
“Hebat ... kamu sudah hebat, nak ...”
Mahen hanya menunduk saja. Ribuan pujian yang ia dapatkan sama sekali nggak membuat laki-laki itu merasa lega. Ia udah nggak peduli lagi, di benaknya hanya ada Zaina. Terus saja begitu.
“Bun ... apa Zaina bakal memaafkan aku?” tanya Mahen dengan suara sangat kecil.
Semua orang di sana terdiam, sangat terkejut dengan penuturan Mahen yang begitu tiba-tiba. Mereka menatap laki-laki itu yang terlihat berantakan.
Kumis yang mulai tumbuh tanpa pernah terisyarat untuk dicukur sama sekali. Rambutnya yang mulai gondrong. Tapi tetap menambah ketampanan laki-laki itu. Banyak orang yang lebih menyukai penampilannya yang sekarang di banding beberapa saat lalu. Itulah pesona Mahen.
Benar-benar menggairahkan banyak orang.
"Bun ... yah ... kenapa pada diem aja? kenapa kalian nggak jawab? apa memang nggak ada harapan lagi buat aku untuk dapetin maaf dari Zaina? apa aku emang nggak pantes untuk bahagia atau ngerasain kasmaran lagi sama Zaina?"
"Nak ..."
"Aku pasrah, bun. Rasanya aku takut kalau Zaina buka mata nanti terus dia marah sama aku. Dia nggak mau ketemu aku lagi. Aku tau kalau ini aku sendiri yang salah. Tapi ... aku gak bisa bayangin itu semua."
"Enggak, nak ... bunda yakin kalau Zaina nanti nggak bakal tinggalin kamu. Kalau Zaina emang marah sama kamu! kamu harus tunjukin sesuatu dan bujuk Zaina terus. Jangan pernah menyerah sama sekali. Kamu harus kuat!"
"Tapi ... kalau Zaina sama sekali nggak mau ketemu sama aku gimana? Gimana kalau semua perjuangan aku nggak bakalan dilirik lagi sama Zaina? gimana kalau nanti posisi nya Zaina yang larang aku buat ketemu?"
Mahen merengek seperti anak kecil. Dia menunduk dan menarik napas dalam.
"Karena ... aku sama seperti pembunuh. Aku yang jadi alesan ngebunuh anaknya Zaina. Pasti dia benci banget kan sama aku?"
"Nak?"
Mommy Nadya mendekat membuat bunda Mina langsung melangkah mundur.
"Nggak usah menyalahkan diri sendiri ya—
ucapannya terhenti saat ponsel daddy Zidan memecah keheningan di tempat itu. Daddy Zidan spontan meminta maaf seraya pergi meninggalkan mereka, untuk mengangkat telepon.
"Kalau kamu kayak gini yang ada Zaina sedih. Dan kita juga nggak perlu berpikiran negatif karena itu yang akan terus membentengi kejadian nantinya. Lebih baik kamu mikir yang baik-baik aja. Semoga pas sadar Zaina, dia nggak akan marah dan memilih mengikhlaskan semuanya."
Mahen menunduk.
"Semakin kita kepikiran yang buruk, maka semakin besar juga hal itu bakalan terjadi. Jadi, dari pada mikir yang aneh. Kita pikir yang baik-baik aja. Kalau pun memang nanti Zaina marah sama kita. Kita akan terus bujuk Zaina. Masih banyak cara, nak. Yang intinya .. kamu jangan pernah menyerah."
Maheh mengepalkan tangan kuat dan langsung mengangguk, menatap yakin ke arah mereka semua.
"Aku janji! aku nggak akan pernah menyerah sama sekali. Aku bakalan buat Zaina terus jatuh cinta sama aku. Gimana pun caranya. Kita akan terus bersama."
"Gitu dong ... udah ya. Nggak perlu mikirin hal lain lagi. Mendingan sekarang kamu fokus aja. Kamu fokus berdoa untuk kesembuhan—
"ZAINA SIUMAN!"
Semua yang mendengar langsung terkejut.
"Mas ... apa maksud kamu!" seru mommy Nadya sambil menggoyangkan tubuh suaminya. "Nggak lucu, mas. Jangan bercanda!" pekiknya.
Daddy Zidan langsung mengangguk.
"Mas nggak mungkin bohong sama hal yang sepenting ini," ucapnya dengan jujur. "Sekarang cepetan kita ke rumah sakit!"
