
Mereka tiba di toko perhiasan yang terkenal. Begitu bertanya tentang barang couple. Tak lama pegawai toko mengeluarkan banyak barang yang keliatan simple tapi memiliki arti yang begitu indah.
Ddi antara banyaknya gelang di sana. Zaina salah fokus dengan salah satu gelang yang keliatan simple dan nggak keliatan memalukan kalau di pakai sama laki-laki. Ia segera menoleh pada kekasihnya itu.
"Ini aja mas, gimana? aku langsung suka pas lihat," bisik Zaina sambil menunjuk gelang couple tersebut. "Kamu kalau pakai ini juga nggak bakal keliatan gimana gitu. Soal nya memang cocok dipakai cewek atau cowok gitu."
"Pilihan yang bagus nona," seru pegawai tersebut membuat Zaina menoleh.
"Ini gelang?" tanya Zaina sambil menunjuk gelang tersebut dan pegawai itu mengangguk lagi
"Ini salah satu stok limited edition dan harganya memang tidak semurah itu karena gelang ini di design oleh orang yang terkenal. Dari segi design, gelang ini terlihat sangat simple. Tapi kalau di lihat dari sisi lain ada simbol hati di kedua gelang ini. Kalau mbak berkenan juga, kami bisa mengukir nama tuan dan nona di gelang ini. Jadi akan ada hal istimewa di gelang ini."
"Mas ..." panggil Zaina dengan maksud tertentu
Mahen terkekeh. "Bungkus aja mbak. Ukir nama kami berdua dan untuk pembayaran bagaimana? lalu apa bisa langsung diambil sekarang?" tanya Mahen beruntun
Pegawai tadi menggeleng.
“Untuk pembayaran sendiri mas dan mbak bisa melalui kasir, dp saja terlebih dahulu karena untuk mengukir itu butuh waktu yang cukup lama. Jadi, mbak dan mas bisa mengisi form ini. Lalu setelah selesai, kami akan mengirim ke alamat kalian.”
Mahen mengangguk, ia menerima form tersebut.
Ia sama Zaina melipir ke sudut toko dan mengisi bersama, setelah selesai mereka langsung memberikan form tersebut ke pegawai yang tadi berbincang sama mereka. Mahen juga membayar dp untuk gelang tersebut sebelum akhirnya mereka melipir ke luar toko karena semua urusannya udah selesai.
“Mas ... kita jadi ke alun-alun kota?” tanya Zaina memeluk lengan suaminya itu
Mahen mengangguk. “Hmm ... kamu sendiri kan yang mau ke alun-alun kota? Kalau mas sendiri sih mau makan di mana aja its oke. Tapi mau di alun-alun juga nggak masalah kok. Soalnya mas mau tahu suasana alun-alun pas sore. Pastinya makin seru kan?” tanya Mahen yang diangguki Zaina
“Aku juga nggak pernah mas ke alun-alun kota. Dulu daddy sedikit protektif sama aku. Buat makan aja tuh jarang di izinin buat makan ke tempat yang aneh. Ya ... kamu pasti paham lah.”
Mahen tertawa.
“Udah kebiasaan sehari-hari nggak sih?” tanya Mahen sambil mereka berjalan terus keluar dari pusat perbelanjaan. “Kayaknya kalau anak berada kayak kita gini nih, untuk urusan kayak gitu pasti sama aja. Mas yang jarang di izinin buat makan masakan instan dari dulu dan kamu yang nggak di bolehin jajan sembarangan. Tapi kan itu namanya waktu, karena semakin dewasa juga pasti ada saatnya kamu terlepas sama semua itu.”
Zaina berseru riang.
“Bener mas ... dulu aku kesel kalau mom sama dad udah protektif sama aku. Tapi semakin dewasa, aku sadar kalau apa yang mereka lakuin itu baik banget buat aku. Maklum kali ya mas kalau dulu otaknya belum mikirin banyak hal. Tapi kalau sekarang kita udah bisa mandang dari sisi yang lain? Jadi semuanya agak lebih berkenan di pemikiran kita.”
“Itulah yang sebenarnya terjadi ... pas kecil kita ngerasa kalau mereka jahat. Padahal kita hanya nggak tahu apa yang di pikirin sama orang tua. Mungkin aja yang mereka lakuin itu juga demi kebaikan kita kan? Jadi kita bisa belajar nih ...”
Zaina mengangguk.
