Love In Trouble

Love In Trouble
Sedikit Amunasi



"Ya sudah kamu mandi dulu sana, di setiap kamar oma sudah siapkan handuk sama baju kalian. Tapi oma tidak tahu, apa masih cukup di kamu atau tidak soalnya sudah lama sekali kami ndak nginep di mari."


Zaina kembali menyendu dan merengek kecil, tidak suka oma nya mengungkit hal ini lagi. Tapi oma nya itu malahan tertawa sambil menggeleng pelan dan menepuk baju Zaina.


"Oma hanya bercanda loh, sudah sana ... katanya badan kamu udah lengket? Jadi dari pada masih di sini dan malah terus ngobrol. Mendingan kamu cepat mandi terus kita nge teh bareng. Kamu mau kan?"


Zaina mengangguk


Akhirnya Zaina beranjak keluar setelah melambaikan tangan pada sang oma. oma hanya menggeleng pelan dan terkekeh pelan.


"Ternyata ngobrol sama Zaina nggak semenyebalkan yang saya kira," ucap Oma pelan. "Apa sudah seharusnya saya nggak memaksa hidup mereka lagi ya? Apa sudah waktunya mereka hidup bahagia?"


***


Malam tiba,


Begitu mendengar mobil dari arah luar, Zaina langsung berlari turun ke luar rumah dan menubruk tubuh daddy lalu memeluknya sangat erat. Dady Zidan tertawa dan memilih mengusap punggung anaknya.


"Kenapa nih anak daddy?" tanya daddy nya itu sembari melepas pelukan. "Lagi ada sesuatu yang sedih kah? kok manja banget gini."


"Ih ... memangnya aku nggak boleh manja?" rengek Zaina lalu melepas pelukan dan menyilangkan tangan di dada.


"Hahaha, masih saja ambekan kamu. Padahal daddy cuma nanya doang. Udah awas ah, daddy capek nih. Bukannya di sambut sama kamu. Tapi malah di marahin kayak gini. Ini gimana sih?" papar daddy Zidan membuat Zaina mencibir


"Siapa yang marahin daddy? daddy suka bohong aja nih. Ah, nggak suka ah kalau kayak gini."


"Sudah ... sudah ...," sela mommy Nadya yang datang dari belakang lalu menaruh makanan yang ia beli. "Nggak usah pada berantem gitu. Nih, Zaina ... mommy bawa martabak buat kamu sama oma. Oh iya, di mana oma?" tanya mommy Nadya sambil menatap ke arah lantai dua


Zaina mengangkat bahu.


Ia memang tidak tahu, setelah Zaina membersihkan diri. Ia pengin kembali lagi ke kamar oma tapi salah satu pelayan malah datang dan menyampaikan pesan oma yang bilang, jangan ada yang masuk dulu. Jadi, pertemuan terakhir dia sama oma ya tadi. Sebelum dirinya mandi.


"Ya sudah ... lebih baik sekarang kamu nata makanan ini di piring. Mom sengaja beli banyak makanan. Biar kita nggak perlu lagi masak di sini."


Zaina menatap satu per satu plastik bawaan orang tuanya dan memekik bahagia.


"Asyik ada ayam bakar."


"Ayam bakar punya ayah tuh," sela daddy Zidan membuat Zaina melirik kesal lagi. "Kamu mah cuma makan pepes tahu doang. Ayam bakar mah punya ayah!" lanjut daddy Zidan lagi yang belum puas meledek anaknya itu.


"Bunda ... itu daddy nya!" kesal Zaina


"Mas ih .. udah tau anaknya ambekan malah di ledek mulu."


Mata Zaina membola dan ia melirik terkejut pada sang mommy. "Mom?! aku nggak ambekan," protesnya dengan sangat kesal. Sampai mulutnya maju beberapa centi.


"Tuh dengar, mommy kamu aja setuju kalau kamu tuh ambekan."


"Ah ... pada ngeselin."


Akhirnya mereka tertawa lepas dan langsung memeluk Zaina berbarengan. Semua itu tak luput dari tatapan sang oma yang mengintip di balik pintu kamarnya. Ia menarik napas dalam, perasaannya jadi campur aduk. Dengan sangat perlahan ia memilih menutup pintu dan kembali menopang tubuhnya dengan tongkat.


"Apa selama ini saya sudah egois ya?"


***


"Ibu ... kita makan malam dulu yuk."


Mommy Nadya menepuk pelan pintu kamar sang mertua yang sejak tadi tertutup itu. Tak ada jawaban dari dalam membuat mommy Nadya melirik suaminya yang duduk santai di ruang tamu.


mommy Nadya menarik napas dalam dan kembali mengetuk pintu. Kali ini sedikit lebih kencang di banding tadi.


