Love In Trouble

Love In Trouble
Alasan Selama Ini



"Kamu beneran yakin sama pilihan kamu?"


Sejak semalam hanya daddy Zidan saja yang terlihat khawatir pada anaknya. Bahkan daddy Zidan tak segan memarahi istrinya hanya karena lebih memprioritaskan ibunya itu ketimbang anaknya sendiri. Dan sejak malam juga, Zaina lebih banyak diam. Mulutnya diam tapi kepala nya benar-benar berisik.


“Dad ...”


“Iya nak? Kenapa? Cerita sama daddy yuk. Kamu mau apa? Mau makan manis? Daddy pasti beliin kok. Nggak usah khawatir sama sakit gigi kamu itu. Daddy juga nggak bakalan larang kamu sama sekali. Apa yang kamu mau, pasti daddy wujudin ...”


Zaina menggeleng dan terkekeh.


“Aku cuman mau nanya sesuatu aja sama daddy.”


“Iya?”


“Sebenarnya apa sih yang buat oma nggak suka sama mommy?” tanya perempuan itu dengan suara yang begitu pelan.


Oh iya, saat ini mereka sedang ada di ruangan kerja daddy Zidan. Jadi pembicaraan mereka nggak bakal di dengar sama mommy Nadya. Toh Zaina juga nggak mau kalau mommy Nadya menjadi pelampiasan dirinya. Walaupun Zaina kecewa, dia enggan membuat sang mommy sedih.


Biarlah, mungkin mommy Nadya sedang terbuai dengan kebahagiaan.


Perempuan itu membiarkannya saja.


Zaina memiringkan wajahnya dan menatap sang daddy. Kenapa daddy Zidan malah lebih diam dan enggak menjawab. “Apa memang dari awal oma nggak suka sama mommy? Atau emang ada suatu hal yang buat oma nggak suka sama mommy? Aku sungguh penasaran banget. Pasalnya ... nggak seharusnya oma kayak gini nggak sih?”


“...”


“Kadang aku kasihan dad, lihat mommy. Apalagi kalau keluarga daddy lagi kumpul bareng. Mom cuman bisa ngeliatin dari jauh doang karena oma selalu baik sama menantu oma yang lain, kecuali mom. Kadang ... aku ngerasa harus berbuat sesuatu biar mom bahagia dan apa ini salah satu caranya?”


“NO!” tegas daddy Zidan. “Daddy beneran nggak mau kalau kamu memaksakan diri hanya untuk seperti ini. Apa yang kamu dapetin kalau kamu ngelakuin ini?” tanya daddy Zidan yang membuat Zaina jadi bungkam. “Enggak ada Zaina ... selain kamu ngelihat mom kamu bahagia. Kamu nggak mendapat keuntungan apa-apa lagi. Yang ada kamu cuman sengsara di hidup kamu selanjutnya. Masalahnya ini bukan hal kecil. Tapi tentang pernikahan. Pernikahan itu sama aja seperti hidup kedua kamu. Kamu memulai hal baru. Jadi, daddy beneran nggak kasih izin kalau kamu ngelakuin ini.”


“...”


“Nggak Zaina, daddy mohon ...”


“Dad,” balas Zaina dengan tampang yang sangat memelas. “Aku tuh kadang suka sedih. Sudah banyak hal yang dad sama mom lakuin untuk aku. Aku tuh ngerasa beban. Walaupun mungkin dad sama mom nggak ngerasain hal itu sama sekali. Tapi, tetap aja terkadang aku suka ngerasa nggak enak sama mom dan dad. Aku tuh ... kayak mau lakuin hal yang buat kalian ngerasa beruntung punya aku.”


Daddy Zidan mengusap rambut anaknya.


“Memiliki kamu aja udah hal luar biasa yang mom sama dad punya. Lahirnya kamu di dunia ini aja udah seperti anugerah terindah di hidup kami. Kamu nggak pernah ngelakuin apa-apa karena kami juga nggak pernah berharap apa pun dari kamu. Kami hanya berharap kalau kamu itu bahagia di hidup kamu. Jadi ... jangan ngomong yang macem-macem ya. Karena punya kamu di sini aja udah menjadi kebahagiaan besar buat kami.”


Zaina tau itu ...


Ia sangat tahu betapa orang tuanya sangat menyayangi dirinya.


Betapa mereka begitu merawatnya, layaknya ia adalah porselen yang sangat berharga.


