
Zaina menatap penuh yakin pada kekasihnya itu.
“Aku beneran udah ikhlas, tapi ngelupain nggak segampang yang dikira kan? Kalau lihat perempuan lain bawa bayi tuh pasti keinget lagi. Kalau lihat peralatan bayi wajar kalau aku inget lagi. Tapi ... aku udah mulai biasaiin diri perlahan sih. Walaupun kalau inget fakta, aku pernah hamil dan anak aku ada di perut aku selama beberapa bulan tuh suka nyesek banget.”
“Nggak apa-apa, wajar kok kalau kamu nyesek. Tapi jangan di pendem sendirian ya, ada mas di sini. Kita selesaiin bersama ... kalau sedih, jangan lupa cerita sama mas. Sungguh, mas nggak akan biarin kamu sendirian. Mas nggak mau kalau kamu nangis diem-diem tanpa mas tahu.”
Zaina berbalik dan memeluk Mahen dengan erat, tak peduli dengan tatapan orang yang menghakimi mereka.
“Aku tahu ... makasih mas.”
Mahen tertawa kecil, mencubit pelan hidung mancung Zaina.
“Udah mulai nakal ya ... udah tau di negara kita, mesra di tempat umum suka di pandang kurang baik. Udah yuk, ada yang mau kamu beli lagi nggak? kalau memang nggak ada, kita langsung pulang aja. Mas udah mulai laper nih.”
Zaina mengangguk.
Akhirnya, kedua orang itu memilih merapihkan belanjaan yang mereka taruh sembarang itu. Lalu keduanya berjalan menuju parkir dan meninggalkan pusat perbelanjaan dengan cepat. Mereka sama sekali tidak mengeluh dengan jalanan yang padat merayap, karena sudah masuk jam makan siang. Karena keduanya benar-benar sedang bahagia dengan romansa yang seolah memeluk kedua orang di sana.
***
“Makasih banyak mas,” ucap Zaina setelah Mahen mengikatkan tali apron di punggungnya
“Nah ... sekarang kamu mau masak apa?” tanya Mahen sambil mencuci lengannya. “Mas sih nggak mau yang aneh-aneh apa lagi sambil bikin kamu ribet, bikin makanan yang gampang aja. Apa aja deh pokoknya, jangan yang susah dan buat kamu capek.”
Zaina mendesis sambil tertawa kecil dan menggeleng.
“Nggak ada yang ngerepotin kalau tentang kamu.”
Mahen mendesis.
“Makin jago amat ih gombalnya ayang mas,” ledek Mahen sambil mengusap pipi Zaina
“Bukan gombal ih!” seru Zaina sambil menghentakkan kakinya kesal.
Zaina mendatangi meja makan dan mengeluarkan semua bahan makanan mereka. Dari banyak lauk Zaina salah fokus dengan dua ekor ayam yang sengaja dia beli dan sayur mayur hijau yang terbungkus rapih.
Ia melihat bahan dengan keseluruhan lalu melihat alat masakan seadanya yang ada di rumah ini.
“Kayaknya aku mau masak ayam bakar, orek tempe, sayur cah kangkung sama sambal aja deh mas. Soalnya sekarang juga udah hampir jam dua belas. Kamu lewatin sarapan. Jadi, kita mendingan makan yang berat aja. Kamu mau kan? Atau mau request sesuatu?” tanya Zaina balik
“Nggak ada sayang ... terserah kamu mau masak apa aja. Ini pertama kalinya kamu mau masakin mas dan mas seneng banget. Jadi makanan apa pun bakalan mas makan kok,” ucapnya dengan sangat lembut membuat Zaina tersenyum bahagia. “Terus pas kamu masak, mas harus apa?”
Mahen menatap sekitaran.
Tidak ada yang bisa dia lakukan, kemampuan memasaknya sangat rendah sekali. Mahen tidak mau ikut campur yang nantinya malah mengacaukan saja. Lagi pula ... selama ini Mahen lebih memilih membeli makanan di luar atau memasak yang instan dari pada membakar apartemen nya sendiri.
“Mendingan kamu rapihin belanjaannya deh,” pinta Zaina
“Yang ini?” Mahen menunjuk semua barang di atas meja yang di angguki sama Zaina
“Taruh kulkas semua kan?”
Zaina hanya bisa menepuk keningnya, dia tidak tahu kalau kekasihnya selemah itu di urusan dapur. Sekarang Zaina mengerti, dulu dia merasa kalau Mahen sangat sempurna. Seolah semua nya bisa di lakuin sama laki-laki itu. Sampai terkadang membuat Zaina sedikit sungkan dan insecure. Tapi sekarang dia tahu titik kelemahan dari Mahen, kekasihnya itu tidak tahu apa-apa tentang urusan dapur.
Ia terkikik mengundan tatapan sinis dari Mahen.
“Kamu ngetawain mas ya?” seru Mahen dengan cemberutnya
Zaina hanya berlutut dan mengeluarkan beberapa kotak tempat untuk menyimpan sayur di kulkas agar lebih rapih.
“Tadi ... aku lihat-lihat tuh banyak tempat makanan kayak gini, kayaknya cocok banget deh buat kamu. Biar di kulkas rapih. Nah nanti kalau ada sayur kamu bisa cuci dulu baru masukin ke tempat ini dan taruh di kulkas. Terserah kamu aja mau nyusunnya kayak gimana, asal rapih. Toh ... nanti juga berantakan lagi kalau mas tinggal.”
Mahen langsung nyengir.
“Ya udah kamu susun dulu aja ya mas. Aku masak dulu.”