"Ibu ... kita makan dulu yuk. Sudah malam, kata Zaina ... ibu belum makan dari tadi siang ya?"


Setelah menunggu cukup lama pintu terbuka. Oma tak menjawab apa-apa selain berjalan perlahan dengan tongkat kesayangannya itu. Suara tongkat yang beradu dengan lantai memenuhi rumah ini. Zaina menoleh ke atas dan sedikit tertegun karena melihat wajah tanpa ekspresi sang oma yang sangat berbeda dengan tadi sore.


Zaina tidak mau bertanya apa-apa selain memilih beranjak ke meja makan dan menata piring untuk mereka.


"Ibu mau makan apa?" tanya mommy Nadya lagi setelah menuang nasi ke atas piringnya.


Bukannya menjawab oma menarik kasar piring yang di pegang mommy Nadya dan langsung menaruh sendiri lauk yang dia inginkan.


Daddy zidan yang melihat hanya bisa menarik napas dalam. sembari sesekali menggeleng. Sedikit kesal akan kelakuan orang tuanya. Ia melirik istrinya yang sedikit sendu. Daddy Zidan berusaha tersenyum lebar dan menepuk kursi meja makan di sampingnya, meminta Mommy Nadya untuk duduk di sana.


"Mas lagi mau makan ayam sama perkenalkan nih sayang. Kamu bawain dong."


Mommy Nadya terkekeh dan langsung melaksanakan apa yang di pinta suaminya. Lalu ia duduk di samping kursi sang suami dan memilih makan bersama mereka.


Kali ini,


Zaina makan dengan kurang lahap. Pikirannya benar benar tertuju ke perubahan sikap sang oma. Banyak anggapan yang ada di benak perempuan itu.


/Apa oma itu malu ya? makanya oma balik kayak gini lagi?/


/Atau oma anggap tadi tuh cuma kayak candaan doang yang nantinya bakal di lupain? makanya sekarang balik kayak biasa lagi?/


/Atau parahnya oma benar benar anggap yang tadi cuma kayak angin lalu doang?/


Apa pun yang hinggap di benaknya, Zaina benar-benar nggak paham sama apa yang terjadi sama sang oma. Ia menarik napas dan menggeleng pelan. Kembali menyuap makanannya dengan perasaan campur aduk.


"Aku berharap semuanya baik-baik aja," gumam Zaina dengan pelan dan kembali makan.


***


Setelah makan tiba, kini mereka semua kumpul di ruang tamu. Semuanya duduk di sofa masing-masing tanpa ada niatan untuk membuka sesi bicara sama sekali. Oma juga hanya menatap televisi dengan serius. Tatapannya begitu lurus membuat Zaina yakin kalau oma nya tidak menonton televisi melainkan sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Oma ..."


"Aku mau jelasin sesuatu, boleh?"


Oma menarik napas dalam. "Kalau yang mau kamu bilang itu perjodohan kamu sama Sofyan. Oma bisa apa? Orang tuanya sudah menghentikan hubungan kalian dan membuat malu oma."


"Oma ... Zaina nggak ada maksud buat maluin oma."


Oma nya itu mendengus.


"Tidak berniat membuat malu tapi kamu datang ke rumah mereka sambil membawa kekasih kamu itu? Apa sih yang sebenarnya kamu pikirin?"


Zaina menunduk.


"Kamu tahu kan kalau oma memang nggak pernah dekat sama kamu," seru sang oma membuat Zaina mengangguk pelan. "Tapi tetap aja ... oma mau yang terbaik untuk kamu. Oma rela seleksi laki-laki yang sekiranya pantas sama kamu. Tapi setelah semua usaha yang udah oma lakuin sama kamu. Malah kayak gini balasannya? Terus oma harus apa?" tanya sang oma sambil menarik napas dalam.


"Maaf ..."


"Oma nggak setega itu buat kasih laki-laki jahat buat kamu. Oma rela cari laki-laki yang sekiranya pantas sama kamu. Bahkan oma rela di katain nggak tau diri karena bilang cucu saya nggak pantas sama anak kalian cuma karena bela kamu doang. Oma rela dibilang keluarga perusak nama keluarga karena skandal kamu doang."


Zaina benar-benar sangat terkejut mendengar fakta yang satu ini.


"Setelah oma sudah ngelewatin banyak hal untuk kamu. Malah kayak gini yang oma dapetin? oma malah di tolak balik sama mereka."


"..."