“Dad ... sama seperti daddy yang selalu ingin memastikan aku dalam kondisi baik. Aku juga selalu mastiin kalau dad sama mom dalam keadaan yang baik-baik aja. Banyak hal yang aku lakuin. Banyak hal yang mau aku perbuat sama dad dan mom. Di saat selama ini aku cuman tumbuh jadi anak pembangkang doang ...”


“Siapa yang ngomong kayak gitu.”


“...”


“Dad, siapa yang nggak ngerasa kalau aku beban. Di saat dari dulu aku selalu membangkang omongan dad sama mom, walau ujung-ujungnya bakalan aku turutin? Dari yang aku hamil. Dari yang aku baut masalah. Dari aku yang nyebabin saham perusahaan daddy turun. Banyak hal yang udah aku perbuat. Jadi, mana mungkin daddy nggak ngomong kalau aku ini anak pembangkang ...”


Daddy Zidan diam.


“Aku cuman mau kasih yang terbaik buat mom sama dad. Jadi, nggak masalah dong kalau aku aku mau ngelakuin suatu hal yang buat mom sama dad jadi senang? Aku cuman mau kalian itu senang sama aku.”


“Jadi ... kamu memaksakan diri untuk melakukan hal ini? walaupun faktanya kamu ini terpaksa?”


Zaina mengangguk pelan.


“Bukannya ... ini kemauan aku ya? maksudnya ... apa yang oma bilang juga bukan hal yang harus aku lakuin. Aku bisa memutuskan untuk lanjut atau enggak. Jadi, nggak masalah kalau sekarang aku setuju kan? Jadi, aku cuman mau nurutin permintaan doang. Tapi, aku nggak maksa untuk lanjut ke jenjang yang lebih serius.”


Daddy Zidan menarik napas dalam.


“Ya sudah lah kalau memang itu yang kamu mau, daddy bisa apa? selain mendoakan supaya kamu bisa mendapatkan laki-laki baik. Syukur kalau bisa berlanjut karena itu tulus dari hati kamu. Tapi ... kalau daddy sampai tahu kamu menyetujui untuk ke jenjang lebih serius, tapi itu cuman karena keterpaksaan kamu doang. Daddy nggak akan segan-segang kurung kamu lagi.”


“...”


Zaina menelan saliva pelan dan mengangguk kecil.


“Ya sudah ... tapi kalau ada apa-apa, daddy harus jadi orang pertama yang tahu. Karena di sini daddy nggak mau kalau kamu ke napa-napa akan pilihan yang kamu pilih ini.”


Zaina mengangguk.


“Dad ... tapi daddy belum jawab pertanyaan aku yang tadi. Jadi, kenapa dari dulu oma nggak suka sama mom? Apa memang karena aku, aku yang buat oma nggak suka sama mom. Atau memang dari dulu mom yang nggak pernah bisa narik perhatian oma.”


Daddy Zidan menarik napas dalam.


“Kamu pasti sudah tahu kan, kalau sebenarnya dulu keluarga daddy itu hanya seperti keluarga nggak mampu?”


Zaina mengangguk.


“Nah sejak dulu oma kamu itu gencar memperkenalkan dad sama perempuan dari keluarga kaya. Pernah satu kali dad menerima, sayang ternyata dad selalu di injak-injak. Dad nggak mau dong, kalau harga diri dad di injak-injak hanya karena paksaan seperti ini. Jadi, tentu aja dad menolak permintaan oma kamu dan oma kamu marah besar. Dan tak lama dari daddy menolak paksaan oma kamu, daddy bertemu sama mommy kamu.”


“Lalu?”


“Iya ... seperti yang kamu duga, ternyata hubungan daddy sama mommy kamu itu berjalan dengan sangat baik. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk menikah. Kalau kamu mau tau, selama melewati itu semua, perjalanan itu sangatlah sulit. Karena mau bagaimana pun, oma kamu itu nggak mungkin diam saja.”


“...”


“Makanya ... dari situ oma kamu marah sama daddy dan nggak pernah mau berdamai sama mommy kamu. Ya, hanya karena itu saja. Di sini daddy juga nggak paham. Karena sekarang daddy berhasil membuktikan kalau daddy bisa melewati ini semua. Tapi ternyata semua ini nggak berjalan dengan baik. Setelah daddy sukses, oma kamu masih benci sama mommy kamu. Jadi, hingga detik ini hubungan mereka masih saja tetap begini ...”


“Ya ampun, kasihan mommy.”