Mereka tiba di mobil Mahen. Mahen membukakan pintu untuk Zaina. Setelah memastikan Zaina duduk dengan nyaman. Mahen berjalan memutar dan masuk ke pintu satunya. Lalu laki-laki itu menjalankan mobilnya meninggalkan pusat perbelanjaan untuk pergi ke alun-alun yang nggak jauh dari sini.
Selama perjalanan lagu ‘cantik’ mengalun di mobil. Playlist bucin yang Mahen punya membuat Zaina sedikit tersipu.
“Kamu tahu lagu kayak gini dari mana sih mas?” tanya Zaina
“Lagu tuh udah seperti mengungkapkan isi hati mas. Jadi, setiap lagu yang mas dengerin itu pasti sesuai dengan kondisi mas sekarang dan sekarang mas lagi bahagia karena hadirnya kamu dan hubungan kita yang semakin membaik. Jadi, wajar kalau mas mendengarkan lagu happy begini."
Zaina terkekeh.
“Kayaknya kamu tuh bucin banget ya mas, enggak ke aku aja ... tapi ke semua pasangan kamu yang dulu.”
Mahen berdeham. Zaina terkadang suka memancing dirinya untuk membahas masa lalu. Tapi kalau Mahen salah bicara sjaa pasti Zaina akan cemberut dan kesal. Jadi, kalau sudah mengarah ke sini Mahen harus hati-hati menjawabnya.
“Hmm.” Mahen hanya berdeham saja. Pura-pura tak peduli dengan pembicaraan mereka kali ini
“Kok gitu aja?” tanya Zaina sambil menoleh. “Kamu juga ngelakuin gini sama mantan kamu mas? Aku jadi ngebayangin gimana dulu kamu bucinnya sama mereka. Kamu sendiri yang bilang kan kalau hubungan kamu tandas juga karena nenek kamu? Yang artinya kalau nenek kamu nggak ikut campur sama hubungan kamu. Pasti sampai sekarang kamu masih sama mereka kan?” tanya Zaina lagi
Dia yang memulai membahas hal ini. Tapi Zaina sendiri yang merasa sedih.
Ia menunduk.
Membayangkan kalau detik ini Mahen nggak ada di sisinya dan Mahen sibuk bucin sama perempuan lain. Zaina nggak habis pikir untuk membayangkan itu dan mulai memikirkan kondisinya kalau hal itu memang terjadi.
“Kalau ... kamu masih sama yang lain dan takdir kita nggak membuat kita bertemu. Kayaknya sekarang aku udah nggak ada lagi ya mas?” seru Zaina dengan sendu
“Kamu kan salah satu hal yang buat aku bertahan. Kamu yang buat aku bangkit dari keterpurukan, jadi kalau aku nggak ketemu sama kamu. Kayaknya aku udah nggak waras lagi. Paham lah ... gimana susahnya aku ngelewatin dunia yang kejam ini. Tapi karena hadirnya kamu. Aku bisa melewatin semuanya dengan baik. Tapi— andai takdir nggak mempertemukan kita. Pasti sekarang—
“Nyatanya kita bertemu kan?” tanya Mahen yang tidak tahan.
Mahen paling membenci kalau Zaina sudah membahas masa kelamnya waktu itu.
“Hmm ...” Zaina berdeham
“Kamu bisa stop nggak sih sayang? Bukan aku nggak mau tanggepin omongan kamu. Tapi mas balik tanya deh. Kamu suka nggak kalau mas bahas tentang Ghaly? Di satu sisi mas nggak pernah ketemu sama mantan mas. Tapi kamu? Hampir tiap hari mas bisa lihat kamu interaksi sama mantan kamu. Dan mungkin ... Ghaly ini mantan kamu yang paling berkesan.”
Zaina tersentak.
“Kamu harus bekerja sama Ghaly. Kalian harus berinteraksi satu sama lain, karena kalian saling berhubungan. Kamu yang atasannya dan dia yang asistennya. Jadi, mau mas melarang kamu berinteraksi juga. Rasanya mas egois,” papar Mahen dengan pelan. Tidak bermaksud untuk menyerang Zaina.
Mahen hanya ... ingin mengeluarkan isi hatinya saja.
