
"Jadi kamu yang namanya Mahen?"
Oma melihat Mahen dari atas sampai bawah. Penampilan Mahen sangat oke dan rapih, membuat oma nggak bisa melayangkan protes. Karena baginya penampilan itu harus rapih karena mencerminkan kepribadian. Memang tidak semuanya begitu. Tapi itu aturan dasar yang entah sejak kapan oma lakukan.
Wajah? tentu saja oma tidak bisa menyinggung sama sekali. Campuran darah luar negeri dan Indonesia memang tak pernah salah. Mahen memang sedikit bule. Tidak ada yang bisa membuatnya harus berkomentar.
Sikap? untuk yang satu ini oma langsung ucapin jempol karena Mahen yang benar-benar sopan dan saat ngobrol juga bukan tipe yang kaku. Tapi benar-benar bisa membuat suasana jadi mencair dan nyaman.
Oma terus memperhatikan dan tersenyum tipis melihat gesture Zaina yang begitu gugup. Tapi dengan spontan Mahen menenangkannya dan itu membuat hati oma jadi menghangat.
Menjadi setuju akan omongan anak sulungnya yang bilang kalau Mahen memang sangat dewasa dan cocok buat Zaina yang masih butuh banyak perhatian.
"Oma setuju," ucapnya tiba-tiba
Zaina menoleh dan matanya terbelalak. "Maksud oma?" tanya Zaina yang masih nggak percaya dan takut salah dengar.
"Iya ... oma setuju sama hubungan kalian berdua. Kalian nggak usah khawatir lagi mikirin ini itu. Oma beneran setuju sama hubungan kalian. Kalian harus bersama. Kalau bisa secepetnya kalian melanjutkan hubungan kalian ke jenjang yang lebih serius."
"OMA!" pekik Zaina dengan kencang
Ia langsung menubruk pelan tubuh ringkih sang oma dan memeluknya sangat erat. Semua ketakutan yang tadi dia rasakan kini luruh. Ia merasakan sebuah usapan di punggung nya.
"Kamu keliatan takut banget. Kayak oma mau macem-macem aja sama kamu. Padahal oma udah bilang ke kamu. Kalau pacar kamu ini baik dan top, pasti oma bakal setuju. Jadi, kenapa kamu masih takut."
Di belakang Mahen sudah terkekeh.
"Zaina memang berlebihan," canda Mahen.
"Tahu itu anak, emang dikira omanya sejahat itu kali ya yang nggak restuin hubungannya."
Zaina merengut. "Ya kan aku mikirin hal terburuk. Biar aku nggak terlalu berharap banget. Tapi makasih banyak ya oma karena udah setuju sama hubungan aku ini. Makasih sekali lagi. Aku beneran sayang sama oma."
"Sama-sama sayang ... kalau ini memang membuat kamu bahagia. Oma nggak bisa apa-apa selain setuju. Udah kamu nggak usah mikir yang macem-macem. Mending sekarang kalian siap-siap pergi. Dari pada makin siang kan? panas. Nggak enak kalau jalan pas siang."
"Hmm ..."
Zaina merapihkan bajunya yang kusut setelah berdiri. Dia beranjak mengambil bekal yang sudah ia buat untuk bekal mereka nanti di jalan.
"Daddy ... oma ... kalau begitu Mahen pamit dulu ya. Mahen izin mau bawa Zaina pergi dulu. Mahen janji akan bawa dan memulangkan Zaina dengan mulus tanpa luka sama sekali," beri tahu Mahen dengan menyelipkan sedikit candaan.
"Hahaha ... bisa-bisanya kamu. Iya bawa aja sana. Dari pada di rumah cuma makan terus doang."
"Nak Mahen ... oma sudah memberi banyak luka di hidup Zaina. Anaknya memang sering tersenyum dan keliatan lebih bahagia. Tapi oma nggak tau gimana perasaan Zaina yang sebenarnya. Jadi oma nitip Zaina ya."
Mahen tertegun, hatinya menghangat. Ia menyalimi tangan oma dan menyanggupi permintaan sang oma.
"Oma tenang aja. Mahen janji akan berusaha untuk buat Zaina bahagia. Mahen akan membuat senyuman itu gak luntur dari wajah Zaina."
"Kalau kamu memang nggak sanggup tolong kembalikan saja sama kami," sela daddy Zidan yang sejak tadi diam. "Daddy akan bersedia menerima Zaina lagi ketimbang lihat dia di sakiti sama laki-laki lain. Jadi, kamu harus hati-hati ya."
"Iya daddy ... tapi daddy tenang aja. Mahen nggak akan lakuin itu sama sekali. Udah cukup selama ini Mahen itu menunggu hubungan sampai di titik ini. Jadi, Mahen nggak akan melepaskan Zaina sama sekali. Mahen akan mencari jalan terbaik setiap ada masalah dan akan memperlakukan Zaina dengan sangat baik."
"Makasih nak, makasih banyak."
***
"Ngomong apa aja kamu sama daddy?" tanya Zaina setelah Mahen masuk ke dalam mobil. "Kayaknya kalian agak lama ya di dalem? sampai aku bisa rapihin make up aku dulu."
Zaina menoleh dan tangannya menunjuk muka. "Gimana mas? penampilan aku hari ini? ada yang beda kak? kamu sadar nggak ya?" seru Zaina sambil tersenyum manis, berusaha tampil cantik saat Zaina menunjukkan wajahnya itu.
"Hmm .." Mahen bergumam dan meneliti wajah Zaina. Lalu ia tersenyum simpul. "Warna bibir kamu beda. Biasanya kamu pakai lipstik yang warnanya lebih gelap. Tapi kamu sekarang pakai yang warnanya agak nude. Bener nggak nih mas? kalau bener mas mau minta sesuatu!"
Zaina mendengus. "Ih kok kamu bisa tau sih," ucapnya lalu melihat cermin lagi. "Memang ketara banget ya?"
Mahen menggeleng.
"Enggak sama sekali ... tapi karena mas selalu perhatiin wajah kamu. Jadinya mas sadar deh kalau ada yang beda dari kamu," jawabnya santai.
"Ih ... ya udah deh. Mas minta apa?" tanya Zaina yang tak rela itu.
Mahen memegang pipinya, bermaksud bercanda.
Tapi Zaina malah mendekat dan memberi kecupan singkat untuk kekasihnya itu.
Keduanya sama-sama malu.
Zaina memekik dan langsung menoleh ke arah lain. Wajahnya memerah. Ia menutup wajahnya. Tak mau melihat respon Mahen.
Sementara Mahen, masih terdiam. Berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Ia mengerjap dan berakhir senyum bahagia sambil memegang pipinya.
Sebelah lengannya ia pakai untuk mengusap kasar rambut Zaina. "Dasar ..."