Semuanya semakin panik dan langsung masuk ke mobil masing-masing dan pergi ke arah yang sama, yaitu rumah sakit.
***
Suara lirihan dari dalam kamar membuat semua orang yang baru saja tiba langsung saja terkejut dan refleks membuka pintu. Tapi tertahan karena salah satu suster menahan kenop pintu dan menatap mereka.
"Sebelum masuk ... ada yang dokter ingin sampai kan ke kalian."
"Tapi di dalam ada anak saya!" histeris mommy Nadya. "Sudah lama dia koma dan sekarang baru siuman. Tapi kenapa kalian malah larang saya untuk masuk ke dalam sana? kalian menyembunyikan sesuatu?!"
"Maaf nyonya, tapi ada yang mau dijelaskan dulu sama dokter yang merawat pasien."
"TAPI SAYA MAU MENEMUI ANAK SAYA!"
"Sudah-sudah," sela daddy Zidan. "Gini aja Sus, sebagian dari kami akan mendatangi ruang dokter. Tapi sisanya kami akan datang ke kamar inap pasien. Kami sudah lama nggak melihat anak kami bangun. Jadi izinkan kami untuk nemui dia untuk saat ini."
"Maaf sekali sebelumnya untuk kalian semua. Saya hanya melakukan apa yang di perintahkan dokter. Dokter juga melakukan ini demi kebaikan pasien. Dokter ingin sekali menjelaskan kondisi pasien saat ini. Jadi, lebih baik kalian masuk dulu ke ruang dokter."
Pada akhirnya Mahen beserta orang tua Zaina mengalah dan memilih untuk masuk ke ruang dokter.
***
"Pasien baru saja siuman dan sepertinya dia langsung sadar dengan kondisi perutnya. Saat ini dia tahu kalau anaknya sudah tiada dan sejak tadi pasien Zaina benar-benar histeris dan nggak bisa terkendali sama sekali. Tadi sempat nangis bahkan teriak. Tapi kami udah tangani dan sekarang masih aja terus menangis, walaupun udah agak lelah. Tapi tetap aja."
"Ya ampun, mas. Anak kita ..."
"Jadi saya harap kalian bisa cari solusi lebih baik supaya pasien Zaina nggak semakin histeris. Kalian juga jangan membicarakan ke arah sana atau masalah yang mengarah ke sana. Jadi, saya harap bisa jauh lebih ikhlas menerima kondisi Zaina. Saat ini pasien masih di bawah tekanan. Jadi ucapkan banyak hal yang menyenangkan di depan pasien."
Mommy Nadya sudah menangis di pelukan suaminya.
"Mas ... kita harus apa?"
Daddy Zidan mengusap punggungnya.
"Kita hadapi bersama ya. Jangan mikirin ini dulu, yang penting sekarang anak kita sudah sadar. Kita temuin Zaina dulu yuk," ajak daddy Zidan. "Jadi sudah kan dokter? tidak ada yang lagi perlu kami lakukan lagi?"
Dokter itu mengangguk.
"Untuk saat ini belum ada ... silahkan keluarga pasien menjenguk pasien. Untuk lebih lanjutnya, biar kami jelaskan malam nanti."
"Baik, terima kasih ..."
Tiga orang di sana berbondong keluar dari ruangan dokter.
"Bagaimana!" seru bunda Mina dengan panik. "Tidak terjadi sesuatu yang serius kan sama Zaina? tapi ... dari tadi kami mendengar teriakan dari dalam. Zaina baik-baik aja kan?"
Mereka semua menunduk dan menghela napas.
"Bagaimana! jangan pada djem aja kagak gini," seru bunda Mina dengan tidak sabaran.
"Kondisi Zaina belum dijelasin. Intinya di sini Zaina sudah tahu sama kondisinya. Jadi dari tadi dia histeris," jelas daddy Zidan dibarengi helaan napas.
"YA AMPUN," kaget bunda Mina sambil menutup mulut.
"Sudah ... kita pasti lewatin semua ini. Kita harus berusaha menenangkan Zaina. Jadi, kita harus berusaha terlihat baik baik aja ya di depan Zaina," pinta Mahen
"Iya nak ..."
Dengan gemetar Mahen membuka pintu kamar inap dan tatapan mata langsung menuju ke arah mereka semua yang di depan pintu.
"MAS ... DI MANA ANAK AKU!" pekiknya