“Mas enggak mau egois, sayang.” Mahen menghela napas dalam. “Memangnya kamu kira sampai sekarang mas nggak cemburu kalau lihat kamu berduaan sama Ghaly? Enggak sayang ... mas sangat cemburu. Tapi mas berusaha mengendalikan ego mas dan berusaha menangkan diri dengan kalimat ‘kalau kamu udah cinta sama mas dan perasaan kamu sama Ghaly udah lama hilang’ cuman dengan itu mas meyakinkan diri.”
Zaina kembali terhenyak.
Ia tidak tahu kalau Mahen juga memikirkan hal yang sama pada dirinya.
“Maaf mas,” ungkap Zaina dengan sangat pelan
Mahen tersenyum.
“Mas bukan bermaksud untuk menyalahkan kamu,” lanjut Mahen lagi. “Tapi tolong stop buat bahas masa lalu. Kita hidup di masa sekarang, jadi buat apa kita bahas masa lalu lagi?” tanya Mahen. “Hubungan kita ada di sekarang. Jadi nggak usah lah omongin yang dulu lagi.”
Zaina kini setuju pada omongan Mahen.
Ia mulai merasa bersalah pada kekasihnya itu.
Perempuan itu melirik ke arah luar. Kenapa juga jalanan harus macet? Padahal yang Zaina tahu kalau alun-alun tidak sejauh itu. Tapi kenapa sampai detik ini, ia belum melihat alun-alun juga? Ah Zaina mulai merasa canggung dan mulai merasa nggak enak begini.
Ia berusaha menahan kesedihannya, sampai Mahen kembali berdeham.
“Kamu tahu kan kisah hubungan mas sama semua mantan mas?” tanya Mahen lagi kini dengan suara yang semakin berat.
Zaina mengangguk. Mahen sudah menceritakannya dulu dan Zaina juga sangat tahu kalau semua hubungan Mahen sama kekasihnya di masa lalu bisa di bilang kurang baik.
“Kalau kamu paham. Kenapa kamu selalu ungkit semua itu?” tanya Mahen lagi. “Kamu nggak tahu gimana beratnya mas ngelupain masa lalu. Bahkan mas sulit buat bangkit dari masa itu. Butuh waktu bertahun-tahun supaya mas bisa bertahan di titik ini.”
Mahen mengusap wajahnya, merasa sedih lagi kala mengingat masa itu.
“Bahkan karena korban nenek mas. Ada mantan mas yang kini sudah ada di atas sana. Mas trauma loh sayang. Mas bahkan enggan mengingat kala itu. Tapi, kenapa kamu sering banget buat ungkit yang dulu?” tanya Mahen lalu tertawa. “Mana ... setiap kamu bahas masa lalu, terus mas ogah-ogahan buat jawab. Kamu jadi marah. Jadi, buat apa ngomongin masa lalu kalau ujung ujungnya malah buat hubungan kita jadi berantem?”
Zaina terdiam.
Keduanya kini sama-sama diam. Playlist cinta yang menyala seolah tidak meredam amarah mereka. Terutama Mahen yang kini perasaannya sudah campur aduk. Ia sangat marah dan juga sedih.
Mahen memilih diam. Dia nggak mau kalau kekesalannya malah mengeluarkan kata kasar untuk Zaina. Jadi, ia memilih untuk diam dan tak mengomentari Zaina sama sekali.
Zaina sendiri ... tidak meminta maaf sama sekali.
Perempuan itu sedikit sungkan untuk minta maaf. Keduanya sama-sama memiliki ego sendiri dan memilih memendam perasaan masing-masing. Mahen sama Zaina sama-sama masih emosi dan memang lebih baik begini ketimbang berbicara dan malah menyakiti hati satu sama lain.
***
Mobil sudah tiba di alun-alun. Tapi hanya Zaina yang memilih keluar lebih dulu karena Mahen meminta untuk waktu sementara. Dia mau di mobil lebih dulu dan karena Zaina yang nggak bisa protes sama sekali. Ia memilih untuk keluar dan menghubungi mommy nya. Zaina butuh teman bicara dan saran yang tepat dari orang lain.
“Semoga mom bisa kasih saran deh buat aku.”
Zaina melipir ke arah taman yang ditumbuhi banyak pohon. Pemandangan begitu asri tapi semua itu tidak cukup membuat Zaina merasa tenang. Hatinya masih sangat gelisah. Dia bergegas mengeluarkan ponselnya dan menghubungi mommy nya. Ia hanya berharpa mommy nya bisa di hubungi mengingat pagi ini mommy nya sedang ada acara dengan orang komplek.
“Duh ... di mana sih mommy?"