantai dan ikut duduk di lantai, tepat di samping Zaina.


“Gimana kabar kamu hari ini?” tanya mommy Nadya memulai pembicaraan.


“Jauh lebih baik di banding sebelumnya.”


“Mommy ada mau ngomong sesuatu sama kamu,” ucap mommy Nadya.


Perempuan yang melahirkan Zaina itu sedang memikirkan sesuatu yang cukup penting. Dia merasa sudah waktunya ia menyinggung masalah psikiater. Karena dokter sudah bertanya ke dirinya.


“Mommy ngomong kayak gini bukan berarti menuduh kamu ya,” ucap mommy Nadya lagi membuat alis Zaina terangkat. “Mommy hanya mengikuti saran dari dokter dan mommy rasa ini cara yang tepat supaya kamu bisa mengeluarkan semua kesedihan yang terpendam itu. Jadi, mommy mau ajak kamu ke suatu tempat ...”


Dan selanjutnya mommy Nadya diam, seolah takut mau mengatakan kata selanjutnya.


Zaina mendecih pelan.


“Mommy ... bawa saja, bawa aku pergi ke psikiater. Aku nggak akan mikir aneh-aneh, kalau mommy dusuruh dokter untuk ajak aku ke sana. Ya ajak aja ...”


“Eh ...”


“Aku tahu mom, udah dari lama kan mommy sama daddy singgung hal ini? padahal mommy sama daddy tinggal terus terang aja sama aku. Aku juga nggak masalah sama sekali kok.”


“Kamu beneran nggak marah kalau mommy ngomong kayak gini?”


“Untuk apa marah? Aku bahkan sampai lupa gimana caranya luapin emosi yang ada di diri aku. Dan juga ... untuk hal ini, mungkin ini jalan terbaik kan? Jadi, bawa saja aku pergi ke psikiater ...”


/Dan aku akan benar-benar menganggap diriku sebagai orang yang nggak waras./