Setelahnya, mereka sama-sama diam karena sibuk dengan kegiatan masing-maisng. Mahen yang menyusun dengan sangat rapih karena tidak mau disindir sama Zaina lagi. Sementara Zaina lebih suka memasak dengan serius, ketimbang harus pecah fokusnya dengan kegiatan yang lain.
Tetapi,
Sesekali mereka akan menatap ke satu sama lain, berusaha memastikan kalau mereka masih ada di satu tempat yang sama.
***
Mahen mendorong piring kosongnya. Semuanya ludes, dari nasi hingga lauk yang dimasak sama Zaina juga habis. Mahen tidak menyisakan sama sekali makanan. Yang mana justru membuat Zaina sangat senang bukan main karena Mahen sanga menyukai masakan yang dia buat.
“Aku seneng banget lihat kamu lahap kayak gini,” aku Mahen lalu menenggak minumannya. “Semua rasa capek aku langsung terlunasi lihat kamu yang lahap kayak gini.”
Mahen menyengir.
“Eh ... biar mas aja yang cuci piring!” sela Mahen saat melihat Zaina yang menumpuk piring dan mau pergi ke belakang lagi.
“Nggak usah mas ... biar aku aja.”
Mahen menggeleng dan mengambil piring di tangan Zaina.
“Kamu udah masak dan sekarang biarin mas yang selesaiin sisanya. Udah kamu masuk aja sana, istirahat di kamar aku. Katanya agak ngantuk kan?”
Zaina masih memandang ragu pada kekasihnya itu.
“Sudah sana ... pekerjaan kayak gini nggak melulu harus perempuan yang ngerjain. Kita harus bagi tugas baru itu namanya adil. Udah ... mendingan kamu istirahat dan mas cuci piring. Biar acara tontonan kita jadi. Mas nggak mau kalau niat kita nggak jadi lagi.”
Zaina tertawa kecil dan mengangguk.
Perempuan itu menatap Bram yang sudah menaruh semua cucian di wastafel dengan senyuman tipisnya. Ia sangat beruntung karena bertemu dengan laki-laki sebaik Mahen. Dirinya sangat bersyukur.
Kini, ia kembali melangkahkan kaki menuju kamar Mahen. Begitu pintu terbuka, warna hitam dan abu-abu begitu mendominasi kamarnya. Ia menutup pintu dengan perlahan, lalu memilih merebahkan di kasur yang sangat nyaman. Zaina menyelimuti tubuhnya sendiri dan langsung mencari posisi nyaman.
Hingga tatapannya tertuju ke foto pra pernikahan antara dia sama Mahen kala itu.
Zaina tertegun dan tersenyum tipis.
“Ternyata mas Mahen beneran masih simpen semuanya,” ucap perempuan itu sangat lirih sebelum kesadarannya mulai tergantikan dengan dengkuran kecil lantaran sudah mengantuk dari tadi.
Sementara itu,
Hampir satu jam kemudian, Mahen baru selesai mencuci piring. Sengaja ia mencuci peralatan masaknya juga karena tidak mau nanti Zaina mengeluh lagi dan tidak mau Zaina bekerja untuk yang kedua kalinya hanya untuk dia.
Mahen membasuh lengannya yang basah ke sebuah kain yang tergantung di dekat wastafel lalu merapihkan meja makan. Setelahnya, ia memilih duduk di sofa dan sesekali melirik ke arah kamarnya yang masih tertutup itu.
“Jangan ganggu benar deh, kasihan Zaina ... kayaknya dia ngantuk banget,” gumamnya lalu memainkan ponselnya untuk menunggu Zaina sampai bangun.
Setelah beberapa saat kemudian,
Mahen kembali bosan dan ponselnya tidak lagi mampu membuatnya senang. Akhirnya dia memilih membuka pintu kamar dan melihat Zaina yang sudah tertidur dengan nyamannya di tempat tidur miliknya.
Melihat itu mampu membuat Mahen tersenyum simpul.
Laki-laki itu berlutut di lantai memandang Zaina yang ada di tempat tidur.
Dengan sangat pelan, Mahen membelai rambut Zaina. Berusaha tidak mengganggu tidur perempuan itu. Mahen menatap dengan penuh kasih sayang Zaina yang terlihat sangat cantik saat tertidur.
Bibir ranumnya yang berwarna nude, mata lentiknya yang menutup, hidung mungilnya seolah terlukis sempurna di wajah perempuan itu dan jantung Mahen berdebar hanya melihat wajah kekasihnya yang sedang tertidur.
“Mas nggak tahu harus ngelakuin apa untuk ngungkapin betapa sayangnya mas sama kamu.”
***
Kini, matahari mulai meninggalkan bumi. Sudah waktunya bulan menjalankan tugasnya, menggantikan peran matahari. Langit berwarna orange menyambut Zaina sama Mahen yang sudah siap untuk menonton sebuah film yang mereka sepakati. Tidak, mereka tidak akan ke bioskop. Mereka memilih menonton di apartemen Mahen dan membuat suasana seperti layaknya bioskop.
“Pop cornnya udah jadi yang?” tanya Mahen sambil membawa selimut untuk mereka
“Bentar lagi mas ... kamu mulai pasang aja tuh filmnya, biar pas selesai nanti kita langsung nonton bareng.”
Zaina menaruh mentega dan mulai membuat pop corn caramel kesukaannya. Tak lama aroma wangi memenuhi apartemen sampai membuat Mahen menoleh.
“Wuih ... kayaknya enak banget nih.”
“Iya dong ...”
Keduanya benar-benar bahagia karena bisa ada di posisi ini, karena sebelumnya mereka hanya bisa terus berjuang akan hubungan mereka. Tapi sekarang seolah jawaban datang ke hidup mereka dan keduanya benar-benar menikmati hidup mereka yang sekarang.