Love In Trouble

Love In Trouble
Rasa Tenang Itu



"Ya ampun Zaina!" pekik mommy Nadya melihat Zaina yang masuk ke dalam rumah. "Kamu habis kenapa? ini kenapa keliatan sedih banget?" pekik mommy Nadya saat melihat mata anaknya yang sembab.


Zaina melangkah dengan lemas lalu tertawa tipis sambil menggeleng.


"Ada sedikit masalah ... gitu lah pokoknya."


Mommy Nadya menggenggam tangan anaknya lalu menggeleng. "Nggak ... ini mommy yakin bukan masalah biasa sih. Kamu nggak lagi ngebohongin mommy kan? mommy nggak suka ya kalau kamu bohong. Apa lagi sampai ngumpetin masalah gitu. Mommy nggak mau kalau kamu merasa sendiri. Udah cukup kamu selalu saja menyembunyikan masalah sendiri ..."


"Gitu deh mom, tadi ada makan siang gitu. Pertemuan antara pemuka perusahaan—


"Ah iya!" seru daddy Zidan yang sejak tadi fokus di depan laptop. Ia tutup laptopnya dan menatap mata istri dengan anaknya. "Daddy lupa ngasih tau kamu. Kamu nggak perlu datang ke pertemuan kayak gitu," jelas daddy Zidan


Zaina cemberut dan duduk di sofa, diikuti mommy Nadya.


"Daddy telat ngomongnya," rengek Zaina. "Kenapa nggak bilang dari tadi? kan aku udah keburu ketemuan sama mereka."


"Kamu datang?" tanya sang daddy dengan sangat serius. "Mereka nggak ngomong yang macam-macam kan? dan kamu nggak ketemu—, daddy Zidan terdiam. Sedikit kelihatan tidak enak sama Zaina.


Zaina yang menyadari maksud sang daddy langsung tertawa kecil.


"Sama Mahen?" tanya Zaina pelan, seketika dia mendapat tatapan sendu dari orang tuanya. "Ih mommy sama daddy nggak usah sedih kayak gitu! Aku beneran udah baik-baik aja kok. Aku sadar kalau di sini aku yang salah. Jadi aku gak akan berbuat macam-macam lagi kok ..."


"Bukan ... mommy nggak khawatir lagi sama kamu. Mommy rasa akan berdamai sama semuanya. Tapi kamu baik-baik aja kan? Maksudnya ... ngeliat Mahen acuhin kamu? kamu nggak kenapa-napa?"


Zaina menatap ke arah lain dan tertawa sendu. Dia narik napas dalam lalu menatap ke arah dua orang tuanya.


"Nak ..."


"Jangan mengasihani aku mom, aku beneran baik-baik aja kok. Ya ... mungkin sedikit sakit hati. Tapi aku beneran baik baik aja. Aku nggak mau tenggelam sama masa itu dan aku juga nggak akan mikir ke arah sana lagi. Aku cuman mau minta maaf aja ... setelah itu, aku nggak bakalan memiliki hubungan lagi sama Mahen. Biar dia sama perempuan lain. Aku nggak masalah sama sekali."


"Terus ... kamu nangis karena apa?" tanya mommy Nadya lagi.


Zaina berdiri dan menarik napas kecil.


"Mereka hanya mengungkit masalah aku yang dulu," jawab Zaina dengan cengiran lebar yang mana membuat mommy sama daddynya menatap khawatir. "Dan mereka ungkit tentang anak aku. Ya ... aku jelasin aja ke mereka. Mereka semua boleh hina aku. Asal jangan anak sama keluarga aku, karena anak aku udah tenang di sana."


"Ya udah aku pamit dulu ya! mau istirahat."


Dengan langkah riang Zaina meninggalkan mereka semua dan masuk ke dalam kamarnya. Meninggalkan orang tuanya yang hanya bisa menatap khawatir.


"Mas ... anak kita baik-baik aja kan? temanmu itu nggak ada yang suka jahat kan?" tanya mommy Nadya ke suaminya.


"Nggak tahu yang ... tapi setahu aku, mereka memang jahat mulutnya. Kamu tau sendiri kebanyakan dari mereka malah seneng ngomongin orang yang lagi kena masalah. Soalnya mereka jadi ada kesempatan untuk bangkit."


"Ya ampun ... apa yang mereka katakan ke anak kita? duh aku takut kalau mereka bakal mengatakan yang macam-macam. Aku takut kalau dia jadi penyendiri lagi kayak beberapa waktu yang lalu."


"Tenang ... mas akan melakukan sesuatu."


Daddy Zidan menatap pintu kamar anaknya yang sudah tertutup itu. "Mas nggak akan biarin dia kenapa-napa. Mas akan cari tau apa yang sebenarnya terjadi ..."