
"Setelah kamu mengurus kasus ini, mas ngerasa kamu banyak berubah tahu nggak sih dan itu juga buat mas sedih. Sedih karena kasihan ke diri kamu," jujur Mahen pada akhir nya.
Setelah sekian lama Mahen memendam perasaan ini, akhirnya dia mulai jujur kepada Zaina. Bagaimana pun nanti respon Zaina, Mahen akan membiarkannya. Karena ini yang ia pilih dan sudah seharusnya dia menerima ketimbang nanti malah menjadi masalah ke depannya.
/Maksud kamu?/ suara Zaina terdengar terbata membuat Mahen sedikit merasa bersalah.
"Kamu lupain waktu makan kamu. Mas memang nggak pernah hubungin kamu buat nanya langsung. Tapi mas tau semua yang kamu lakuin walau nggak pernah denger kabar dari kamu."
/Pasti Ghaly ya ... kamu nanya kan sama dia?/ Zaina terdengar kesal dari seberang sana.
"Nggak usah nyalahin Ghaly, ini yang mau mas juga. Mas ngelakuin ini karena khawatir sama kamu. Mas tahu kamu nggak bisa di ganggu sama sekali. Tapi tetep aja, mas gak suka kalau kamu sampai nggak ngasih kabar sama mas sampai segitunya."
/.../
“Pertama ... hubungan kita sedikit merenggang setelah kamu sibuk ngurus ini. Kamu selalu aja ngomong kalau kamu bisa lewatin ini semua sendiri. Tapi mas nggak boleh bantu sama sekali. Kamu selalu ngerang mas ini itu. Jangan ngirimin aku chat ya mas. Jangan hubungin aku dulu ya mas. Nggak usah ikut campur. Kamu jangan tanya-tanya dulu mas, aku sibuk.” Mahen mencotohkan ucapan Zaina yang selama ini sedikit membuatnya sakit hati.
Perempuan di seberang sana tertegun, hanya terdengar helaan napas kecil.
“Mas beneran nggak masalah kok,” lanjut Mahen dengan lembut. “Mas nggak apa-apa, kalau mas nggak bisa sering ngobrol sama kamu. Mas paham kesibukan kamu. Tapi apa? mas cuman minta kamu untuk jaga diri dan nggak lupa waktu makan kan? Kalau lagi sibuk. Selebihnya mas nggak pernah minta macem-macem sama kamu. Tapi ... setelah mas cari tahu, ternyata kamu aja nggak pernah ngelakuin apa yang mas pinta kan? Kamu abai.”
“...”
“Kedua ... kamu selalu marah kalau mas ingetin sesuatu yang baik. Okei, mas tahu ... mungkin kamu capek. Tapi, ini sikap kamu yang harus dirubah sih. Mas selalu lihat kalau kamu sering marah kalau lagi capek. Mungkin mas nerima sifat kamu yang ini. Tapi gimana kalau ini ada nya id orang lain?”
/Maaf mas .../
“Nggak sayang, nggak perlu minta maaf. Di awal hubungan, kita selalu ngomong kan. Kalau ada yang salah satu sama lain. Kita harus saling ingetin. Kamu juga ... kalau kamu ada yang nggak suka dari mas. Kamu jangan sungkan buat cerita sama mas ya. Kamu kasih tahu, apa yang buat kamu nggak suka.”
"Nggak apa-apa sayang, anggap aja sebagai pembelajaran buat kamu. Mas ngomong begini bukan buat kamu ngerasa nggak enak atau bagaimana. Mas cuma mau sampaiin aja, supaya nggak ada yang salah paham dan juga ... mas rindu kita bermain bareng."
/.../
"Mas ngerasa kita sama-sama sibuk, jadi nggak punya waktu buat berdua. Makanya mas ngelakuin kayak gini. Hahaha ... maaf ya sayang kalah mas childish begini."
/Enggak mas .. aku malah terbantu banget kalau kamu begini. Gimana kalau besok kita jalan bareng mas? aku bakal kesampingin masalah ini dulu. Aku mau habisin waktu dulu sama kamu. Malaikat tak bersayap aku./
Mahen terkekeh.
Pembicaraan makin terasa asyik membuat Mahen meninggalkan meja kerjanya. Ia dekatkan kursi ke arah meja dan merapihkan sejenak meja kerjanya dengan tangan yang tak memegang ponsel. Setelah selesai, Mahen mendatangi kasurnya dan tiduran di sana.
Mencari posisi ternyaman supaya bisa menjawab telepon Zaina dengan enak.
"Tapi ... kamu baik-baik aja kan sayang?" tanya Mahen sedikit khawatir.
/Baik-baik aja sih mas. Cuma aku sadar kalau aku udah pakai waktu tidur aku. Makanya sering pusing gitu. Tapi abis denger penjelasan kamu kayak tadi. Aku janji bakalan tidur dengan nyaman malam ini. Supaya besok juga aku bisa ketemu kamu dengan keadaan yang super baik./
"Hahaha ... nanti mas jemput ya sayang."
/Siap mas ... mas udah dulu yak. Aku di panggil mommy dulu nih buat makan. See u mas. Aku sayang mas./
"See u Zaina, mas juga sayang sama kamu."
Panggilan berakhir.