Love In Trouble

Love In Trouble
Pilihan



Zaina tahu kalau Mahen super nekat kali ini. Dia juga enggan membuat semua usaha Mahen jadi jatuh lebih buruk. Makanya, Zaina memilih membawa Mahen ke rumah omanya. Walaupun perempuan itu nggak tahu apa yang akan dia dapatkan nanti.


"Mahen ... aku beneran percaya kok sama kamu. Kita nggak perlu sampai datang ke sini ya. Aku nggak mau kalau nama kamu juga jadi keikutan buruk di mata oma."


Mahen bungkam.


"Oma itu nggak sebaik yang di lihat. Dia orangnya nekat. Apa yang oma mau, harus terlaksanakan. Jadi jalan satu satunya, aku palingan bakal pura-pura setuju sama apa yang oma mau. Aku bakalan bertemu sama laki-laki itu. Aku juga bakalan ngeliat mom senang. Baru setelah satu bulanan ya mungkin ... aku bakalan nolak. Gimana?"


"Persetan sama amukan oma kamu. Aku lebih takut ngeliat kamu ketemu sama laki-laki lain. Berinteraksi sama laki-laki lain. Nggak akan! Nggak ada yang boleh menyentuh kamu sama sekali. Sungguh, sampai kapan pun itu. Aku nggak akan pernah setuju kalau kamu berduaan sama laki-laki lain. Apa lagi nanti kamu malahan ketemu sama laki-laki yang nggak bisa berbuat baik sama kamu."


Senyum perempuan itu mengembang.


"Tapi, oma?"


"Aku bakal ngehadepin semuanya, demi kamu!" yakin Mahen sambil memandang wajahnya sendu Zaina itu. "Kamu nggak perlu khawatir ya. Aku bakalan melakukan banyak hal, demi kamu. Hanya untuk kamu."


"Mahen ..."


"Iya?"


"Tapi, bagaimana dengan rencana yang kamu buat? Bukan nya semakin banyak yang tau. Maka rencana kamu akan makin terancam juga ya?" tanya Zaina, berusaha menarik Mahen masuk ke dalam mobil.


Tapi Mahen menahannya. "Nggak ada yang bakalan terancam. Aku sudah punya bukti dan tinggal membongkar saja. Besok, akan aku luapkan semua keburukan Restu dan sebelum itu. Biarkan aku bertemu sama oma kamu. Biar aku bisa mengikat kamu!"


"Ya ampun, mas ..."


"Sekali lagi, ini semua mas lakukan demi kamu."


Laki-laki itu tersenyum simpul, mencuri kecupan singkat di kening Zaina. Perempuan itu tersipu. Keduanya sibuk saling memandang satu sama lain. Sampai akhirnya suara klakson motor mengejutkan mereka.


"Yuk, kita masuk ..."


***


"KAMU MEMANG GILA YA!" bentak sang oma membuat Mahen langsung mencengkram tangan Zaina, berusaha menguatkan wanitanya itu. "Dari awal oma sudah bilang, kalau oma sudah janji ke keluarga pria itu. Kalau kamu bakal menikahi dia. Tapi apa sekarang? Kamu malah bawa Mahen dan ngomong kalau Mahen serius sama kamu. Terus apa yang harus oma lakukan?!!!!"


Zaina menunduk.


"Apa oma harus mendapat amukan dulu dari keluarga yang udah di jodohin sama kamu itu? Apa oma harus malu dulu. Apa ini memang rencana kamu? Kamu mau membuat oma malu. Ah ... memang harusnya dari awal oma nggak ngasih kamu hati. Lihat sekarang, kamu jadi melunjak kayak gini kan?"


"Tidak ... Tidak ... bikin nambah malu saja!"


Omanya itu duduk di sofa dengan napas memburu.


Hidupnya sedang dalam keadaan tenang, kini ia malahan melihat Zaina datang sambil membawa Mahen. Mana di depan dirinya, laki-laki itu langsung meminta izin dan melamar Zaina begitu saja.


Sayangnya, ia tidak akan membiarkan cucunya segampang itu untuk bahagia. Ia akan terus menghadang. Enak saja, kalau ia mengizinkan. Yang ada cucunya itu bakalan hidup enak dengan laki-laki pilihannya. Sementara bagi oma, dia nggak akan pernah membiarkan cucunya hidup seenak itu. Ia mau melihat cucunya hidup susah. Bagaimana pun cara nya!


"Oma ... Zaina minta maaf. Zaina minta maaf atas semua kesalahan yang pernah Zaina perbuat ke oma. Zaina minta maaf atas semua kekesalan yang oma selalu perlihatkan ke Zaina. Zaina harus apa, biar oma nggak benci lagi sama Zaina? Zaina bakalan lakuin apa pun. Asal oma maafin aku."


"Lahirnya kamu di dunia ini aja udah oma benci! Sampai kapan pun saya nggak akan pernah memaafkan kamu. Kecuali kamu menuruti apa kata saya. Selebihnya, saya nggak akan pernah memaafkan kamu. Sekali pun kamu bersujud di kaki saya."


Zaina mengerjap. Runtuh sudah semua pertahanannya. Lagi dan lagi ia harus melihat sisi hancurnya di depan Mahen.


Sementara itu, Mahen seolah menyembunyikan Zaina di belakang tubuhnya. Lalu ia menatap lantang ke arah oma Zaina.


"Maaf sebelumnya, oma. Kalau kesannya saya ikut campur. Tapi bukan kah ini tentang pernikahan. Yang mana artinya menyangkut seumur hidup. Jadi, apa salahnya kalau Zaina memiliki pemilihan sendiri? Kalau dari awal dia udah nggak nyaman. Bagaimana Zaina bisa bahagia di hidupnya nanti?"


"Alah ... dasar sok tahu. Bocil ingusan kayak kamu mah nggak akan pernah paham. Nggak usah bela anak itu! Dan sampai kapan pun, saya nggak akan pernah kasih kamu izin untuk menikahi cucu saya!"


Mahen menggeleng kecil.


Ia sudah berada jauh sampai titik ini. Nggak ada lagi kata untuk mundur dan sampai kapan pun, dia nggak akan pernah mengalah lagi. Ia harus mencari kebahagiaan dalam hidupnya itu.


Dan sampai kapan pun, ia akan berjuang untuk mendapatkan Zaina. Meskipun harus melawan banyak orang!


"Maaf oma ... saya sama Zaina datang ke sini, bukan untuk meminta restu. Karena dari dulu, orang tua Zaina sudah kasih restu untuk kami. Saya datang ke sini hanya untuk memberi tau kalau oma harusnya tahu di sini saya sama Zaina sudah kembali bersama. Jadi, oma nggak berhak untuk menjodohkan Zaina!"


Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Mahen menarik Zaina untuk berdiri dan mereka berjalan keluar. Panggilan dari oma mereka hiraukan. Keduanya terus keluar sampai tepat ada di depan mobil. Mahen melepas pegangan tangan dan menatap ke arah Zaina.


"Kamu cukup percaya ya sama aku."


Zaina mengangguk. "Mulai detik ini, aku bakalan terus percaya sama kamu!"


Mahen mengusap pipi Zaina, mengucapkan banyak terima kasih pada perempuan itu. Sampai pada akhirnya mereka mendengar ponsel mereka yang sama-sama berdering. Dua orang itu langsung saling memandang, perasaannya jadi di buat nggak enak.


"Ada apa ini?" tanya Zaina sebelum membuka ponselnya.