"Hancur perasaan oma. Sakit rasanya, seolah oma sama sekali nggak memiliki harga diri. Mereka cuma mikirin hal dari sisi kamu doang. Padahal dengan perjodohan ini ada banyak hal baik untuk kamu sama Sofyan. Bukan tentang paksaan doang."


"Tapi kami nggak meminta ibu untuk jodohin anak Zidan."


Oma menoleh pada anaknya.


"Karena kamu nggak bisa jaga anak dengan baik, bahkan nggak bisa ngasih yang terbaik untuk anak kamu."


"Kok bisa-bisanya ibu nyimpulin kayak gitu?" kesal daddy Zidan yang langsung di genggam tangannya sama mommy Nadya. Mommy Nadya menggeleng pelan, meminta suami nya itu untuk nggak gegabah.


Tapi daddy Zidan menggeleng.


"Aku nggak bisa diem aja dong, sayang. Ibu ngomong aku nggak becus. Padahal aku udah usaha lebih buat jaga kamu sama Zaina. Kalian harta terindah yang mas punya dan bisa bisanya ibu malah ngomong kayak gini."


"Kalau kamu memang becus ... harusnya kamu nggak kecolongan pas anak kamu hamil dan pas ngejodohin anak kamu juga. Malah berakhir buruk kan? Bisa di lihat kalau di sini memang kamu yang nggak becus. Bukan karena ibu atau anak kamu yang gimana."


Zaina tertegun.


"Oma," panggil Zaina lagi.


"Hmm ..."


"Ini bukan salah ayah sama sekali. Tapi ini salah aku. Aku yang udah buat ayah berada di posisi kayak gini. Aku yang udah jahat sama ayah. Bukan ayah kok ..."


"..."


"Aku yang hamil, karena aku terlalu tergantung sama pacar aku sampai sempat tinggal satu apartemen. Dan ayah gak tau sama sekali tentang ini. Jadi, jangan salahkan ayah dan untuk perjodohan ... ini memang batal karena aku juga yang malu sama mereka. Dan waktu itu kondisinya nggak sebaik sekarang kan? Jadi wajar kalau memang batal."


Zaina bangkit dan beralih duduk di samping ayahnya.


"Oma jangan salahin daddy lagi. Daddy udah jadi orang tua yang terbaik untuk aku," ucap Zaina dengan tulus. "Mom sama dad adalah harta teri dah yang pernah aku milikin. Di sini aku yang salah kok oma, bukan mereka. Jadi, jangan salahin mom sama dad ya. Karena yang ada aku makin ngerasa bersalah atas semua perbuatan yang udah aku lakuin di masa lalu."


Oma menarik napas dalam.


Hati orang tua itu semakin sesak melihat mereka yang berpelukan.


Oma mengalihkan pandangan ke arah lain dan tak mau mengatakan apa-apa selain tersenyum sendu.


"Ibu ... mungkin Zidan banyak mengecewakan ibu. Zidan udah jadi anak pembangkang. Tapi tolong ibu jangan atur Zaina ya. Kasihan Zaina ... dia sudah mencintai laki-laki yang sangat baik sama Zaina."


Oma menoleh dan menggeleng.


sangat tidak setuju sama omongan anaknya.


"Kalau memang Dia laki-laki yang baik, harusnya dia itu nggak ninggalin Zaina waktu itu!" tambah sang oma dengan sedikit emosi menggebu.


"..."


"Oma bakalan stop buat cariin Zaina jodoh, asal jangan laki-laki itu yang sama Zaina. Kamu cari laki-laki lain yang jauh lebih baik di banding sama dia. Baru oma bakalan kasih izin."


"Oma ... tapi aku cintanya sama mas Mahen."


Zaina menunduk tak terima dan menggeleng pelan. "Oma ... mas Mahen udah sangat baik sama aku dan ngelakuin banyak hal. Jadi, aku mohon untuk kasih izin antara aku sama mas Mahen. Dia laki-laki terbaik yang pernah aku punya."


"..."


"Semua yang ada di masa lalu cuma salah paham doang. Sungguh. Oma nggak akan pernah di kecewain lagi deh sama mas Mahen."


Oma menarik napas dalam dan menatap serius pada sang cucu.


"Kamu beneran cinta sama anak itu?"


Zaina mengangguk dengan cepat.


Oma Mahen hanya menarik napas dalam lalu berdiri sambil memegang tongkatnya.


"Kalau begitu bawa anak itu ke sini, baru oma akan pertimbangkan. Sudah, cukup. Pembicaraan selesai sampai di sini. Oma ingin istirahat."


oma langsung meninggalkan mereka dengan langkah tertatih. Meninggalkan mereka yang sama-sama saling menatap dengan bingung, mendengar penuturan sang oma.